
Queen dan Orion beserta bersama pengacara ucok Hutapea dan ke empat orang tua mereka keluar keluar dari ruang persidangan. Semua berjalan lancar seperti yang mereka harapkan. Karna semua bukti menunjukkan Orion tidak bersalah dalam kasus penembakan dan kasus kematian Ismail di ruang rawat inap rumah sakit, mereka pun bernapas lega. Justru Orian dan Queenlah di sini sebagai korban.
"Trimakasih Pak Pengacara, sudah membantu kami dalam kasus ini !" ucap Orion, meyalam tangan Pak Ucok Hutapea.
"Sama sama !" balas Pengacara Ucok Hutapea.
Papa Arya, Mama Bunga, Papa Gandi dan Mama Vani. Menyalam tangan Pak pengacara Ucok Hutapea, dan mengucapkan trimakasih.
"Sama sama Pak Arya ! Pak Gandi !, kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus terbang langsung ke Jakarta. Masih banyak kasus yang harus saya tangani" balas Pak Ucok Hutapea, sekalian pamit.
"Sekali lagi trimakasih Pak Pengacara" ucap Orion lagi.
"Sama sama !, kalau begitu saya permisi dulu !." Pamit Pak Pengacara ucok Hutapea sekali lagi, lalu pergi ke arah mobil jemputannya di parkiran. Tentu Pak Pengacara Ucok Hutapea tidak sendiri. Ia bersama asistennya dan bodigat yang mengawalnya.
"Ayo kita pulang !" ajak Papa Arya, melangkahkan kakinya dari teras kantor pengadilan itu. Yang langsung di ikuti Mama Bunga, Orion, Queen, Papap Gandi dan Mama Vani. Mereka berjalan ke arah parkiran mobil masing masing.
"Aaryan !" panggil Mama Bunga kepada suaminya.
"Apa sayang ?" jawab Papa Arya, dari dulu panggilan sayang itu tidak berumah untuk ratu sejagat.
"Pengen makan rujak mangga muda" jawab ratu sejagat bergelayut manja di lengan Papa Arya. Sontak saja, orion, Queen, Papa Gandi dan Mama Vani menoleh ke arahnya, sama sama mengerutkan kening masing masing.
Gak mungkin 'kan calon Nenek itu ikut ngidam, karna menantunya hamil ?, pikir Gandi.
Orion yang curiga dengan ratu sejagat, memandang Papanya kesal. Jangan sampai ia memiliki adik lagi, padahal kedua orang tuanya sudah mau punya cucu. Masa ia anak sama adiknya sebayaan.
Mama Bunga yang merasa di lihatin, ikut mengeritkan keningnya." Aku cuma pengen makan rujak mangga muda, kenapa kalian melihatku seperti itu ?" tanyanya.
"Mama gak hamil lagi 'kan ?. Masa iya kalian sudah mau punya cucu, malah kasih Orion adik lagi. Itu 'kan gak lucu !" ujar Orion, nampak wajahnya tak suka.
"Hei ! kalau Mama mu hamil lagi, itu berarti Tuhan masih mempercayakan kami seorang anak, harus di sukuri. Ini malah kamu gak suka" kesal Papa Arya. Hatinya tersenyum dalam hati, kalau benar istrinya hamil lagi. Mudah mudahan saja perempuan, pikir Papa Arya.
"Papa genitnya keterlaluan !" Orion mengerucutkan bibirnya, cemberut. Karna ia memiliki banyak adik, ia merasa dari dulu, ia kurang di perhatikan kedua orang tuanya. Malah ia sering di repotkan untuk menjaga adik adiknya.
"Kaya kamu gak aja!" cibir Papa Arya, kemudian menuntun istrinya masuk ke dalam mobil.
Orion dengan rasa dongkol pun, membuka pintu kursi penumpang belakang mobil Papanya. kemudian menuntun Queen masuk, baru orion masuk, duduk di samping Queen.
Mama Bunga yang sudah duduk di kursi penumpang depan pun, terdiam berpikir.
Masa ia aku hamil lagi ?, batinnya.Usianya sudah 45 Tahun, rasanya tak mungkin.
Mama Vani dan Gandi hanya geleng geleng kepala melihat sahabat dan mantan guru mereka itu.
"Benar benar itu si burung gagak !" gumam Papa Gandi. Menurutnya, guru tampan idola para wanita itu, doyan sekali buntingin istrinya.
"Si Bubu tuh !, katanya sudah dua Tahun gak mengonsumsi pencegah kehamilan. Katanya sudah tua, sudah gak subur lagi, dia gak akan bisa hamil lagi. Kamu tau dia, otaknya eror" balas Mama Vani.
"Sama kaya kamu erornya, kalau kamu bodoh lagi, gak bisa bantuin anak kita ngerjain PR" timpal Papa Gandi, mengejek istrinya itu, yang memang benar bodoh. Untung saja Queen, gak ketularan bodoh dan erornya.
"Tapi aku 'kan cantik !, makanya kamu suka" Mama Vani memuji dirinya sendiri.
"Itu dia ! untung kamu cantik. Ayo kita masuk !, aku harus ke pabrik lagi." Papa Gandi membuka pintu untuk istri bodohnya itu, lalu menuntunnya masuk.
Keuda mobil itu pun beriringan keluar dari parkiran kantor pengadilan. Mereka berpencar, ke arah tujuan masing masing.
Papa Arya menghentikan laju kenderaannya di depan grobak penjual rujak. Ingin menuruti keinginan istrinya itu, yang menginginkan makan rujak mangga muda. Mudah mudahan aja ada, mengingat sekarang lagi musim mangga, pikir Papa Arya.
"Biar Papa aja turun," papap Arya langsug membuka pintu di sampingnya untuk keluar dari dalam mobil, melangkahkan kakinya ke arah grobak tukang jual rujak.
"Pak ! rujak mangga mudanya dua di bungkus" ucap Papa Arya kepada Bapak si penjual rujak.
"Pedas ? sedang ?"
"Sedang Pak !" jawab Papa Arya.
"Tunggu sebentar ya Pak !" balas si Bapak tukang rujak, dan Papa Arya menganggukkan kepalanya. Papa Arya pun kembali masuk ke dalam mobil, menunggu rujaknya di siapkan.
"Papa pesan buatku juga 'kan ?" tanya Orion, membayangkan renyah dan asamnya beserta gurihnya kuah kacang, membuat Orion jadi ngiler.
"Hm..!" jawab Papa Arya
"Kita periksa ke Dokter ya !" ucap Papa Arya kepada istrinya ratu sejagat.
"Masa iya aku hamil lagi ?" Mama Bunga gak percaya hal itu. Usianya sudah 45 Tahun, sudah tak subur lagi, meskipun masih mensturasi.
"Mungkin kamu pernah lupa mengkonsumsi pencegah kehamilan" jawab Papa Arya. Mama Bunga langsung menajamkan tatapannya ke wajah Papa Arya yang tersenyum.
"Sudah dua Tahun aku gak meminumnya, aku pikir aku gak bisa hamil lagi" ucap ratu sejagat.
"Ya ampun Mama..!" seru Orion dari kursi belakang." Kesal banget Orion kalau benaran Mamanya hamil. Adiknya sudah banyak, masa nambah lagi. Sepertinya Orion mudah emosi dan kesal karna bawaan ngidamnya.
"Gak apa apa dong bang Orion kalau Mama Bunga hamil lagi. 'kan! seru keluarga kita tambah rame" ucap Queen tersenyum. Dari tadi tangannya terus mengelus elus perutnya dengan lembut." Biar dede banyak pamannya, iya kan kakek ? Nenek ?" ucap Queen lagi.
"Kalian gak tau gimana rasanya hidup sebatang kara tanpa ada saudara kandung. Makanya Mama sama Papa memberimu banyak adik, biar kamu tidak sendirian. Kamu memiliki teman jika kamu menghadapi masalah, seperti masalah yang beru menimpa kalian. Kamu lihat sendiri adik adikmu bagaimana membelamu, dan membantumu. Gak seperti Mama dan Papamu dulu, Kami tidak punya keluarga kandung untuk membela kami saat menghadapi masalah." ungkap Mama Bunga, mengingat saat dulu Papa Arya di fitnah kakak angkatnya Rania. Tidak ada yang membelanya, tidak ada pengaduannya untuk berkeluh kesah."Seharusnya kamu bersyukur nak !. Jika pun Mama benar hamil, kamu tidak menyukainya, dia tetaplah adikmu." ucap Mama Bunga lagi, nampak matanya berkaca kaca.
"Maaf Ma !" ucap Orion penuh penyesalan.
"Kamu ! Orion !" tegur Papa Arya bernada sedikit marah. Sudah tau Mamanya tidak bisa merasa tertekan, masih saja membuat perasaannya tersinggung.
"Maafin Orion Ma! Orion salah, Orion khilaf, Orion sayang Mama, Orion sayang dengan semua adik adik Orion. Orion juga gak tau Ma, kenapa akhir akhir ini Orion seperti itu, ngomongnya suka pedas, gak mikirin perasaan orang lain." bujuk Orion, untuk menenangkan hati Mama Bunga.
"Iya Ma !, Bang Orion akhir akhir ini memang seperti itu. Emosian, gampang kesal, dan suka marah marah sama Queen, sampai Queen sering nangis" timpal Queen ikut mendamaikan hati Mama mertuanya, sekalian mengadu dengan sikap Orion akhit akhir ini.
"Maafin Orion ya Ma !" mohon Orion lagi, menangis memeluk Mama Bunga.
"Iya sayang !, Kamu anak Mama, tentu Mama akan memaafkanmu" balas Mama Bunga, mengusap kepala buah cinta keduanya itu dengan penuh kasih sayang.
"Trimakasih Ma !" balas Orion, Mencium pipi ratu sejagat, kemudian kembali ke tempat duduknya.
" Ini Pak pesanannya !"ucap Si Bapak tukang rujak itu, memberikan kantong plastik yang berisi dua kotak rujak kepada Papa Arya.
"Oh ! trimakasih Pak !" Papa Arya menerima pesanannya, kemudian mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya. Setelah membuka dompetnya, Papa Arya pun menarik selembar uang dari dalamnya, memberikannya kepada si Bapak tukang rujak.
"Kembaliannya buat Bapak aja!" ucap Papa Arya tersenyum ramah.
"Jangan dong Pak !" si tukang jual rujak itu, merasa tidak enak hati, jika harus menerima uang lebih si pembeli.
"Gak apa apa Pak !, ambil aja, uang itu mungkin rejeki anak Bapak" ucap Papa Arya lagi, tersenyum, kemudian langsung melajukan kenderaannya meninggalkan si Bapak yang masih berdiri dengan perasaan bersyukur sekaligus tidak enak hati.
"Ya Tuhan !, tambahkan dan mudahkan rejeki orang dermawan itu, amin !" gumam Si Bapak tukang rujak itu. Melihat dua lembar uang berwarna merah ditangannya.
Kemudian si tukang rujak itu mengerutkan keningnya. Sepertinya ia mengenali orang dermawan itu.
Wajahnya sangat pamiliar, siapa ya ?, batinnya bertanya tanya. Oh iya ! si bapak itu dari dulu sering membeli rujak ke sini, setiap istrinya hamil. Apa sekarang juga istrinya lagi hamil ?, batinnya lagi.
Mengingat Papa Arya, selalu membeli rujaknya, dari dua puluhan Tahun yang lalu. Dan Papa Arya selalu memberi uang lebih kepadanya setiap membeli. Bahkan pernah memberinya uang sampai satu juta. Kalau di tolak, selalu Papa Arya bilang 'mungkin itu rejeki anak Bapak'.
Di dalam mobil, Mama Bunga memakan rujak mangga mudanya dengan lahap, begitu juga dengan Orion. Anak dan Ibu itu, terlihat seperti lomba makan rujak, siapa yang menang akan mendapat hadiah.
Papa Arya dan Queen yang melihatnya, menggeleng kepala.
"Ahh ! mantap !"ucap Orion, setelah menelan potongan mangga yang terakhir di mulutnya.
"Bang Orion ini, dari kemarin sudah banyak makan buah yang asem, nanti bisa sakit perut loh bang !" ucap Queen, memberika Orion satu botol air minum.
"Gimana lagi, abang sudah sangat menginginkannya" jawab Orion.
"Kalian ikut gak ke Rumah Sakit ?. Kalau gak mau ikut, biar Papa antar kalian pulang" tanya Papa Arya, melirik Orion dan Queen dari kaca spion.
"Gak Pah !, kawatir Queen nanti kecapean, sudah dari tadi dia gak istirahat" jawab Orion." Nanti kasih kami kabar ya Pah ! Ma !" ucapnya lagi.
"Hm..!" balas Papa Arya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan rumah Orion dan Queen. Papa Arya hanya memarkirkan mobilnya di luar gerbang, karna akan langsung pergi ke Rumah Sakit, untuk memastikan ratu sejagat benar hamil atau tidak.
Setelah menyalam kedua orang tua mereka, Orion dan Queen pun keluar dari dalam mobil.
"Hati hati Ma ! Pah !" ucap Queen, saat hendak turun.
"Iya sayang !, kamu juga hati hati, jangan lasak lasak, jaga cucu Mama, okeh !" balas Mama Bunga.
"Iya Ma !"
Queen menutup pintu mobil itu kembali, Dan Papa Arya langsung melajukan kenderaannya.
Masuk ke dalam rumah, ternyata para anggota mereka masih bertahan di rumah mereka dengan berbagai macam aktifitas. Ada yang menonton tv sambil mesra mesraan. Ada yang sibuk main game, ada yang makan cemilan, ada yang ketiduran, ada yang bermain mobil remot, dan bantal sofa semua sudah turun ke lantai.
"Woi woi woi !!!, apa yang kalian lakukan di rumahku ?" tanya Orian dengan suara beratnya.
Dokter Ghissam berdecak" bikin orang kaget aja !" kesalnya, mengganggu pacaranya dengan Kania.
"Kamu pikir rumah kami tempat pacaran !" ketus Orion.
"Bang Orion ! bawa jajanan gak ?, Papa sama Mama mana ?" tanya Bilal, berlari ke arah Orion.
"Abang gak bawa apa apa, emang Reyhan gak beli jajanan buat Bilal ?" tanya Orion, mengusap kepala adik bontotnya itu. Adik bontot ?, Ah ! kalau benaran ratu sejagat hamil, sudah pasti si burung cicit bukan lagi si bontot.
"Bang Orion ! nanti malam kami semua mau tidur di sini lagi" ujar Darren.
"Gak ! kalian makannya banyak !, bisa bangkrut abang !" balas Orion.
"Yang banyak makan itu bang Reyhan, Darren ngak !" ucap Darren lagi.
"Bang Reyhan nanti malam gak tidur di sini. Mumpung kalian semua nanti malam tidur di sini. Abang punya kesempatan bermanja manja sama Mama" ucap Reyhan yang rebahan di lantai.
"Ya kali ! bermanja maja, kalau Papa gak ngurung Mama di dalam kamar" celetuk Elang, sibuk dengan game on line di HPnya.
"Aku pergi dulu, susah waktunya pulang sekolah, aku mau jemput su culun dulu" pamit Calixto, berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Arsen sama Sirin dimana ?" tanya Orion lagi, yang sudah mendudukkan tubunya di samping Queen yang sudah dari tadi duduk di sofa.
"Di taman belakang !" jawab Elang.
.
.