
"Ustadz Bilal Albiruni Aryan Putra Alfarizqi !!!. Aku ikut ke rumahmu !!!."
Bilal menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari gerbang kawasan pesantren tempatnya menimba ilmu itu. Bilal menghela napasnya lalu memutar tubuhnya ke arah pemilik suara cempreng itu.
"Untuk apa ukhti ikut ke rumahku ?" tanya Bilal kepada cucu pemilik pesantren itu.
"Tentu untuk melamar ustadz menjadi suamiku !" jawab gadis yang usianya tiga Tahun di bawahnya itu.
"Jangan bilang ukhti terinspirasi dari Sayyidina Khadizah yang melamar Nabi Muhammad. Itu tidak lucu !, karna kekayaan ukhti tidak sebayak kekayaan Sayyidina Khadizah" ujar Bilal.
Gadis berusia 18 Tahun itu mencebikkan bibirnya." Apa salahnya ?."
"Satu, karna kekayaanmu tidak sampai sepertiga dari kekayaan Negri ini. Dua, karna kecantikanmu tidak bisa menandingi kecantikan Sayyidina Khadizah. Tiga, kamu masih gadis, belum menjadi janda. Dan usiamu baru 18 Tahun, belum 40 Tahun. Empat, kamu wanita akhir zaman, bukan wanita di Zaman Nabi. Yang terakhir kalau kamu lupa, namamu Hani bukan Khadizah." Bilal langsung membalik badannya melanjutkan langkahnya dengan mengulum senyumnya.
"Aku tau ustadz juga naksir samaku 'kan !!?. Jangan munafik deh !! ustadz Bilal Albiruni Aryan Putra Alfarizqi !!!" seru Hani.
Namun Bilal pura pura tidak mendengarnya, ia pun menyetop angkot yang kebetulan lewat. Membuat Hani mengeram kesal.
"Sepertinya aku harus meminta bantuan Kakek, untuk menjodohkanku dengan ustadz Bilal" guman Hani.
Hani pun memutar tubuhnya, berjalan dengan sedikit menghentak hentakkan kakinya ke jalan, untuk kembali ke asramanya.
"Cintamu di tolak ustadz Bilal lagi ?" tanya Susi sahabat Hani. Melihat Hani masuk ke asrama dengan wajah cemberut.
"Aku tau uztadz Bilal juga menyukaiku, dia hanya gengsi aja mengakuinya" jawab Hani, membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Mungkin jika kamu bukan cucu dari pemilik pesantren ini. Bisa saja kamu sudah di keluarkan dari sini, karna kamu terus mengganggu ustadz Bilal" Ujar Susi.
"Aku tidak melakukan apa apa selain menegurnya saja. Dimana letak kesalahanku ?, sampai kakek harus mengeluarkanku dari pesantern ini."
"Kita sebagai perempuan, tidak boleh menemui laki laki yang bukan mahram kita. Makanya santriwati dan para santriwan kelas dan asramanya di pisah. Supaya apa ?, supaya antara santriwati dan santriwan tidak saling mencuri pandang. Yang bisa mengundang zina mata, kemudian saling suka dan terpesona. Turun ke hati, menjadi zina hati. Sehingga bisa mengganggu pikiran, dan terus membayangkan wajahnya, menjadi zina pikiran" jawab Susi.
"Itu yang ku kawatirkan, makanya tadi aku minta ikut ke rumah orang tua Bilal. Aku ingin melamarnya langsung kepada orang tuanya untuk menjadi suamiku. Tapi dia menolakku lagi."
"Kamu gila !."
Susi geleng geleng kepala, heran dengan cucu pemilik pesantern itu yang tergila gila dengan ustadz Bilal yang memiliki ketampanan yang pari purna.
"Ya ! aku sudah gila Susi !" Hani memejamkan matanya sembari tersenyum, mengingat ketampanan wajah Ustadz Bilal.
"Kamu itu cucu dari pemilik pesantren ini. Sedangkan Bilal, iya hanya seorang uztadz dan penjual nasi ramas untuk para santri di sini. Apa kamu pikir perutmu bisa kenyang hanya dengan melihat wajah tampannya saja. Kenapa kamu tidak mencari laki laki yang kekayaannya sepadan dengan keluargamu ?" tanya Susi.
"Mungkin sekarang dia hanya memiliki warung makan. Bisa saja setelah kami menikah, rejeki kami lancar, kami bisa membangun restoran. Rejeki orang tidak ada yang tau ke depannya seperti apa. Roda kehidupan itu berputar, yang kaya bisa jadi miskin, yang miskin bisa jadi kaya." jawab Hani.
Susi menghela napasnya," jika benar berputar, kenapa dari dulu kehidupan keluargaku begitu begitu aja ?. Memangsih bisa di bilang berkecukupan, tapi itu dia !, gak pernah kaya." ucapnya.
"Bersyukurlah !" balas Hani."Karna keluargamu tidak di titipkan dengan harta yang banyak. Karna harta itu sebenarnya titipan, untuk menguji kekuatan iman seseorang" ucap Hani lagi.
"Jangan berkecil hati jika kamu tak pernah kaya. Karna seandainya kamu kaya, belum tentu kamu kuat menjaga imanmu. Bisa saja kamu terbuai dengan kekayaan itu, sehingga kamu lupa dengan Tuhan. Mungkin dengan kehidupan yang pas pasan lebih cocok untuk tetap meneguhkan keimananmu" tambah Hani lagi.
"Kamu benar !" Susi pun membaringkan tubuhnya di samping Hani, kemudian mangambil buku yang terletak di samping bantalnya, lalu membaca buku itu.
.
.
Bilal sudah sampai di Rumah Sakit untuk menjenguk Papanya yang sedang di rawat. Bilal melangkahkan kakinya ke arah lif untuk naik ke lantai dimana Papa Arya di rawat.
"Assalamu alaikum Pak Ustadz !"
"Astagfirullahal 'azim !" kaget Bilal yang baru keluar dari dalam lif." Om Aldo bikin kaget aja !" kesal Bilal.
Dokter Aldo berdecak, karna Bilal tidak menjawab salamnya.
"Walaikum salam Dokter Aldo yang tampan !" balas Bilal kemudian.
"Kenapa baru menjenguk Papamu sekarang ?" tanya Dokter Aldo kepada anak gajah yang sudah berubah menjadi anak kuda putih itu.
"Sabin baru memberitahuku !" jawab Bilal.
"Sana jenguklah Papamu !, kalian anak anaknya semua meninggalkannya. Kamu sama Darren sama saja. Masih lajang sudah meninggalkan rumah orang tua sendiri" ujar Dokter Aldo, lalu pergi. Ia tau dengan kegundahan hati mantan gurunya itu, sakit karna merindukan anak anaknya. Terutama kepada Arsen yang tinggal di luar Negri semenjak sepuluh Tahun yang lalu.
Apa aku kembali tinggal di rumah Papa sama Mama ya ?.Batin Bilal, melangkahkan kakinya ke arah kamar perawatan Papa Arya.
Sampai di depan pintunya, Bilal pun mengetok pintunya semabari mengucap salam. Setelah mendengar sahutan dari dalam dan menyuruhnya masuk. Bilal pun mendorong pintu itu sambil melangkah masuk.
"Papa ! Mama !" sapa Bilal, mendekati Papa Arya yang duduk bersandar di atas brankar.
Papa Arya mengulas senyumnya dan mengusap kepala Bilal yang menyalam tangannya. Setiap saat Papa Arya selalu merindukan kehadiran anaknya itu.
"Kenapa Papa bisa sampai di rawat di sini ?" tanya Bilal.
"Papa hanya sakit demam biasa Nak !" jawab Papa Arya.
"Papa ngaku aja, kalau Papa rindu dengan anak gajah ini !" ujar Bilal menghibur sang Papa.
Papa Arya mengulas senyumnya, tentu ia rindu dengan anak gajahnya yang betah tinggal di pesantren itu. Tapi Papa Arya sangat senang, karna anak gajahnya yang nakal itu sudah berobah menjadi anak kuda putih.
"Boleh Papa meminta sesuatu kepada Pak ustadz ?" tanya Papa Arya.
"Apa Pah ?" Bilal menajamkan Pandangannya ke wajah sang Papa.
"Membantu abangmu Darren untuk mengelola sekolah, counter dan perkebunan. Abangmu Darren sekarang lagi menggantikan abangmu Reyhan meminpin perusahaannya." Papa Arya mengehela napasnya lalu berbicara lagi." Pikiran abang Darrenmu sekarang lagi kacau, memikirkan wanitanya yang belum sadarkan diri setelah di operasi karna kecelakaan" ucap Papa Arya lagi.
"Bang Darren sudah menikah ?, kapan ?, kok Bilal gak tau ?, kok gak ada yang kasih tau Bilal ?" cerca Bilal membolakan matanya, kaget.
"Wanitanya ! bukan istrinya !" jelas Papa Arya.
"Bang Darren pacaran ?, astagfirullah !" Bilal mengusap usap dadanya dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan ! tapi menyukai wanita itu" jawab Papa Arya lagi.
" Oh ! Bilal pikir Bang Darren pacaran !" Bilal bernapas lega.
"Bantulah Darren untuk sementara waktu. Setelah keadaan kembali pulih, kamu bisa kembali ke pesantren" ucap Papa Arya lagi.
"Baiklah Pa !" patuh Bilal.
.
.
Sementara itu, di ruang perawatan lain. Darren terus memandangi wajah Jean yang terlelap di atas brankar. Sesekali Darren menolehkan pandangannya ke arah brankar di sebelahnya. Memperhatikan Khanza yang juga belum sadarkan diri setelah selesai di operasi.
"Jean ! bangunlah !, jangan membuatku terus kawatir memikirkanmu !. Aku mencintaimu Jean ! sungguh !" monolog Darren, mengambil tangan Jean lalu mengecupnya.
"Apa kamu tau Jean ?, selama sepuluh Tahun ini aku selalu memikirkanmu. Aku hampir gila Jean ! aku hampir gila mencintaimu !" ucap Darren lagi.
"Aku mohon ! bangunlah !, jangan pernah menghilang lagi dari pandanganku. Jangan mencoba kabur lagi. Aku mohon Jean ! ijinkan aku menghalalkanmu nanti setelah kamu sadar. Jangan buat aku berdosa berkepanjangan karna terus memikirkanmu Jean ! aku mohon !. Jadilah wanita penyempurna Agamaku !" ucap Darren lagi, menelan air ludahnya bersusah payah karna terasa seperti ada yang mengganjal.
Darren sudah tau, kalau Jean mendengar pembicaraannya dengan Orion waktu itu, melalui rekaman cctv. Sehingga Jean ingin pergi menghilang yang menyebabkan mereka kecelakaan.
"Bukalah hatimu sedikit untukku Jean !. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu" tambah Darren lagi.
Aku tak pantas untukmu Pak Darren !, kamu terlalu baik untukku. Meski pun aku juga mencintaimu, tapi aku tidak bisa menerimanya. Karna nanti orang orang akan merendahkan Pak Darren. Dan orang orang nanti bisa saja menghujatku !. Batin Jean yang mendengar ucapan Darren.
Aku gak mau nanti, orang baik seperti Pak Darren, ikut di hujat orang karna menikahi janda sepertiku. Apa lagi keluarga Pak Darren adalah orang terpandang di daerah ini. Nanti keberadaanku bisa membuat malu keluarga Pak Darren. Batin Jean lagi
Maafkan aku Pak Darren !, lanjut Jean di dalam hati.
"Jean ! sayang !" Darren berdiri dari kursinya, melihat air mata Jean keluar dari sudut matanya.
"Jean ! apa kamu mendengarku bicara ?. Bangunlah ! buka matamu Jean !." Darren menghapus air mata Jean yang mengalir dari sudut matanya dan mengusap kepalanya.
Kemudian Darren menekan tombol merah di atas brankar Jean, untuk memanggil perawat atau pun Dokter.
.
.