
Arya memandangi wajah Bunga yang sudah terlelap di sampingnya, setelah ia memberi Bunga obat penenang. Mulai dari rumah sakit tadi istrinya itu terus menangis. Karna sudah kehilangan kedua orang sahabatnya.
Bunga tak ingin memaksa Orion untuk di jodohkan dengan Queen. Karna Bunga tidak ingin anaknya merasakan, apa yang di rasakannya dulu, merasakan hancur saat dipaksa menikah dengan Arya, pada saat itu ia masih menjalin kasih dengan Aldo. Dan Queen juga masih anak anak, butuh waktu lama menunggunya dewasa. Sedangkan Orion sudah dewasa. Bagaiman ceritanya anak sulungnya itu menjalin hubungan dengan gadis yang masih belia?.
Dan Orion juga tidak bisa dipastikan, mampu menunggu Queen minimal delapan Tahun lagi. Itu bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu. Bagaiman jika nanti Fitrahnya Orion sudah menuntunya untuk menikah, sedangkan Queen belum waktunya bisa dinikahi ?. Bunga juga mempertimbangkan itu semua, bukan asal mengambil keputusan. Tapi malah terjadi kesalah pahaman di antara keluarganya dengan sahabat itu.
Bunga bukan tidak peduli dengan Queen, Bunga juga sangat menyayangi Queen seperti putrinya sendiri. Bunga juga sangat menginginkan Queen untuk menjadi menantunya.
Sahabatnya Vani juga, kenapa harus memilih Orion yang jauh di atas Queen ?. Padahal Ia memiliki enam anak laki laki. Kenapa tidak memilih Elang, Arsen atau Darren, supaya jarak usianya tidak terlalu jauh ?. Dan tidak terjadi permasalahan yang rumit seperti ini.
Arya mencium kening istrinya, kemudian turun dari atas tempat tidur, berjalan ke arah pintu, lalu keluar kamar. Menaiki tangga ke lantai dua rumahnya.
Tok tok tok !!!
Arya mengetuk pintu kamar anak sulungnya." Orion ! ini Papa !" sahutnya, karna tidak ada suara dari dalam.
"Masuk Pah !" sahut Orion, kemudian mendudukan tubuhnya. Dari tadi ia mencoba untuk tidur, namun tidak bisa.
Arya memutar knop pintu kamar Orion sambil mendorongnya sampai terbuka. Arya melangkahkan kakinya masuk, lalu menutup pintu itu kembali. Kemudian berjalan ke arah tempat tidur, mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur menghadap Orion.
"Apa keputusanmu melanjutkan pendidikanmu ke luar Negri sudah bulat ?" tanya Arya. Orion diam tidak menjawab.
"Bagaimana dengan Queen ?, apa kamu tidak bisa merobah keputusanmu ?" tanya Arya lagi.
"Aku akan tetap pergi Pah !" jawab Orion.
"Apa kamu tidak kawatir dengan kondisi Queen ?. Dia sangat membutuhkanmu !. Jika pun kamu harus tetap pergi, tunggulah Queen sembuh, pamitlah kepadanya baik baik." ujar Arya lagi.
"Tapi Pah.." Orion tidak melanjutkan bicaranya, Orion berpikir, apakah dia harus memberitahu Papanya, soal Gandi yang melarangnya menemui Queen, menyuruhnya menjauhi Queen. Orion kawatir permasalahan yang terjadi semakin ruyam.
Di tanya kawatir, tentu Orion sangat kawatir, tapi Orion tidak berani membantah permintaan Om Gandinya. Karna Orion sadar diri, sudah menyakiti hati Om dan Tantenya. Terlebih, Gandi pada saat di kantin Rumah Sakit itu, memandangnya dengan tatapan marah. Itu sebabnya Orion memilih menuruti permintaan Gandi.
Arya menghela napasnya, kemudian berbicara." Papa tidak memaksamu untuk menerima Queen. Selain dia masih anak anak, Papa dulu melakukan kesalahan, memaksa Ibumu menikah dengan Papa. Meski Pada akhirnya, Ibumu mencintai Papa, tapi hati Ibumu sangat hancur karna harus berpisah dari kekasihnya, Om Aldomu. Papa memang menikahi Ibumu karna wasiat dari mendiang Kakek Ibumu, untuk menjaga Ibumu, sejenis perjodohan, tapi tidak bersifat memaksa, tapi Papalah yang memaksa Ibumu dengan melakukan cara licik, supaya Ibumu tidak bisa menolak memikah dengan Papa" ungkap Arya menerawang ke masa 21 Tahun yang silam.
"Berbulan bulan Papa selalu mendapati wajah Ibumu sembab setiap malam, saat Papa pulang kerja. Ibumu menangis setiap malam. Melihat itu Papa merasa bersalah, Papa menyesal sudah memaksa ibumu menjadi milik Papa, hati Papa sakit melihatnya. Tapi pernikahan sudah terjadi, tidak semudah itu untuk mengakhirinya, terlebih Papa sangat mencintai Ibumu. Pada saat itu usia Ibumu baru tujuh belas Tahun, masih kelas dua SMA." ungkap Arya lagi sembari tersenyum. Mengingat tingkah aneh bin ajaib siswi teristimewanya itu.
"Papa pikir, dengan tidak memaksamu menerima Queen, tidak akan ada yang tersakiti, tidak akan terjadi masalah. Ternyata Papa salah !" Setelah berbicara Arya menghela napasnya.
"Papa memang tidak akan memaksamu, tapi pikirkanlah sakali lagi keputusanmu untuk melanjutkan pendidikanmu ke luar Negri. Setidaknya menunggu Queen sembuh !, dan semua keadaan membaik. Dengan kamu pergi menjauh itu sama saja kamu lari dari masalah. Kamu tau sendiri nak !, kita tidak punya siapa siapa selain mereka. Jangan biarkan hubungan kita semakin jauh dengan mereka. Janganlah menjauhi Queen. Papa rasa tidak susah bagimu untuk mencintai Queen, karna pada dasarnya kamu sudah menyayanginya. Kita jangan melakukan kesalahan untuk yang kedua kali nak !" ucap Arya dengan wajah memohon, matanya nampak berkaca kaca.
Usia bukan menjadi patokan untuk orang tidak melakukan kesalahan , karna pada hakikatnya manusia adalah tempat salah dan dosa. Kadang pengalamanlah yang membuat seseorang bisa mengambil keputusan yang menurutnya benar, tanpa sadar akan bisa menimbulkan masalah yang baru.
"Tapi Pah !, Om Gandi sudah melarangku untuk menemui Queen, Om Gandi menyuruhku untuk menjauhi Queen." ucap Orion akhirnya.
Usia Orion barulah sembilan belas Tahun, bisa di bilang masih usia labil. Tentu pemikirannya belum matang untuk mencerna segala sesuatu di hadapannya. Kadang pikirannya terlalu lurus, dan jika sudah belok, susah untuk di luruskan.
Arya menghela napas lagi, ia tau Gandi sudah sangat kecewa terhadap mereka. Sehingga memutuskan komunikasi dan silatulrahmi dengan mereka.
"Dan tidak mungkin aku menawarkan diri untuk Queen setelah kegagalanku dengan Kezia Pah !.Tentu mereka nanti merasa di remehkan sama kita Pah !" ujar Orion.
"Tidak ada salahnya di coba, jika mereka tidak menerimamu untuk Queen. Tapi kita harus tetap memperbaiki hubungan kita dengan mereka." balas Arya. Orion pun diam sambil berpikir.
"Besok kita ke Rumah sakit, kita harus mencobanya." ucap Arya.
"Iya Pah !" balas Orion.
"Ya sudah ! istirahatlah !" Arya mengusap kepala anak sulungnya itu, kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan keluar dari kamar Orion.
.
.
Di rumah sakit
Gandi membaringkan tubuhnya di samping Queen, memeluk tubuh lemah Queen.
"Queen ! maafin Papa sayang !, bangunlah !, Papa sangat menyayangimu sayang !. Papa Janji tidak akan marah marah lagi sama Queen" ucap Gandi, tak terasa air matanya mengalir. Seminggu lebih sudah putrinya tidak bangun dari tidur lelapnya.
"Apa yang harus Papa lakukan sayang, supaya kamu mau bangun ?. Kenapa kamu begitu yakin, kamu akan hidup bahagia dengan Abang Orionmu itu ?. Sedangkan dia tidak mencintaimu. Apa Papa selama ini kurang perhatian sama kamu ?, karna Papa terlalu sibuk bekerja."
"Papa ! Queen ingin Bang Orion Pah !" gumam Queen." Queen kangen pah !" gumamnya lagi.
Jangan katakan Queen bodoh, dia masihlah anak anak, yang masih di kuasai emosinya dan perasaannya, tanpa berpikir.
Apa yang harus aku lalukan ya Allah ?. Kenapa Putriku yang masih kecil ini, sudah mengalami jatuh cinta ?. Apa yang Engkau rencanakan di balik ini semua ?. Ampuni aku yang sudah gagal menjaga putriku ya Tuhan !. Ini salahku !, aku terlalu sibuk bekerja, aku lalai mendidiknya. Batin Gandi
"Iya sayang !, tapi kamu harus bangun dan sembuh !" balas Gandi.
Sakitnya hati Papa Gandi, melihat putrinya sudah membagi cinta dengan pria lain. Cinta putrinya tak lagi utuh untuknya.
.
.
Orion tidak bisa memejamkan mata sudah dua malam ini. Ia selalu memikirkan keadaan Queen, ia kawatir kepada pacar kecilnya itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang, untuk memperbaiki semuanya ?.
Karna tidak bisa tidur, Orion pun bangun dari atas tempat tidur. Berjalan keluar ke teras balkon kamarnya. Orion mengarahkan pandangannya ke rumah yang di sebrang jalan. Nampak kamar Queen gelap, pertanda tidak ada orang di dalam.
Maafkan abang Queen !, abang menyayangimu Queen !.batin Orion
.
.
Esok harinya
Bunga mengetuk pintu ruang perawatan Queen. Ia datang bersama Arya dan Orion. Mereka tidak bisa membiarkan masalah terus berkepanjangan. Mereka memang salah, tapi kesalahan bukan berasal dari mereka saja. Tidak ada salahnya di coba untuk berbicara baik baik, mungkin sudah terjadi kesalah pahaman di antara mereka. Dan tidak mungkin mereka membiarkan Queen sakit begitu saja.
Mereka datang untuk berdamai bukan karna kegagalan Orion. Itu murni dari hati nurani mereka untuk baikan. Untuk masalah Orion dan Queen, bagaimana baiknya saja, mereka akan menyerahkannya kepada Gandi dan Vani, mereka akan menghargai keputusan Gandi dan Vani. Tapi hubungan silatulrahmi di antara mereka tidak boleh terputus.
"Masuk !" sahut dari dalam
Bunga pun mendorong daun pintu di depannya sembari melangkah masuk, di ikuti Arya dan Orion.
Gandi dan Vani diam melihat kedatangan Bunga, Arya dan Orion.
"Silahkan duduk Pak Arya !" ucap Gandi, bagaimana pun, dia harus menghargai tamu. Arya pun duduk di sofa di sebelah Gandi.
"Gandi ! Vani ! aku tidak mau hubungan kita terputus. Kami minta maaf atas kesalahan kami." ucap Bunga menjatuhkan tubuhnya di depan Gandi dan Vani, sambil menangis memegang tangan Gandi.
Sedangkan Orion, ia lebih memilih mendekati Queen yang terlelap di atas brankar. Orion memandangi wajah Queen, mengusap kepala Queen, Lalu mencium keningnya.
"Orion yang salah ! kenapa kalian ikut menghukumku ?" tanya Bunga lagi, merengek manja berbicara dengan mengerucutkan bibirnya, berobah menjadi Bunga saat masih remaja.
"Jika Orion kurang ajar, bukankah itu salah kalian juga ?. Orion juga besar di bawah asuhan kalian !" Keluar sudah senjata pamungkas Bunga, yang selalu pintar beralibi. tidak mau disalahkan sendiri, malah ikut menyalahkan orang lain.
"Kenapa kalian gak memberinya pelajaran, memukul kepalanya, sampai otaknya keluar dari cangkangnya ?."
Gandi menghela napasnya, melihat sahabat tengilnya itu, merengek manja. Hati siapa yang tidak luluh, melihatnya sahabat sendiri datang merengek, berlutut di depannya. Gandi tidak bisa berkata apa apa lagi. Ingin marah, tapi emosinya entah hilang kemana. Rasa sakit hati dan kecewanya juga, melanyang begitu saja dari dalam dadanya.
"Baiklah ! aku memaafkanmu ! tapi tidak dengan anak itu !" ucap Gandi, sambil menunjuk Orion dengan dagunya.
Wajah Bunga langsung sumiringah, kemudian berdiri, dan langsung memeluk Gandi erat.
"Aku tau kamu hatinya baik !" ucap Bunga, mencium ujung kepala Gandi.
"Sayang !"
Cemburu lah pria yang hampir tua yang duduk di sebelah Gandi.
.
.
#Sudah ya ! sedih sedihnya !. Sebesar apa pun masalah, akan mudah di selesaikan, jika di bicarakan baik baik. Sesakit apa pun hati yang terluka, memaafkanlah obat yang paling mujaraf.