
Hani terbangun dari tidurnya dan langsung meringis karna merasakan perutnya sakit kembali.
"Sakit bang !" Hani mengusap usap perutnya.
"Sabar ya !, sebentar lagi Gaia akan datang ke sini untuk memeriksanya." Bilal terus mengusap usap punggung dan kepala Hani, sesekali memgecup keningnya.
"Hani !"
Hani menoleh ke arah sumber suara itu. Tanpa Hani sadari, di kamar itu sudah di penuhi menantu keluarga Alfarizqi.
Queen yang menyapa Hani, berjalan ke arah ranjang.
"Bilal, istirahatlah ! biar aku yang menggantikanmu !" tawar Queen.
Dari tadi subuh Bilal sudah lelah duduk bersandar di kepala ranjang dengan memeluk Hani yang ketiduran. Sekarang sudah menunjukkan jam sembilan pagi.
"Boleh abang shalat sebentar?" pamit Bilal lembut. Bilal akan melaksanakan shalat duha seperti kebiasaannya.
Hani menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya !" Bilal mendudukkan tubuh Hani, supaya ia bisa turun dari atas tempat tidur dan langsung di gantikan oleh Queen.
"Santai aja !, jangan terlalu di pikirkan. Nikmati saja rasa sakitnya. Setelah nanti bayi nya lahir. Kamu akan merasakan nikmat yang sangat luar biasa!" ucap Queen. Tangannya mengurut urut punggung Hani yang duduk di depannya.
Setelah Bilal keluar dari dalam kamar, Yumna,Naysila,Sirin dan Jean berdiri dari sofa ikut bergabung ke atas tempat tidur.
"Iya ! Rileks aja !" timpal Sirin memijat mijat sebelah tangan Hani."Aku sudah menyuruh Gaia datang ke sini untuk memeriksanya, sebentar lagi akan sampe.Nanti kalau sudah ada pembukaan, kita ke rumah sakit aja" tambah Sirin.
"Tapi seharusnya kamu banyak jalan jalan, untuk mempercepat proses pembukaan" ujar Queen.
"Iya ! tapi kita tunggu Gaia aja dulu, biar dia memeriksa jalan keluarnya" sambung Naysila.
"Apa sudah di beritahu ke pesantren ?" tanya Jean.
"Gak tau Kak, sepertinya belum!" jawab Hani.
"Aku akan menghubungi Annisa, biar dia yang memberitahu kepada Kakak iparmu !" Jean turun dari atas tempat tidur, berjalan ke arah meja sofa, mengambil handphonnya dari dalam tas kecilnya.
Setelah memberi kabar Hani akan melahirkan kepada Annisa. Ia pun kembali bergabung ke atas ranjang.
"Assalamu alaikum !"
"Walaikum salam !"
"Tuh ! Gaianya sudah datang !" ucap Sirin.
Gaia pun melangkahkan kakinya ke arah ranjang dengan wajah tersenyum. Kemudian menyalami satu persatu para Ibu dari keluarga Alfarizqi itu.
"Apa kabar Momy Queen ?, Tante Nay, Tante Yuyu, Tente Jean ?" sapa Gaia.
"Alhamdulillah sehat !" jawab mereka serentak.
"Apa Tente Hani sudah sering merasakan sakit ?" tanya Gaia.
"Baru dua kali, tadi subuh dan barusan" jawab Hani.
Gaia mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Hani.
"Tente berbaring dulu ya ?"suruhnya.
Qeeun yang duduk di belakang Hani, langsung turun dari atas kasur, kemudian membantu Hani untuk berbaring.
Setelah Gaia memeriksa tekanan darah dan denyut jantung Hani. Ia pun memeriksa jalan lahirnya.
"Belum ada pembukaan, yang tadi itu masih kontraksi palsu. Dede bayinya lahirnya masih lama, ini bisa besok pagi. Tante Hani jalan jalan aja dulu, biar mempercepat proses bukaannya" jelas Gaia setelah selesai memeriksanya.
"Trimakasih ya !" ucap Hani mengulas senyumnya.
"Sama sama Tante !. Nanti kalau sakitnya semakin sering, hubungi Gaia Tante !" balas Gaia.
Hani menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Gaia langsung pamit Tante, Gaia masih banyak pasien di rumah sakit. Assalamu alaikum !" pamit Gaia sekalian.
"Walaikum salam !"
Gaia sangat buru buru, karna banyak pasien rumah sakit yang membutuhkannya. Jika bukan keluarga, Gaia tidak menerima panggilan untuk memeriksa pasien ke rumah rumah.
"Gaia sudah sepantasnya menikah !" Queen memperhatikan Gaia keluar pintu kamar itu.
"Entahlah anak itu, dia belum memikirkan menikah, dia terlalu sibuk dengan karirnya"Sirin menghela napasnya.
"Kenapa tidak mencari calon suami untuknya ?" tanya Queen lagi." Tidak terasa usianya akan terus bertambah, dia menjadi perawan tua" ujarnya.
"Sembarangan bilang putriku peraqan tua !" cetus Sirin tidak suka." Dan anakmu Boy, kenapa gak kamu cariin istri?. Usianya sudah 37 Tahun, itu sudah perjaka tua, belum juga menikah !."
"Entahlah anak itu, kepalaku pusing memikirkannya. Dia terlalu sibuk mengurus perusahaan peninggalan Kakeknya di sana!." Queen ikut menghela napasnya.
Ya semenjak Boy lulus SMP, Paman Jhonnya memintanya untuk melanjutkan sekolah di luar Negri. Karna Boy adalah pewaris harta Jeslin Ibunya. Boy harus berlajar untuk mengurus perusahaan.
Tapi semenjak Kakek, Nenek dan Paman Jhonnya meninggal. Seluruh harta dan perusahaan jatuh kepada Boy, sebagai pewaris tunggal dari keluarga itu. Sehingga membuat Boy sangat sibuk dan tidak sempat memikorkan wanita.
"Kenapa tidak mencari calon istri saja buat Boy ?" tanya Yumna.
"Wanita mana mau menikah dengan pria yang gila kerja ?. Itu hanya wanita mantre, aku gak mau" jawab Queen.
"Kamu bisa mencari wanita dari keluarga atau kerabat kita!" jawab Yumna.
Queen diam sambil berpikir.
"isssh !" ringis Hani tiba tiba merasakan perutnya sakit lagi."Sakitnya semakin bertambah !" ringis Hani lagi.
"Sayang !" Bilal yang baru datang, mempercepat langkahnya ke arah kasur melihat Hani kesakitan.
"Ah ! Bilal, tadi Gaia sudah datang, katanya belum ada pembukaan, bawa Hani jalan jalan dulu!" ucap Sirin kepada Bilal.
"Iya Kak !" patuh Bilal, menarik Hani ke dalam pelukannya, setelah Queen menjauh.
"Kita jalan jalan ya !" Bilal membantu Hani turun dari atas kasur dan menuntunnya berjalan keluar kamar, untuk berjalan jalan seperti anjuran Dokter Gaia.
Sepeninggal Bilal dan Hani.
"Mumpung kita lagi ngumpul di sini, bagaimana kalau kita mengadakan acara buka puasa bersama bersama anak anak dan cucu cucu kita" usul Queen sebagai istri dari ketua suku.
"Boleh ! tapi mama kecil ikut ya !" ujar Sirin.
Kasihan sekali Ibu tirinya itu, sudah menjadi janda karna Papa Aldo sudah tiada.
"Tentu boleh ! ada ada aja kamu. Diana juga bagian dari keluarga kita. Apa kamu lupa Om Aldo sudah menjadi saudara Mama Bunga!" jelas Queen.
"Kalau begitu, aku akan menelepon Mama kecil,menyuruhnya datang bersama Nora dan Dinda" Sirin mengambil handphonnya yang terletak di meja sofa untuk menghubungi Diana.
"Aku juga akan menyuruh si kembar datang ke sini" Yumna juga mengambil handphonnya untuk menghubungi anak anaknya.
Begitu juga dengan Naysila dan Jean, mereka juga menghubungi anak anak dan cucu cucu mereka supaya nanti sore datang ke rumah Bilal.
Kini Bilal dan Hani sedang berjalan di pinggir jalan komplek perumahan mereka. Semenjak dari rumah tadi, Bilal tidak pernah melepas tautan tangan mereka. Nampak sesekali Bilal melap keringat yang membasahi kening Hani.
"Sayang ! puasanya batalkan aja ya !" ucap Bilal lembut.
"Aku masih kuat bang !, lagian gak ada apa apa yang keluar" tolak Hani.
"Kalau nanti gak kuat lagi, jangan di paksa puasanya" ujar Bilal menahan kekesalannya.
Mereka sedang berjalan jalan, Bilal kawatir istrinya itu kelelahan, dan haus.Tapi istrinya itu kekeh untuk berpuasa.
Hani mengaggukkan kepalanya, sambil tangannya mengusap usap perutnya. Ia masih kuat untuk melanjutkan puasanya, menurutnya sayang jika harus di batalkan.
"Yuk ! kita istirahat di sana!" Bilal menunjuk banku panjang yang berada di sekitar trotoar jalan. Kemudian menuntun Hani berjalan ke arah bangku tersebut.
Setelah mendudukkan tubuh mereka, Hani menyandarkan kepalanya ke dada bidang Bilal." Hani minta maaf ya Bang! jika Hani banyak salah selama ini" ucap Hani tiba tiba.
"Kenapa bicara seperti itu?. Pasti aku akan memaafkanmu tanpa kamu harus minta maaf. Kalau tidak, pasti kamu bukan istriku lagi" balas Bilal, mengusap kepala Hani dari belakang.
"Aku takut terjadi apa apa padaku. Aku tidak sempat minta maaf sama Abang!" ucap Hani lagi.
"Hei ! kamu bicara apa ?, aku tidak suka mendengar itu" Bilal meraih dagu Hani, mengarahkan wajah Hani ke arahnya.
Hani mengulas senyumnya kepada Bilal, mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Bilal.
"Aku mencintaimu Ustadz Bilal !"
"Hani..! jangan membuatku takut seperti itu" wajah Bilal berobah kawatir, menatap wajah Hani dengan mata berkaca kaca.
Hani malah tertawa kecil, melihat kekawatiran di wajah Bilal. Dan Hani pun memeluk tubuh itu erat.
"Kalau aku mati,aku gak ikhlas jika ustadz menikah lagi. Aku akan menghantui wanita itu sampai tidak betah bersamamu !" Hani tersenyum saat mengatakan itu, tanpa melepas netranya dari wajah Hani.
"Sayang ! jangan bicara mati !" Bilal menatap Hani marah.
Ia sudah kawatir memikirkan akan persalinan istrinya, malah istrinya itu bisa bisanya bertingkah aneh, menurut Bilal.
Tiba tiba Hani mengeryit, kemudian meringis kesakitan merasakan perutnya sakit lagi.
"Abang ! sakit !" Hani mencengkram baju Bilal kuat.
"Kita balik ke rumah aja ya !" ujar Bilal mengusap usap perut Hani, mengajak anak mereka untuk berdamai.
"He um !" Hani mengangguk anggukkan kepalanya.
Saat perjalanan kembali ke rumah, Hani memgalami kontraksi sampai tiga kali, dan sakitnya pun semakin bertambah.
Sampai di depan rumah, Bilal menggendong tubuh Hani masuk ke dalam rumah. Karna Hani hampir tak kuat berjalan.
"Bilal ! Hani kenapa ? apa bayinya sudah mau lahir ?" tanya antusias Sirin.
"Sepertinya begitu kak !, tolong hubungi Gaia Kak !" jawab Bilal, mendudukkan Hani di sofa ruang tamu.
Gegas Bilal masuk ke dalam kamar, untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya dan langsung keluar. Bilal akan membawa Hani ke rumah sakit, untuk periksa. Menurut Bilal lebih baik mereka di rumah sakit, karna ada Dokter yang mengurusnya.
Bilal membawa Hani kembali ke luar rumah, dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah menutup pintu di samping Hani, Bilal menyusul masuk dudul di kursi kemudi, dan langsung melajukan kenderaannya keluar pekarangan rumah.
"Abang ! sepertinya pipisku keluar" ucap Hani, merasakan cairan mengalir di kakinya, sangat banyak.
"Gak apa apa sayang !, nanti kita bersihkan di rumah sakit" Bilal menelan salivanya susah payah. Meski kawatir, Bilal terus mencoba untuk tenang, supaya ia bisa menyetir dengan konsentrasi. Bilal tau kalau yang keluar itu air ketuban.
"Abang ! keluar terus !" ucap Hani lagi.
"Gak apa apa sayang !" Bilal menghela napas dalam, dan terpaksa harus menambah kecepatan laju kenderaannya, Bilal kawatir air ketuban istrinya habis sebelum anak mereka lahir.
"Aw !"
Lagi Hani mengeluh kesakitan, merasakan perutnya sakit lagi.
"Sakit Bang !" kali ini Hani menagis menahan sakitnya.
"Iya sayang ! sabar ya !" Bilal menarik Hani supaya bersandar ke lengannya.
"Sakit bang !"
"Iya sayang ! sebentar lagi sampe" hanya itu yang bisa Bilal ucapkan untuk menenangkan hati Hani yang kesakitan.
Sampai di rumah sakit, Bilal memarkirkan mobilnya tepat di depan UGD. Di sana sudah ada Gaia dan perawat dengan brankarnya.
Gegas Gaia membuka pintu di sampig Hani, tanpa menunggu Bilal turun dari dalam mobil. Kemudian memerintahkan kedua perawat itu untuk membantu Hani keluar dari dalam mobil, dan mengangkat tubuh Hani ke atas brankar.
"Air ketubannya sudah pecah !" ucap Bilal mendekati Gaia.
"Cepat bawa masuk pasien ke ruang UGD" perintah Gaia kepada kedua perawat itu.
Gaia dan Bilal langsung mengikuti dari belakang, masuk ke ruang UGD.
Gaia langsung memeriksa jalan lahirnya, dan kondisi air ketubannya. Perawat di rungan itu membantu mengukur tensi pasien dan memasangkannya jarum infus.
sedangkan Bilal mendekati Hani yang berbaring di atas brankar. Bilal mengambil satu tangan Hani, menggenggamnya erat, lalu mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Gak apa apa !" ucap Bilal melihat wajah kawatir Hani.
Bilal pun berpindah mengecup kening Hani, sambil tangannya mengusap ujung kepalanya.
"Paman ! kami harus segera melakuan operasi.Karna air ketubannya hampir habis, sedangkan pembukaan jalan lahir masih bukaan tiga" ujar Gaia, setelah selesai memeriksa kondisi Hani dan janimnya.
Dug dug dug dug !"
Jantung Hani langsung berdenyut sangat kencang. Tanpa sadar meremas kuat tangan Bilal. Hani takut dan kawatir mendengar ia harus menjalani operasi. Itu artinya ia dan bayinya berada dalam bahaya.
Begitu juga dengan jantung Bilal, sama seperti jantung Hani berdetak sangat kencang. Tentu Bilal kawatir dan takut atas keselamatan istri dan anaknya.
"Ayo Paman ! kita bawa Tante Hani ke ruang operasi" ujar Hani lagi.
Bilal menganggukkan kepalanya, mencoba untuk tenang. Berdoa di dalam hati, supaya istri dan anaknya di selamatkan.
Tidak perlu meminta persetujuan atau harua mengurus administrasi terlebih dahulu. Karna rumah sakit itu adalah milik Gaia, warisan dari sang kakek Aldo untuknya.
Para perawat di ruangan itu, pun mendorong brankar Hani ke arah ruangan operasi. Bersama Bilal di samping brankar yang tidak melepas tangan Hani dari tadi.
Sepanjang operasi berjalan, Bilal terus mendampingi Hani. Mengusap usap kepala Hani, dan mengajak Hani berbicara. Sesekali terlihat Bilal mengecup punggung tangan Hani yang tidak pernah di lepasnya dari tadi, sesekali kecupan itu berpindah ke kening Hani dan pipinya.
Hingga kurang lebih satu jam mereka di ruangan berhawa dingin itu.
"Oe oe oe oe.....!" terdengar suara tangis bayi, sangat nyaring memenuhi ruangan itu.
"Alhamdulillah !" ucap Bilal, air matanya langsung mengalir deras, menangis haru.
"Sayang ! anak kita sudah lahir !" Bilal mengecup lama kening Hani, sampai air matanya menetes ke wajah Hani.
Begitu pun dengan Hani, tak kalah berurai air mata, terharu mendengar tangisan bayi yang di angkat dari dalam perutnya itu.
"Abang !" tangis Hani, namun wajahnya nampak berbinar.
"Iya Hani ku ! itu anak kita, buah cinta kita sayang !" Bilal menghujani wajah Hani dengan ciuman.
Bilal sudah lupa dengan perawat dan Dokter yang ada di ruangan itu, Bilal terlalu bahagia.
banyangkan saja, Hani wanita yang sangat di cintainya. Setelah perpisahan puluhan Tahun, mereka bertemu kembali. Tuhan menyatukan cinta mereka, dan di beri hadiah yang begitu indah, seorang anak.
"Paman ! Tante ! Adikku laki laki, sehat dan semua lengkap, plus sangat tampan!" ucap Gaia, memberikan bayi laki laki itu kepada Bilal.
"Masya Allah !" ucap Bilal menerima bayi laki laki itu dari tangan Gaia. Mendekapnya ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening bayi itu dengan lembut.
Bilal pun langsung mengazhankannya dari telinga kanan, dan mengikomatkannya dari telinga kiri.
Setelah selesai, Bilal mengecup kedua pipi buah hatinya itu. Baru mendekatkannya kepada Hani. Supaya Hani melihat bayi nya dan bisa menciumnya.
"Masya Allah Bang !, aku sudah menjadi Ibu !" tangis Hani lagi, melihat bayi di tangan Bilal.
Seperti mimpi, Hani tidak percaya dengan karunia di depan matanya. Hani pun mencium pipi bayi itu dengan berurai air mata.
.
.