
Arsen sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Meski tubuhnya terasa lemah dan kepalanya sedikit pusing. Arsenio akan tetap pergi kesekolah, karna hari ini ia ada ulangan. Sedangkan Sirin, ia juga sudah rapi dengan pakaian ke kampusnya.
Arsenio dan Sirin pun sama sama keluar dari dalam kamar, berjalan ke arah ruang makan untuk sarapan. Di sana sudah ada Mama Bunga, Papa Arya, Reyhan, Darren, Bilal dan Yumna yang lagi menghidangkan makanan di meja makan.
Tiba tiba Arsen Arsenio merasakan perutnya mual lagi, saat melihat makanan di meja makan.
Oek !
Arsenio langsung menutup mulutnya, dan berlari ke arah dapur, memuntahkan isi perutnya di atas washtapel.
"Arsen !" ucap Sirin, menyusul Arsenio ke dapur." Kamu kenapa ? kok bisa muntah seperti ini ?" heran Sirin, sambil tangannya memijat leher Arsenio dari belakang. Sirin tidak tau, kalau tadi subuh, Arsenio juga muntah, karna tidurnya yang sangat lelap.
Arsenio tidak menjawab, ia sibuk mengeluarkan isi perutnya.
"Ini nih ! akibat sering begadang, jadi masuk angin 'kan !" omel Sirin. Menurutnya Arsenio muntah muntah karna masuk angin.
"Arsen ! kamu kenapa sayang ?, ini minum air hangat dulu" tanya Mama Bunga, memberikan segelas air hangat kepada Arsenio yang sudah berhenti muntah.
"Gak tau Ma !, tadi subuh saat bangun tidur, Arsen tiba tiba mual dan muntah Ma !" jawab Arsenio lemah.
"Minum dulu air hangatnya, sepertinya kamu masuk angin" ucap Mama Bunga lagi.
Arsenio pun meminum air hangat yang di berikan Mama bunga, sampai tandas. kemudian Sirin dan Mama Bunga memapah Arsenio keluar dari dapur. Tubuh Arsenio sudah sangat lemah, wajahnya pun terlihat pucat dan berkeringat.
Oek !
Lagi lagi Arsenio mual saat melintasi meja makan yang berisi makanan. Arsenio kembali berlari ke arah dapur, memuntahkan isi perutnya lagi.
"Arsen !" ucap Sirin dan ratu sejagat bersamaan dan gegas menyusul Arsenio ke dapur.
"Arsen mual melihat makanan di meja itu Ma !" ucap Arsenio, setelah muntahnya mereda.
Mama Bunga mengerutkan keningnya, sambil berpikir, kalau anaknya itu mengidam.
"Kok bisa ?" heran Sirin.
"Sepertinya Arsen lagi mengidam sayang !." Mama Bunga yang menjawab.
Mama bunga pun menuntun Arsenio berjalan keluar dari dapur di bantu Sirin di sebelahnya. Saat melintasi meja makan, Arsenio memejamkam matanya dan menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.
"Kok bisa Ma ! Arsen ngidam ?, Sirin 'kan sebentar lagi mau lahiran !" tanya Sirin. Membantu Arsenio duduk di sofa ruang keluarga. Sirin pun melap keringat di kening Arsenio dengan tissu.
"Bisa sayang !, dulu saat Mama hamil besar Reyhan, Papa mereka juga mengalami ngidam mual muntah di pagi hari.
"Ma ! yang hamili Sirin 'kan Arsen bukan bang Reyhan. Kenapa hamil Sirin, sama kaya waktu Mama hamil bang Reyhan ?" bingung Sirin.
"Bisalah ! mungkin sifat anak kalian meniru sifat Pamannya Reyhan !" jawab Mama Bunga tersenyum.
"Sirin gak mau !, Sirin gak suka cowok anak Mami !" sanggah Sirin dengan bibir mengerucut. Ia sukanya cowok seperti Arsen, badboy, jago berantem, dan tidak manja.
"Reyhan itu Paman kandungnya, itu tidak menutup kemungkinan sayang. Makanya jangan terlalu tidak menyukai anak Mama yang satu itu" balas Mama Bunga tersenyum menggoda Sirin.
"Sirin gak mau !, Sirin maunya anak kami seperti Arsen !" bantah Sirin cemberut.
"Iya sayang ! anak kita pasti mirip aku, yang buat 'kan aku, jangan cemberut gitu, jelek !" ujar Arsenio, menarik Sirin bersandar ke dadanya. Sudah tau Sirin sensitif tidak bisa di goda. Mamanya itu masih saja menggodanya.
"Sana sarapan ! anak kita pasti sudah lapar !" suruh Arsenio. Ia tidak bisa ikut menemani Sirin pagi ini. Eh malah Sirin mengerucutkan bibirnya cemberut.
"Kenapa ? Hm..!" tanya Arsenio lembut.
"Kamu perhatiannya sama anak kita saja !, samaku gak !" rajuk Sirin.
Ya Tuhan ! ini orang kenapa semakin lama semakin menyebalkan sih ?. Batin Arsenio
"Siapa bilang ?, kamu dan anak kita sama sama kesayanganku !. Tentu aku perhatian sama kalian berdua."
Cup !
Arsenio mengecup bibir Sirin kilas." Sana sarapan, kamu sama anak kita pasti sudah lapar!." Terpaksa Arsenio meralat sedikit kalimatnya.
Wajah Sirin langsung tersenyum, ia sangat suka Arsenio berkata manis padanya. Sirin pun menjatuhkan satu kecupan di pipi Arsenio, lalu beranjak pergi ke ruang makan.
Arsenio menggeleng gelengkan kepalanya, dengan sifat Sirin yang sangat cemburuan tidak jelas.
Arsenio pun memijit mijit pangkal hidungnya, kerna kepalanya sedikit pusing.
Seperti inikah yang di rasakan Sirin saat ngidam kemarin ?, batin Arsenio.
"Kalau kamu gak kuat sekolah, gak usah sekolah dulu !."
Arsenio langsung mendongakkan kepalanya ke arah Papa Arya yang berdiri di depannya."Tapi nanti Arsen ada ulangan Pa !" balas Arsenio.
"Nanti kertas ulangannya Papa bawa ke sini, kamu bisa mengerjakannya di sini !"ucap Papa Arya. Menempelkan punggung tangannya ke ke kening Arsen. Mengecek apakah Arsen demam atau tidak. Ya ternyata, Arsenio sedikit demam. Mungkin karna Arsenio kurang istirahat dan kecapean.
Papa Arya pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. kemudian melakukan panggilan, menelepon seorang Dokter untuk datang ke rumahnya, mengecek kesehatan Arsenio.
"Papa sudah telepon Dokter, istirahatlah hari ini." ucapnya, lalu pergi.
Arsenio langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Kepalanya memang pusing, dan tubuhnya lemah, di tambah sedikit meriang. Sepertinya tubuhnya memang butuh istirahat.
"Sayang ! kok tidur di sofa ?, sana kembali ke kamar !" ucap Mama Bunga yang melintas di ruang keluarga. Mama Bunga ingin mengantar Papa Arya ke depan pintu yang akan berangkat ke sekolah.
"Sebentar Ma !" jawab Arsenio tanpa membuka matanya.
Tak lama kemudian Sirin pun muncul dari ruang makan. Sirin mendekati Arsenio yang berbaring di sofa, dan mendudukkan tubuhnya di samping Araenio.
"Arsen ! ayo bangun, pindah ke kamar yuk !" ajak Sirin. Mengulurkan tangannya memijat kening dan pelipis Arsenio.
Arsenio mendudukkan tubuhnya, meraih gelas dari tangan Sirin. Dan meminum rebusan air jahe yang di campur sedikit gula aren itu secara perlahan.
"Trimakasih sayang !" ucap Arsenio tersenyum, karna Sirin perhatian kepadanya. Satu tangannya terangkat mengusap rambut Sirin dari samping.Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Ayo pindah ke kamar !" ajak Sirin sekali lagi. Sirin mengambil gelas dari tangan Arsenio, lalu meletakkannya di atas meja sofa. Kemudian Sirin berdiri dari tempat duduknya, dan membantu Arsenio berdiri, memapahnya ke kamar mereka.
"Begini ya rasanya dapat perhatian dari istri !" gurau Arsenio. Dia masih sanggup berjalan, tapi Sirin sudah memperlakukannya seperti orang yang sakit parah. Dan Arsenio juga bukanlah orang yang manja atau cengeng, meski lagi sakit.
"Emang gimana rasanya di perhatikan istri ?" tanya Sirin, membuka sepatu Arsenio yang sudah terbaring di atas kasur, lalu menarik selimut menutup tubuh Arsenio sampai ke dada.
"Sangat senang dong !" jawab Arsenio tersenyum manis.
"Jangan tersenyum ! nanti bisa bisa aku diabetes melihatnya" ucap Sirin, juga tersenyum.
Arsenio tertawa cekikikan, lalu menarik tangan Sirin supaya Sirin duduk di sampingnya. Arsenio pun mengulurkan tangannya mengusap usap perut besar Sirin.
"Sepertinya anak Ayah ini moodnya lagi bagus pagi ini. Atau anak Ayah ini senang melihat Ayahnya sakit ?" ucap Arsenio kepada buah hati mereka yang belum lahir.
"Ish ! kau ini ! mana ada anak kita senang meilhat Ayahnya sakit !" balas Sirin. Ada ada aja suaminya itu, su uzon sama anak.
"Buktinya dari tadi Mamanya, wajahnya terlihat cerah dari tadi !." Arsenio mencubit gemas sebelah pipi cabi Sirin.
"Aku lagi senang salah ! aku cemberut salah !" ucap Sirin mengerucutkan bibirnya.
tok tok tok
"Arsen ! Sirin !"
"Iya Ma ! masuk aja !" sahut Sirin, mendengar ratu sejagat memanggil mereka dari luar kamar.
Ceklek !
Pintu kamar mereka pun terbuka dari luar, nampak Mama Bunga masuk bersama seorang Dokter laki laki. Tapi itu bukan Dokter Aldo atau Dokter Ghissam.
"Ini Dokternya sudah datang !" ucap Mama Bunga kepada anak dan menantunya.
Sirin pun segera menyingkir dari samping Arsenio, supaya Dokternya segera memeriksa Arsenio.
"Silahkan Dokter !" ucap Sirin.
Dokter laki laki itu langsung memeriksa Arsenio.
"Tidak ada masalah yang serius, hanya masuk angin dan sedikit demam. Dan juga mengalami ngidam karna istrinya hamil" ucap Dokter itu, setelah selesai memeriksa Arsenio." Ini saya buatkan resep vitamin, kalian bisa menebusnya" ucapnya lagi, sambil menulis resep obat di selembar kertas, lalu memberikannya kepada ratu sejagat.
"Trimakasih Dokter !" ucap Mama Bunga, menerima kertas resep itu dari tangan Dokter tersebut.
"Sama sama ! kalau begitu saya permisi !" balas Dokter itu tersenyum ramah, dan sekalian pamit.
"Mari Dokter !" ucap Mama Bunga, melangkahkan kakinya bersama Dokter itu keluar dari kamar Arsenio dan Sirin. Mama Bunga pun mengantar Dokter langganan keluarga mereka itu ke depan pintu.
Setelah Dokter itu pergi, Mama Bunga menutup pintu rumah itu. Mama Bunga memutar tubuhnya, berjalan menaiki tangga ke lantai dua rumah itu.
Sampai di lantai dua, Mama Bunga mengetuk pintu kamar Reyhan dan Yumna.
"Yumna !" panggilnya.
"Iya Ma !" sahut dari dalam, tak lama kemudian pintu kamar itu pun terbuka.
"Ada apa Ma ?" tanya Yumna.
"Mama bisa minta tolong untuk menebus obat buat Arsen ke apotek ?" tanya Mama Bunga kepada menantunya itu.
"Bisa Ma !, tunggu sebentar Ma, Yumna memakai jilbab dulu !" ucap Yumna masuk kembali ke dalam kamarnya. Tak lama kemudia keluar dengan memakai jilbab lengkap dengan nikapnya.
"Maaf ya sudah ngerepotin, gak ada yang bisa mama minta tolongin" ucap Mama Bunga, menuruni anak tangga bersama Yumna di sampingnya.
"Gak ngerepotin kok Ma !" balas Yumna mengulas senyumnya.
"O ya ! sekalian beliin mama buah nanti ya !, dan susu buat ibu menyusui buat Mama. Beli rasa vanila lima kotak, beli jiga biskuit buat Mama, Mama sering lapar karna menyusui" ucap Mama Bunga lagi, tanpa memberikan uangnya kepada menantunya itu.
"Iya Ma !"patuh Yumna.
Sudah sering kali mama mertuanya itu menyuruhnya membeli sesuatu, sekali pun mama mertuanya itu tidak pernah berbasa basi menawarkan uangnya. Yang di belanjain pun bukan sedikit. Minimal seharga lima ratus ribuan.
Katanya Mama mertua orangnya dermawan. Ini buat beliin sesuatu gak pernah di kasih duitnya !. Batin Yumna.
Bahkan untuk belanja kebutuhan dapur, Yumna dan Sirin yang sering ngeluarin duit. Kalau ratu sejagat mah ! lepas tangan dia. Lumayan duit buat belanja dapur bisa di tabung.
Sabar Yumna ! ini sudah resiko tinggal serumah dengan mertua. Batin Yumna lagi
"Kalau begitu Yumna pergi dulu Ma !" pamit Yumna, setelah mereka sampai di bawah tangga.
"Iya sayang ! hati hati !" balas Mama Bunga tersenyum, tanpa merasa punya salah.
Yumna pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
.
.
.
.