
Orion memandangi wajah Queen yang terlelap di sampingnya. Sebelah tangannya mengusap usap perut Queen yang mulai menonjol.
Maafin abang sudah tidak jujur Queen. Abang sangat mencintaimu ! abang tidak mau kehilanganmu sayang !,batin Orion.
Orion sudah menceritakan kepada Queen tentang keberadaan Boy. Orion mengatakan Boy adalah anak adopsinya di luar Negri. Meski awalnya Queen sempat tidak percaya dan mengamuk. Setelah Orion menunjukkn bukti surat adopsi Boy kepada Queen. Akhirnya Queen mencoba untuk percaya.
Orion mengatakan kepada Queen, Boy adalah anak dari adik sahabatnya bernama Jhon. Anak di luar nikah akibat bebas berhubungan badan dan tidak tau pria mana satu Ayah dari Boy. Orion mengadopsinya semenjak dalam kandungan, karna wanita yang mengandungnya ingin menggugurkannya, karna kasihan dengan bayi yang tak berdosa itu. Dan Orion juga mengatakan siap melakukan tes DNA setelah Boy di bawa ke Indonedia, untuk meyakinkan Queen dan keluarga nanti, kalau Orion buaknlah Ayah kandung Boy. Sampai di situ Orion jujur, tapi untuk yang pernah terjadi diantaranya dan Ibu Boy, biar menjadi rahasia.
Tak terasa air mata Orion mengalir dari sudut matanya. Merasa berdosa karna sudah menyembunyikan rahasia besar tentang dirinya yang tak suci lagi kepada Queen. Apa yang bisa Orion lakukan ?, jika kejadiannya di luar kesadarannya. Jika Orion jujur kepada Queen, Orion takut Queen tidak menerimanya, membuat rumah tangga mereka berakhir. Orion tidak mau sampai itu terjadi. Orion sangat mencintai Queen, tidak mau kehilangan gadis kecilnya itu.
Katakanlah Orion egois karna tidak jujur, bukankah Tuhan juga menyuruh hambanya untuk menyembunyikan aib sendiri ?. meski itu kepada pasangan sendiri. Meski itu rasanya tidak adil. Orion juga selama ini merasa terbebani dengan rahasianya itu sendiri. Bila mana nanti rahasia dirinya terbongkar, tentu itu membuat Orion menjadi waswas.
"Sungguh abang takut kehilanganmu Queen !" gumam Orion, memeluk erat tubuh Queen seperti takut kehilangan.
.
.
Di belahan Dunia lain
"Bagaimana Boy ? kapan Daddy mu datang menjemputmu ?" tanya Jhon, sambil mengancing lengan baju kerjanya.
"Katanya setelah Momy Queen selesai ujian. Daddy juga mengatakan Momy ikut kesini" jawab Boy dengan wajah berbinar.
"Apa itu artinya kau akan meninggalkan pamanmu ini ?. Kau sungguh terlalu" sungut Jhon.
"Boy sudah sangat ingin tinggal bersama Momy !. Nanti Paman bisa mengunjungiku ke Indonesia" balas Boy.
"Baiklah !, kau memang sungguh menyebalkan" ucap Jhon." kalau begitu Paman berangkat kerja dulu. Nanti kau jangan banyak menyusahkan bibi" pamit Jhon.
"Pergi saja !" balas Boy
"Ingat ! jika bukan Daddy mu yang menghubungimu, jangan menghubunhinya. Apa lagi sekarang di Indonesia sepertinya malam, Daddymu dan Momy mu pasti sedang istirahat" Jhon mengingatkan.
"Paman ! kenapa Momy Queen tidak pernah berbicara dengan Boy ?" tanya bocah berusia tiga Tahun lebih itu polos, wajahnya terlihat sendu merindukan sosok Ibu, yang tak pernah ia rasakan semenjak lahir.
"Paman tidak tau ! tanyakan saja sama Daddymu. Ya sudah ! jangat banyak tanya, Paman pergi dulu" pamit Jhon sekali lagi, melangkahkan kakinya keluar dari apartemen milik Orion.
Semenjak Orion pulang ke Indonesia, Jhon tinggal di apartemen Orion, untuk menjaga Boy sementara waktu.
.
.
Arsenio terbangun dari tidurnya, mendengar alaramnya dari handphonnya berbunyi. Ia harus cepat bangun , karna harus mengurus rumah, mencuci pakaian dan memasak. Karna Sirin tidak bisa melakukannya.
Arsenio memindahkan pelan kepala Sirin dari atas lengannya ke atas bantal. Kemudian langsung bangun dari kasur lesehan mereka. Arsenio keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali. kemudian mengambil keranjang baju kotor mereka yang terletak di depan pintu kamar mandi, membawanya ke luar rumah untuk mencucinya di tempat cucian yang di sediakan di depan rumah. Arsenio pun menyikat satu persatu baju kotor mereka, setelah selesai lalu membilasnya dan langsung menjemur satu persatu.
Arsenio kembali masuk ke dalam rumah, terlebih dahulu ia ingin mandi, mandi besar tentunya !, sebelum ia melaksanakan ibadah subuhnya. Setelah itu baru ia akan menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Sirin ! bangun !" ucap Arsenio, mengecup pipi mulus Sirin yang nampak tirus. Sirin langsung saja terbangun dan menggeliatkan tubuhnya sambil menguap lebar.
"Sudah pagi ya ?"tanyanya.
"Sudah ! ayo cepat mandi, entar subuhannya gak sempat" suruh Arsenio lagi.
Tiba tiba Sirin mendorong tubuh Arsenio, dengan gerakan cepat berlari keluar kamar, masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasaya, Sirin akan memuntahkan isi perutnya, rutin setiap bangun tidur.
"Sayang !"
Arsenio langsung menyusul Sirin ke dalam kamar mandi, dan memijat tekuk Sirin sampai muntahnya mereda.
"Aku lelah seperti ini Arsen, rasanya tidak enak, sakit !" tangis Sirin. Kenapa ngidamnya sangat parah, tidak seperti sahabatnya Queen, hamilnya enteng enteng aja ?.
"Sabar ya !" Arsenio membawa Sirin ke dalam pelukannya, mengusap usap punggung Sirin dari belakang.
Kata menyesal, sudah pasti terlintas di hati Arsenio. Apa lagi melihat Sirin yang tersisa setiap pagi dan makan sering tak berselera dan pilih pilih.Belum lagi melihat kehidupan mereka yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur, tinggal tambahin suiran ayan, krupuk dan kacang kedelai, dan juga kuah santan, biar tambah gurih dan nikmat, jangan lupa kasih kecap manisnya.
Arsenio hanya bisa menghela napas, ia pun membuka baju Sirin, dan memandikan istrinya itu. Setelah selesai, ia pun memasangkan handuk ke tubuh Sirin, dan membungkus rambut Sirin dengan handuk kecil.Selesai urusan kamar mandi, mereka langsung keluar.
Untuk pertama kalinya Arsenio memasak di pagi hari. Meski tak pandai sekali, tapi bisalah di andalkan. Seperti permintaan Sirin, Arsenio pun memasak jagung muda di campur dengan bayam dan wortel, hanya di masak sayur bening. Karna Sirin pagi ini ingin memakan yang segar segar. Sedangkan Arsenio, ia akan mengikuti selera Sirin untuk menghemat biaya hidup.
"Sayang ! pakai nasi gak ?" tanya Arsenio dari dapur, setelah memindahkan sayur beningnya dari panci ke dalam mangkok berukuran sedang.
"Gak !" jawan Sirin, mendudukkan tubunnya lesehan di lantai kramik ruang tamu mereka.
Arsenio pun membawa dari dapur sayur yang dimasaknya, meletakkannya di depan Sirin.
"Makanlah !" ucap Arsenio mengusap kepala Sirin. Kemudian mendudukkan tubunya di depan Sirin, dan langsung memakan makanannya.
Tidak ada lagi namanya makan di atas meja makan yang terbuat dari kaca tebal. Tidak ada tidak ada keluarga lagi yang meramaikan suasana makan. Kedua anak manusia itu benar benar tersisihkan karna perbuatan dosa mereka.
"Enak banget malah !, buktinya dedek bayinya menyukai masakan Papanya" jawab Sirin, melengkungkan bibirnya ke atas.
"Kamu memujiku karna kamu tidak bisa memasak sama sekali" dengus Arsenio, Sirin pun tertawa cekikikan.
"Nanti aku akan belajar, setelah aku tidak mual dan muntah lagi di pagi hari" ucap Sirin.
"Hm..! aku menunggu itu" balas Arsenio.
.
.
Di kediaman keluarga besar Alfarizqi
Semenjak Papa Arya menyuruh Arsenio dan Sirin keluar dari rumah itu. Kehangatan keluarga itu semakin berkurang. Di ruang makan seperti biasa sering terlontar candaan saling meledek satu sama lain. Kini meja makan itu menjadi hening, meski masih ada eman orang lagi penghuninya di sana. Semua Diam, menikmati makanan di piring masing masing.
Bukan maksud Reyhan dan Elang menyalahkan Papa Arya memberi hukuman kepada adik mereka. Hanya saja Papa Arya menurut mereka tidak berperasaan mengusir Arsen dan Sirin yang kurang sehat.
"Ma ! Pa !, Reyhan berangkat dulu !" pamit Reyhan, setelah menghabiskan sarapan di piringnya. Menyalam tangan kedua orang tuanya bergantian lalu pergi.
"Iya sayang ! hati hati !" balas Mama, mengusap kepala anak manjanya itu.
"Elang juga Ma ! Pa !"
"Darren juga Ma ! Pa !"
"Bilal juga Ma ! Pa !, jajan untuk Bilal mana ?" Bilal menengadahkan tangannya ke depan Mama Bunga.
"Mama gak pegang duit !" jawab Mama Bunga.
"Buat apa Bilal pengang Duit ?, Bilal 'kan jajannya kas bon di sekolah ?" tanya Papa Arya. Anak bontotnya itu, jajannya banyak sekali, Doyan sekali jajanan. Sudah di kasih uang Jajan, malah berani kas bon di kantin sekolah, dengan menjual nama Papa Arya.
Bilal mengerucutkan bibirnya,"Kadang duit Bilal habis, tapi masih pengen jajan lagi" jawab Bilal.
"Lihat badanmu itu !, sudah bulat seperti anak gajah, apa gak berat itu badan di bawa jalan ?" ejek Papa Arya menggoda putranya.Tambah meruncinglah bibir si Bilal.
"Papa pelit !" ucap Bilal
Papa Arya yang gemas dengan anak bontotnya itu, menarik hidung Bilal, kemudian mengeluarkan dompet dari saku celana pendeknya, mengeluarkan uang sepuluh ribu, memberikannya kepada Bilal.
"Masa cuma sepuluh ribu ?" rajuk Bilal.
"Katanya Papa Pelit !" goda Papa Arya.
"Bilal !!! ayo cepat !!!, mau ikut sama abang gak !!!" teriak Elang dari halaman rumah.
Bilal pun segera berlari, dengan bibir cemberut maju lima senti. Papanya itu pelit sekali, nampak sekali Papanya orang miskin, hanya nompang kaya dari ratu sejagat. Untung saja Bilal gak tau kebenaran itu, kalau iya, sudah pasti Bilal mencibir Papa Arya. Yang sering di juluki abang abangnya Papa matre dan genit.
Setelah mereka berdua tinggal di meja makan, Mama Bunga menghela napasnya kasar.
"Apa kamu tidak melihat perubahan sikap anak anak kita setelah kamu mengusir Arsenio dan Sirin ?" tanya Mama Bunga.
"Jadi aku harus bagaimana sayang ?, apa yang harus aku lakukan untuk mendidik anak anak kita ?" tanya balik Papa Arya.
"Aku gak tau apakah Arsenio dan Sirin makan atau tidak. Atm mereka pun kamu blokir, entah bagaimana mereka menjalani hidup tanpa uang. Terlebih mereka tidak pernah hidup kekurangan" tangis Mama Bunga. Semenjak malam kepergian Arsenio dan Sirin, ia selalu kepikiran kepada anak dan menantunya itu.
"Anak itu tidak pernah bekerja, dan entah pekerjaan apa yang bisa di lakukan dengan kesehatannya yang belum pulih. Kamu keterlaluan Aaryan !. Kenapa bukan aku saja yang kau hukum, karna sudah melahirkan anak kurang ajar seperti Arsen ?. Aku yang bersalah !, aku yang tidak becus mendidiknya !. Sirin juga lagi sakit !, kamu tega menghukum mereka seberat itu !" oceh Mama Bunga dalam tangisnya.
Seburuk apa pun anak yang dia lahirkan, tetap itu anaknya. Mama Bunga tetap menyayanginya, tidak perlu di hukum sampai di keluarkan dari rumah. Menjauhkannya dari lingkungan keluarga. Arsen dan Sirin masih labil, masih sangat butuh bimbingan yang ekstra dari orang tua.Entah seperti apa kedua anak itu menjalani kehidupan. Pasti itu sangat sulit bagi mereka.
"Jika aku sendiri gagal mendidik dan membimbing anakku, apa kata orang tua murid ?, aku sebagai guru dan pihak pengelola sekolah ?. Kamu pikir menjadi guru itu, hanya mengajari berhitung dan membaca ?. Tidak hanya itu saja tugas guru sayang !. Guru itu juga harus mengajarkan moral kepada anak didiknya. Jika aku sendiri gagal mendidik anak anakku ?, bagaimana aku bisa mendidik anak anak yang berjumlah ribuan orang ?. Aku melakukan itu juga, untuk memberika contoh kepada anak anak kita yang lain sayang !. Supaya mereka tidak menirunya" balas Papa Arya.
"Tidak harus dengan mengusir mereka, masih banyak hukuman lain !."
"Apa aku harus merajam mereka ? Ha !!!, menyuruh mereka keluar dari rumah ini, itu sudah menjadi hukuman yang sangat ringan bagi mereka !!!" marah Papa Arya membentak Mama Bunga.
"Kau sungguh keterlaluan Aaryan !!!, sikapmu seolah olah manusia yang tak punya dosa !!!. Dan apa hukuman yang pantas untukmu ?, yang telah memaksaku menikah denganmu !!!, Ha !!!."
plakk !!!
"Hidup ada peraturan, setiap yang melanggarnya akan mendapat sangsi. Baik dari alam, sesama manusia, dan Paling utama Tuhan !. aku melakukan itu, untuk mendidik anak anak kita, mengingatkan mereka akan peraturan hidup. Baik peraturan adat, budaya, yang paling utama Agama. Aku tau kau sangat menyanyangi anak anak kita. Yang kulakukan itu juga adalah bentuk kasih sayangku dari seorang Ayah. Memberi mereka sangsi, supaya kelak nanti mereka punya bekal untuk mendidik cucu cucu kita" ucap Papa Arya dengan berlinang air mata. Menyesal telah sempat melayangkan tangan ke pipi istrinya.
Papa Arya pun pergi dari ruang makan itu, meninggalkan Mama Bunga yang menangis memegangi pipinya yang terasa panas.
.
.