Brother, I Love You

Brother, I Love You
118. Aku benar benar jatuh cinta



"Shasa !" kaget Dokter Aldo, melihat mantan istrinya lah yang terbaring lemah di atas brankar itu.


"Ibu Shasa mengalami sesak napas dan jantung berdebar Dok !, Tensi darahnya juga naik 170/ 110 Dok !. Kata polisi yang mengantar tadi, Ibu Shasa sempat pingsan Dok" Jelas perawat yang memberikan pertolongan pertama kepada mantan istri pemilik rumah sakit itu.


"Ambil sampel darahnya!" perintah Dokter Aldo kepada perawat itu.


"Baik Dok !" Patuh perawat itu.


Dokter Aldo pun segera melakukan pemeriksaan kepada Shasa yang terbaring lemah, dan sudah di pasang oksigen di hidungnya.


"Kamu kenapa bisa seperti ini Sha ?, apa kamu makan tidak teratur ?, sepertinya lambungmu bermasalah" tanya Dokter Aldo.


Shasa diam tidak menjawab, ia menatap Dokter Aldo dengan teduh. Bagaimana lambungnya tidak bermasalah, ia tidak teratur makan di penjara/ lebih tepatnya sering tidak berselera makan. Apa lagi setelah mendengar kabar Sirin sudah menikah dengan Arsnio, karna hamil di luar nikah. Di tambah lagi mendengar Dokter Aldo yang sudah menikah lagi. Hati Shasa sangat hancur, harapan memperbaiki hubungannya dengan Dokter Aldo pupus sudah.


Dokter Aldo menghela napasnya, karna Shasa hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaannya. Meski ia sempat marah dan kecewa kepada mantan istrinya itu. Tapi Dokter Aldo tidak bisa membenci Shasa, karna Shasa sudah memberinya dua orang anak. Dan juga Dokter Aldo bukanlah orang yang pendendam.


"Aldo ! aku minta maaf ! aku menyesal !" lirih Shasa.


Dokter Aldo meghela napasnya lagi, kemudian berbicara." Aku sudah memaafkanmu Sha !" balas Dokter Aldo.


"Aku dengar kamu sudah menikah, apa itu benar Al ?" tanya Shasa.


"Iya !" jawab Dokter Aldo.


"Apa itu artinya aku tidak punya kesempatan lagi Al ?" tanya Shasa lagi.


"Maaf !" jawab Dokter Aldo.


"Apa anak anak sangat membenciku Al ?, kenapa mereka tidak pernah menjengukku sama sekali ?."


Lagi lagi Dokter Aldo menghela napasnya." Mereka tidak membencimu, mereka sangat menyayangimu, mereka hanya masih shok aja, tidak menyangka Ibu mereka berada di dalam penjara. Nanti mereka pasti akan mengunjungimu, setelah mereka bisa menerima kenyataan" jawab Dokter Aldo.


"Kamu akan di pindahkan ke ruang perawatan. Dan kebetulan Sirin berada di rumah sakit ini. Saya akan menyuruh mereka menemuimu" ucap Dokter Aldo.


"Kalau begitu saya pergi dulu !" pamit Dokter Aldo. Memutar tubuhnya berjalan ke arah pintu.


"Al !" panggil Shasa


Sontak Dokter Aldo menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke arah Shasa.


"Aku masih mencintaimu Al !" lirih Shasa.


Dokter Aldo mengulas senyumnya," aku percaya itu !, tapi cintamu sudah membuat hatiku terluka Sha. Tanpa sadar kamu juga sudah melukai hati anak anak, terutama Sirin putri kita. Dan sekarang aku tidak bisa menerima cintamu lagi. Karna ada hati yang harus kujaga" balas Dokter Aldo.


Dokter Aldo kembali memutar tubuhnya, melangkah keluar dari ruangan IGD itu.


Shasa yang terbaring di atas brankar, hanya bisa menangis, menyesali sikapnya selama ini yang cemburu berlebihan kepada Mama Bunga.Dan menyesali perbuatan yang mencelakai Arsenio, yang sudah menjadi menantunya.


Dokter Aldo kembali ke ruangannya, untuk mengajak istrinya makan siang. Karna kebetulan sudah waktunya makan Siang. Dokter Aldo membuka pintu ruangannya dan langsung masuk. Ia tidak mendapati Diana di dalam. Dokter Aldo pun berjalan ke arah kamar yang berada di ruangannya, ia yakin istri kecilnya masih berada di dalam kamar.


"Sayang !" panggil Dokter Aldo, saat berhasil membuka pintu kamar itu. Ternyata benar !, Diana masih di dalam, rebahan di atas kasur sibuk bermain phonsel.


Dokter Aldo mengulas senyumnya, sampai matanya menyipit, berjalan mendekati Diana. Dokter Aldo membungkukkan tubuhnya, mengecup bibir manis Diana.


"Sayang ! ayo makan !" ajaknya.


"Sebentar Om !, nanggung main game nya, sedikit lagi Diana menang nih Om !" balas Diana.


Dokter Aldo menghela napasnya, ia harus memaklumi istri cabe cabeannya itu. Ia harus sabar, karna istrinya itu bukanlah wanita dewasa.


"Baiklah !" Dokter Aldo membuka sepatunya, dan ikut naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping Diana.


"Ikh Om ! geli !" keluh Diana, bulu bulu halusnya sudah meremang karna Dokter Aldo mencium telinganya dari samping.


Dokter Aldo semakin menjadi, sangat suka memlihat istrinya yang menggeliat karna kegelian, wajah Diana pun sudah nampak memerah, dan menggigit bibir bawahnya.


"Om ! udah Om !, geli Om !, Diana gak tahan Om !."


"Kalau kamu gak mau makan siang sekarang, Om akan memakanmu sampai habis" ancam Dokter Aldo, menindih tubuh Diana, menyembunyikan wajahnya di lehernya.


"Om !" suara Diana sudah berubah sengau, terangsang dengan perlakuan Dokter Aldo menciumi lehernya.


Dokter Aldo mengangkat kepalanya, melihat raut wajah Diana yang sudah memerah. Dokter Aldo tersenyum, kemudian membelai wajah Diana yang terlihat sangat cantik di matanya.


"Wajahmu sangat cantik putri Diana !, Om menyukainya, menyukai apa yang ada pada dirimu. Apa Om sudah boleh memilikimu ?."


Diana menajamkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo, sambil menggigit bibir bawahnya. Perlahan Diana menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengaggukkan kepalanya.


"Tapi jangan sekarang !" ucapnya.


Dokter Aldo merekahkan senyumnya, sampai gigi giginya yang berjejer rapi kelihatan.


"Selesai makan siang, Om akan mengantarmu pulang, tunggu Om di rumah, oke sayangku !" ucap Dokter Aldo, kemudian menciumi seluruh wajah Diana.


Membuat Diana tertawa tawa bahagia.


Dokter Aldo pun menjatuhkan tubuhnya di samping Diana, kemudian memindahkan Diana ke atas tubuhnya, mendudukkan tubuh kurus Diana di atas perutnya.


Dokter Aldo tersenyum, melihat sisa sisa tawa di wajah Diana yang merona dan berbinar bahagia.


Bersama Bunga, bersama Shasa, aku tidak pernah sebahagia ini. Sepertinya aku benar benar jatuh cinta kepada gadis kecil ini. Batin Dokter Aldo


Dokter Aldo mengambil satu tangan Diana, kemudian mengecupnya. Dan satu tangannya lagi, membelai rambutnya." Om mencintaimu Diana !" ucapnya.


Diana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Diana menerima cinta Om !"balasnya.


Dokter Aldo tersenyum dalam hati, karna Diana membalas ciumannya. Sepertinya istrinya itu sudah ketagihan dengan rasa nikmat yang ia berikan.


Lama ciuman itu berlangsung, Dokter Aldo menyudahi ciuman mereka. Karna mereka harus segera makan siang sebelum jam istrirahat habis.


"Sudah sayang !, nanti malam kita lanjut di rumah, dengan yang lebih hot lagi" ucap Dokter Aldo tersenyum.


Diana yang malu, langsung menyembunyikan wajahnya ke leher Dokter Aldo.


Saat Dokter Aldo akan berdiri, Dokter Aldo pun menahan bokong Diana dari bawah, supaya Diana tidak jatuh. Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Membiarkan Diana bergelantung di tubuhnya seperti anak koala.


Sampai di ruang kerjanya, Dokter Aldo menurunkan Diana. Karna mereka harus pergi makan siang. Dan tidak mungkin Dokter Aldo menggendong Diana keluar dari rumah sakit dengan menggendongnya. Bisa hilang wibawanya sebagai Direktur utama rumah sakit itu.


"Mau makan apa Darling ?" tanya Dokter Aldo, saat mereka berdua akan meninggalkna ruangan itu.


Diana berpikir sebentar, kemudian menjawab."Ayam krispi Om !,sama nasi, sama burger, sama stik kentang, sama kuah sop, sama eskrim. Tapi Diana mau ayamnya dua."


Dokter Aldo mengacak acak ujung kepala Diana gemas. Istrinya itu badannya kecil, tapi makannya sangat banyak. Entah kemana semua yang di makannya, sampai tubuhnya tetap kurus.


Sampai di parkiran, Dokter Aldo langsung membukakan pintu untuk Diana, dan menuntun Diana masuk. Setelah menutup pintunya kembali, Dokter Aldo menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi, dan langsung melajukannya.


Sambil menyetir, Dokter Aldo mengambil satu tangan Diana, kemudian mengecup ngecupnya, seolah olah tangan Diana sangatlah wangi.


"Kenapa Sirin gak kita ajak makan Om ?. Nanti aku di katai ibu tiri yang kejam, gak memberikan anak suaminya makan" tanya Diana, dengan suara manjanya.


"Ghissam pasti memberinya makan Darling !" jawab Dokter Aldo."Sepertinya Sirin dan Ghissam lagi menjenguk ibu mereka, yang lagi di rawat di rumah sakit kita sayang. Tadi yang gawat pasien gawat darurat itu ternyata Shasa." ucapnya lagi memberitahu.


"Tante Shasa sakit Om ?, sakit apa ?" tanya Diana menajamkan tatapannya ke wajah Dokter Aldo yang sibuk memperhatikan jalan di depannya.


"Lambungnya bermasalah, sepertinya mengalami gejala tipes. Mungkin karna dia makan tidak teratur di penjara" jawab Dokter Aldo, wajahnya terlihat biasa saja saat mengatakan itu.


"Apa Om tidak mencintai tante Shasa lagi ?" tanya Diana, jantungnya berdetak kencang saat menanyakan itu.


Dokter Aldo tersenyum, kemudian mengecup punggung tangan Diana yang tidak di lepasnya dari tadi.


"Sekarang Om mencintai kamu !" jawab Dokter Aldo.


Wajah Diana langsung berbinar.


"Bagaimana dengan kamu sendiri Darling ?, apa sudah mencintai Om ?" tanya balik Dokter Aldo, menoleh sebentar ke arah Diana di sampingnya, kemudian kembali pokus dengan jalan di depannya.


Diana menganggungkan kepalanya, dan tersenyum malu malu meong.


Dokter Aldo yang sudah menghentikan laju kenderaannya di depan sebuah tempat makan cepat saji. Langsung menyambar bibir Diana, menciumnya rakus. Sehingga membuat Diana kewalahan, dan memukul mukul dada Dokter Aldo.


Dokter Aldo melepas ciumannya, kemudian tertawa cekikikan sambil tangannya melap bibir Diana yang basah karna air ludahnya.


"Om membuat Diana hampir gagal napas" rajuk Diana pura pura cemberut.


"Om terlalu senang dan bahagia my Darling !" ucap Dokter Aldo.


"Ikh ! Om lebay !, kaya anak ABG aja manggil darling darling" cibir Diana.


Diana gak tau aja, pria matang berpenampilan parlente di sampingnya itu, aslinya adalah pria lebay.


"Om 'kan memang masih ABG darling !" ucap Dokter Aldo lagi.


"ABG tua..iya !" ejek Diana, tersenyum.


"Bagaimana lagi !, melihat istri Om yang cantik ini, Om pengen kembali muda lagi" balas Dokter Aldo, kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Yang langsung di ikuti Diana turun dari pintu sebelahnya.


Dokter Aldo mendekati Diana, meraih tangan Diana, menggandengnya masuk ke dalam tempat makan cepat saji tersebut. Setelah mendapat pesanan mereka, mereka pun langsung melahapnya. Sesekali terlihat Dokter Aldo menyuapkan makanan di piringnya ke mulut Diana.


"Om ! nanti kalau Diana gak lulus tes di kampus milik bang Orion, Diana kuliah dimana Om ?. Diana juga pengen satu kampus dengan Queen dan Sirin ?"tanya Diana, terdengar kumur kumur, karna mulutnya penuh makanan.


"Pasti lulus, belajarlah yang rajin, nanti Om akan membantumu belajar" jawab Dokter Aldo, memberikan Diana semangat. satu tangannya terangkat mengusap kepala Diana dari belakang.


"Setiap malam Ayah dulu selalu mengajari Diana. Tetap aja Diana gak pintar pintar" ucap Diana dengan bibir mengerucut.


"Ayo cepat habiskan makanannya Darling !, nanti kita bahas masalah itu, Om harus mengantarmu lagi ke rumah" ujar Dokter Aldo. Meraih piring makanan Diana, lalu menyuapinya.


.


.


Sementara itu di rumah sakit.


Sirin mendudukkan tubuhnya di bangku yang berada di samping brankar Ibunya terbaring. Sirin menggenggam tangan Shasa, dan sedikit meremasnya.


"Ma ! Sirin minta maaf Ma !, Sirin menikah tidak memberitahu Mama" ucap Sirin dengan mata berkaca kaca.


"Mama yang seharusnya minta maaf sayang !, mama menyesal sudah mencelakai Arsen" balas Shasa.


"Sirin sudah maafin Mama Ma !" ucap Sirin.


"Tapi Arsen pasti membenci Mama !" ucap Shasa meneduhkan pandangannya ke arah Sirin.


Sirin diam, benar yang di katakan Mamanya, kalau Arsenio membencinya. Tadi Sirin sempat mengabari Arsenio, tetang Ibunya yang masuk rumah sakit. Namun Arsenio mengatakan belum siap bertemu Ibunya.


Shasa mengangkat tangannya yang tertusuk jarum infus. Mengusap kepala Sirin yang menunduk." Gak apa apa sayang !, Mama Paham."


.


.