
"Je !"
Jean yang baru memarkirkan sepeda motornya, langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Ya ampun Nadia !, make up mu itu !" ucap Jean melihat Nadia sahabatnya memakai riasan wajah sangat mencolok.
Nadia berdecak," kenapa ? aku kelihatan cantik kan ?" tanya nya sambil merapi rapikan rambutnya.
"Cantik sih cantik, tapi norak tau !" jawab Jean mengunci kontak motornya, lalu turun dari atas motor bebeknya, berjalan masuk ke arah pintu gedung perusahaan tempatnya bekerja.
"Kamu juga ! ha ! tuh ! bedaknya di tebalin dari biasanya ! hayo ! kamu juga pengen mencari perhatian bos baru kita 'kan !" oceh Nadia, menyeimbangkan langkahnya dengan Jean.
Jean memutar bola matanya malas, siapa pula yang pengen mencari perhatian bos ?, pikirnya.
"Ayolah Je ! semua orang nampak semangat ingin menyambut kedatangan bos baru kita. Kamu malah biasa saja !, kamu masih normal 'kan ?. Atau jangan jangan kamu sudah tidak tertaril lagi dengan laki laki ?" oceh Nadia lagi.
"Kamu itu baru pagi pagi sudah cerewet !, mending simpan energimu untuk bekerja nanti, karna pekerjaan kita lagi banyak yang menumpuk." Jean mendudukkan tubuhnya di kursi meja kerjanya.
"Tapi bagus deh kalau kamu gak suka laki laki, sainganku menjadi berkurang !" Nadia pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping meja Jean. Yang ke betulan meja kerja mereka berdekatan.
Jean hanya diam saja, karna ia sudah biasa mendengar kicauan temannya itu setiap pagi dan setiap hari. Jean pun memulai pekerjaannya dengan menghidupkan layar komputer di depannya.
"Kamu itu semangat sekali bekerjanya, belum juga waktunya masuk jam kerja !" ucap Nadia lagi. Namun Jean diam tak menanggapinya.
"Selamat pagi Jean ! selamat pagi Nadia !."
"Selamat pagi juga Yan !" balas Nadia ramah.
"Selamat pagi Jean Ju !" sapa cowok bernama Yanto itu lagi.
"Pagi juga Yan !" balas Jean tanpa menoleh ke arah laki laki yang berdiri di depan mejanya itu.
Yanto berdecak, karna temannya itu sifatnya terlalu datar, dan wajahnya pun datar, jarang tersenyum, bawaannya selalu serius. Yanto pun pergi ke meja kerjanya.
.
.
Di luar gedung perusahaan, Calixto memarkirkan mobilnya di tempat biasa ia memarkirkannya. Calixto memutar pandangannya ke luar kaca mobilnya, mencari apakah Darren sudah sampai atau belum.
Belum datang dia, batin Calixto.
Calixto mengambil handphonnya dari atas dasboard mobil, dan langsung melakukan panggilan kepada Darren.
"Sepertinya aku sedikit terlambat, aku ada urusan sebentar ke kantorku !" ujar Darren langsung dari balik telepon.
"Jam sepuluh ada rapat, jangan sampai terlambat" balas Calixto.
"Hei ! aku ini bosnya, kenapa jadi bang Calix yang mengaturku ?" ujar Darren tidak terima karna asisten abangnya itu memerintahnya.
"Me..ngi..ngat..kan !" jawab Calixto menekan nada setiap katanya.
"Nanti tengah sepuluh aku sudah sampai di sana !. Kalian siapkan saja semua bahan rapatnya !" ujar Darren.
"Baik bos !" patuh Calixto langsung mematikan sambungan teleponnya.
Calixto pun keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam gedung perusahaan.
"Darren belum datang ?" tanya Dikhra saat berpapasan dengan Calixto di depan ruangannya.
"Dia terlambat katanya !" jawab Calixto.
"Bos macam apa itu ?"cetus Dikhra
"Namanya juga bos ! suka suka dia lah !" balas Calixto lalu peri masuk ke dalam ruangannya.
.
.
Waktu berlalu, Darren melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi karna ia sedang buru buru mengejar rapat pertamannya di perusahaan Reyhan.
Lampu merah lagi !, Batin Darren, menghentikan laju kenderaannya di tengah jalan.
Melihat jam di tangannya sudah menunjukkan jam sepuluh kurang seperempat. Darren menghela napasnya kasar. Sebentar lagi rapat akan di mulai, ia sendiri belum melihat materi apa yang akan di rapatkan nanti.
Melihat rambu rambu lalu lintas masih berwarna kuning, Darren langsung saja menancam gas mobilnya menuju kantor perusahaan Reyhan abangnya.
.
.
"Bu Endang ! gak jadi bos baru kita datang hari ini ?" tanya Nadia kepada Ibu personalia perusahaan itu.
"Kenapa ? kamu mau mengincarnya ?"tanya balik Ibu Endang.
"Rencananya begitu hehehehe....!" cengir Nadia.
"Jangan sampai para buruh terlambat menerima gaji karna pekerjaanmu tidak beres. Nanti kamu kukasih surat warning tiga sekalian" ancam Ibu Endang kepada bawahannya itu.
"Baik Bu Endang yang paling cantik !" patuh Nadia tersenyum masam, kemudian pokus dengan komputer di depannya.
Jean berdiri dari kursinya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan itu.
"Je mau kemana ?" tanya Nadia
"Mengantar berkas ini ke ruangan Pak Dikhra !" jawab Jean, kemudian membuka pintu di depannya dan segera keluar.
Jean melangkahkan kakinya ke arah lif untuk naik ke lantai tiga gedung itu. Jean menghela napasnya, melihat pantulan dirinya di dinding lif yang mengantarnya ke lantai tiga.
Terkadang Jean masih bingung dan penasaran, siapa sebenarnya orang yang membantunya, memberinya bea siswa sampai sarjana S1. Menanggung biaya hidupnya dan anaknya waktu itu. Dan untuk mendapatkan pekerjaan yang sekarang juga, Jean yakin ada yang membantunya, tapi siapa orang itu ?, sampai hari ini, orang yang memindahkannya ke kota lain itu tidak mau memberitahunya.
"Pak ! ini berkas yang Bapak minta tadi" ujar Jean, saat melihat Dikhra keluar dari ruangannya.
"Tolong taroh di meja saya cantik !" Dikhra mengedipkan sebelah matanya ke arah Jean sambil tersenyum, lalu pergi ke arah ruangan rapat.
Jean hanya menggeleng gelengkan kepalanya, kemudian mendorong pintu ruangan manager itu sampai terbuka dan langsung melangkah masuk. Meletakkan berkas berkas di tangannya di meja kerja Dikhra, adik kandung dari istri pemilik perusahaan itu. Jean pun langsung keluar dari ruangan itu.
.
.
Di ruang rapat
Reyhan, Calixto, Dikhra dan para penanam saham sudah hadis semua di ruang rapat, hanya tinggal menunggu Darren saja, baru rapatnya akan di mulai.
Kemana sih bocah itu ?, Batin Reyhan, baru di hari pertama, adiknya itu sudah terlambat.
"Dikhra ! coba hubungi Darren, dia sudah sampai dimana ?" suruh Reyhan kepada adik iparnya itu.
"Baru sampe di bawah !" jawab Dikhra sekenanya.
Reyhan langsung saja menatap tajam kepada Dikhra yang selalu suka bercanda, meski dalam keadaan serius. Kalau bukan karna Yumna istrinya, Reyhan tidak bakalan mau mempekerjakan Dikhra yang sifatnya sangat tengil.
"Darren sudah dekat Pak Reyhan !" ujar Dikhra merobah raut wajahnya menjadi serius.
.
.
Darren memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk perusahaan abangnya itu. Dan gegas langsung keluar dari dalam mobil, melangkah cepat masuk ke dalam gedung perusahaan.
Aku terlambat. Batin Darren, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan jam sepuluh lewat lima.
Bruk !
prank !
"Aw !" keluh seorang perempuan saat keluar dari dalam lif.
"Maaf mbak ! maaf mbak ! aku sedang buru buru !" ucap Darren langsung masuk ke dalam lif, tanpa berniat membantu karyawan yang jatuh ke lantai itu.
"Aduh !" keluh Jean berusaha berdiri dari lantai.
Jean mengusap usap pantatnya yang terasa sakit, kemudian memegangi pergelangan tangannya yang terasa sedikit sakit.
"Memanglah anak muda jaman sekarang gak ada sopannya sama orang tua !, main tabrak lari aja !" sungut Jean karna laki laki muda yang menabraknya langsung pergi begitu aja.
Jean pun melangkahkan kakinya masuk ke ruang HRD.
"Je ! kamu kenapa ?" Nadia mengeritkan keningnya ke arah Jean yang baru masuk.
"Jatoh ! kena tabrak orang pas keluar dari lif !" jawab Jean mendudukkan tubuhnya di kursinya.
"Issh aduh !, sepertinya pergelangan tanganku sedikit keseleo" ucap Jean, mengurut urut pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Perlu di bawa ke klinik Je ?" seru Bu Endang.
"Gak udah Bu !, gak apa apa !, di urut urut dikit aja pasti baikan lagi" tolak Jean.
"Sini biar aku yang ngurut !" tawar Yanto.
"Modus ! bilang aja mau pegang tangan Jean !" cibir Nadia.
"Serius akunya Nadia mulyani surya Ningsih !" balas Yanto.
"Iya aku tau ! kamu memang serius mau pegang !" ucap Nadia lagi.
Yanto berdecak," kamu itu su uzon mulu sama aku !"dengusnya.
Sampai di lantai tiga gedung itu, Darren mengetok pintu ruang rapat di depannya, dan langsung membukanya.
"Maaf ! aku terlambat !" ucap Darren menghela napasnya kasar.
Darren pun melangkahkan kakinya ke arah kursi kosong yang berada di samping Reyhan.
"Baiklah ! saya rasa rapatnya sudah bisa kita mulai !" ucap Reyhan berdiri dari kursinya, untuk meminpin rapat langsung.
Ehem !
Reyhan berdehem untuk melegakan tenggorokannya sebelum bicara kembali. Kemudian memulai rapatnya, yang bertujuan, untuk menyerahkan jabatannya kepada Darren untuk sementara waktu.
"Jika tidak ada yang keberatan, rapatnya sayan tutup, terimakasih atas waktu kalian semua" ucap Reyhan mengakhiri rapatnya, kemudian kembali mendudukkan tubuhnya di kursinya.
Rapat selesai, Setelah para tamu dan pihak perusahaan saling berjabat tangan, mereka semua pun keluar dari ruang rapat itu.
"Kamu dari mana ? kenapa lama ?" tanya Reyhan kepada Darren setelah mereka keluar dari ruang rapat.
"Ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantorku" jawab Darren.
"Bawalah pekerjaanmu kesini, kamu bisa mengerjakannya sekalian di sini" ujar Reyhan, membuka pintu ruangannya dan langsung masu di ikuti Darren.
"Lapar Bang, kantin mana ? aku belum makan apa apa dari pagi !" ucap Darren.
Reyhan menghela napasnya," kembali lah tinggal di rumah !, kamu itu soksoan aja tinggal sendiri, tapi untuk mengurus perut, kamu gak bisa" balas Reyhan." Di sini tidak ada kantin" ucap Reyhan lagi.
"Bang pesanin makanan, lapar banget nih !" pinta Darren lagi sambil tangannya mengusap usap perutnya, perutnya benar benar sangat lapar.
"Pesan sendiri 'kan bisa !" balas Reyhan, namun mengeluarkan HP dari saku celananya, kemudian memesan makanan lewat on line.