Brother, I Love You

Brother, I Love You
237. Bergetar kembali



Hani mengerjap ngerjapkan kelopak matanya, terbangun dari tidur lelapnya. Hani merasakan ada yang mengusap usap kepalanya. Hani membuka matanya, dan langsung menajamkan pandangannya ke arah wajah tersenyum di sampingnya.


"Pagi !" sapa suara berat itu.


Hani melengkungkan bibirnya ke atas, dan satu tangannya terangkat untuk meraba wajah tampan di depannya itu. Hani ingin memastikan, kalau dia sedang tidak bermimpi.


Bilal mengambil tangan Hani dari pipinya, lalu mengecup telapak tangannya.


"Ini nyata Hani ! kamu tidak sedang bermimpi !" ucap Bilal tersenyum.


"Ustadz sudah selesai mandi ?" tanya Hani, merasakan pipi Bilal dingin dan sedikit lembab. Dan wajah Bilal nampak segar, dan sudah memakai baju koko.


"Sudah !, ayo bangun, sebentar lagi akan masuk subuh !" jawab Bilal, menyibak selimut Hani, dan membantunya bangun.


"Aku merasa tidurku sangat nyenyak malam ini !"ujar Hani, menurunkan kakinya ke lantai sambil menguap lebar dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Bilal mengusap kepala Hani, dan mengecup kening Hani dari samping." Aku duluan ke masjid ya !" pamitnya.


Hani menganggukkan kepalanya," iya Ustadz !" balasnya tersenyum.


Bilal mengusap kepala Hani sekali lagi, dan langsung pergi. Begitu pun dengan Hani, ia melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Pulang dari masjid, Bilal melangkahkan kakinya ke arah dapur, karna mendengar seperti ada suara memasak. Bilal mengulas senyumnya, saat ia sampai di pintu dapur melihat Hani sedang memasak tanpa memakai jilbab. Nampak Hani menggulung rambutnya ke atas, sampai menampakkan leher jenjangnya.


"Assalamu alaikum !" ucap Bilal sembari melangkahkan kakinya mendekati Hani yang sedang mengaduk aduk masakannya.


"Walaikum salam !." Hani memutar tubuhnya dan mengulas senyumnya ke arah Bilal.


"Ternyata istriku sedang sibuk memasak, sampai tidak mendengar salamku tadi" ucap Bilal, memeluk Hani dari belakang, dan mendaratkan satu kecupan di pipinya.


"Maaf Ustadz ! Hani benar benar gak mendengarnya !." Hani meneduhkan pandangannya.


"Gak apa apa !, tapi salamku yang kedua sudah di balas." Bilal semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Hani. Bilal pun meraih sendok goreng yang masih berada di kuali, kemudian membalik telur dadar masakan Hani.


"Aku aja Ustadz !" melihat itu, Hani langsung meraih sendok goreng itu dari tangan Bilal.


"Kalau masaknya bersama, sepertinya rasanya akan lebih nikmat, karna di bumbui dengan cinta kita berdua" ucap Bilal, tidak melapas tangannya dari sendok goreng itu." Apa lagi sambil berpelukan seperti ini !" tambahnya lagi, mengecup pipi Hani sekali lagi.


"Tapi pahalaku bisa berkurang, kalau ustadz membantuku menyiapkan makanan untuk kita !" balas Hani.


"Ya ampun ! pelitnya istriku ini !, masa pahala gak mau berbagi dengan suami !" ucap Bilal tersenyum.


Hani pun ikut merekahkan senyumnya,Pagi ini terlalu indah baginya, di temani seorang suami memasak, dan bahkan di peluk. Hani tidak bisa berkata kata apa lagi, selain menikmati pelukan Bilal ke tubuhnya.


"Ustadz !" tegur Hani, karna Bilal mengecup leher belakangnya.


"Nanti malam aku ingin meraih surga denganmu, apa kamu siap ?" tanya Bilal. Sebagai laki laki normal, tentu si burung cicit miliknya meronta ronta melihat santapan lejat di depannya.


Sontak wajah Hani langsung memerah salah tingkah. Ia pun megalihkan kan wajahnya ke arah lain.


Bilal semakin tersenyum melihat itu. Bilal mematikan kompor di depan mereka, kemudian memindahkan telor dadar dari dalam kuali ke atas piring.


"Hari ini aku harus pergi mengurus pekerjaan. Tunggu aku nanti malam sayang !. Bersiap siaplah ! dandan yang cantik !"bisik Bilal ke telinga Hani.


"Ustadz !" rengek Hani dengan suara manjanya. Hani malu, kenapa suami barunya itu harus menggodanya pagi pagi.


"Panggil aku sayang, mulai sekarang !. Aku tak suka panggilanmu itu !" ujar Bilal, merangkul pinggang Hani, mengiringnya berjalan ke arah meja makan, dengan membawa telor dadar di tangan kanannya.


"Tapi Ustadz itu, sudah menjadi panggilan kesayanganku !" balas Hani, tak ingin mengganti nama panggilannya.


Hani mengerucutkan bibirnya, kenapa suami barunya itu, pembicaraannya terus menjurus ke ranjang. Apa karna tadi malam mereka tidak melalukan ibadah suami istri ?, pikir Hani.


"Nanti aku akan memanggil namamu Bilal !" ujar Hani.


Rasanya geli sendiri, jika harus memanggil sayang. Terlalu lebay, mengingat usia mereka sudah tak muda lagi.


Bilal mengarahkan pandangannya ke wajah Hani, ia senang mendengar Hani menyebut Namanya. Sepertinya itu lebih baik, di banding di panggil Ustadz sama istri sendiri.


"Baiklah ! aku menyuakai itu !" ujar Bilal, mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Hani pun segera menyiapkan peralatan makan untuk mereka, dan tidak lupa, mengambil nasi uduk yang di tanaknya di dalam penanak nasi. Setelah selesai, Hani mengisi nasi ke atas piring, kemudian mengambil sepotong telur dadar dan sambal, lalu memberikannya kepada Bilal.Hani mengambil satu piring kosong lagi untuknya, namun Bilal menahan tangannya saat ia akan mengisinya dengan nasi.


"Piring kita satu aja, aku ingin menyuapi istriku makan !" ucap Bilal, menuntun Hani untuk duduk di sampingnya.


"Masya Allah ! ternyata suamiku sangat romantis !" puji Hani tersenyum." Ternyata di balik jual jual mahalnya dulu, tersimpan cinta yang mendalam !" ucap Hani lagi, lalu tertawa cekikikan.


"Siapa yang jual jual mahal ?. Kamu aja yang keganjengan mengejar ngejar aku terus !. Kamu tergila gila dengan ketampananku ini 'kan !" balas Bilal memuji dirinya dengan percaya diri.


"Aku juga tau, kalau kamu juga menyukaiku !" ujar Hani, mengerucutkan bibirnya, menatap Bilal dengan mata menyipit." Kamu aja yang munafik !" tambahnya.


Bilal merekahkan senyumnya, sambil tangannya menyendokkan nasi dan telor, lalu mengarahkannya ke mulut Hani.


"Aku gak munafik, hanya saja dulu aku ingin melihat sejauh mana kamu mengejar cintaku !" balas Bilal, menatap wajah Hani yang mengunyah makanan dengan mata berbinar penuh cinta." aku menyukaimu saat pertama kita bertemu, saat itu kita menjadi teman" ucap Bilal lagi.


"Tapi kenapa kamu gak mau mengakuinya ?. Kamu memperlakukanku seperti pengemis cinta" rajuk Hani manja.


Bilal mengusap kepala Hani dari belakang." Kalau aku mengakuinya, lantas hubungan apa yang pas untuk kita ?. Aku rasa kamu juga tau kalau aku menyukaimu, tanpa aku kasih tau ! Hm..?" gemas Bilal, lalu mengecup pipi Hani dari samping.


Hani mengembangkan senyumnya, senang mendapatkan ciuman bertubi tubi dari Bilal."Tapi kamu sering ngumpat !" ujarnya.


"Bukankah kamu sangat suka bermain petak umpat ?, meski kalah terus !" balas Bilal.


Hani tiba tiba memeluk tubuh Bilal yang duduk di sampingnya, hatinya terlalu bahagia pagi ini. Hani masih merasa kehadiran Bilal dalam hidupnya, masih seperti mimpi.


"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Kamu Bilal !" ucah Hani kembali menangis lagi.


Bilal menghela napasnya lagi, mendengar Hani terisak." Ssssttt...!" Bilal mengecup ujung kepala Hani dengan penuh perasaan. Tak sadar Bilal pun meneteskan air matanya. Mendengar isak tangis Hani kembali. Segitu menderitanya kah hidup Hani selama ini ?.


"Jangan menangis lagi Hani !, sekarang Tuhan sudah menyatukan cinta kita" lirih Bilal dengan suara tercekat." Nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan sayang ?" ucap Bilal lagi." Istigfar Hani !" ucap Bilal lagi.


"Astagfirullohal 'azim !" guman Hani.


Bilal melepas pelukan mereka, dan menjauhkan sedikit tubuh Hani, supaya bisa melihat wajah Hani. Kemudian Bilal menghapus air mata yang membasahi wajah istrinya itu.


"Dimana Hani yang ceria dulu ? Hm..!" tanya Bilal. Menangkup wajah Hani dengan kedua telapak tangannya.


Hani masih terisak,"jujur ! selama ini aku merasa sangat kesepian. Tapi hati ini beku, mata ini tertutup, untuk laki laki lain. Tapi semenjak melihatmu kembali, hati ini bergetar kembali, jantuk ini berdegub kencang, seolah olah kembali memberikan kehidupan di tubuh ini. Raga ini kembali memiliki jiwa Bilal !" ucap Hani.


Tanpa aba aba, Bilal pun menyambar bibir Hani, menciumnya mesra dan dalam. Sehingga membuat Hani kaget dan kelabakan dan hampir mengalami gagal napas, jika saja Bilal tidak melepas ciumannya.


Hani bernapas ngosngosan, sambil memegangi dadanya, dan menajamkan pandangannya ke wajah Bilal.


Bilal kembali mendekatkan wajahnya perlahan, sampai bibir mereka menempel kembali. Perlahan Bilal menggerakkan bibirnya, kali ini mencium Hani dengan lembut perlahan tapi pasti membuat mabuk.


.


.