
Elang mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong." Aku sudah mendapat berkas berkas mendiang kakek dan nenek dari orang yang membeli tanah mendiang kakeknya Papa" ucapnya.
"Di surat jual beli itu, ada di selipkan foto copy KTP. Aku melihat alamat tempat lahirnya sekilas. Nama daerahnya Madina" ucap Elang lagi.
"Apa itu satu daerah dengan istrimu ?" Orion manajamkan pandangannya ke wajah Elang, begitu pun dengan Papa Arya dan Mama Bunga.
"Sepertinya begitu !, tapi sepertinya daerah itu sangat luas. Dan selama ini Naysila, katanya tinggal di kota S" jawab Elang." Hari ini aku akan ke kantor polisi, aku akan menanyakan alamat yang tertera di foto copy KTP itu kepada Naysila, mungkin dia tau alamat itu.
"Papa mau melihat berkas bekasnya !" ucap Papa Arya.
Refleks Elang mengalihkan pandangannya ke wajah Papa Arya yang nampak sedih dengan matanya berkaca kaca, sepertinya Papanya itu sangat merindukan sosok kedua orang tuanya." Iya Pah !" ucapnya dan langsung berdiri dari kursinya dan segera meninggalkan dapur.
Tak lama kemudian, Elang kembali ke dapur dengan beberapa lembar kertas usang di tangannya.
"Ini Pah !" Elang memberikan berkas bekas di tangannya kepada Papa Arya.
Papa Arya menerimanya, pandangannya langsung tertuju ke arah pasphoto 3×4, berwarna hitam putih di bagian pojok kanan kertas kecil itu. Air mata Papa Arya langsung menetes melihat foto copy potret wajah sang Ibu yang sudah sangat usang dan wajahnya sudah tidak bisa dikenali.
Selama ini Papa Arya tidak memiliki photo yang bisa untuk dia pandang. Karna kata mendiang neneknya, dulu kedua orang tuanya tidak suka berphoto.
"Aaryan !" ucap Mama Bunga lembut, menyentuh bahu Papa Arya, mengusapnya lembut.
"Sudah lama aku tidak melihat wajah ini Bunga!" lirih Papa Arya, tanpa melapas netranya dari kertas di tangannya.
"Tapi wajah mereka pasti tersimpan di sini Aaryan !." Mama Bunga menunjuk dada Papa Arya." dan juga di sini !" mama Bunga menunjuk pelipis Papa Arya." Dan aku yakin, mereka selalu berada di atas pelupuk matamu ini !, kemana pun kamu pergi, mereka selalu mengikutimu. Kamu tidak pernah lupa dengan wajah mereka" ucap Mama Bunga lagi, menghapus air mata yang mengalir di pipi Papa Arya.
"Sudah lama kita tidak mengunjungi kota terakhir yang di kunjungi orang tua kita. Bukankah kamu merasa dekat jika berada di sana ?, kita bisa pergi kesana !" ucap Mama Bunga tersenyum.
Papa Arya mengulas senyumnya, meski wajahnya sedikit sembab, dan menajamkan pandangannya ke wajah istrinya yang tersenyum dan berusaha menghiburnya.
"Apa aku harus mengosongkan kamar itu terlebih dahulu ?" tanyanya. Setiap mereka akan berlibur ke pulau dewata mereka akan selalu menginap di hotel terakhir tempat orang tua mereka menginap.
Mama Bunga menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Tentu !" jawabnya.
"Baiklah !, setelah itu beri aku hadiah !" ucap Papa Arya.
"Apa ?"
"Satu lagi bidadari kecil !"
Ehem !
Dehem Orion
"Uhuk uhuk uhuk !" Elang terbatuk batuk, karna tersedak air ludahnya sendiri.
Oe oe oe oe....!
Sabina yang berada di pangkuan Papa Arya langsung menangis, mengatakan protesnya kepada sang Papa genit.
"Oke !" balas Mama Bunga tersenyum.
"Mama !" sungut Orion dan Elang bersama sama.
Mereka kira hanya Papa mereka yang genit, ternyata Mama mereka juga. Mereka sudah tujuh dan juga sudah pada menikah, malah kedua orang tua mereka masih saja mau memberi adik mereka lagi.
"Kenapa ?, banyak anak banyak rejeki !, lihat mama semakin kaya karna punya banyak anak !" ujar Mama Bunga.
"Iyalah ! semakin kaya, untuk belanja dapur dan yang lainnya pake duit menantunya. Dan uang dari Papa masuk celengan semua !" cibir Reyhan tiba tiba datang ke dapur membuatkan kopi untuknya.
"Benaran sayang ?" Papa Arya menajamkan pandangannya lagi ke wajah mama Bunga yang nyegir sambil menggaruk leher belakangnya. Tidak percaya dengan sifat istrinya itu. Padahal setelah menantu mereka tinggal di rumah itu, Papa Arya menambah jatah uang belanja dapur rumah itu kepada istrinya.
"Lumayan buat perawatan kesalon !" jawab Mama Bunga.
Papa Arya dan ketiga anaknya geleng geleng kepala melihat ratu sejagat yang terkadang rada rada pelit dan suka traktiran.
Setelah mengatakan maksudnya kedatangannya kepada Elang dan Arsenio . Orion pun segera meninggalkan kediaman orang tuanya itu dengan membawa sarapan pagi untuknya, istri dan anaknya.
Sampai di rumahnya dan Queen, turun dari dalam mobil, Orion langsung melangkah masuk ke dalam rumah, berjalan ke arah ruang makan.
"Sayang !" panggil Orion, melihat Queen duduk di kursi meja makan menyuapi Boy sarapan pagi.
"Bagaimana ?, apa Bang Elang dan Arsen mau ?" cerca Queen langsung, menajamkan pandangannya ke wajah Orion yang duduk di sampingnya.
Cup !
Orion mengecup sebelah pipi cabi Queen," dengan bantuan ratu sejagat, mereka setuju sayang !" jawabnya.
Queen melengkungkan bibirnya ke atas," Pengen liburan !" rengeknya manja.
"Oh ! jadi selama ini istri abang ini pengen liburan ?, makanya merajuk merajuk ! hm..!" gemas Orion menarik hidung mancung Queen.
"Daddy ! Boy kangen dengan Paman Jhon !" ujar Boy.
Orion langsung mengalihkan pandangannya kepada Boy yang duduk di aras meja makan dengan kaki bergelantung ke bawah.
"Apa Momy yang ngajarin ?" Orion memicingkan matanya ke wajah Boy, curiga jika Boy dihasut Queen.
Boy menggelengkan kepalanya setelah melihat Queen yang mengedipkan sebelah matanya ke arahnya.
"Oh ! ceritanya kalian kerja sama nih ?, ayo ! kalian ngaku !." Orion menjewer telinga Queen dan Boy bersamaan, dengan mata memicing tapi nampak berbinar. Tentu Orion senang melihat ke kompakan anak dan istrinya. Berarti itu artinya Queen sudah menerima Boy sepenuhnya.
"Nggak Daddy !" jawab Queen dan Boy kompak.
"Tadinya Daddy mau setuju kalau kalian ngaku, sekarang gak lagi" ujar Orion melepas telinga kedua kesayangannya.
"Bang Orion !" rengek Queen manja dengan bibir manyun.
"Ada syaratnya !" ujar Orion.
"Apa ?" tanya Queen.
"Apa syaratnya Daddy ?" tanya Boy menatap tajam wajah sang Daddy.
"Queen harus tetap lanjut kuliah !" jawab Orion.
"Queen gak mau !" tolak Queen.
Orion menarik Queen kedalam pelujannya," Abang gak mau nanti kamu menyesal karna tidak lanjut sekolah Queen. Nikmatilah masa mudamu, meski pun kamu seorang istri dan seorang ibu. Jalanilah hidupmu sesuai usiamu !" ujar Orion.
Kenapa wanita yang dulu dianggapnya adik itu, cepat sekali pikirannya dewasa ?. Orion tidak mau Queen menyesal karna tidak melanjutkan pendidikannya.
"Apa Queen gak ingat syarat abang menukahimu dulu ? hm..!. Kamu harus menjadi wanita yang pintar dan penurut sama abang !. Kamu harus sekolah dan harus pintar" ujar Orion lagi.
"Queen gak bisa jauh dari Syauqi !" jawab Queen, mendongakkan kepalanya ke wajah Orion.
Orion mengecup ujung kepala Queen," Abang yang akan menjaganya saat kamu ada jam kuliah !" bujuk Orion.
Queen diam dan berpikir kembali.
"Boy gak mau Momy sekolah lagi !, pasti nanti momy pergi jauh lagi lama baru pulang !" lirih Boy, menekuk bibirnya ke bawah, matanya nampak memerah dan berkaca kaca siap menangis.
Orion dan Queen sama sama mengalihkan pandangan ke arah Boy yang masih duduk di atas meja. Orion mengulurkan tangannya mengusap kepala Boy.
"Momy sekolahnya gak jauh sayang !, nanti Boy bisa ikut ke kampus kalau Boy sudah pulang sekolah" bujuk Orion.
"Benaran ?"tanya Boy
"Iya sayang !"jawab Orion
"Tapi Queen harus mau lanjut sekolah !" bujuk Orion lagi.
Queen menekuk bibirnya kebawah, lalu mengangguk lemah," Iya deh !" pasrah Queen.
"Kita tidak tau batas usia kita sayang. Jika takdir mengambil abang lebih cepat, abang ingin Queen menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Bisa mengelola usaha yang abang bangun nantinya. Kamu bisa mendidik anak anak kita supaya menjadi orang yang baik dan berguna dan menuntunnya menjadi sukses" ujar Orion menatap wajah Queen dengan pandangan meneduh.
"Bang Orion kenapa bicara seperti itu ?, Queen gak suka mendengarnya !" Mata Queen sudah nampak berkaca kaca mengatakan itu.
Orion mengulas senyumnya, kemudian satu tangannya terangkat membelai wajah Queen."Jangan terlalu mencintai abang berlebihan Queen. Itu tidak bagus, mencintailah sewajarnya saja. Jika saatnya takdir menjemput abang,kamu tidak begitu terpukul karna kehilangan" ujar Orion.
"Apa bang Orion tidak begitu mencintai Queen?." Air mata Queen mengalir tak terbendung lagi.
"Sangat mencinatimu !"jawab Orion tersenyum.
"Queen juga sangat mencintai bang Orion" ucap Queen." Queen selalu berdoa, supaya kita mati sama sama, setelah kita tua nanti" ucap Queen lagi.
Orion malah tertawa cekikikan mendengar doa Queen." Iya sayang !, abang lapar, ambilin gih ! piring buat abang !" suruhnya melepas pelukannya dari tubuh Queen. Tak ingin melanjutkan obrolan yang membuat hati melo itu lagi.
"Liburannya ?"
"Iya sayang ! nanti ! tunggu Syauqi besaran dikit dulu !. Nanti sekalian kita buat adik untuk Syauqi" jawab Orion.
Queen tidak menjawab, ia pun berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah penyimpanan piring dengan bibir mengerucut. Baby Syauqi masih kecil, masa mau di kasih adik ?, pikir Queen.
.
.
Selesai memasak sarapan permintaan Diana. Dokter Aldo pun lansung menghidangkannya masakannya di atas piring. Kemudian menyiapkan satu gelas air putih, membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
Diana tersenyum melihat Dokter Aldo masuk membawa makanan yang dia inginkan. Diana langsung berusaha mendudukkan tubuhnya, tak sabar ingin melahap ikan gurami dengan bumbu pedas asam manis buatan suami tampan matang dan mapannya.
"Sabar sayang !" ucap lembut Dokter Aldo, karna Diana langsung meraih nampan di tangannya.
"Dede bayinya sudah gak sabaran !" balas Diana dengan wajah berbinar.
"Dede bayinya apa ibunya ?" tanya Dokter Aldo tersenyum melihat wajah Diana yang semangat untuk memakan ikan goreng buatannya.
"Hehehehe...! ibunya juga !"cengir Diana, menusuk dengan garpu satu potong daging filet ikan goreng tepung yang di lumuri bumbu saos, memasukkannya ke dalam mulutnya.
Dokter Aldo pun mengangkat satu tangannya mengacak acak ujung kepala Diana yang duduk di atas tempat tidur. Diana sangat manja kepadanya, sama seperti mantan kekasih terindahnya dulu.
"Gimana ? enak ?" tanya Dokter Aldo, mendudukkan tubuhnya di depan Diana, menunggu Diana selesai makan, baru ia akan berangkat bekerja.
Diana menganggukkan kepalanya, karna menurutnya masakan suaminya itu sangat enak.
"Hubbymu ini cicip.. boleh ?" tanya Dokter Aldo, penasaran dengan rasa masakannya yang di makan Diana dengan sangat lahap.
"Gak boleh !" tolak Diana
Ya ampun ! pelitnya istriku ini !, batin Dokter Aldo menghela napasnya. Istrinya itu tidak paham, kalau dia juga terkadang ngidam makanan yang di makan istrinya.
Diana tersenyum, lalu menusuk sepotong daging ikan, menyuapkannya ke mulut Dokter Aldo.
"Pasti By ngatain Diana pelit 'kan ?."Diana menyipitkan matanya ke arah Dokter Aldo.
"Perasaan Hubbymu ini gak ada ngomong apa apa !" sanggah Dokter Aldo, menarik hidung Diana gemas.
"Di dalam hati !" tebak Diana.
"Sok ta..u !" gemas Dokter Aldo mencubit sebelah pipi tirus Diana.
"Ngaku aja By !" Diana mengulum senyumnya, sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Semakin lama istriku ini semakin menyebalkan ya !." lagi lagi Dokter Aldo mencubit pipi Diana.
Diana tertawa tawa kecil, kemudian menyuapkan sepotong daging ikan lagi ke mulut Dokter Aldo.
"By baru tau ! kalau Diana menyebalkan ?" tanyanya.
"Gak juga ! Hubbymu kan sudah lama mengenalmu !" jawab Dokter Aldo.
"Darimana By mengenal Diana ?" tanya Diana lagi penasaran.
"Dari siapa lagi kalau bukan dari Sirin. Dan bukankah kamu dulu sering berkunjung ke sini ?, Hm..!."
Diana semakin memicingkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo." Jangan jangan By dulu sering merhatiin Diana ?, ayo By ngaku ?. Atau jangan jangan By dulu sudah naksir sama Diana ?" tuduh Diana tersenyum.
"Percaya diri sekali !" ucap Dokter Aldo, mencubit pipi Diana sebelahnya lagi.
"By ngaku aja deh !" goda Diana, mengedip ngedipkan matanya ke arah Dokter Aldo dengan memasang wajah sok imutnya.
"Iya ! Hubbymu ini naksir sama istriku yang cantik ini !" jujur Dokter Aldo, untuk membuat suasana hati istrinya tetap senang." Ayo cepat habiskan makanannya, Hubbymu mau berangkat kerja lagi" suruhnya.
Cup !
Diana mengecup sebelah pipi Dokter Aldo,"Aku tau itu !" ujarnya." Dulu By sering melirik lirikku setiap Diana datang ke sini !" goda Diana lagi, mengedipkan sebelah matanya.
"Ngarang !" sanggah Dokter Aldo.
"Ngaku !" Diana mengerucutkan bibirnya, supaya Dokter Aldo mengakui tuduhannya.
"Iya deh ! Hubbymu ini ngaku !" pasrah Dokter Aldo, dengan tuduhan istrinya yang mengada ngada.
Wajah Diana langsung kembali ceria dan berbinar senang.
"By ! antar Diana ke rumah tante ratu sejagat ya!. Diana kangen sama cucu kita !" ujarnya tersenyum geli, mengingat usianya yang masih sembilan belas Tahun, tapi sudah punya cucu.
"Iya Ocil !" patuh Dokter Aldo. Waktunya pergi ke rumah sakit sudah hampir mepet. Istri menyebalkannya itu masih saja menyuruhnya mrngantarnya ke rumah sang mantan. Kalau di tolak, istrinya itu pasti ngamuk, menangis, merajuk dan pasti susah di kembalikan moodnya.
"Nih ! By yang habisin, Diana mau siap siap !. Diana tau pasti By takut terlambat kerja 'kan ?." Diana memberikan piring di tangannya kepada Dokter Aldo dan langsung turun dari atas tempat tidur.
Ini kenapa istriku mendadak seperti para normal, bisa menebak pikiranku !, bati Dokter Aldo. Menatap Diana yang membuka seluruh pakaiannya di depan lemari. Berhasil membuat jakunnya naik turun melihat tubuh kurus yang berhasil membuatnya kehilangan kewarasan setiap kali menyentuhnya.
"By aja yang sering bergumam, karna permintaan Diana yang aneh aneh !" jawab Diana tanpa melihat ke arah Dokter Aldo, dan sibuk memakai satu persatu pakaian ke tubuhnya.
Dokter Aldo mengerutkan keningnya, ada apa dengan istrinya itu ?. Perasaan Dokter Aldo, ia tidak pernah bergumam ?.
Diana yang masih hanya memakai pakaian dalam saja. Membalik tubuhnya ke arah Dokter Aldo, melangakahkan kakinya sambil memakai dress panjang sampai betisnya.
"Apa By lupa ? Diana kuliah mengambil jurusan apa ?" tanya Diana. Mungkin suami tuanya itu lupa, kalau dirinya kuliah mengambil jurusan
psikilogi. Tentu Diana sudah belajar membaca raut wajah orang dan menebak isi hatinya lewat ekspresi wajah.
Dokter Aldo menarik Diana mendekat ke tubuhnya. Dokter Aldo melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Diana yang beriri di depannya, kemudian mencium perut Diana yang sedikit mulai membuncit.
"Kalau begitu sekarang, coba tebak isi hati suamimu ini."Dokter Aldo menyandarkan kepalanya ke perut Diana dengan posisi mendongak ke wajah Diana yang menunduk menatapnya.
"Yang jelas sekarang hati By lagi berbunga bunga karna akan memiliki anak dari wanita cantik dan muda seperti Diana !" jawab Diana, melebarkan senyumnya, sambil tangannya mengusap kepala Dokter Aldo yang bermanja di perutnya.
"Ya ampun !, kenapa sekarang istriku ini menjadi alay bin lebay begini ?." Dokter Aldo geleng geleng kepala dengan perubahan sikap Diana yang begitu percaya diri.
"Niru Papanya !"
.
.