Brother, I Love You

Brother, I Love You
214. Ceo



"Dengar dengar Darren akan menikah. Dia sudah bertemu dengan wanita penjual es itu" ucap Diana sambil tangannya mengaduk aduk mie goreng buatannya di dalam kuali.


"Seperti apa sih wanita itu, sampai Darren tidak bisa melupakannya ?" tanya Sirin. Ia bertugas untuk membuatkan telur mata sapi di kompor sebelahkanya.


"Kata Papa kamu, wanitanya cantik !" jawab Diana." Wanita itu sepertinya sebayaan kita" ucapnya lagi.


"Ada ada aja itu si Darren, sukanya sama janda!" ujar Sirin.


"Seperti aku sukanya sama duda !"balas Diana tersenyum.


"Kamu suka sama Papaku juga karna hartanya !" cibir Sirin.


"Kamu yang bilang, aku boleh mengambil semua harta Papamu. Asal aku memberikan cintaku. Dan bukankah aku juga sudah memberi dua adik untukmu ?, dan ke tiga yang di perutku" balas Diana.


Sirin pun mengulurkan tangannya, mengusap perut Diana." Semoga adikku yang ini cowok. Supaya bang Ghissam punya saingan. Nanti kalau biar adikku ini aja nanti yang menjadi pewaris perusahaan kakek !" ucapnya.


Diana tersenyum, ia juga berharap bayi di kandungannya adalah cowok. Karna ia sudah memiliki dua putri, ke tiga Sirin.


"Bagaimana dengan cucuku itu ?" tanya Diana menunjuk perut Sirin dengan dagunya.


"Cewek lagi, tapi tak apa. Keluarga Alfarizqi itu kekurangan anggota cewek !" jawab Sirin tersenyum.


.


.


Di dalam kamar, Dokter Aldo mengerjabkan matanya karna merasa ada yang mengusik tidurnya. Dokter Aldo membuka matanya, mengarahkan pandangannya ke arah dua bocah yang duduk di sampingnya memegang alat make up. Dokter Aldo sudah bisa menebak, kalau putri dan cucunya itu sudah merias wajahnya saat tidur.


"Apa Kakek sudah terlihat cantik kalian dandanin ?" tanya Dokter Aldo.


"Sudah !" jawab Gaia tersenyum, kemudian mengoles lipstik warna merah ke bibir Dokter Aldo.


"Nanti malam kalian berdua tidak boleh tidur di sini lagi !" ucap Dokter Aldo.


"Boleh !" balas Gaia menatap tajam sang Kakek dengan bibir mengerucut. wajahnya sangat mirip dengan Nenek Bunga.


Ya ampun ! anak ini ! kenapa mirip banget seperti Bunga ya ?. Dari bentuk badannya, wajahnya, matanyan bibirnya, tomboynya. Batin Dokter Aldo.


Dokter Aldo pun mengangkat cucunya itu, mendudukkannya di atas perutnya. Dokter Aldo terus memperhatikan wajah Gaia Zahra. Dialah yang memberikan nama cucunya itu, atas ijin dari Arsenio. Dokter Aldo merasa Bunga sahabat kecilnya dulu seperti lahir kembali, melihat wajah di depannya.


"Papa kenapa lihatin wajah Gaia ?" tanya Dinda heran.


Dokter Aldo langsung tersadar dari lamunannya, dan mengarahkan pandangannya ke arah Dinda yang masih duduk di sampingnya.


"Gak apa apa sayang !"jawab Dokter Aldo.


Ceklek !


Dokter Aldo, Gaia dan Dinda sama sama mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu.


"Aku pikir By belum bangun !" Diana melangkahkan kakinya ke arah kasur. Kemudian mengambil Dinda dari atas kasur dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat make up nya yang berantakan di atas kasur.


"Papa itu cowok ! kenapa di dandanin ? hm !" gemas Diana mencium pipi putri menggemaskannya itu.


"Dinda sama seperti Sirin waktu kecil, setiap aku tidur, selalu di dandani" jawab Dokter Aldo. Sudah terbiasa jika wajahnya selalu bahan mala praktek kecantikan tangan mungil putrinya.


"Gaia juga ikut !" ucap Dinda.


"Kalian berdua sama sama keturunan Sirin !" ujar Diana." By ! ayo cepat mandi, biar kita sarapan. Nanti putrimu menghabiskan semua makanan" suruh Diana.


Dokter Aldo pun mendudukkan tubuhnya, menurunkan Gaia dari atas perutnya." Sana mandi ke kamar tante Nora, Kakek juga mau mandi." kemudian Dokter Aldo mengecup pipi Gaia dan menurunkannya dari tempat tidur.


Gaia pun langsung berlari ke arah pintu, di ikuti Dinda yang yang baru di turunkan Diana. Kedua bocah itu pun keluar dari kamar pasangan suami istri yang merasa masih seperti pengantin baru itu.


"Sini sayang !" Dokter Aldo menepuk nepuk kasur di sampingnya. Diana langsung mendudukkan tubuhnya di samping Dokter Aldo.


Dokter Aldo langsung mengelus perut Diana dengan lembut, dan menarik Diana ke dalam pelukannya. Diana pun menyentuh tangan Dokter Aldo yang berada di perutnya, meyandarkan kepalanya ke dada bidang Dokter Aldo.


"Trimakasih ya ! sudah memberiku hadiah ini !" ucap Dokter Aldo.


"Dia, Nora dan Dinda adalah buah cinta kita By. Mereka bukan hadiah, mereka hasil dari penyatuan hati kita. Kita sama sama menginginkan kehadiran mereka, sebagai bukti cinta kita" balas Diana.


Diana mendongakkan kepalanya ke wajah Dokter Aldo yang berada di atas wajahnya. Diana pun berpindah duduk di atas pangkuan Dokter Aldo." Kalau hadiah itu..ini !."


Diana langsung mencium bibir Dokter Aldo mesra, dengan meletakkan kedua tangannya di kedua sisi rahang Dokter Aldo. Diana melepas ciuamannya, memandang wajah Dokter Aldo dengan tersenyum.


"Jangan memancingku sayang !, tadi malam kamu sudah ke lelahan" ucap Dokter Aldo, karna Diana menggodanya dengan menggigit bibir bawahnya.


Diana malah membuka kancing baju tidur Dokter Aldo, dan melepas baju itu dari tubuhnya.


"Sayang ! pintu gak di kunci, nanti anak anak tiba tiba masuk !" tegur Dokter Aldo.


"Apa sih By ! aku membantumu melepas pakaian, supaya By segera mandi" ucap Diana turun dari pangkuan Dokter Aldo.


"Ya ampun sayang..!, kamu mengerjaiku? hm..!. Kamu ingin membuatku salah tingkah ?" gemas Dokter Aldo mencubit pipi Diana.


"Kenapa ? apa suamiku ini benaran salah tingkah ?" balas Diana mencubit balik pipi Dokter Aldo.


"Tentu aku salah tingkah sayang !. Kamu sering kali bertingkah seperti benaran menggodaku!" jawab Dokter Aldo.


Dokter Aldo pun turun dari atas tempat tidur, dan langsung menyambar bibir Diana, menciumnya rakus. Dokter Aldo benar benar gemas dengan istri kecilnya itu. Yang semakin hari semakin pintar membuatnya gila.


.


.


Naysila turun dari dalam taxi dan langsung berjalan masuk ke dalam sorum penjualan motor milik Elang. Naysila melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ruko itu dengan menenteng rantang di tangannya.Ia sengaja datang ke sana untuk mengantar makan siang Elang.


Tok tok tok !


"Masuk !" sahut dari dalam.


Naysila yang mengetok pintu pun, membuka pintu di depannya dan langsung melangkah masuk dengan wajah tersenyum.


"Nay ! aku 'kan sudah bilang, gak usah mengantar makanan ke sini. Nanti kamu bisa capek sayang !"ucap Elang. Melihat Naysila berjalan dengan perut besarnya, karna hanya tinggal menghitung hari akan melahirkan anak ke dua mereka.


"Bosan gak ada kerjaan, kata Dokter juga aku harus banyak gerak" balas Naysila berjalan mendekati Elang di meja kerjanya.


Naysila pun meletakkan rantang di tangannya di atas meja. Kemudian mendudukkan tubuhnya yang besar di pangkuan Elang. Yang langsung di peluk Elang karna kawatir jatuh. Elang pun mengusap perut Naysila dan menciumnya.


"Aku udah bilang jangan keluar rumah lagi. Aku kawatir kamu kenapa napa di jalan" nasehat Elang lagi, mengusap usap perut Naysila yang bergetak gerak aktif.


"Adeknya kangen tuh sama Papanya !" ucap Naysila tersenyum, membuat kemarahan di wajah Elang menghilang begitu saja.


Elang menghela napasnya, istrinya itu terkadang sangat keras kepala, dan juga sangat pintar mengambil hatinya. Dan yang benar saja, anak yang di dalam perut Naysila semakin bergerak aktif, sampai membuat Naysila mengaduh. Seprtinya anak mereka itu sudah mulai mencari jalan lahir.


"Adek ! kok nakal sih ?" ucap Elang, mencium cium perut Naysila." Kasihan Mama dong !, jangan kencang kencang ya nendangnya !" ucap Elang lagi kepada sang anak yang sebentar lagi akan lahir.


Elang mendongakkan kepalanya ke wajah Naysila."Aku lebih gak sabar lagi" balasnya.


Naysila menundukkan kepalanya, lalu mengecup kening Elang dengan sayang. Elang pun langsung membalasnya, mengecup kening Naysila. Selama sepuluh Tahun menjalani rumah tangga dengan Naysila. Naysila benar benar membuktikan kalau dia tidak seburuk yang di pikirkan Elang dan keluarganya. Membuktikan kalau dia hanya di peralat kakeknya.


Elang mengangkat satu tangannya, mengelus pipi cabi Naysila. Meski istrinya itu bukan wanita berkulit putih. Tapi istrinya itu terlihat cantik dan manis seperti gula batu. Elang tidak pernah bosan melihat wajah manis istrinya itu.


"Bagaimana kalau kita bercinta di sini ?."


Bukh !


"Aw !"keluh Elang.


"Ish ! kau itu ada ada aja. Kamu pikir kamu itu Ceo kaya di novel novel !" decis Naysila.


"Sekali kali kali kita praktekin, seperti pemeran Ceo Ceo di novel favoritmu !" ujar Elang.


Naysila memutar bola matanya malas. Suaminya itu bertingkah seperti suami tak pernah dapat jatah.


"Nanti aja di rumah !, lebih santai dan lebih nyaman. Nanti kalau di sini, waswas dan terburu buru karna kawatir orang datang" balas Naysila.


"Ya udah deh ! janji ya ! di rumah !. Awas nanti kalau kamu tidur cepat !" ancam Elang. Karna semenjak hamil anak ke dua mereka, istrinya itu tukang tidur. Sehingga sering kali membuatnya tak dapat jatah.


"Makanya cepat pulang, jangan sampai aku ketiduran !" ucap Naysila turun dari atas pangkuan Elang berjalan ke arah sofa, mendudukkan tubuhnya di sana."Sirin pulang !"ucapnya lagi.


"Kapan ?" tanya Elang.


"Tadi malam baru sampai katanya, tapi Arsen gak ikut !" jawab Naysila.


"Entah kenapa anak itu menjadi penurut gitu. Mau maunya dia diperbudak Ghissam" desah Elang.


Dia juga berpikir, seharusnya Ghissam yang harus mengurus perusahaan kakeknya, bukan Arsenio. Supaya Arsenio bisa membuka usaha sendiri untuk masa depan anak anaknya.


"Makanya Sirin pulang, dia ingin menuntut abangnya katanya !"ucap Naysila lagi.


"Papa sama Mama juga kenapa diam saja, anaknya di perbudak ?. Seharusnya Papa atau Mama bicara kepada Om Aldo. Supaya Ghissam mengambil alih perusahaan kakek Haris."


"Mungkin karna Arsen diam aja, mereka berpikir Arsen betah disana, senang dengan pekerjaannya" balas Naysila."Memang menurutku, Sirin sih ! yang gak betah di sana. Dia ingin tinggal di sini" ucapnya lagi.


Elang pun berdiri dari kursinya, mengambil rantang dari atas meja, membawanya ke sofa. Elang ingi makan, karna perutnya sudah lapar dan kebetulan sudah waktunya makan siang.


"Apa setelah ini kamu ingin di atar ke tempat Sirin ?" tanya Elang, mendudukkan tubuhnya di samping Naysila.


"Kamu gak sibuk ?" tanya balik Naysila.


"Sekalian aku ke kampus, siang ini aku ada kelas mengajar" jawab Elang.


Selain Orion menyerahkan pengelolaan kampus kepadanya. Elang juga menjadi dosen di kampus itu. Dan sesekali ia juga menjadi guru di SMA HARAPAN.


Naysila menganggukkan kepalanya.


Selesai makan siang, Elang pun mengantar Naysila ke rumah Dokter Aldo.


.


.


Bilal berdiri termenung menghadap cendela kaca kantor SMA HARAPAN itu. Beberapa hari ini ia aktif datang ke sekolah yang di bangu kakek uyut mereka itu. Sekolah itu sudah banyak mengalami perobahan, dari segi bangunan yang sudah banyak di renovasi. Kelas yang terus bertambah karna sekolah itu sudah menjadi sekolah favorit. Pakaian seragam para siswi sudah lebih tertutup. Tidak ada lagi siswi yang memamerkan pahanya, meski mahkota para siswi di sekolah itu masih banyak yang tergerai indah. Namun Bilal berpikir, bisakah sekolah itu di robah menjadi sekolah islami ?. Mengingat para murid di sekolah itu, tidak semuanya menganut Agama Islam. Dan bisakah dia menyampaikan dakwah di sekolah itu ?.


Bilal masih terus mematung, melamun, entah apa yang dia lamunkan, sampai keningnya terlihat mengerut, seperti orang yang berdiri di bawah terik matahari di siang bolong.


Mendengar bel berbunyi, Bilal pun tersadar dari lamunannya. Bilal melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah waktunya jam pulang sekolah.


Pulang dari sekolah, Bilal pun menjumpai Papa Arya yang masih beristirahat di kamarnya. Bilal ingin menyampaikan keinginannya kepada Papa Arya tentang sekolah milik mereka itu. Bilal pun mengetok pintu kamar orang tuanya sambil mengucap salam.


"Assalamu alaikum Ma ! Pa "


"Walaikum salam ! masuk !" sahut dari dalam.


Bilal yang kental dengan ciri khasnya, memakai baju koko dan sarung. Melangkah masuk ke kamar orang tuanya.


Papa Arya mengulas senyumnya melihat anaknya yang soleha itu masuk. Anaknya itu sangat terlihat tampan.


"Ada apa Pak Ustadz ?" tanya Papa Arya, sangat bangga dengan anaknya yang paling istimewa itu.


"Gak ada Pa ! kangen Papa aja" jawab Bilal mendudukkan tubuhnya di samping Papa Arya yang duduk di sofa sibuk dengan laptop di pangkuannya.


"Biasanya anak laki kangen emaknya, ini malah kangen epanya !" ujar Mama Bunga cemberut. Karna anak gajahnya dulu selalu lebih dekat dengan Papa Arya.


"Mama sayangnya sama bang Reyhan aja !" balas Bilal tersenyum. Tapi berpindah duduk ke sebelah Mama Bunga, dan langsung memelukanya dan mencium pipinya.


"Bagaimana bisa Mama bilang aku gak kangen sama Mama ?" tanga Bilal.


"Mana tau ?"


"Bang Reyhan terlalu menguasai Mama dari dulu. Makanya Bilal menguasai Papa, tapi apalah daya, ternyata Sabin lebih berkuasa lagi. Anak itu sungguh menyebalkan, menggantikan posisiku menjadi anak bontot di rumah ini" jawab Bilal panjang lebar.


"Ayo pasti Pak Ustadz punya tujuan menemui Papa ?, katakan !" tanya Papa Arya, menepuk bahu Bilal.


Bilal pun mengarahkan tatapannya ke arah Papa Arya." Ada seorang gadis selalu mengganggu Bilal Pah !. Tapi saat Bilal melamara gadis itu kepada orang tua. Gadis itu menolaknya Pah !, Bilal jadi galau" jawab Bilal.


Papa Arya tersenyum dengan dahi mengerut. Ternyata anak gajahnya itu sudah dewasa rupanya. Dan bahkan sudah ingin memberinya menantu.


"Apa gadis itu cucunya Kiyai Husen ?" Papa Arya menepuk nepuk bahi Bilal. Papa Arya sungguh senang, jika anaknya itu menikahi cucu seorang Kiyai. Dan tentu Papa Arya mengenal pemilik pesantern tempat Bilal menimba ilmu Agama itu. Karna Sesama pebisnis di bidang pendidikan.


"Dari mana Papa tau ?"heran Bilal.


"Papa tau sendiri !" jawab Papa Arya tersenyum. Bilal mengerucutkan bibirnya, Papanya itu main rahasia rahasiaan aja sama anak.


"Tapi bukan itu topik utama yang akan Bilal sampaikan Pa !" ucap Bilal.


"Apa ?"tanya Papa Arya.


"Bagaimana menurut Papa, jika Bilal merubah peraturan sekolah lagi. Bilal ingin membuat peraturan untuk para siswi, menggunakan hijab" jawab Bilal.


Papa Arya menghela napasnya, dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa." Yang kamu katakan itu bagus Nak !. Papa mendukungnya. Tapi kamu tidak bisa merobah peraturan secepat itu. Atau memaksakan orang orang untuk memakai hijab" terang Papa Arya.


"Ajaklah mereka para kaum hawa menutup aurat lewat Berdakwah. Karna jika kamu membuat peraturan wajib berhijab, itu berarti kamu memaksa mereka, yang ada nanti para anak anak protes dan tidak terima, dan mereka bisa saja berdemo. Apa lagi yang kamu hadapi itu anak anak berdarah panas, kita harus menghadapinya dengan cara membujuk dan menuntunnya pelan pelan. Dan murid di sekolah itu banyak yang menganut Agama lain. Jelas mereka menolak keras jika mau menyuruh mereka memakai hijab" jelas Papa Arya lagi.


"Maksud Bilal khusus murid yang muslim Pa !" ucap Bilal.


"Lakukanlah dengan pelan pelan. Papa percaya kamu bisa memberikan yang terbaik untuk sekolah itu Nak !"balas Papa Arya Bangga.


"Trimaksih Pa !" ucap Bilal.


"