
"Assalamu alaikum Ayah ! Umi !, Annisa pulang !" Annisa melangkahkan kakinya ke arah kamar orang tuanya yang berada di lantai satu rumah itu.
Dua bulan yang lalu, Bilal membawa Hani untuk tinggal di rumahnya. Rumah yang di bangunnya dari hasil usahanya melanjutkan usaha sang Papa dan hasil uang mengelola sekolah warisan dari mendiang kakek Uyut mereka.
Annisa mengetok pintu kamar Bilal dan Hani, karna tidak ada yang membalas salamnya.
"Ayah ! Umi !" panggil Annisa.
"Siapa yang mengijinkanmu bolos sekolah? Hm..!."
"Sakit Yah !" Annisa memutar tubuhnya ke arah pria tampan yang berdiri di belakangnya."Benar Umi hamil Yah?" tanyanya.
"Hm..!" Bilal melingkarkan tangannya ke leher Annisa, kemudian membuka pintu di depannya, membawa Annisa masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar nampak Hani sedang tidur pulas di atas kasur. Annisa dan Bilal pun mendekatinya. Mereka berbaring di samping kiri dan kanan Hani.
"Semoga saja adik di perut Umi ini laki laki. Di keluarga kita hanya Ayah yang tidak memiliki putra" Annisa mengelus perut Hani.
Annisa sangat senang mendengar kabar kehamilan Hani. Karna selama ini Annisa sangat menginginkan seorang adik.
"Laki laki atau perempuan bagi Ayah itu sama. Yang penting sehat dan menjadi anak yang soleh dan soleha setelah besar nanti" ucap Bilal, mengusap kepala Annisa yang masih memakai seragam sekolahnya.
"Tapi nanti Ayah sama Umi masih sayang kan sama Annisa kalau adiknya sudah lahir?" Annisa menajamkan pandangannya ke wajah Bilal.
"Seperti waktu Annisa lahir, Ayah masih tetap menyayangi kakakmu Yasmin. Kasih sayang Ayah tidak berkurang sedikit pun pada Kamu dan kakakmu. Kalian memiliki tempat masing masing di hati Ayah" jawab Bilal.
"Begitu juga dengan Umi kalian ini. Dia memiliki tempat paling spesial di hati Ayah !" Bilal tersenyum mengatakan itu, netranya memperhatikan wajah Hani dengan intens.
Annisa menghela napasnya, melihat Ayahnya sangat mencintai Uminya, sangat berbeda dengan Mamanya dulu. Apa mungkin Ayahnya tidak mencintai Mamanya selama ini. Atau karna sikap Mamanya yang membuat Ayahnya tidak begitu mencintai Mama nya, pikir Annisa.
Saat tangan Bilal menyentuh kepalanya, Annisa mendongak ke arah wajah Bilal. Bilal mengulas senyumnya ke arah Annisa. Bilal bisa menebak isi kepala putri keduanya itu. Bilal dapat memahami perasaan putrinya itu.
"Mama Aqeela juga pernah memiliki tempat spesial di hati Ayah!" ucap Bilal.
"Abang !"
Sontak Bilal dan Annisa sama sama menoleh ke arah Hani yang berada di tengah tengah mereka. Nampak bibir Hani mengerucut seperti paruh bebek.
"Jangan cemburu sayang! saat ini cintaku hanya padamu!" rayu Bilal tersenyum, lalu mengecup pipi Hani di depan Annisa.
"Ayah !" Annisa memukul tubuh Bilal dengan bantal guling di tangannya.
Annisa cemburu, Ayahnya mencium pipi Hani di depannya. Annisa pun mengerucutkan bibirnya.
"Ayo Annisa, sini pindah ke samping Ayah!. Kalian berdua sama sama wanita kesayangan Ayah. Gak usah cemburu sama Umi nya" Bilal menggeser tubuh Hani, supaya Annisa muat tidur di sampingnya.
"Annisa mau di samping Umi!" tolak Annisa, Annisa pun memeluk tubuh Hani, kemudian mencium pipi Hani dari samping. Annisa pun menyingkirkan tangan Bilal dari tubuh Hani.
"Hei ! Umi milik Ayah!" Bilal tidak terima, Annisa menguasai istrinya.
"Mumpung Annisa di sininAyah ngalah napa?"cetus Annisa.
"Gak! Ayah kawatir kakimu yang besar itu menimpa perut Umi kamu. Ayo pindah ke samping Ayah. Lagian ini masih siang masa Annisa mau tidur!" larang Bilal.
Putri keduanya itu tidurnya lasak, Bilal kawatir bayi di perut Hani bisa tertimpa betis Annisa.
"Annisa mengantuk, mumpung Annisa lagi gak kepesantren, Annisa mau bobo cantik!."
Dua bulan terakhir ini, pulang sekolah Annisa selalu pulang ke pesantren milik keluarga Hani, Annisa tinggal di sana. Annisa ingin menimba Ilmu Agama lebih dalam lagi. Meski Ayahnya sendiri sebenarnya bisa membimbingnya. Tapi menurut Annisa, belajar bersama teman teman itu lebih membuatnya bersemangat.
"Tapi Annisa tidurnya di samping Ayah" pinta Bilal." Ayah juga kangen sama kamu" rayu Bilal.
"Annisa kangennya sama Umi"tolak Annisa lagi.
"Annisa!" tegur Bilal.
"Abang ! gak apa apa!" bela Hani menatap wajah Bilal yang nampak kawatir.
"Tapi sayang ! Annisa itu tidurnya lasak" ucap Bilal.
"Aku tak ingin tidur lagi, biar aku yang menjaga perutku supaya tidak sampai tertimpa kakinya" Hani mencoba menenangkan hati Bilal. Hani pun mengulurkan tangannya mengelus pipi Bilal.
"Adeknya belum lahir aja, Ayah sudah gak sayang sama Annisa!" Annisa memasang wajah cemberut kepada Bilal.
Bilal pun menghela napasnya, mengalah kepada putri manjanya itu. Bilal tidak mau sampai putrinya itu merasa tidak di sayang lagi setelah memiliki istri baru, apa lagi sampai Annisa cemburu kepada bayi di dalam kandungan Hani.
"Ya sudah! kalian istirahatlah. Ayah ke ruangan kerja Ayah dulu" Bilal mendudukkan tubuhnya, dan langsung turun dari atas tempat tidur.
.
.
Kabar gembira itu pun sudah sampai ke telinga seluruh anggota keluarga Alfarizqi. Semua turut senang mendengar kehamilan Hani. Siapa lagi yang menyebarkan berita bahagia itu, kalau bukan Dokter Gaia Zahra.
"Bang Orion !"
"Apa sayang !" jawab Orion Ozama, orang tertua di keluarga Alfarizqi.
"Ayo siap siap, kita akan ke rumah Bilal. Aku sudah mengabari semuanya, untuk berkumpul di sana" jawab Queenara Hamiska. Menantu tertua di keluarga Alfarizqi.
"Makanan untuk makan di sana sudah di pesan?" tanya Orion menatap istrinya yang sibuk memakai pakaiannya.
"Untuk urusan makanan, aku sudah menyuruh Yumna memesannya ke restoran milik saudaranya" jawab Queen.
Selesai memakai pakaian, ia pun mengambil tas dari dalam lemari.
"Ayok !" ajak Orion berdiri dari sofa yang di dudukinya dari tadi.
"Abang pergi dengan penampilan seperti itu?" Queen memperhatikan penampilan Orion yang hanya memakai pakaian rumah. Hanya memakai baju kaos oblong dan celana berbahan longgar.
"Kita hanya ke rumah Bilal, seperti ini saja. Lagian pakaian apa pun kupakai, sama saja, aku tetap terlihat tua" jawab Orion.
Semenjak berusia lanjut, ia sudah tidak peduli lagi untuk memperhatikan penampilannya. Dan juga sekarang dia bukan orang kantoran lagi. Dia sudah pensiun dan perusahaan sudah di serahkannya kepada Syauqi dan Alana.
"Ya ! abang Orion memang sudah tua dan jelek!" Queen pun mengikuti langkah Orion keluar dari dalam kamar.
"Trimakasih sayang ! sudah setia mencintaiku sampai setua ini"ucap Orion tersenyum, satu tangannya meraih pinggang Queen dari belakang, kemudian mengecup pipi Queen dari samping. Dan mereka pun sama sama melangkah keluar dari dalam rumah.
Queen mengulas senyumnya.
.
.
"Habib! minta duit" Yumna menengadahkan tangannya di depan Reyhan yang lagi sibuk di depan laptopnya.
"Buat apa?" tanya Reyhan tanpa menoleh ke arah Yumna yang berdiri di sampingnya. Buat apa istrinya minta duit, gak mungkin kan istrinya itu gak punya uang sama sekali?. Tapi itulah istrinya, duit di atm nya tidak boleh di ganggu gugat. Entah buat apa? Reyhan sendiri bingung. Semakin tua, istrinya itu semakin pelit aja, pikir Reyhan.
"Buat bayar pesan makanan untuk di bawa ke rumah Bilal" jawab Yumna.
"Ambil di dompet Habib tuh !" tunjuk Reyhan dengan dagunya ke arah meja sofa di kamar mereka.
Yumna pun merekahkan senyumnya," trimakasih Habibku sayang !" ucap Yumna mengecup pipi Reyhan kemudian berjalan ke arah sofa.
Tuuut...!
"Jam berapa kita berangkat ?" tanya Reyhan. Soalnya dia harus menyelesaikan sedikit lagi pekerjaannya.
"Setelah pesanan makanannya di antar ke sini!" jawab Yumna.
Reyhan mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian kembali pokus ke layar laptopnya. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi dia masih harus bekerja membantu si kembar mengelola perusahaan yang di bangunnya. Karna kedua anak kembarnya belum bisa dilepas sepenuhnya untuk mengurus perusahaan.
.
.
"Elang ! tolong ambilin dopetku di atas kasur !" seru Naysila dari bawah tangga rumah mereka.
Diam !
"Elang !!" seru Naysila lagi.
"Aku sudah sampai di tangga sayang !."
Naysila menghela napasnya, seperti biasa suaminya itu akan malas di minta tolongi. Suaminya itu tidak berubah dari dulu, sangat malas di suruh suruh.
Naysila yang kesal pun, kembali menaiki tangga dengan menghentak hentakkan kakinya kasar ke anak tangga. Saat berpapasan dengan Elang di pertengahan tangga, Naysila menabrakan sikunya ke lengan Elang. Naysila kesal dengan suaminya itu.
Elang hanya tersenyum melihat wajah kesal Naysila, ia pun melanjutkan langkahnya untuk turun ke lantai bawah rumah itu.
Tak lama kemudian, Naysila kembali dari kamar mereka, sambil berteriak.
"Elang ! kamu sudah mengambil dompetku 'kan !!?."
"Gak !" sanggah Elang menahan senyumnya.
"Aku yakin kamu sudah mengambilnya, mana ?, kamu suka sekali mengerjai aku!" Naysila pun menggeledah tubuh Elang yang duduk di atas sofa untuk mencari dompetnya.
"Kita harus pergi, jangan menggodaku sekarang sayang. Kita juga lagi di ruang tamu, nanti tiba tiba anak anak datang, mereka bisa melihatnya" ucap Elang memegangi kedua tangan Naysila.
"Biarin !" ketus Naysila.
Elang pun menarik Naysila sampai terduduk di atas pangkuannya. Kemudian Elang mengecup bibir Naysila sambil satu tangannya mengambil dompet dari belakang tubuhnya, kemudian memasukkannya ke dalam baju bagian leher Naysila.
"Kasih aku upah, aku sudah mau mengambil dompetmu" ucap Elang.
Naysila mendengus lalu berdiri dari pangkuan Elang. Suaminya itu selalu minta upah setiap mau di minta tolongi.
"Ayo kita berangkat, nanti kita bisa yang jadi belakangan sampai" ajak Naysila.
"Tapi cium dulu dong sayang suaminya!" Elang mendekatkan pipinya ke wajah Naysila. Dan Naysila pun langsung mengecup pipi Elang sebelum mereka benar benar keluar dari pintu rumah.
.
.
Jika sekarang Sirin berusia 60 Tahun, kini Arsenio sudah berusia 59 Tahun. Pulang dari luar Negri mengurus perusahaan Kakek Haris, Arsenio berhasil membuka perusahaannya sendiri. Di kenal banyak pengusaha di luar Negri, membantu memudahkannya mendirikan sebuah perusahaan yang sama di bidang memproduksi peralatan kesehatan rumah sakit. Dan Arsenio pun sudah berhasil membuka beberapa anak cabang perusahaan di Indonesia.
"Aku pikir kamu gak bisa pulang cepat" ucap Sirin saat melihat Arsenio masuk ke dalam rumah. Sirin pun mendekati Arsenio mengambil tas dan jasnya.
Arsenio melingkarkan tangannya ke pinggang belakang Sirin. Dan mereka pun sama sama berjalan masuk ke dalam kamar mereka.
"Keluarga itu lebih penting dari segalanya" balas Arsenio.
Arsenio tidak akan pernah lupa pesan sang ratu sejagat sebelum meninggal. Mereka semua harus saling kompak, saling peduli, saling mengutamakan, saling menyayangi, jangan berantem, apa lagi karna harta.
"Itu benar!, tanpa keluarga, harta melimpah tidak akan ada artinya!" sambung Sirin.
Tentu Sirin bisa mengatakan itu, karna mereka pernah mengalaminya. Dari pada memiliki banyak uang tapi jauh dari keluarga. Lebih baik hidup paspasan, tapi berada di sekitar keluarga sendiri.
"Aku mandi dulu, baru kita berangkat!" Arsenio melepas rangkulan tangannya dari pinggang Sirin.
"Nanti kita lewat rumah Papa. Kita jemput Mama kecil sekalian" ujar Sirin sebelum Arsenio menghilang di balik pintu.
"Iya sayang !" balas Arsenio.
Melihat Arsenio menghilang di balik pintu kamar mandi. Sirin pun menyiapkan pakaian untuk Arsenio.
Tak lama kemudian Arsenio keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di lilit di pinggangnya. Sirin tersenyum melihat itu. Meski mereka sudah tak muda lagi, namun Arsenio masih terlihat tampan dan gagah.
"Nanti setelah kembali dari rumah Bilal, baru kamu menggodaku!" ucap Arsenio tersenyum berjalan ke arah Sirin yang duduk di pinggir kasur.
"Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, sekarang kita sudah tua. Padahal baru rasanya kita menikah" ucap Sirin.
"Kamu aja yang tua, aku masih muda" balas Arsenio." Sudah tua, gendut, jelek lagi" ejeknya.
"Kamu suka sekali mengejekku, sama seperti sukanya kamu menikmatiku!" cetus Sirin
Arsenio terkekeh, lalu membungkukkan tubuhnya ke arah Sirin yang masih duduk di pinggir kasur. Menggoda Sirin sudah menjadi hal yang menyenangkan bagi Arsenio dari dulu.
"Kamu yang menikmatiku !" ucap Arsenio mengulum senyumnya lalu mengecup kening Sirin.
Sirin pun mengembangkan senyum di bibirnya.
.
.
"Sayang ! sudah selesai ?" Darren membuka pintu kamar mereka. Setelah selesai bersiap siap tadi ia pergi keluar sebentar untuk memanaskan mesin mobilnya.
"Sudah!" Jean mengulas senyumnya kepada Darren.
"Ayok!" Darren melangkahkan kakinya mendekati Jean, dan menjatuhkan satu kecupan di kening istri tuanya itu.
Meski istrinya itu sudah tua dan tak cantik lagi. Bagi Darren Jeanlah wanita yang paling cantik di Dunia ini dari dulu sampai sekarang. Meski Jean lebih tua dari usianya. Darren tulus mencintai wanita berusia 60 Tahun itu.
"Tunggu sebentar, sepertinya sendal yang ini tidak cocok dengan warna pakaianku" ucapJean menunjukkan kakinya pada Darren.
"Biar aku aja yang mengambilnya, katakan kamu mau pakai sendal yang mana?" Darren melangkahkan kakinya ke arah penyimpanan sendal dan sepatu di kamar mereka.
Jean hanya diam dan menghela napas saja melihat sifat Darren kepadanya yang selalu berlebihan dari dulu. Darren tidak pernah berobah, masih terlalu memanjakannya, dan sampai sekarang tidak mengijinkannya melakukan apa apa di rumah. Jean hanya di ijinkan merawat dirinya dan anak anaknya.
"Sayang! mau pakai sendal yang mana?" sahut Darren dari arah rak sepatu dan sendal.
"Itu sendal berwarna krem aja" jawab Jean menunjuk sendal berwarna krem di dalam rak.
Darren langsung mengambilnya dan membawanya kepada Jean. Darren langsung berjongkok di depan Jean dan menyuruh Jean membuka sendal di kakinya. Dan Jean pun hanya bisa pasrah dan patuh. Karna Suami keras kepalanya itu tidak menerima bantahan sama sekali. Jika Jean tidak menurut, Suami brondongnya itu akan marah kepadanya.
"Seharusnya kamu jangan memakai sendal bertumit lagi, biar nanti kamu tidak kecapean berjalannya" ucap Darren setelah selesai memasang sendal ke kaki Jean.
"Berjalan sebentar sebentar gak apa apa, kakiku masih kuat" balas Jean.
"Bawa sendal cadangan, nanti kalau kakimu gak nyaman, kamu bisa menggantinya" Darren kembali berjalan ke arah rak sendal, mengambil sepasang sendal yang bermodel datar dan tipis dan memasukkannya ke dalam paper bag, membawanya ke arah Jean.
"Ayo sayang!" ajak Darren menuntun Jean keluar dari dalam kamar mereka.
.
.