
Arsenio dan yang lainnya keluar dari dalam kelas, setelah bel pulang berbunyi. Arsenio melangkahkan kakinya ke arah parkiran mobilnya. Pulang sekolah, ia harus ke kampus menjemput Sirin, dan mereka akan ke rumah sakit menjengung Queen yang baru melahirkan.
"Stop !"
Arsenio menghela napasnya dan menghentikan langkahnya, melihat gadis cantik berdiri merentangkan kedua tangan di depannya. Gadis itu adalah siswi kelas satu, yang menyukai Arsenio. Tiga bulan belakangan ini, gadis itu sering kali mengganggu Arsenio.
"Ada apa ?" Arsenio mengerutkan keningnya, matanya terasa silau karna mereka berdiri tepat di bawah terik matahari.
"Aku menyukaimu !" ujar gadis itu dengan percaya dirinya.
Arsenio memperhatikan wajah dan penampilan gadis itu. Gadis itu wajahnya cantik dan imut, tubuhnya lasing dan berisi, tingginya kira kira 155 cm. Jika Arsenio belum menikah, mungkin Arsenio sudah naksir dengan gadis cantik di depannya itu.
"Sudah ?, apa masih ada lagi yang ingin kamu katakan ?" tanya Arsenio santai.
"Aku ingin menjadi pacarmu !" ujar gadis itu lagi.
"Trus !"
"Itu aja !"
Tanpa berbicara apa apa, Arsenio pun melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu ke arah mobilnya.
Bruk !
Arsenio menghentikan langkahnya, saat merasakan gadis itu menubruknya dari belakang, dan memeluknya erat. Arsenio langsung melepaskan tangan gadis itu dari perutnya.
"Dikhra !" panggil Arsenio, melihat Dhikra adik ipar dari abangnya itu lewat.
Dhikra langsung mendekati Arsenio," iya bang ! ada apa ?."
"Kamu jomlo 'kan ?, nih ada cewek untukmu !." Arsenio menarik tangan gadis itu, memberikannya kepada Dhikra. Arsenio segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya keluar dari pekarangan sekolah.
"Ish ! awas kau !" kesal gadis itu mendorong tubuh Dhikra yang akan memeluknya. Gadis itu pun langsung melongos ke arah mobilnya dengan bibir cemberut.
"Emang enak cintanya di tolak !, kasihan !" cibir Dhikra lalu pergi ke arah motornya.
.
.
Arsenio menurunkan laju kenderaannya saat akan memasuki gerbang kampus milik abangnya itu. Arsenio pun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil, dan langsung turun.
Arsenio melangkahkan kakinya memasuki gedung kampus, untuk mencari istrinya. Arsenio melangkahkan kakinya ke arah kantin, Ia yakin istrinya di sana menunggunya.
"Hai bumil cantik ! apa kabar ?" sapa ramah seorang cowok kepada Sirin yang duduk di kantin sedang memakan bakso dari mangkoknya.
"Hai juga Reno ! kabarku baik !" jawab Sirin tersenyum ramah kepada cowok teman satu jurusannya itu.
"Bumil makin hari makin cantik aja deh !" puji Reno mendudukkan tubuhnya di bangku yang bersebrangan dengan Sirin.
"Harus dong tambah cantik !" balas Sirin, tersenyum senang karna mendapat pujian dari lawan jenisnya.
Coba Sirin bukan istri orang, pasti aku sudah memacarinya. Batin cowok itu, memandang Sirin penuh arti.
Bukh !
"Aw !" keluh Reno, memegangi pipinya, karna tiba tiba ada yang meninju wajahnya.
"Apa kamu pikir, aku tidak mengerti dengan tatapanmu itu ?" sergah Arsenio, menatap Reno dengan rahang mengeras.
"Arsen !" ucap Sirin.
"Berani kau mendekati istriku ! mati kau !" ancam Arsenio. Kemudian menarik Sirin supaya berdiri dari bangkunya.
"Arsen ! kenapa sih kamu marah marah ?, kenapa kamu meninjunya, salah apa Reno coba ?" ucap Sirin sambil berdiri kesusahan dari bangkunya.
Reno menyunggingkan bibirnya ke samping, menatap remeh kepada Arsnio yang masih memakai seragam putih abu abunya. Menikah saat masih sekolah, Reno sudah bisa menebak, kalau Sirin dan Arsenio terpaksa menikah muda. Karna Arsenio merusak Sirin.
"Kamu juga ! sudah bunting pun, masih saja keganjengan, tebar pesona dengan cowok lain. Apa karna aku tidak ada di sini ?, kamu berani melakukannya ?" marah Arsenio.
"Tebar pesona gimana maksudmu ?, dia hanya menyapaku, aku membalasnya. Apa itu tebar pesona yang kamu maksud ?. Dan juga cowok mana yang naksir sama cewek bunting sepertiku. Apa kamu pikir masih ada cowok yang suka dengan gadis bekas sepertiku ?" cerca Sirin, tak terima Arsenio mengatainya keganjengan. Mata Sirin berkaca kaca hampir menangis, dadanya terlihat naik turun karna emosi. Arsenio masih saja sering berbicara pedas kepadanya.
Sirin pun menarik kuat tangannya dari genggaman Arsenio. Kemudian berjalan cepat ke arah gerbang kampus. Sirin ingin pulang sendiri, ia lagi kesal melihat Arsenio yang mengatainya keganjengan.
Arsenio menghela napasnya, kemudian mengejar Sirin yang merajuk.
"Kamu mau kemana ?," Arsenio menangkap tubuh Sirin dari belakang, mengiringnya ke arah mobilnya.
" Maaf !" ucap Arsenio, mengecup pipi Sirin dari samping, kemudian menuntun Sirin masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintunya, Arsenio memutari bagian depan mobilnya, menyusul Sirin masuk, duduk di kursi pengemudi.
"Temanmu tadi menyukaimu !, aku bisa melihat dari cara dia memandangmu !" ucap Arsenio, melajukan mobilnya keluar dari area kampus.
"Itu hak dia menyukaiku atau tidak. Yang jelas aku tidak menyukainya" jawab Sirin menangis.
"Iya tapi kamu senang 'kan ! di pujinya tambah cantik ?. Kamu tersenyum padanya !" sergah Arsenio.
"Kamu kenapa sih Arsen ?, kenapa kamu berobah posesif seperti ini. Aku hanya menganggap itu bercanda" balas Sirin. Semenjak Sirin masuk kuliah, entahlah ?. Arsenio berubah posesif, dan cemburuan.
"Aku tanya ! berapa laki laki yang mendekatimu di kampus ?. Setiap ada yang menyapamu, kamu selalu saja membalasnya dengan senyum manismu !. Apa kamu lupa kalau kamu sudah punya suami ?. Oh ! atau kamu sudah mulai bosan denganku ?. Karna aku tidak bisa memberimu banyak uang ?. Aku tidak bisa memberimu kemewahan ?." cerca Arsenio marah.
"Jadi aku harus seperti apa ? setiap ada cowok yang menyapaku ?. Mereka itu teman satu jurusanku. Wajar kalau pas lagi berpapasan mereka menegurku, apa itu salah ?."
"Salah ! aku tak suka ada laki laki yang mendekatimu. Aku tak suka kamu tersenyum sama laki laki manapun !" cetus Arsenio.
"Kamu itu egois Arsen !, kamu selalu dengan keinginanmu !. Aku tidak pernah melarangmu berteman dengan siapa pun, bertegur sapa dengan siapa pun. Bahkan kamu sering begadang, aku tidak pernah tau kamu dengan siapa di luaran sana. Dengan cowok kah ?, dengan cewek kah ?. Dan karna aku hanya duduk berdua dengan teman satu kelasku di kantin. Di tempat umum, yang bahkan aku tau kamu akan mencariku kesana. Masih saja kamu menganggap aku selingkuh !."
Sirin menangis sampai cigukan, sambil melap air matanya yang mengalir deras dari sudut matanya dengan tangannya. Sudah sering kali Arsenio membuatnya malu saat di kantin karna sifat cemburunya. Arsen sering kali marah padanya, hanya karna ia membalas sapaan teman teman kampusnya.
"Okeh ! kamu boleh berteman dengan siapa pun !!!. Kamu menangis karna itu, kamu mengataiku egois karna aku melarangmu tebar pesona !!!. Asal kamu tau, aku hanya menjaga apa yang sudah menjadi milikku !!!. Karna apa ?, karna kamu berharga dalam hidupku !!!. Aku mencintaimu !!!" teriak Arsenio marah, kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, menutup pintunya kembali dengan membatingnya. Arsenio pun masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sirin yang masih menangis di dalam mobil.
Sampai di dalam kamar, Arsenio menghempaskan kasar tubuhnya ke atas kasur dengan posisi terlentang mengarahkan pandangannya ke langit langit kamar. Kenapa Sirin tak paham dengannya yang sedang cemburu ?. Ya ! Arsenio cemburu, karna banyak sekali laki laki yang menyukai Sirin di kampusnya, meski dengan keadaan Sirin yang hamil besar. Sesama sebagai cowok, Arsenio mengerti dengan tatapan laki laki itu kepada Sirin. Bahkan tatapan para cowok cowok mahasiswa itu, meremehkan Arsenio, Arsenio juga tau itu. Jika bukan itu kampus abangnya, bisa di pastikan, Arsenio sudah mencongkel mata yang meremehkannya itu.
Selama ini Arsenio tenang tenang saja, karna saat Sirin SMA, tidak ada cowok satu pun yang berani mendekati Sirin. Karna takut akan di hajar Arsenio.
Ceklek !
Pintu kamar mereka terbuka, Arsenio tau yang masuk itu adalah Sirin. Arsenio enggan melihatnya.
"Arsen ! Maaf !"
Arsenio mengalihkan tatapannya ke arah Sirin yang berdiri di dekat kakinya.
"Kemarilah !"
Arsenio menepuk nepuk kasur di sampingnya, supaya Sirin berbaring di sampingnya. Sirin naik ke atas kasur, membaringkan tubuhnya di samping Arsenio, meletakkan kepalanya di atas lengan Arsenio. Arsenio langsung mendekap tubuh istrinya itu, dan mencium ujung kepalanya.
"Aku juga minta maaf karna sudah marah marah !" ucap Arsenio.
"Aku juga mencintaimu !" ucap Sirin, menekuk bibirnya ke bawah.
"Aku tau !" balas Arsenio, mengulurkan tangannya menyentuh bibir Sirin, mengelusnya lembut." Bibir ini milikku ! dan juga senyumnya" ucap Arsenio lagi.
"Aku hanya sedikit senyum !, tapi tidak membagi hatiku sama sekali. Bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku untuk berpaling dengan laki laki manapun. Kamu satu satunya di dalam hati dan pikiran ini."
Arsenio melengkungkan senyumnya ke atas mendengar kata kata manis istrinya itu." Aku terlalu takut kehilanganmu ! membuatku tak bisa menahan emosi. Kamu sangat cantik dengan perut besarmu seperti ini. Aku takut laki laki lain mengambilmu dariku, aku cemburu !, takut kamu terpesona dengan laki laki yang lebih dewasa di luaran sana. Hatiku tak tenang setiap memikirkanmu, saat mata ini tidak bisa memandangmu."
"Hatiku sangat sakit, jika kamu tidak percaya padaku." Sirin mengeratkan pelukannya, memindahkan kepalanya ke atas dada Arsenio.
"Maaf !, Aku akan belajar lebih dewasa lagi !." Arsenio pun ikut mengeratkan pelukannya.
"Jangan melakukan kesalahan seperti ibuku !, aku tak mau jika sampai kehilanganmu !. Apa lagi kehilangan cintamu."
Arsenio pun memindahkan tubuh Sirin dari atas tubuhnya dengab pelan. Kemudian mendudukkan tubuhnya, dan langsung menyibak dress yang di pakai Sirin sampai menampakkan permukaan perutnya yang bulat. Arsenio membaringkan tubuhnya kembali, dengan posisi tengkurap, dan wajahnya di atas perut Sirin. Arsenio mengelus elus perut besar itu dan mengecup ngecupnya dengan sayang.
Arsenio tersenyum, merasaka anaknya bergerak gerak aktif di dalam perut Sirin. Arsenio menjadi semakin tak sabar menunggu anaknya itu lahir.
Puas bermain main dengan anaknya yang belum lahir. Arsenio pun duduk kembali, mengajak Sirin membersihkan diri. Setelah itu mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Queen dan Baby nya.
.
.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah kamar. Derdengar decapan demi decapan bersahut sahutan di kamar itu. Elang dan kekasihnya berciuman begitu hikmat di atas tempat tidur. Elang perlahan lahan membuka kancing baju gadisnya itu satu persatu, melepas baju itu dari tubuh gadis itu, dan melemparnya ke lantai.
Gadis itu langsung menyilangkan kedua tangannya di dadanya, karna tubuh bagian atasnya sudah tak memakai apa apa lagi. Namun Elang menyingkirkan tangan itu dan langsung menangkup benda kenyal itu.
"Elang ! aku gak mau kita melakukannya !" ucap gadis itu saat Elang melepas pagutannya.
.
.