
"Om tau kamu sudah bangun dari tadi Putri Diana !" ucap Dokter Aldo, tangannya berpindah memijat mijat lengan Diana, sampai ke jarinya.
"Ayo kita jalan jalan, mumpung ada Sirin !" ajak Dokter Aldo, namun Diana masih setia dengan diamnya.
Melihat Diana masih bergeming, Dokter Aldo mendudukkan tubuhnya. Mengangkat tubuh Diana, memindahkannya ke pangkuannya.
"Buka matamu Putri Diana !, atau Om akan cium bibirmu !" ancam Dokter Aldo. Sontak Diana langsung membuka matanya.
Dokter Aldo sudah kehabisan kata kata rayuan selama seminggu lebih ini. Ia sudah tidak tau lagi, bagaimana caranya supaya Diana mau berbicara dan tidak mengurung diri di kamar.
Tidak masalah bagi Dokter Aldo, jika Diana belum bisa menerimanya untuk saat ini. Dokter Aldo akan sabar menunggunya. Tapi melihat Diana hanya terus berbaring di atas tempat tidur, Dokter Aldo tidak tega melihatnya.
Dokter Aldo mengusap kepala Diana, kemudian mencium keningnya lama."Jangan seperti ini terus Putri Diana !, Om merasa bersalah !"ucapnya.
"Di dalam dada Diana ada yang terasa sakit Om !" lirih Diana, tak terasa air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Om tau Diana !, Om juga pernah merasakan itu !" balas Dokter Aldo, menepis cairan bening yang mengalir di pipi Diana.
"Yang sudah menjalani pernikahan saja, bisa berpisah Diana !. Apalagi orang yang hanya sebatas pacaran. Seperti Om, pernah mengalami keduanya" ucap Dokter Aldo.
"Bukankah kamu yang meminta Om membawamu malam itu ?. Kamu mengatakan itu, mungkin saja malaikat mencatatnya, menjadikannya doa" ucap Dokter Aldo lagi.
Diana menautkan kedua alisnya, Ia tidak mengingat kalau dia mengatakan seperti itu. Diana pun mencoba mengingat ingatnya.
"Om sudah menolak keras untuk tidak menikahimu malam itu. Tapi para warga dan Ayahmu terus memaksa Om untuk menikahimu" Dokter Aldo menjeda kalimatnya, sambil tangannya merapikan rambut Diana ke belakang telinganya."Menikah itu adalah hal yang sakral, menikah itu adalah ibadah, tidak bisa di buat main main."
"Mandilah ! Om akan membawamu dan Sirin jalan jalan. Kalau kamu terus mengurung diri di kamar, pikiranmu bisa bertambah sempit." Dokter Aldo turun dari atas tempat tidur, menggendong tubuh Diana, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah menurunkan Diana dari gendongannya, Dokter Aldo langsung keluar dari kamar mandi, setelah mengecup singkat kening Diana.
Diana memandangi wajahnya di kaca yang berada di atas washtapel. Wajahnya nampak sembab, matanya memerah, kelopaknya bengkak. Selama hampir dua minggu ini, ia sudah kebanyakan menangis.
Bang Reyhan ! aku mencintaimu. Kenapa kamu pasrah saja waktu itu ?. Kenapa kamu tidak memperjuangkanku ?, memintaku kepada Om Aldo. Padahal saat itu Om Aldo siap menceraikanku. Batin Diana
Kemudian Diana membasuh wajah.
.
.
Kini Diana sudah rapi dengan pakaian jalannya, begitu juga dengan Dokter Aldo. Dokter Aldo mendekati Diana yang duduk dikursi meja rias. Dokter Aldo meraih tangan Diana, supaya Diana berdiri dari tempat duduknya. Menarik Diana membawanya keluar dari kamar mereka.
"Pah ! kita jalan kemana ?" tanya Sirin, yang sudah menunggu di ruang tamu dari tadi.
"Terserah kalian saja ! Papa ngikut aja" jawab Dokter Aldo.
"Mama kecil ! pengen jalan kemana ?" tanya Sirin lagi kepada Diana.
Diana hanya diam saja, menggigit bibir bawahnya dan sedikit menunduk. Diana malu, malu karna sekarang ia menjadi istri dari Papa sahabatnya. Diana tidak tau harus bersikap seperti apa. Diana merasa tak nyaman, dan canggung.
Sirin mencebikkan bibirnya, karna Diana tidak menjawab pertanyaannya. Sirin memutar tubuhnya berjalan keluar rumah terlebih dahulu, meninggalkan Diana dengan sang Papa.
"Kamu ingin kita kemana sayang ?" tanya Dokter Aldo dengan suara lembutnya.
Diana menggelengkan kepalanya," terserah Om aja" jawab Diana pelan.
Dokter Aldo mengulas senyumnya, karna Diana mau menjawab pertanyaannya. Setidaknya Diana sudah Tidak diam lagi, jika ditanya.
Dokter Aldo mengangkat satu tangannya, mengusap kepala Diana dari belakang. Kemudian menuntun Diana berjalan keluar rumah. Dokter Aldo pun membukakan pintu untuk Diana, kemudian menuntunnya masuk, duduk di kursi penumpang depan. Sedangkan Sirin, ia masuk dan duduk di kursi penumpang belakang. Setelah menutup pintunya, Dokter Aldo melangkahkan kakinya memutari bagian depan mobilnya ke arah pintu kursi pengemudi. Setelah Dokter Aldo masuk, ia pun menutup pintunya kembali, dan langsung melajukan kenderaannya.
Dokter Aldo memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah cafee, mengingat sudah waktunya jam makan malam. Dokter Aldo segera turun dari dalam mobil. Berjalan memutari bagian depan mobilnya ke arah pintu di samping Diana. Untuk membukakan pintu untuk Diana istri kecilnya.
Melihat usaha sang Papa untuk menaklukkan hati Diana. Sirin yang duduk di kursi belakang, menggeleng gelengkan kepalanya. Mengingat selama ia berpacaran sampai menikah dengan Arsenio. Sekali pun Arsenio tidak pernah membukakan pintu untuknya. Sirin pun keluar dari dalam mobil, mengikuti langkah sang Papa dan Diana masuk ke dalam cafee.
Sampai di dalam cafee, mereka bertiga mendudukkan tubuh mereka di salah satu meja kosong. Dan langsung memesan makanan dan minuman setelah seorang pelayan menghampiri mereka.
"Pengen makan apa ?,katakan saja !" Dokter Aldo mengusap kepala Diana dari belakang. Karna Diana lagi lagi diam saja.
Diana menggelengkan kepalanya," Diana gak tau Om !" jawabnya pelan.
Dokter Aldo menghela napasnya pelan, mengarahkan pandangannya kepada Sirin. Supaya Sirin yang memesan makanan untuk Diana. Karna Sirin pasti tau makanan kesukaan sahabatnya itu.
"Ada lagi ?" tanya pelayan wanita itu ramah.
"itu aja !" jawab Sirin.
"Di tunggu ya !" Pelayan itu pun undur diri, untuk menyampaikan pesanan mereka ke dapur cafee.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Sirin yang sudah lapar, langsung melahap makanan pesanannya. Mengabaikan Dokter Aldo dan Diana di depannya.
"Ayo makanlah !" ucap Dokter Aldo kepada Diana, mengusap punggung Diana dari belakang.
Perlahan Diana mengangkat tangan kanannya ke atas meja, mengambil sendok garpu dari pinggir piring. Menyendok mie lalu menyuapkannya ke mulutnya.
Dokter Aldo mengulas senyumnya, lagi lagi ia mengusap punggung Diana dari belakang. Mungkin cinta Dokter Aldo juga belum mencintai Diana. Tapi namanya seorang lelaki di berikan wanita, pasti rasa suka itu ada. Apa lagi wanita yang masih segar dan berparas cantik. Dokter Aldo tidak akan munafik akan hal itu. Dokter Aldo berpikir, tidak akan sulit baginya mencintai Diana.
Selesai menghabiskan makanannya mereka pun meninggalkan cafee itu. Mereka kembali masuk ke dalam mobil. Dokter Aldo yang sudah duduk di kursi pengemudi, melajukan kenderaannya keluar dari parkiran cafee.
"Ayo ! kalian mau di bawa jalan jalan kemana ?" tanya Dokter Aldo kepada kediua gadis remaja di mobilnya.
"Kita ke alun alun kota aja pa !" sahut Sirin dari belakang.
"Baiklah !" balas Dokter Aldo.
Sampai di alun alun kota, Dokter Aldo memarkirkan kenderaannya kembali." Papa akan tunggu di sini, kalian jalan jalanlah !" ucapnya.
Dokter Aldo berpikir, jika dia tidak ikut bareng Diana. Diana akan bergerak lebih luas, dan sejenak bisa melupakan kegundahannya. Diana bisa menghibur diri di keramaian taman itu.
Sirin menengadahkan tangannya ke arah Dokter Aldo." Papa ! duit !, mau beli jajanan" ucapnya.
Dokter Aldo segera mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar duit memberikannya ketangan Diana.
"Ini kamu belikan jajan buat putrimu !" ucap Dokter Aldo tersenyum kepada Diana.
"Ayo Mama kecil !, putrimu ini pengen beli martabak" sambung Sirin, lalu tertawa cekikikan. Terkadang masih tidak percaya, salah satu sahabatnya menjadi Mama tirinya. Sirin segera keluar dari dalam mobil, setelah menutup pintunya, Sirin membuka pintu di samping Diana, menarik Diana supaya keluar dari dalam mobil.
Dokter Aldo menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, dengan kedua telapak tangan di taro di kepala bagian belakangnya. Pandangannya tidak lepas dari Diana dan Sirin yang berjalan semakin menjauh dari mobilnya. Dokter Aldo tersenyum, hatinya bahagia mendapatkan istri yang sangat muda di usianya yang sudah empat puluhan. Diana adalah perjuangan pertamanya untuk mendapatkan cinta seorang wanita.
Sedangkan dulu dengan mantan kekasihnya Bunga, tidak ada yang namanya berjuang, mereka sudah dekat dari bayi, dengan mudah Dokter Aldo mengajak Bunga berpacaran. Dan sedangkan dengan Shasa, Shasalah yang mendekatinya, merawat hatinya yang terluka karna di tinggal nikah oleh Bunga.
Dokter Aldo tersenyum, merasa lucu dan seperti dirinya kembali kemasa masa remaja.
Begini rasanya mengejar ngejar cinta seorang wanita ?. Batin Dokter Aldo, merasakan dirinya seperti mengalami puberitas kembali.
"Kamu tau Diana ?, Opss ! Mama kecil !" ralat Sirin langsung. Sekarang mereka sudah dudum di bangku panjang di sekitaran taman. Sirin pun memasukkan potongan martabak rasa pandan dengan taburan parutan keju di dalamnya. Setelah menelannya ia kembali berbicara.
"Dulu Papa juga sempat terpuruk sepertimu, saat Mama Bunga menikah dengan Papa Arya. Kamu bayangin saja !, Papa Sama Mama bunga berteman semenjak Bayi, bersama terus sampai mereka remaja. Tiba tiba Papa di tinggal menikah" ungkap Sirin. Kemudian menyuapkan potongan martabak ke mulutnya lagi.
"Padahal Papaku itu pria yang baik, tapi entah kenapa, dia belum penah beruntung dengan yang namanya perempuan"ucap Sirin, setelah menelan makanan di mulutnya lagi."Aku sangat kasihan dengan Papa !, tapi tidak ada yang bisa kulakukan" lanjut Sirin.
Diana hanya diam saja mendengar penuturan Sirin. Pandangannya lurus ke depan, seperti menerawang masa depannya.
Melihat itu Sirin menghela napasnya, mengambil sepotong martabak, menyuapkannya ke mulut Diana.
"Jangan terlalu lama meratapi takdir yang menurut kita buruk. Karna Tuhan lebih tau kehidupan seperti apa yang lebih baik tiap hamba hambanya" ucap Sirin.
"Lihat kehidupanku yang sekarang. Aku juga tidak menyangka akan mengalami tinggal di rumah kontrakan sempit, jauh dari kata mewah. Mungkin menurutmu aku sangat bahagia karna menikah dengan laki laki yang kucintai. Di balik itu, ada cobaan yang membuatku harus meneteskan air mata."
Sirin mengambil sebelah tangan Diana, dan sedikit meremasnya."Diana ! Papaku sudah sangat menderita selama ini !. Aku ingin Papaku bahagia Diana !. Aku berharap kamulah wanita yang membuat Papaku bahagia. Aku yakin Papaku tidak akan pernah menyakitimu Diana !." mata Sirin berkaca kaca mengatakan itu, berharap lebih kepada sahabatnya itu.
"Aku janji akan menjadi anak tiri yang baik untukmu !" Bujuk Sirin, mengangkat tangan Diana ke atas kepalanya. Berhasil membuat Diana mengulas senyum di bibirnya, meski hanya sekedar senyum.
"Apa kamu tidak takut, aku mengusai seluruh harta orang tuamu ?" tanya Diana, memandang wajah Sirin di sampingnya.
"Ambil aja semua, asalkan kamu mau memberikan cintamu kepada Papa."Sirin yakin sahabatnya itu tidak serius dengan perkataannya.
Diana menghela napas beratnya,"Tapi rasanya sangat sulit Sirin !."
.
.