Brother, I Love You

Brother, I Love You
117. Mencium semuanya



Sekarang Orion sudah pindah ke ruang perawatan untuk memulihkan tenaganya, yang sempat lemah karna megalami kurang darah. Berkali kali Orion mengecup ngecup kening Queen yang tertidur pulas di sampingnya. Betapa Orion sangat menyayangi wanita yang sedang mengandung buah cintanya itu. Tapi terkadang alam cemburu kepada mereka, sehingga ingin membuat mereka berpisah.


Orion tidak pernah menyalahkan sikap Queen yang marah padanya, pada kenyataanya ia yang tidak perjaka lagi. Siapa pun di posisi Queen pasti kecewa berat. Tapi mempertahankan pernikahan itu adalah sebuah kewajiban. Terlabih Orion sangat mencintai Queen, Orion tidak mau rumah tangga mereka hancur begitu saja.


Berpindah, Orion mengalikan pandanganya ke arah Boy yang tidur di sebelahnya lagi, memandang iba kepada Boy yang sempat akan di gugurkan Jeslin waktu masih dalam kandungan. Jika saja Orion tidak menerima tawaran untuk Jeslin saat itu. Sudah pasti Orion tidak bisa melihat Boy lahir ke Dunia ini. Pasti Orion akan sangat merasa bersalah dan menyesal.


Maafin Daddy Boy !, sudah sempat tidak percaya kalau kamu adalah anak kandung Daddy. Maafin Daddy Boy !, mungkin selamanya kamu akan berstatus anak angkat Daddy, untuk menjaga perasaan Momy kamu. Daddy menyanyangi kamu Boy, sama seperti adik kamu yang masih berada di dalam kandungan Momy kamu. Batin Orion, mengecup ujing kepala Boy yang berada di bawah ketiaknya itu.


Orion memejamkan matanya, membiarkan Kedua orang yang di sayanganinya itu berada di dalam pelukannya. Orion bernapas lega, bersyukur karna permasalahannya dengan Queen berhujung baik. Queen berdamai dengan kenyataan dirinya, menerimanya dan Boy. Sekali lagi, Orion mengecup kening Queen dengan sayang. Sebelum ia akan menyusul Queen dan Boy ke alam mimpi.


.


.


Jika Sirin pergi ke ruangan Dokter kandungan, untuk memeriksakan kandunganya kepada abangnya Dokter Ghissam. Diana dan Dokter Aldo sedang berdua duaan di dalam ruangan Dokter Aldo.


Dokter Aldo mendudukkan tubuh Diana di atas pangkuannya, tangannya membelai belai rambut Diana, dan wajah Diana bergantian. Pandangannya pun dari tadi tidak lepas dari wajah Diana, yang bersadar ke tangan kirinya.


Dokter Aldo menyentuh sudut bibir Diana dengan jempol tangannya. Membuat Diana sontak mendongankkan kepalanya ke wajah Dokter Aldo.


"Boleh Om menciumnya ?"tanya Dokter Aldo, meneduhkan pandanganya ke arah Diana.


Diana semakin menajamkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo, sambil berpikir keras. Apakah dia mau di cium bibirnya atau tidak.


"Putri Diana..!" mohon Dokter Aldo.


Diana menundukkan pandangannya, sambil menggigit bibir bawahnya. Membuat Dokter Aldo menghela napas kecewa. Karna hanya minta di cium pun Diana tidak mau . Apakah dia pria yang menjijikkan ?.


"Apakah sedikit saja tidak ada tempat untuk Om di hatimu Diana ?" lirih Dokter Aldo.


Diana menggelengkan kepalanya, tanpa melepas gigitan bibir bawahnya.


"Lantas ? Kenapa kamu masih saja terus menolak Om Diana ?."


Diana diam tidak tau harus menjawab apa. Apa aku kasih aja ya ?, aduh kok rasanya berat sih ?. Om Aldo sepertinya sudah sangat kecewa padaku. Om Aldo sudah sangat baik dan menyayangiku. Sudah memberikanku kemewahan dan banyak uang. Dan bahkan sudah baik sama keluargaku. Merenopasi rumah dan membiayai kuliah kedua kakakku. Batin Diana.


"Sayang..!" panggil Dokter Aldo


Aduh ! bagaimana ini ?, bagaimana aku mau menjawab iya ya. ?, aku malu juga. Batin Diana lagi.


Dokter Aldo meraih dagu Diana, mendongakkan wajah Diana ke arahnya.


"Sayang..!" lirih Dokter Aldo.


"Ja..jangan disini Om !, nanti Sirin datang !" gugub Diana, entah kalimat itu bisa meluncur begitu saja dari bibirnya.


Aduh ! mampus ! batin Diana


Sontak Dokter Aldo mengembangkan senyumnya. Dan langsung berdiri, menggendong Diana, membawanya ke kamar yang ada di ruangan itu. Dokter Aldo pun mengunci pintu ruangan itu rapat rapat. Kemudian langsung menyambar bibir Diana tanpa menurunkannya dari gendongannya. Dokter Aldo menyapu bibir mungil itu lembut, dengan perlahan menyesapnya, dan melu***nya dengan hikmat.


Dokter Aldo mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, membiarkan Diana berada di pangkuannya. Dokter Aldo melepaskan ciumannya, karna Diana tidak membalas ciumannya. Dokter Aldo tersenyum, menurutnya Diana belum pernah berciuman, karna merasakan bibir Diana yang kaku saat di cium.


Sepertinya Reyhan belum pernah mencium bibir Diana sama sekali. Batin Dokter Aldo


Dokter Aldo senang, karna Reyhan yang menjadi pacar Diana selama ini, tidak mengapa ngapain Diana.


"Buka bibirnya sayang !" ucap Dokter Aldo dengan suara sengaunya. Dan mencium bibir Diana kembali. Namun Diana yang tidak tau maksutnya masih mengunci mulutnya. Dia benar benar tidak tau seperti apa itu berciuman mesra.


Dokter Aldo yang sudah sangat berpengalaman, tentu tidak tinggal diam. Dokter Aldo pun mengulurkan tangannya perlahan ke arah gundukan kecil Diana, dan mere***nya lembut tapi pasti. Sontak Diana yang kaget, refleks membuka sedikit mulutnya. Dokter Aldo dengan sigap langsung memasukkan lidahnya, memain mainkannya di dalam. Dokter Aldo pun terus memberikan kenikmatan di dada Diana. Sehingga membuat Diana terbuai, merasakan darahnya berdesir hangat di sekujur tubuhnya. Dan tanpa sadar akhirnya membalas ciuman mesra Dokter Aldo di bibirnya.


Dokter Aldo tersenyum, dan semakin memperdalam ciumannya. Dan perlahan tanganya masuk ke dalam baju Diana, mengusap usap punggung Diana lembut, dan membuka pengait bra Diana. Diana yang sudah terbuai, melanyang dan melambung tinggi, sudah tidak menyadari bajunya sudah lepas dari tubuhnya. Karna Dokter Aldo yang terus memberikan kenikmatan di setiap inci tubuhnya. Tanpa sadar Diana sudah mengeluarkan suara falsetonya, seperti orang yang berlatih vokal seriosa, mengeluarkan suara langsung dari kerongkongan yang terbuka lebar.


Oh Tuhan !, ini sangat nikmat sekali !, Batin Diana, mencengkram rambut Dokter Aldo, yang memanjakan tubuhnya dengan cara yang berbeda, sampai tubuhnya bergetar hebat, merasakan nikmat luar biasa.


Dokter Aldo melepas ciuman mesranya, saat merasakan tubuh Dianan melemas, dan melepas cengkraman di kepalanya. Dokter Aldo tersenyum, karna sudah berhasil membuat Diana mencapai surga untuk pertama kalinya bagi Diana. Semoga istri cabe cabeannya itu ketagihan, pikir Dokter Aldo, tersenyum jahat di dalam hati.


"Apa kamu menyukai rasanya sayang ?" tanya Dokter Aldo tersenyum kapada Diana yang bernapas ngosngosan, seperti ikan yang kehabisan air, terbaring lemah tak berdaya di atas kasur.


Dokter Aldo tertawa cekikikan, sepertinya tenggorokan istrinya itu sudah kering karna, karna terus membuka mulutnya, mengeluarkan suara suara merdunya, saat menyanyikan lagu cinta.


Dokter Aldo pun meraih botol air minum yang berada di atas meja. Setelah mendudukkan tubuh Diana, Dokter Aldo memberinya minum.


Gluk gluk gluk gluk........!


"Ahh !" desah Diana, setelah menghabiskan hampir satu botol air minum.


Lagi, Dokter Aldo tertawa cekikikan, kemudian meletakkan botol itu kembali ke atas meja, dan sekalian mengambil beberapa lembar tissu, dan melap tubuh bagian depan Diana yang basah terkena tumpahan air minum dan keringat.


"Aaaakh !!!"


Diana yang baru menyadari tubuhnya yang seperti bayi, langsung memekik, dan langsung menarik selimut yang berada di atas tempat tidur, menutupi tubuhnya hingga kepala.


Membuat Dokter Aldo semakin tertawa, hingga terbahak bahak. Melihat Diana yang baru sadar tubuhnya sudah polos setelah mendapat kenikmatan. Sangat lucu !, batinnya.


Dokter Aldo naik ke atas tempat tidur, memeluk tubuh Diana, gemas.


"Oh sayangku !" gemas Dokter Aldo.


Hati Dokter Aldo sangat bahagia tiada terkira saat ini. Akhirnya Diana mau menerimanya, menyerahkan dirinya. Meski Dokter Aldo tau, Diana belum mencintainya. Tak apa !, Biarkan Dokter Aldo saja yang mencintainya saat ini. Ia akan sabar menunggu cinta Diana. Asalkan Diana tetap berada di sampingnya.


"Apa mau lanjut di sini apa di rumah sayang ?" tanya Dokter Aldo, kepada Diana yang masih menenggelamkan seluruh tubuhnya di bawah selimut.


Diana sangat malu, karna Dokter Aldo sudah melihat seluruh tubuhnya sampai ke tempat yang tersembunyi. Dan malu karna tubuhnya sudah menghianati dirinya sendiri, menikmati siraman madu cinta pria tua di sampingnya.


Pantasan Sirin bisa bunting di luar nikah, habis rasanya enak dan nikmat. Lebih nikmat dari rasa mie goreng pedas level lima kesukaanku. Batin Diana


Mengingat bagaimana bibir dan bulu bulu wajah Dokter Aldo saat menyapu kulit tubuhnya, sungguh luar biasa rasanya.Dan mengingat saat Dokter Aldo mencium bagian terdalam tubuhnya. Membuat Diana ingin merasakannya lagi dan lagi dan yang lebih dalam lagi.


"Ayo sayang ! buka kepalamu, nanti kamu kehabisan oksigen di bawah selimut" ucap Dokter Aldo, sambil tangannya membuka kain yang menutupi kepala Diana. Kemudian mencium kening Diana dengan sayang.


Diana yanga malu, menyembunyikan kepalanya ke bawah ketiak Dokter Aldo yang masih memakai baju lengkep.


"Om tadi minta cium bibir Diana saja, kenapa malah mencium semuanya ?" gumam Diana, berbicara manja kepada Dokter Aldo.


"Om pikir kamu pasti menyukainya sayang !" jawab Dokter Aldo tersenyum lalu tertawa cekikikan. Merapatkan tubuh Diana ke tubuhnya. Dan Diana pun memeluk tubuh Dokter Aldo erat.


Tok tok tok !


"Dokter Aldo !, ada pasien gawat darurat !" sahut dari luar kamar.


Dokter Aldo refleks menoleh ke arah pintu." Saya akan segera kesana !" balas Dokter Aldo dari dalam kamar.


"Sayang ! sepertinya kita tidak bisa melanjutkannya di sini !. Om harus menangani Pasien sayang. Ayo pakai bajumu, Om harus segera pergi" ucap Dokter Aldo kepada Diana.


Dokter Aldo pun memungut pakaian Diana yang berserak di lantai. Dan memakaikannya ke tubuh kurus Diana. Setelah mencium kening, pipi, hidung, dan bibir Diana. Dokter Aldo pun meninggalkan Diana di ruang beristirahatnya itu.


Sepeninggal Dokter Aldo, Diana mentutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jantungnya terasa berdebar hebat, seperti genderang mau perang. Entah !, rasa bahagia itu seketika menghinggapi hati Diana. Rasa nikmat itu, sudah mencairkan hatinya yang beku. Sejenak, Diana merindukan Dokter Aldo yang baru hilang dari pandangannya.


Aku mencintaimu Om Aldo !, hati Diana berseru di dalam hati, tanpa bisa ia kendalikan lagi. Dada Diana seketika terasa sesak, karna debaran jantungnya semakin kencang.


Tuhan ! apa aku sudah mencintai Om Aldo ?.Kalau iya, tolong jaga cinta ini Tuhan !, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku !, batin Diana.


.


.


Sampai di ruang IGD, Dokter Aldo langsung mendekati pasien yang terbaring lemah di atas brankar. Untuk melakukan tindakan kepada pasien.


"Shasa !" kaget Dokter Aldo


.


.