
"Walaikum salam !" sahut Naysila sambil berjalan, mendengar orang yang mengetuk pintu rumah mengucap salam.Naysila membuka pintu rumahnya, melihat siapa yang datang.
"Boleh kami masuk ?"
"Si..silahkan Tante !" gugub Naysila.
"Panggil Mama dong !" wanita paru baya yang masih kelihatan cantik itu mengulas senyum manisnya.
"Si..lahkan masuk Ma !" ulang Naysila tersenyu samar.
Naysila pun menyingkir dari pintu, supaya wanita yang ternyata mertuanya itu dan wanita bercadar di sebelahnya bisa masuk. Setelah di dalam rumah, Naysila mencoba memberanikan diri untuk menyalam Mama Bunga, dan wanita istri dari abang suaminya itu.
Mama Bunga mengulas senyumnya, satu tangannya terangkat mengusap kepala menantunya itu, saat Naysila menempelkan tangannya ke keningnya.
"Maafin suami Mama ya !" ucap Mama Bunga.
"Iya Ma !, Nay mengerti Ma !" balas Naysila dengan mata berkaca kaca.
Naysila pun berpindah menyalam tangan Yumna. Yang langsung di sambut Yumna dengan memeluknya.
"Sabar ya !, Papa mertua aslinya orang baik kok, hanya sedikit saja agak keras kepala !" ujar Yumna.
Plakk !
"Aw !, Mama ! kok Yumna di pukul !" keluh Yumna, karna Mama Bunga menampar lengannya.
"Jangan bicara yang bukan ranahmu !" cetus ratu sejagat.
Yumna mengerucutkan bibirnya, sambil mengusap usap lengannya yang sedikit terasa panas."Kan ! benar yang di katakan Yumna !" Yumna membela diri.
"Hanya Mama yang boleh mengatakan seperti itu !" balas ratu sejagat.
"Iya, tapi pukulan Mama terasa sakit !" keluh Yumna.
"Oh ! maaf sayang ! tangan Mama keceplosan !" ucap Mama Bunga, mengusap usap lengan menantunya itu.
"Ayo Ma ! Kak ! silahkan duduk !" ucap Naysila.
"Trimakasih sayang !" balas Mama Bunga, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan itu, di ikuti Yumna duduk di sebelahnya.
"Sebentar Ma ! Nay buatin minum dulu !" pamit Naysila, memutar tubuhnya berjalan ke arah dapur.
Mama Bunga menoleh ke arah Yumna yang duduk di sampingnya. Di lihatnya pandangan Yumna meredup, pertanda Yumna masih cemberut.
"Mama tau bibirmu masih mengerucut, buka aja cadarnya. Gak ada laki laki di sini !. Jangan cemberut terus, nanti lama kelamaan bisa dagumu menjadi dua." ucap Mama Bunga, membuka ikatan kain nikap Yumna dari belakang.
"Mama mertua yang kejam !" sungut Yumna, semakin mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya itu di perbaiki, Reyhan lagi gak ada di sini !. Nanti kalau sudah di rumah, ada Reyhan baru buat bibirnya seperti itu. Sekarang, gantiin Mama gendong Sabin dulu" ucap Mama Bunga, memindahkan Sabina kecil ke pangkuan Yumna. Mama Bunga tau, kalau Yumna tidak benaran cemberut, dan tadi juga Mama Bunga memukul lengan Yumna pelan, Yumna nya saja yang mendramatiskan dirinya.
Tak lama kemudian Naysila kembali ke ruang tamu, membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat. Naysila pun meletakkannya di atas meja.
"Selahkan di minum Ma ! kak !" ucap Naysila.
"Trimakasih sayang !" balas Mama Bunga tersenyum.
"Apa Mama sama kak Yumna sudah sarapan ?" tanya Naysila.
"Sudah sayang !, ayo kamu juga ikut duduk !, Sini di samping Mama !" Mama Bunga menepuk nepuk sofa di sebelahnya.
Perlahan Naysila melangkahkan kakinya mendekati Mama Bunga. Mama Bunga pun menarik tangan Naysila, supaya segera duduk di dekatnya.
"Jangan merasa sungkan sama Mama !. Karna kamu juga menantu Mama, sama seperti Yumna, Sirin dan Queen" ucap Mama Bunga lembut, mengusap usap rambut panjang Naysila dari belakang.
Naysila tersenyum dengan mata berkaca kaca. Ia tidak menyangka kalau mertuanya itu menerimanya dengan baik. Meski kehadirannya belum di terima Papa mertuanya di rumah keluarga besar Alfarizqi itu.
"Trimakasih sudah menerima Nay Ma !" isak Naysila.
"Sssttt....! kenapa menangis sayang ?" Mama Bunga menarik Naysila ke dalam pelukannya, dan mengusap usap punggung gadis yang bernasib sama dengannya itu, sama sama di tinggal sewaktu kecil kedua orang tua mereka.
Naysila menangis terharu, setelah sekian lama, akhirnya ia memanggil Mama. Meski bukan kepada Mama kandungnya. Dan semenjak kecil, Naysila juga tidak pernah mendapat pelukan seorang ibu kepadanya. Karna selama ini, Ia hanya tinggal berdua dengan kakeknya.
"Ma..!" tangis Naysila.
Meski hanya Mama mertua, Naysila sekarang sudah memiliki Mama. Ia sudah memiliki pigur Mama dalam hidupnya, yang sangat ia dambakan selama ini.
"Iya sayang ! aku adalah Mama kamu !. Sssttt...! sudah sudah menangisnya ya !. Mama jadi ikut menangis nih !" ucap Mama Bunga, menghapus air matanya sendiri.
Mama Bunga merapikan anak anak rambut Naysila yang berantakan ke belakang, dan menghapus air matanya dengan jari tangannya. Kemudian mencium kening gadis yang sudah menjadi menantunya itu.
"Pamanmu hanya butuh waktu saja, dia hanya masih shok. Pamanmu nanti pasti menerima kamu sayang !. Yang sabar ya !, kamu dan Elang, kalian cepatlah kasih pamanmu cucu. Kasih Pamanmu cucu yang banyak. Mama yakin Pamanmu pasti hatinya luluh" ucap Mama Bunga lagi, menyugar nyugar rambut Naysila ke belakang yang bersandar di dadanya.
Naysila tidak menjawab, ia sibuk menangis cigukan dengan rasa terharu.
"Bukankah kalian menikah sudah eman Bulan ?, apa kamu belum berisi sayang ?" tanya ratu sejagat. Naysila menggelengkan kepalanya.
"Kok belum ?"
Sontak wajah Naysila memerah salah tingkah, gimana mau hamil. Mereka baru melakukan buka segel, itu pun karna Elang memaksanya. Dan mereka juga melakukannya baru sekali.
"Jangan bilang kalian belum melakukannya !. Atau kalian baru melakukannya !" kepo ratu sejagat, menatap wajah Naysila dengan menyipitkan sebelah matanya.
Naysila menggigit bibir bawahnya, apa yang harus ia katakan ?. Dan juga, kenapa pula Mama mertuanya itu kepo urusan ranjang anaknya.
" Ya sudah ! cepatlah kalian berusaha memberi pamanmu cucu" ucap Mama Bunga lagi tersenyum. Naysila diam tidak menjawab.
Mama Bunga pun mengambil tas kecilnya yang sempat ia letakkan di atas meja. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Mama bunga pun memasangkan sebuah kalung berbandul berlian kecil ke leher Naysila. Ratu sejagat memang mertua yang baik hati dan dermawan. Setiap menantunya selalu ia hadiahi sebuah kalung.
"Ini apa Ma ?" tanya Naysila
"Kalung sayang !" jawab Sang ratu sejagat.
"Maksud Nay.."
"Hadiah pernikahan untuk menantu Mama !" potong Mama Bunga langsung. Mengusap bahu Naysila sembari tersenyum.
"Tapi Ma ! ini.."
" Semua menantu Mama mendapat hadiah dari Mama. Jangan menolaknya sayang !" potong ratu sejagat lagi.
Menurut Naysila hadiah kalung seharga selangit itu terlalu berlebihan. Terlebih, Naysila takut, nanti Papa Arya menilainya sama seperti kakek dan neneknya dulu. Hanya mengharapkan harta saja.
"Trimakasih Ma !" balas Naysila, mengulas sedikit senyumnya.
"Sama sama sayang !, kalau begitu Mama pulang dulu. Kapan kapan Mama berkunjung ke sini lagi." Pamit Mama Bunga.
"Iya Ma ! trimakasih sudah menerima Nay sebagai menantu Mama. Dan juga sudah mengunjungi Nay ke sini" balas Naysila.
"Aku yakin kamu adalah gadis yang baik, makanya anak Mama jatuh cinta sama kamu. Dan Mama tidak punya alasan untuk tidak menerimamu" Ucap Mama Bunga, berdiri dari tempat duduknya, di ikuti Naysila.
Sekali lagi, Mama bunga memeluk Naysila dengan sayang." Kalau begitu kami pergi dulu" pamitnya sekali lagi, setelah melepas pelukannya.
"Nay ! kakak pulang dulu ya !, kalau ada waktu kakak akan main kesini nanti" pamit Yumna, setelah ratu sejagat mengambil Sabina kecil dari pangkuannya.
Naysila pun mengantar mertua dan iparnya itu sampai ke teras rumah. Setelah Mama Bunga dan Yumna masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan halaman rumahnya, Naysila baru masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya kembali.
.
.
Orion membuka seluruh pakaian baby Syauqi secara perlahan dan hati hati. Kemudian membawa buah cintanya dengan Queen itu ke kamar mandi untuk memandikannya. Orion sudah mahir memandikan bayi, karna ia sudah belajar saat Boy baru lahir dulu. Sedangkan Queen, ia akan menyiapkan pakaian ganti untuk baby Syauqi.
Selesai memandikan baby Syauqi, Orion membawanya kembali ke kamar, meletakkannya di atas kasur. Orion pun mengoles sedikit bedak dan minyak telon ke tubuh baby Syauqi. Kemudian memakaikan pakaian ke tubuh mungilnya, dan juga membedongnya. Setelah selesai, Orion memberikannya kepada Queen untuk di beri asi.
"Tugas abang sudah selesai, sekarang tugas Queen" ucapnya tersenyum.
Queen menerima baby Syauqi dari tangan Orion dengan wajah tersenyum bahagia. Meski sudah mangandung selama sembilan bulan, dan merasakan sakitnya melahirkan. Queen merasa masih seperti mimpi memiliki seorang anak.
Cup !
Satu kecupan mendarat di keningnya dari bang Orionnya.
"Apa kamu senang Queen memiliki seorang anak ?" tanya Orion yang duduk di pinggir kasur menghadap Queen yang duduk menyender di kepala ranjang.
Queen menganggungkan kepalanya tanpa menyurutkan senyum di bibirnya. Kemudian Queen menundukkan kepalanya ke arah baby Syauqi yang sibuk menyedot nyedot sumber nutrisinya dengan rakus.
Cup !
Satu kecupan lagi mendarat di pipi Queen dari bang Orionnya. Orion juga terkadang masih tidak percaya, kalau gadis kecil yang sudah di anggapnya adik dulu. Sudah melahirkan seorang penerus untuknya.
"Abang lebih dari senang Queen, malah abang sangat bahagia. Memiliki kamu dan baby Syauqi. Abang merasa menjadi orang yang paling bahagia di Dunia ini Queen !"ucap Orion lagi.
Queen menganggukkan kepalanya lagi, tanpa bisa berkata apa apa. Tentu Queen juga sangat bahagia.
Cup !
Lagi lagi Orion menciumnya, kini di pipi sebelahnya lagi.
"Kalau begitu abang mandi dulu, sebelum jam sepuluh abang harus sampai di kantor polisi" ujar Orion kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Hari ini Orion akan menajalini proses mediasi dengan orang tua Zoya. Terkait kasus Orion yang sudah menyandra Zoya dan membuatnya gila. Zoya sudah di pindahkan ke Indinesia, dan di rawat di rumah sakit jiwa.
Karna kedua belah pihak sama sama melakukan kesalahan. Pihak polisi yang menangani kasus mereka menyarankan untuk mediasi dan berdamai.
"Iya bang !" balas Queen.
Cup !
Kali ini Orion mengecup kilas bibir Queen. Orion mengacak acak ujung kepala Queen dengan senyum merekah di bibirnya. Kemudian memutar tubuhnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
Di kediaman Dokter Aldo
Sudah seminggu Dokter Aldo mengambil cuti karna untuk menemani Diana yang lagi ngidam. Hari ini ia harus kembali bekerja sebagai Dokter dan mengurus rumah sakit. Namun Diana masih enggan mengijinkannya untuk pergi bekerja.
"By gak boleh pergi kerja !" rengek Diana duduk di atas pangkuan Dokter Aldo yang sudah rapi dengan baju kemejanya.
"Kalau Hubby mu ini gak kerja, nanti kita bisa gak punya uang sayang !" bujuk Dokter Aldo, mengusap usap rambut Diana dari belakang.
"Kalau By kerja, Diana gak punya teman di sini !" manja Diana, menyembunyikan wajahnya di leher Dokter Aldo.
"Kalau kamu ikut, gimana ?. Kamu bisa istirahat di ruanganku !" tawar Dokter aldo.
"Gak mau !, nanti Diana bisa muntah cium bau obat !" tolak Diana.
"Tapi Hubby mu ini harus bekerja sayang !" ucap Dokter Aldo lembut.
"Ikut ! tapi di gendong pakai sarung" rengek Diana manja.
Dokter Aldo menghela napasnya dalam. Terkadang kepalanya pusing menghadapi ngidam istri cabe cabeannya itu. Yang tidak jemas ke inginan dan maunya yang dalam sekejab bisa berobah.
"Ya udah !" pasrah Dokter Aldo, mengambil sarung yang terletak di atas sofa di sampingnya. Kemudian memasukkannya ke tubuh mereka berdua. Menggendong Diana bergelantung di depan dadanya.
Dokter Aldo pun berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke kuar dari dalam kamar mereka. Akan seperti apa nanti penilaian orang, melihatnya datang ke ruang sakit dengan menggendong bayi besar.
Sampai di halaman rumah, Dokter Aldo masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang belakang. Karna Diana yang tidak mau lepas darinya. Terpaksa Dokter Aldo meminta tolong kepada supirnya kakek Fariq untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
Setelah supir yang mengantar mereka memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk rumah sakit. Dokter Aldo langsung turun, membiarkan Diana bergelantung di dadanya.
Dokter Aldo langsung menjadi pusat perhatian para pengunjung dan perawat tang bertugas di sana. Tak sedikit juga yang menyapa Dokter Aldo dengan tersenyum. Dan Dokter Aldo pun hanya membalasnya dengan senyuman.
"Papa ! Mama kecil kenapa ?"
"Sirin ! Arsen !, kalian ngapain ke sini ?" tanya balik Dokter Aldo.
Sirin tersenyum, sambil mengusap usap perutnya yang hampir kelihatan akan meledak." Cek up Pa !" jawabnya.
"Oh ! Papa lupa !, gimana kabar cucu Papa ?" tanya Dokter Aldo lagi.
"Sehat Kakek !" Sirin menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
"Hei mertua kecil ! manja banget !" ejek Arsenio tersenyum,melihat Diana menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dokter Aldo.
"Iya ! perasaan Sirin gak semanja itu deh !. Bahkan Sirin lupa kapan terakhir Papa gendong Sirin. Enak banget mama kecil di gendong sama Papa. Sirin cemburu nih !." Sirin berbicara dengan bibir mengerucut. Sirin cemburu, Papanya itu terlalu memanjakan Diana.
"Mama kecil kamu lagi sakit sayang !, masa gak paham !" ucap Dokter Aldo.
Tubuhnya sudah lelah, karna sering kali Diana minta di gendong. Putri kesayangannya cemburu pula. Tambah lelah lah perasaan Dokter Aldo.
"Uwek !" malah Diana memeletkan lidahnya ke arah Sirin, sembari tersenyum, ingin memanas manasi Sirin yang mudah cemberut semenjak hamil.
Sirin semaki mengerucutkan bibirnya, dan menghentakan satu kakinya ke lantai.
"Badut ! sini biar aku yang gendong !" ucap Arsenio, lagsung mengangkat tubuh Sirin membawanya keluar dari gedung rumah sakit itu. Jangan sampai badutnya itu marah marah tidak jelas karna cemburu.
Ya Tuhan !, batin Dokter Aldo. Kepalanya pusing menghadapi wanita hamil dua sekaligus. Yang satu anak, yang satu istri. Yang mana satu yang harus di jaga perasaannya. Dokter Aldo pun melangkahkan kakinya ke arah ruangannya.
"Enak sekali hidup Diana sekarang !, Papa sangat menyayanginya dan sangat perhatian !" sungut Sirin, setelah duduk di dalam mobil.
"Wajar dong ! Papa Aldo sayang dan perhatian sama istrinya !" balas Arsenio, melajukan kenderaannya keluar dari area rumah sakit.
"Tapi kamu gak memperlakukan aku seperti Papa memperlakukan Diana. Kamu gak ada romantis romantisnya. Suka begadang, gak pernah bukain pintu mobil untukku, gak pernah menggendong aku pakai kain !."
Seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput sendiri. Itulah yang di alami Sirin saat ini.
Arsenio memutar bola matanya malas mendengar keluh kesah badutnya yang semakin bertambah besar itu. Sirin mengatakannya gak ada romantis romantisnya !. Beda kali yang pacaran sudah lama sama yang pacaran setelah menikah.
.
.