Brother, I Love You

Brother, I Love You
23. Terserah



Sedari tadi gadis kecil itu menangis di dalam pelukan Orion. Hari ini, Orion akan berangkat ke luar Negri. Sekarang mereka sudah berada di bandara yang berada di kota mereka tinggal.


"Bang Orion jangan pergi..!" lirih Queen.


"Abang janji Queen !, abang akan setia sama Queen. Akan menjaga hati dan diri abang untuk Queen" ucap Orion, mencium kening Queen.


"Nanti Queen kangen !" ucap Queen lagi


"Queen bisa vidio call abang !" balas Orion. Tangannya tidak berhenti dari tadi mengusap usap punggung Queen dari belakang.


"📣 Bagi penumpang tujuan Negara XXXXX, di persilahkan segera masuk ke dalam pesawat, karna sebentar lagi pesawat akan segera berangkat !."


Mendengar pengumuman keberangkatan pesawat, yang akan Orion naiki akan segera berangkat. Orion melepas pelukannya dari Queen.


"Bang Orion jangan pergi !" tangis Queen pecah, tidak mau melepas pelukannya.


"Abang harus pergi Queen !, untuk masa depan kita !" balas Orion.


Membiarkan Queen memeluknya, Orion pun menyalam sang Mama ratu sejagat, yang tidak kalah banjir air mata dari tadi di dalam pelukan Papa Arya.


"Ma ! Orion berangkat Ma !, Doa in Orion Ma !" ucap Orion, memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.


Bunga menangis terisak, yang harus melepaskan anaknya pergi jauh, untuk pertama kalinya.


"Mama akan selalu mendo'akanmu sayang !, jaga dirimu baik baik, jaga kesehatan makan yang teratur, karna Mama gak ada di sana. Jangan lupa shalat minimal lima kali sehari semalam, kalau bisa, lebih. Jangan nakal di sana, ingat ada Queen yang harus kamu pertanggung jawabkan." ucap Bunga dalam tangisnya. Anak sulungnya itu, anak yang paling malas shalat dari dulu, sama seperti dirinya waktu masih muda.


"Iya Ma !" balas Orion, ikut menangis, kemudian bergantian menyalam sang Papa, setelah Bunga melepas pelukannya. Yang langsung di sambut Arya memeluknya.


"Semoga kamu sukses jagoan Papa !" ucap Arya. Wajahnya tampak memerah, menahan tangis. Ini pertama kalinya Orion akan jauh dari mereka dalam jangka waktu yang lama.


"Iya Pah !" balas Orion.


Berpindah lagi, Orion menyalam dan langsung memeluk Vani yang juga menangis. Orion mencium ujung kepala Mama keduanya itu.


"Mama Vani !, Orion titip Queen !. Orion janji tidak akan menghianati Queen !" ucap Orion, setelah melepas ciumannya.


Vani tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya, sambil menghapus air matanya. Orion pun mendaratkan ciuman di keningnya kembali.


Kemudian Orion bergantian memeluk Tari, sahabat Mamanya juga.


"Orion pamit Tante !" ucap Orion, juga mencium ujung kepalanya. Meski tak sedekat kepada Vani, tapi Orion juga sudah menganggap Tari Ibunya juga. Karna Tari juga dulu pernah menjaganya waktu kecil.


"Iya nak !, hati hati di sana !, jaga diri dan kesehatan" balas Tari. Tangannya mengusap Kepala Orion.


"Iya Tante !" balas Orion, melepas pelukannya.


Orion menghela napasnya, melihat Queen dari tadi tidak melepas dirinya. Orion mencium kening Queen cukup lama. Orion juga pasti merinduka Queen yang selalu mengganggunya,dan mengalahkannya dengan otak liciknya.


"Queen !, Abang harus berangkat !" ucap Orion, terpaksa harus melepas tangan Queen yang melingkar di pinggangnya., karna ia harus pergi.


"Bang Orion jangan pergi !" isak tangis Queen. tak ingin melepas kepergian Orion.


Papa Arya langsung mengambil Queen, yang menghalangi Orion pergi. Karna pesawat akan segera berangkat.


"Nanti sesekali Papa akan membawamu, mengunjingi Bang Orion !" bujuk Arya, mengunci pergerakan Queen yang meronta ingin mengejar Orion yang sudah masuk ke dalam bandara.


"Lepaskan Queen Papa Arya !" ucap Queen meronta.


"Queen !!" sahut Orion dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Queen dan yang lainnya menoleh ke arah Orion. Tentu ia menjadi pusat perhatian pengunjung yang ada di sana.


"Cepatlah besar !" sahutnya lagi, dengan wajah tersenyum, meski tampak sembab." Abang menyayangimu !, ingat itu !." Kemudian Orion memutar tubuhnya melanjutkan langkahnya, dengan yakin, pulang membawa kesuksesan.


"Bang Orion....!!!" teriak Queen.


.


.


Tujuh Tahun kemudian


"Bang Orion ! besok Queen ulang Tahun !. Bang Orion gak pulang ?" tanya Queen lewat vidio call.


Setelah lulus kuliah, Orion langsung bekerja di salah satu perusahaan di Negara tempatnya melanjutkan pendidikannya. Karna memiliki otak yang pintar, pemilik universitas tempatnya menimba ilmu, menawarkannya bekerja sebagai di rektur di salah satu anak cabang perusahaannya. Karna ingin mencari pengalaman, Orion pun menerimanya. Dan ingin mengumpulkan modal, untuk buka usaha, jika kembali menetap di Negaranya tercinta.


Queen mengerucutkan bibirnya." Katanya dulu perginya cuma lima Tahun aja !. Ini sudah tujuh Tahun, bang Orion masih betah di sana. Bang Orion sudah tiga Tahun gak pulang !" ucap Queen." Jangan jangan Bang Orion punya cewek di sana !" tuduh Queen.


Orion yang di sebrang HP, menghela napasnya, Queen selalu saja mencurigainya. Orion gak pulang pulang, karna banyak pekerjaan, membuatnya tak sempat pulang.


"Bagaimana kalau Queen aja yang kesini ?" tawar Orion.


"Papa pasti gak Ngijinin, lagian Queen harus sekolah" jawab Queen.


"Nanti pas Queen lulus abang akan pulang. Gak pergi pergi lagi" ucap Orion.


"Bang Orion cinta gak sih ! sama Queen ?. Apa bang Orion gak ada rindunya sama Queen ?" tanya Queen bernada marah.


"Abang janji ! Pas saat Queen lulus, abang pulang "sekali lagi, meyakinkan Queen.


"Terserah !" mata Queen berkaca kaca, susah tujuh Tahun ia berjauhan dari Orion, laki laki yang di cintainya. Apa laki laki yang tujuh Tahun di atasnya itu, gak punya rindu, sampai betah baget berjauhan. Atau memang tidak ada cinta hatinya ?. Queen pun mematikan sambungan vc nya sepihak.


Kini Queen sudah berusia sembilan belas Tahun. Sudah duduk di bangku kelas tiga SMA, sebentar lagi akan lulus.


.


.


Esok paginya


Queen yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya, lengkap dengan tas ransel berwarna merah maron di punggungnya. Melangkah gontai menuruni anak tangga turun kelantai bawah, berjalan ke arah ruang makan. Wajahnya nampak cemberut dan tidak bersemangat.


Gandi yang duduk di salah satu kursi meja makan, mencebikkan bibirnya. Melihat putrinya seperti bunga yang layu di terpa matahari. Ia tau, putrinya itu galau, pasti gara gara Orion.


"Orion lagi ?" tanya Gandi


"Nanti malam aku ulang Tahun, masa dia gak pulang. Ini sudah Tahun ke tiga, bang Orion gak pulang pas hari ulang Tahunku !" jawab Queen, dengan bibir mengerucut. Kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


"Alasannya apa ?" tanya Gandi lagi, kemudian meminum kopi buatan istrinya yang ada di atas meja.


"Kerjaan banyak !" jawab Queen.


"Cemberut lagi !" ejek Ghaisan, melihat wajah murung kakaknya, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Papa Gandi.Ia sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga SMP, sebentar lagi akan lulus.


"Kenapa kakak Queen gak sama Bang Arsen aja ?. Bang Arsen juga tampan !" celetuk Arcilla, sambil mendudukkan tubuhnya.


"Kenapa gak kamu aja ?" tanya balik Queen


"Arcilla 'kan sukanya sama Alex !" jawab Arcilla, menyebutkan anak tertua dari David dan Rania.


"Bukannya Alex banyak pacarnya ?" tanya Queen, menurut informasi yang ia ketahui dari Darren, adik ke empat dari Orion.


"Daren 'kan ! sudah sama Laria !" wajah Arcilla nampak kesal. Ia sebenarnya lebih suka sama Darren. Tapi Darren sukanya sama Laria, anak kedua dari Tari dan Leo.


Gandi geleng geleng kepala melihat ke dua putrinya, yang hampir setiap hari pembahasannya tidak jauh jauh dari yang namanya laki laki.


"Ayo sarapan..!" seru Vani datang dari dapur, membawa nasi goreng di dalam mangkok besar.


"Ayo Queen ! bantuin Mama, ambilin telor sama sosisnya di dapur !" suruh Vani. Queen langsung beranjak dari kursinya. Vani pun menyendokkan nasi goreng hasil masakannya, memindahkannya ke piring.


"Kenapa lama siap masaknya ?" tanya Gandi, sudah sepuluh menit ia menunggu di meja makan, Vani baru siap menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Mama telat bangun 'kan ! gara gara Papa ngajak Mama begadang main game sampai tiga ronde" cetus Vani. Sudah tau jawabannya, nanya lagi. pikir Vani


Mentang mentang musim hujan, cuaca dingin, suaminya itu alasana aja butuh penghangatan yang lebih. Tubuhnya sudah terasa remuk semua.


"Main game apa Pah ?, kok gak ngajak Arcilla !."


"Mama aja yang main game sayang !, Papa gak ikut, ayo cepat makan sarapannya, biar kita berangkat !" jawab Gandi.


.


.