
"Apa kamu sudah yakin Orion, untuk bertunangan dengan Kezia ?" tanya Arya. Mereka berdua lagi duduk bersantai di teras belakang rumah, sambil minum kopi. Arya sengaja mengajak Orion berbicara hanya berdua saja, dari hati ke hati sesama pria.
"Sudah Pah !" jawab Orion mantap
"Bagaimana dengan orang tuanya ?" tanya Arya lagi.
"Orang tuanya juga setuju Pah !, tapi dua Bulan lagi, orang tuanya baru bisa datang Pah !" jawab Orion.
"Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu ?. Dan bagaimana dengan Queen ?, apa kamu tidak memikirkan perasaan Tante Vani ?. Dia sangat berharap kamu menjadi menantunya semenjak kamu masih berada di dalam kandungan. Apa kamu tidak bisa menunggu Queen dewasa ?. tanya Arya lagi tersenyum, mengingat kegigihan Queen mengejar ngejar cinta anak pertamanya yang tampannya melebihi dirinya.
"Queen sudah Orion anggap adik sendiri Pa !, lagian Queen masih anak anak" jawab Orion.
"Temuilah Tante Vani dan Om Gandi, bicarakanlah kepada mereka kalau kamu akan bertunangan dengan Kezia. Dan minta maaflah kepada Tante Vani, kalau kamu tidak bisa menjadi menantunya" suruh Arya.
"Iya Pah !" jawab Orion
"Mereka sudah seperti saudara bagi Ibumu !. Dari dulu mereka selalu ada buat Ibumu. Dan Tante Vani sangat menyanyangimu, dulu dia juga ikut mengasuhmu, saat Ibumu kuliah. Ibumu memang diam, tapi Papa rasa Ibumu juga berharap kamu dan Queen berjodoh. Tapi Ibumu tidak mau egois untuk memaksakan keinginannya. Dia lebih mengutamakan kebahagiaanmu, kebahagiaan kalian anak anaknya" ucap Arya.
Orion terdiam mendengar penuturan Papanya. Orion juga masih mengingat saat ia masih kecil dulu. Sahabat Mamanya itu sangat menyanyanginya, memperlakukannya seperti anak sendiri. Bahkan sering menjemputnya pulang sekolah, ketika Mamanya pas jam masuk kuliah.
"Tante Vani bukan terobsesi untuk menjadikanmu menantu, tapi dia terlalu menyanyangimu. Kalau kamu menikah dengan Orang lain, keadaan pasti sangat berubah. Bisa saja kamu bukan lagi milik keluargamu, apa lagi milik dari dari sahabat dan kerabat keluargamu. Kamu adalah milik istrimu dan anak anakmu nantinya. Mungkin bisa saja Tante Vani, tidak mau kehilanganmu !. Pikirkanlah nak ! sekali lagi, sebelum pertunanganmu dan Kezia terjadi." Arya menjeda kalimatnya, menajamkan pandangannya ke wajah Orion, yang menggigit bibir bawahnya sembari berpikir.
"Bukan maksud Papa tidak merestui hubunganmu dengan Kezia. Tapi Papa tidak ingin kamu gegabah dalam mengambil keputusan. Ada yang perlu kamu pertimbangkan" tambah Arya lagi. Kemudian tangannya terangkat menepuk nepuk pundak Orion. Mata Arya berkaca kaca, terharu melihat anaknya sudah besar.
Orion hanya bisa memandangi wajah Papanya, tidak bisa berucap sepatah kata pun. Orion gundah, dilema mendengar penuturan Papanya. Orion mencintai Kezia, bahkan mereka sudah menjalin hubungan sejak lama dan Orion sudah mengajaknya bertunangan. Dan Orion juga harus memikirkan apa yang dikatakan Papanya. Soal Mamanya, yang juga menginginkan ia dan Queen berjodoh.
"Istirahatlah ! malam sudah larut !" Arya berdiri dari kursinya, kemudian mengusap kepala Orion, lalu melagkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Orion juga masuk ke dalam rumah, karna jam juga sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Orion menaiki anak tangga ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai.
Malam ini Orion tidak bisa tidur, ia terus mengingat apa yang di katakan Papanya tadi. Entah sudah berapa kali Orion membolak balik badannya.
Ya Tuhan ! apa yang harus aku lakukan ?. Kalau aku memilih Kezia, keluargaku banyak yang sedih hatinya. Kalau aku mengikuti keinginan orang tuaku, Kezia pasti sakit hati . Batin Orion
Orion mendudukkan tubuhnya, turun dari atas tempat tidur. Orion berjalan ke arah pintu kaca kamarnya yang mengarah ke balkon. Setelah menyibak turai yang menutup kaca, Orion membuka pintu kaca itu, melangkahkan kakinya keluar.
Orion mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di teras balkon. Kemudian menyalakan sebatang rokok yang sempat dia ambil dari laci meja nakas, lalu mengusapnya dalam kemudian menghembuskannya kasar. Orion menyugar kasar rambutnya ke belakang dan mengacak acaknya. Orion benar benar prustasi malam ini.
Orion mengarahkan tatapannya ke arah rumah yang ada di sebrang jalan depan rumahnya. Di lihatnya lampu di kamar gadis kecil yang terus mengganggunya itu, nampak terang , seperti iti setiap malam, sepertinya gadis kecil itu takut tidur dalam keadaan gelap. Orion langsung teringat kejadian saat mereka sama sama terjatuh, membuat Queen kesakitan dia bagian dadanya, sampai Queen menangis meraung raung sambil memegangi kedua biji keras miliknya. Ah ! membuat otak kotor Orion melanyang layang aja.
Orion menyelami hatinya, bagaimana sebenarnya perasaannya kepada Kezia. Dan Orion juga menyelami perasaannya kepada gadis kecil berotak licik itu. Ya ! Orion sama sama menyayangi kedua gadis beda usia itu, tapi rasa sayang itu berbeda.
Orion mematikan puntung rokoknya, kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Dua Bulan lagi, ia masih punya waktu untuk berpikir.
.
.
Buar buar buar ..!
"Bang Orion !!! Bangun !!!"
Orion yang mendengar teriakan suara bocah memyebalkan itu, langsung terbangun dan membuka matanya. Orion mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding yang menempel di dinding kamarnya. Di lihatnya jam, ternyata sudah menunjukkan jam delapan pagi. Orion memijit pelipisnya, karna kepalanya yang terasa pusing. Entah jam berapa ia bisa tidur tadi malam.
"Bang Orion !!!, Mama Bunga yang nyuruh Queen Bangunin abang !!!" teriak dari luar lagi.
Queen terus mengedor ngedor pintu kamar Orion, karna tidak ada jawaban dari dalam.
"Ck !" decak Orion, turun dari atas tempat tidur, dan berjalan ke arah pintu. Gadis kecil itu selalu saja menjual nama Mamanya, untuk kelancaran usahanya mengganggunya. Karna Queen tau, kelemahannya adalah Mamanya ratu sejagat.
"Bang Ori...!!!"
Teriakan Queen langsung terhenti karna tiba tiba saja pintu terbuka, dengan cepat Orion langsung membekap mulutnya, menariknya masuk ke dalam kamar.
Orion mengangkat tubuh Queen ke pundaknya, membawanya berjalan ke arah ranjang, dan langsung melemparnya ke atas tempat tidur.
"Orion Ozama Alfarizqi !!!" teriak Queen, kepalanya terasa pusing, karna Orion melemparnya kuat ke atas tempat tidur.
"Ada apa pacar kecilku ? hm..!, apa kamu datang kesini untuk mengajakku pacaran ?" tanya Orion, menyeringai lebar mendekatkan wajahnya ke wajah Queen yang terbaring di atas kasur.
"Iya !" jawab Queen." biasanya orang pacaran 'kan !. Cowoknya membawa ceweknya jalan jalan" lanjutnya.
"Ah ! itu betul sekali. Dan orang pacaran itu juga, ceweknya mencium cowoknya !" balas Orion, menepuk nepuk bibirnya dengan telunjuk.
"Mama Bunga !!!!...
Hap !
Orion langsung membekap mulut Queen lagi, yang akan mengadu kepada Mamanya.
"Aw ! sakit Queen !" keluh Orion, Karna Queen menggigit telapak tangannya. Kesal sekali Orion melihat mahluk kecil jadi jadian di depannya itu.
"Queen gak bisa napas!" ucap Queen.
"Kita putus !" ucap Orion
"Mama Bunga !!!!...
Hap !
Lagi Orion membekap mulut Queen dengan tangannya.
"Iya kita pergi jalan jalan, tapi siang, sekarang abang mau tidur lagi, abang masih ngantuk !" ucap Orion. Ia harus mengalah dengan gadis kecil sialan itu. Kalau gak, bisa bisa gadis kecil itu, mengadukan yang aneh aneh kapada Mama dan Papanya.
Queen melebarkan senyum kemenangannya kepada Orion, setelah Orion melepas tangannya dari mulutnya.
"Okeh !"
Queen pun beranjak dari tempat tidur, dan langsung keluar kamar. Berlari menuruni anak tangga berlari dengan wajah ceria.
"Hai calon kakak ipar kecil !, ceria banget wajahnya !"sapa Reyhan berpapasan dengan Queen di ruang keluarga.
"Nanti siang aku dan Bang Orion akan pergi kencan !" lapor Queen, wajahnya tampak bahagia.
"O ya ?, wah ! selamat ya ! calon kakak ipar kecil !" balas Reyhan, tersenyum manis, semanis senyum Mama Bunga. Queen mengangguk anggukkan kepalanya, lalu pergi berlari keluar.
Di dalam kamar, Orion menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur. Ia masih nagntuk, dan ingin tidur lagi, mumpung hari minggu, ia bisa berlama lama di atas tempat tidur.
Orion berencana akan bangun sebelum siang, ia akan kabur, sebelum Queen datang ke rumahnya siang nanti. Maka dari itu, Orion memasang alarm sampai level lima.