
"Bang Orion ! aku gak mau memakai baju ini !" rengek Queen, karna Orion memaksanya memakai seragam sekolah, menggunakan rok panjang dan baju kemeja lengan panjang.
"Baju sergammu yang kekecilan itu, sudah abang buang semua" ujar Orion, sambil tangannya mengancing baju seragam Queen.
Queen cemberut, dan menghentakkan satu kakinya ke lantai.
"Sayang ! nanti bayi kita bisa sakit. Jangan menghentakkan kakimu seperti itu" tegur Orion.
"Queen gak suka memakai baju seperti ini, kelihatan aneh."
Orion meletakkan kedua tangannya di bahu kiri dan kanan Queen. memandang wajah masam Queen." Cantik itu bukan harus berpakaian seksi dan serba mini Queen. Kamu itu cantik, meski Queen memakai pakaian sederhana sekali pun, Queen itu kelihatan cantik." Orion menjeda kalimatnya sebentar, kemudian berbicara lagi." Lagian.. bukankah tubuh Queen untuk abang, dan hanya milik abang ?. Buat apa Queen memamerkannya lagi kepada halayak rame ?. Jika Queen tak bermaksud tebar pesona dan niat menggoda. Abang cemburu Queen, abang gak ridho."
"Lihat..seperti ini kamu malah kelihatn lebih cantik, anggun, dan lebih berwibawa." Orion mengulas senyumnya, kemudian menangkup wajah Queen, lalu mengecup kening Queen.
"Abang sangat mencintai kamu Queen. Abang cemburu..mengertilah !. Tolong ! jagalah perasaan abang!" ucap Orion setelah melepas kecupannya. Mata Orion berkaca kaca saat mengucapkan itu.
"Maaf !" Queen menatap Orion dengan tatapan meneduh.
Orion mengulas senyumnya, menarik Queen ke dalam pelukannya."Maafkan abang juga, selama ini kurang memperhatikanmu !" balas Orion, dan Queen menganggukkan kepalanya.
"Yuk abang temani sarapan, sebentar lagi, Reyhan akan datang menjemput kita." Orion mencium kening Queen sekali lagi, kemudian menarik tangan Queen keluar dari dalam kamar.
"Sampai kapan bang Orion menjadi guru pengganti. Bang Orion benar benar tak berbakat menjadi guru. Cara menjelaskan bang Orion terlalu cepat. Kalau Queen sih sudah terbiasa, tapi yang lainnya mengeluh" tanya Queen. saat mereka menuruni anak tangga ke lantai bawah.
"Sampai kamu lulus, aku yang akan menggantikan Papa untuk sementara. Dan Reyhan dia pokus sama pembangunan kampus" jawab Orion.
Sampai di sekolah, Queen langsung menjadi pusat perhatian saat ia turun dari dalam mobil Reyhan. Semua mengagumi kecantikannya, baik siswi maupun siswa. Memakai pakaian yang lebih sopan, ternyata aura kecantikannya semakin terpancar.
Melihat para siswa memandang Queen dengan tatapan kagum, Orion hanya bisa menghela napasnya. Selama ini, ternyata ia terlalu santai di luar Negri, tidak terlalu menyadari kalau istri bocahnya dulu, ternyata tubuh menjadi gadis yang sangat cantik. Selama ini ia hanya mengikuti pertumbuhan Queen lewat vc. Yang jelas kecantikan Queen, jauh terlihat lebih cantik di banding melihatnya lewat layar phonsel atau laptop. Dan untungnya Queen setia menunggunya, menjaga kesucian ikatan pernikahan mereka.
Maafin abang Queen, abang terlalu posesif. Kecantikanmu benar benar meresahkan hati abang. Batin Orion
"Abang Orion mau kemana ?" Queen menaikkan satu alisnya. Melihat Orion ikut berjalan menuju kelasnya.
"Langsung ke kelas, kalian fisika 'kan jam pertama ?."
"Buku bang Orion ?"
"Abang gak perlu buku"
Queen tersenyum, pandangannya mengarah ke tongkat Orion, dan mengambil tongkat itu dari bawah ketiak Orion. Queen menautkan jarinya ke selah jari Orion." Ayo jalan !"
Orion menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dan mulai melangkahkan kakinya perlahan.
"Selagi ada Queen di samping bang Orion. Bang Orion tidak usah pakai tongkat lagi. Ada Queen yang menjadi pengangan bang Orion" ucap Queen, berjalan lambat menyesuaikan langkahnya dengan langkah Orion.
Mereka berdua tidak peduli, jika para penghuni sekolah memperhatikan mereka. Dan bertanya tanya apa sebenar hubungan Queen dengan anak sulung dari pemilik sekolah itu?. Kenapa mereka kelihatan begitu sangat romantis?.
"Queen juga ingin merasakan berpacaran, seperti teman teman seusia Queen. Seperti Sirin dan Arsen, Calixto dan Nimas. Berjalan bergandengan tangan di lorong sekolah. Di antar pacar sampai masuk ke dalam kelas. Saat istirahat di temanin sama pacar makan di kantin. Pulang sekolah di antar pacar pulang ke rumah. Saat malam minggu ada yang kencani, di ajak jalan jalan malam keliling keliling kota, atau sekedar nongkrong di taman" ungkap Queen.
Orion mengalihkan pandangannya ke wajah Queen.
"Queen ingin bang Orion menjadi pacar Queen sekarang !. Sebelum Queen benar benar meninggalkan sekolah ini" ucap Queen lagi.
Orion menghentikan langkah kakinya, tersenyum memandang wajah Quee."Bukankah kita sudah jadian sejak Queen masih SD ?. Apa Queen sudah lupa itu ?" ucap Orion. kemudian mengangkat satu tangannya mengacak acak ujung kepala Queen.
Ada ada saja istrinya itu, masa masih mengajak pacaran. Padahal mereka malah sudah menikah, dan Queen sekarang sudah mengandung. Tapi Orion harus maklum itu, mengingat Queen masihlah remaja.
Queen mengerucutkan bibirnya,"Tapi waktu itu bang Orion gak menganggap Queen pacar sungguhan" sungut Queen.
"Siapa bilang ?"
"Ya udah deh ! kita pacaran sekarang !" ucap Orion merekahkan senyumnya, sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.
"Queen ingin bang Orion menembak Queen sekarang. Dari dulu bang Orion gak pernah nembak Queen."
"Baiklah !" ucap Orion.
Orion melepas tautan tangan mereka, dan berjalan ke arah taman sekolah. Setelah memetik sekuntum bunga berwarna pink, Orion kembali berjalan ke arah Queen dan langsung menurunkan tubuhnya di depan Queen.
"Queenara Hamiska ! maukah kamu menjadi pacarku ?" ucap Orion menyodorkan Bunga yang baru di petiknya kepada Queen.
Wajah Queen yang tadinya cemberut, seketika langsung berbinar.
"Terima !" seru Diana
"Teruma !" seru Kania
"Terima ! terima ! terima ! terima ........!" seru siswa siswi yang menyaksikan.
Queen mengembangkan senyumnya, akhirnya ia merasakan bagaimana di tembak cowok. Selama ini ia hanya bisa menyaksikan para cowok cowok di sekolahnya menembak ceweknya.
Queen tetaplah gadis remaja, gadis yang masih masa puber, meski ia sudah berstatus istri. Queen sama seperti remaja lainnya, ingin merasakan yang namanya pacaran.
Queen mengambil bunga itu dari tangan Orion. kemudian berseru." Aku mencintai bang Orion...!"
Queen merentangkan kedua tangannya lalu memutar mutar tubuhnya. Ia terlalu senang, karna Orion menembaknya. Orion tidak pernah melakukan itu sama sekali kepadanya.
"Sayang !" tegur Orion, langasung berdiri dan menangkap tubuh Queen. Orion kawatir Queen terjatuh, yang bisa membahayakan calon anak mereka.
Queen adalah gadis yang tumbuh dengan tidak wajar. Mencintai di usia yang tidak wajar. Menikah di usia yang tidak wajar. Menjalani pernikahan dengan tidak wajar. Orion meninggalkannya dalam waktu yang lama, memberinya status yang menggantung.
"Queen mencintai bang Orion !" ucap Queen lagi, tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipinya.
"Abang juga mencintaimu Queen !, sangat mencintaimu !" balas Orion. Menghapus air mata Queen dengan jari tangannya. Kemudian menangkup wajah Queen dan mencium kening Queen." Sekarang kita resmi jadian" ucap Orion lagi.
"Oh ! so sweet !" ucap Diana
"PJ ! PJ ! PJ......!" seru para fans Queen, meminta pajak jadian kepada mereka.
Orion merekahkan senyumnya, memutar pandangan ke arah orang orang yang mengelilingi mereka.
"Sayang ! para fans mu meminta di traktir. Bagaimana itu ?" tanya Orion menarik Queen ke dalam pelukannya.
"Bang Orionlah yang traktir !" jawab Queen menyandarkan kepalanya di dada bidang Orion.
"Baiklah !, hari ini semuanya bisa makan sepuasnya di kantin" ucap Orion kepada penggemar istrinya itu.
"Hore...!!!" seru semuanya.
"Ayo sayang ! kita masuk ke dalam kelas !" Orion merangkul pundak Queen, membawanya berjalan masuk ke dalam kelas. Di ikuti Diana dan Kania dari belakang.
Untung sekolah itu punya nenek moyang mereka, kalau tidak ?. Hm..! pasti mereka sudah di kasih surat warning.
Sampai di dalam kelas, Orion mengatar Queen sampai ke bangkunya, dan membantu Queen duduk. Tangan Orion terulur, mengelus perut Queen. Kemudian mengecup kening Queen dari samping." I love you" Kemudian Orion berjalan ke arah meja guru yang berada di depan kelas.
Setelah mendengar bel berbunyi, Orion pun memulai proses mengajarnya.
.
.