Brother, I Love You

Brother, I Love You
49. Kabar mengejutkan



Elang menghentikan laju kenderaannya di halaman rumah suami istri yang lagi berbahagia itu. Setelah mematikan mesinnya ia pun langsung turun. Begitu juga dengan kedua calon orang tua baru yang duduk manis di kursi penumpang belakang mobilnya itu.


Di teras rumah, kedua wanita kesayangan mereka dan ketiga sahabat Queen sudah menyambut mereka dengan pertanyaan masing masing di benak mereka. Mama Bunga dan Mama Vani yang tidak sabaran, pun menyusul Queen dan Orion ke halaman rumah.


"Sayang bagaimana hasilnya ?" tanya mama Vani dan Mama Bunga antusias. Sama sama menuntun anak mereka berjalan ke teras rumah.


Kedua sejoli itu pun sama sama mengembangkan senyum mereka. Queen mengelus elus perutnya, begitu juga dengan Orion, ikut mengelus perut Queen.


"Kalian akan segera punya cucu Ma !" ucap Orion tersenyum dengan mata berkaca kaca, yang di angguki oleh Queen.


"Wah ! Bubu ! aku yakin cucu kita pasti ganteng kalau lahir laki laki. Dan pasti cantik kalau lahir perempuan" heboh Mama Vani. kemudian mencium kening Queen dan Orion bergantian. Betapa bahagianya Mama Vani, keinginannya terwujud, ia bisa berbesan dengan sahabatnya sendiri. Orion yang di asuhnya waktu kecil menjadi menantunya.


"Aku mau cucu kita perempuan" ujar Mama Bunga, sepertinya ia sudah bingung mau di kasih nama burung apa cucunya nanti jika lahir laki laki. Dan Mama Bunga juga sudah sangat menginginkan anak perempuan hadir di dalam keluarga mereka, namum tak kesampaian.


Mama Vani mencebikkan bibirnya, baginya perempuan atau laki laki sama saja. Yang penting sehat dan terlahir sempurna tidak ada yang kurang satu pun.


"Queen selamat ya !" ucap Sirin memeluk Queen di teras rumah ikut senang dengan kabar gembira Queen dan Orion yang sudah dianggap keluarga. Kemudian berpindah memeluk Orion." Selamat bang Orion !"ucap Sirin lagi.


"Trimakasih adik ipar !, bantuain abang jagain Queennya" balas Orion, tangannya mengusap kepala Sirin.


"Iya bang !, pasti dong ! Sirin jagain ponakan Sirin !" ucap Sirin dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Selamatnya Queen !, aku ikut senang, sebentar lagi aku akan menjadi tante !" ucap Diana, memeluk Queen." Selamat bang Orion !" ucapnya lagi kepada suami sahabatnya itu.


"Trimakasih calon adik ipar !" balas Orion terseyum manis. Membuat Diana senyum malu malu meong karna ada calon mertua disana. Hubungannya dengan Reyhan anak kedua dari pasangan Mama Bunga Dan Papa Arya itu, belum diketahui orang tua mereka masing masing.


Mama Bunga Dan Mama Vani refleks saja menoleh ke arah Diana, karna Orion menyebutnya calon adik ipar.


"Ayo ! Kamu berhubungan dengan anakku yang mana ?" tanya Mama Bunga, penasaran.


"Bang Reyhan Ma !" Queen yang menjawab, karna Diana diam senyum senyum tak jelas, sambil menunduk.


"Reyhan sudah di jodohkan dengan Sirin, apa kamu tau ?" tanya Mama Bunga. Senyum Diana langsung lenyap seketika dan mengalihkan tatapannya ke arah Sirin.


Sirin mencebikkan bibirnya, ia tau Mama Bunga hanya mengerjai Diana. Semua keluarga sudah tau, Sirin tidak menyukai Reyhan, Sirin juga sudah menjalin hubungan dengan Arsenio.


"Sirin gak menyukai bang Reyhan, cinta Sirin sudah mentok dengan Arsen. Mama Bunga hanya bercanda" ucap Sirin, melihat sepertinya sahabatnya itu percaya.


Kania juga mengucapkan selamat kepada Queen dan Orion atas kehamilan Queen. Setelah itu mereka pun sama sama masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu masih ada Papa Arya dan Papa Gandi, menunggu kabar gembira dari anak dan putri mereka.


"Papa !" seru Queen dengan wajah berbinar, berlari dan langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Papa Gandi.


"Sayang ! jangan berlari !" tegur Orion, kenapa istri kecilnya itu susah di ingatkan.


"Hehehehe...! lupa !" cengir Queen."Queen hamil Pah !" ucapnya kepada Papa Gandi.


"Alhamdulillah !" balas Papa Gandi, matanya langsung saja berkaca kaca, terharu mendengar kabar menggembirakan itu. Tak terasa putrinya sudah besar, dan ia akan menjadi kakek sebentar lagi. Papa Gandi pun mencium kening putri sulungnya itu dengan sayang.


Papa Arya yang tidak jauh duduk dari Papa Gandi pun, mengulurkan tangannya, mengusap kepala Queen dengan sayang. Refleks Queen mengalihkan tatapannya kepada pria tampan yang tak lagi muda itu. Queen bukan sekedar menantu baginya, Queen sudah seperti putri bagi Papa Arya, mengingat mereka yang tak punya anak perempuan.


"Selamat ya nak !" ucap Papa Arya, tersenyum bahagia.


Queen menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Trimakasih Papa Arya !" balas Queen.


"Justru Papa yang berterima kasih kepada Queen. Sudah mengandung cucu Papa. Ayo katakan !, putri Papa ini minta hadiah apa dari Papa ?" tawar Papa Arya.


Queen semakin mengembangkan senyumnya sambil berpikir. Jiwa matrenya langsung saja meronta ronta jika sudah di tawari hadiah.


Tok tok tok !


"Permisi !"


Sontak semua yang ada di ruangan itu mengalihkan tatapan mereka ke arah pintu yang terbuka. Di sana nampak ada dua orang laki laki berseragam polisi.


Papa Arya pun berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Iya ada apa ya Pak ?" tanya Papa Arya, kenapa tiba tiba polisi datang ke rumah anaknya. Bukankah besok mereka akan menghadapi sidang pertama kasus yang menimpa Queen dan Orion ?.


"Maaf Pak Arya, kami harus menahan saudara Orion atas pembunuhan Ismail di rumah sakit."


Duarrr !!!


Seperti tersambar petir di siang bolong, semuanya kaget bukan main, terdiam di tempat masing masing. Mendengar kabar yang mengejutkan itu.


Orion yang di tuduh sebagai tersangka menggeleng gelengkan kepalanya. Mama Bunga terdiam mematung di tempatnya berdiri. Queen terdiam dengan mata yang sudah berkaca kaca di dalam pelukan Papa Gandi. Mama Vani, ia sudah merapatkan gigi giginya, mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal dadanya naik turun menahan emosi yang bergemuruh di dadanya. Ia tidak percaya Orion melakukan pembunuhan, pasti ada yang memfitnahnya.


Orion melangkahkan kakinya mendekati kedua orang polisi yang berdiri di depan pintu masuk rumahnya.


"Aku tidak ada membunuhnya !" bela Orion.


"Saudara Orion bisa menjelaskannya nanti di kantor. Ini surat penangkapannya !" Polisi itu menunjukkan surat penangkapan kepada Orion.


Orion pun menerima surat itu, mengeluarkan isinya lalu membacanya. Orion tidak percaya bahwa dia di tuduh tersangka melakukan pembunuhan terhadap Ismail.


"Rekaman cctv lorong rumah sakit itu, merekam bahwa saudara Orion masuk ke ruang perawatan Ismail. Selang beberapa menit saudara Orion keluar dari ruangan itu. Perawat masuk untuk mengecek kondisi pasien. Perawat itu menemukan Ismail dengan bantal di atas wajahnya, selang oksigen terlepas dari hidungnya, dan jarum infus terlepas dari tangannya." jelas Polisi itu." Dan kamulah yang terekam kamera cctv terakhir masuk ke ruangan itu" tambah polisi itu.


Sontak saja Papa Arya dan yang lainnya menoleh ke arah Orion.


"Saya memang masuk ke ruangan perawatan Ismail. Tapi saya tidak ada menyentuhnya sedikit pun" balas Orion menjelaskan.


"Untuk apa kamu masuk ke ruang perawatan Ismail Orion ?" tanya Papa Arya, Orion langsung saja mengarahkan pandangannya kepada sang Papa.


.


.


Kilas balik


Keluar dari ruangan Dokter kandungan, Orion berjalan di lorong rumah sakit yang berada di lantai dua rumah sakit itu, untuk menyusul Queen ke apotek rumah sakit itu yang berada di lantai bawah. Orion yang merasa ingin buang air kecil, pun mengarahkan langkahnya ke arah toilet rumah sakit di lantai dua itu, yang melewati beberapa ruang perawatan pasien. Selesai dengan urusannya di toilet, Orion pun keluar, dan melanjutkan langkahnya ke arah lif untuk turun ke lantai bawah.


Prankk !!!


Orion yang pas lagi lewat di depan pintu salah satu ruang rawat, menghentikan langkahnya karna mendengar suara seperti ada yang terjatuh. Orion pun mengintip dari kaca pintu ruangan perawatan itu. Orion mengernyitkan keningnya di dalam tidak ada orang selain pasien yang terbaring dengan mata terpejam di atas brankar.


Apa yang terjatuh ? gak ada orang yang menjaga. Batin Orion


Perlahan Orion pun memutar knop pintu ruang perawatan itu dan mendorongnya sampai terbuka. Karna penasaran Orion pun masuk, memeriksa suara apa yang di dengarnya tadi. Tanpa Orion ketahui, ternyata yang di masukinya itu adalah ruang perawatan si bocah brengs* k yang yang menggilai istrinya. Orion pun melangkahkan kakinya mendekati Ismail yang terbaring di atas brankar.


"Oh ! ternyata kamu di sini brengs*k ?...


.


.