
Bilal mengalihkan pandangannya ke arah handphonnya yang berdering di atas meja kerjanya. Melihat siapa yang menghubunginya, Bilal pun mendial tombol hijau di layar phonselnya.
"Assalamu alaikum Ustdaz Indra !" sapa Bilal.
"Walaikum salam Ustdaz !" balas dari sebrang telepon.
"Ada apa ?" tanya Bilal.
"Kenapa Ustadz tidak pernah datang beberapa hari ini ?" tanya Ustadz Indra.
"Aku sangat sibuk !" jawab Bilal.
"Hani mengalami defresi, karna tidak terima akan menikah dengan Hidayah !" lapor Ustadz Indra.
Bilal terdiam sebentar," itu urusan keluarganya !" balasnya kemudian.
"Ya ! itu memang urusan keluarganya. tapi Hani defresi karna terlalu mencintaimu !" ucap Ustadz Indra lagi.
"Apa yang harus ku lakukan, sedangkan aku tidak mungkin masuk ke ranah keluarga mereka ?" tanya Bilal.
Ustasz Indra terdiam, menggaruk leher belakangnya di balik telepon. Dia juga bingung, tapi ia juga merasa perlu menyampaikan kabar itu kepada sahabatnya Bilal.
"Ustdaz Hamzah masuk rumah sakit karna itu. Ustadz Hamzah mendadak terkena serangan darah tinggi" lapornya lagi.
Bilal menghela napasnya panjang, Bilal bingung harus bereaksi seperti apa ?. Bukan Bilal membenci Ustadz Hamzah karna sudah menolak lamarannya. Hanya saja Bilal bingung, dan merasa enggan jika harus menemui keluarga itu saat ini. Bilal juga manusia biasa, dia butuh waktu untuk memperbaiki perasaannya yang tengah gundah karna tidak dapat memiliki Hani.
"Sampaikan salamku kepada Ustadz Hamzah, semoga beliau lekas sembuh. Untuk saat ini aku belum bisa membagi waktu untuk kesana !" balas Bilal.
"Ya ! aku memaklumi berada di posisimu. Nanti salammu akan saya sampaikan" ucap Ustadz Indra.
"Ustdaz Indra ! aku amanahkan warung itu untukmu. Sepertinya aku takan kesana untuk waktu yang tidak bisa di tentukan. Untuk hasil warung itu, bagikanlah untuk orang yang membutuhkan" ucap Bilal.
"Ustdaz Bilal mau kemana ?" heboh Ustadz Indra langsung.
"Aku gak kemana mana, masih di kota ini. Aku hanya mencari aman. Jika aku masih mendatangi pesantren itu, bisa jadi nanti aku di tuduh menjadi sumber masalah di keluarga Ustadz Hamzah" jawab Bilal. Bilal menghela napasnya." Bukan maksudku untuk ber su'uzon. Jika aku menampakkan diri di sana, aku kawatir Hani, semakin tidak bisa mengendalikan dirinya jika tak sengaja melihatku" jelas Bilal lagi.
Ustadz Indra mengangguk anggukkan kepalanya di balik telepon, memahami apa yang di katakan sahabatnya itu.
"Sampaikan salamku kepada Hidayah, jika kamu bertemu dengannya nanti. Katakan padanya, pernikahannya dengan Hani nanti, tidak berpengaruh dengan pertemanan kita" ucap Bilal lagi.
Uatadz Indra menghela napasnya, seharusnya Hidayah tidak melamar Hani. Karna Hidayah sendiri tau, kalau Hani sangat tergila gila dengan Bilal. Entahlah apa alasan teman mereka itu berniat untuk menikahi Hani.
"Nanti akan aku sampaikan" balas Ustsaz Indra.
"Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, aku akan kembali bekerja. Assalamu alaikum !" ucap Bilal lagi.
"Walaikum salam !" balas Ustadz Indra.
Bilal pun mematikan sambungan teleponnya.
Perasaan tadi yang nelepon aku, kenapa malah dia yang menutup teleponnya duluan ?, batin Ustadz Indra.
.
.
Kabar Ustadz Hamzah masuk rumah sakit, pun sudah sampai ke telinga Pak Ilham dan Bu Maryam. Begitu juga kabar Hani yang mengalami defresi, sudah sampai ke telinga Hidayah melalui temannya yang masih bertahan di pesantren itu.
Hidayah terdiam duduk di kursi meja kerjanya di perusahaan sang Papa. Hidayah termenung, apa kekurangannya?, kenapa Hani tidak bisa menerimanya?. Apa kelebihan Bilal?, sampai Hani tergila gila pada Bilal.
Wajah, mereka sama sama tampan. Dan mereka juga sama sama mempunyai pengetahuan Agama yang cukup. Dan Bahkan dari segi ekonomi, menurut Hidayah, dia jauh lebih unggul dari pada Bilal yang hanya sebagai penjual nasi ramas di lingkungan pesantren. Sedangkan dirinya, adalah seorang pewaris tunggal perusahaan.
Kenapa kamu tidak bisa menerimaku Hani ?. Padahal aku sudah menyukaimu dan mencintaimu sebelum kamu mengenal Bilal. Aku mencintaimu Hani !, sampai aku sanggup untuk menikung temanku sendiri. Sampai aku rela jika harus kehilangan temanku demi bisa memilikimu. Batin Hidayah
Hidayah menyandarkan kepalanya ke sandaran kursinya, menengadahkan wajahnya ke atas, tanpa sadar cairan bening itu keluar dari sudut matanya.
Hidayah merasa kasihan dengan dirinya, karna sang pujaan hati tak menerima cintanya.
Bilal dan Indra adalah teman satu kamarnya di asrama semenjak madrasyah sampai lulus aliah. Mereka berteman akrab sekalipun mereka tidak pernah berantem, mereka juga sudah seperti saudara. Namun, walaupun seperti itu, Hidayah tidak pernah bercerita kepada Bilal dan Indra kalau dia menyukai Hani. Hidayah memilih memendamnya, melihat Hani yang menyukai Bilal.
Sekarang, salahkah dia yang memperjuangkan cintanya kepada Hani ?. Hidayah juga berani melamar Hani, karna mendengar Bilal yang belum menerima Hani. Hidayah pikir dia memiliki kesempatan untuk menyelip di hati seorang Hani.
.
.
Amar membawa Hani menyusul ke Rumah Sakit, setelah Hani mulai membaik. Amar berhasil menenangkan Hani, membuat Hati hani lebih tabah setelah mendengarkan nasehat nasehatnya.
'Seorang putri adalah harta paling berharga bagi seorang Ayah. Sampai penjagaannya pun lebih ketat di bandingkan menjaga anak laki laki. Meski kamu bukanlah putri kandung Abi, tapi darah Abi juga mengalir dalam tubuhmu. Meski kita tidak terlahir dari wanita yang sama, tapi lihatlah !, Darah kita sama warna dan kekentalannya. Bagaimana mungkin kami tega menumbalkanmu untuk kemewahan kami.'
'Sedangkan dengan Bilal, Abi belum mengenal keluarganya sama sekali. Ya ! mungkin Bilal bisa menerimamu dan pasti akan memperlalukanmu dengan baik. Tapi bagaimana dengan keluarganya ?. Apakah keluarga Bilal bisa di pastikan bisa menerimamu ?, belum tentu !'
'Menikah bukan hanya menyatukan dua insan saja. Tapi menyatukan dua buah keluarga besar. Dan Abi memilih keluarga Hidayah, karna selama ini keluarga kita sudah dekat dari dulu. Abi lebih merasa tenang jika menitipkanmu kepada orang yang di kenalnya. Abi tidak bermaksud untuk menumbalkanmu sama sekali.'
Begitulah rentetan nasehat Amar kepada adik sepupunya itu.Yang berhasil membuat Hani berpikir, untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka.
Amar merangkul tubuh adik sepupunya itu masuk ke dalam mobil. Karna Hani yang merasa malu, dengan tingkahnya barusan yang berteriak teriak kesurupan.
Amar membawa Hani masuk duduk di kursi penumpang belakang. Sampai di dalam mobil, Amar masih membiarkan Hani di dalam pelukannya sampai tiba di rumah sakit.
Sampai di ruang perawatan Ustadz Hamzah, Hani langsung berlari memeluk Ustadz Hamzah yang terbaring di atas brankar.
"Maafin Hani Paman !" tangis Hani terisak." Hani mengaku salah !. Hani mau menikah dengan Hidayah Paman. Tapi Paman janji, Paman harus sembuh !" tangis Hani lagi.
Tanpa Hani sadari di ruangan itu, sudah ada Hidayah dan kedua orang tuanya.
"Paman benar !, aku harus memilih Hidayah, karna selama ini Ustadz Bilal jual jual mahal kepada Hani" tangisnya lagi.
Hani adalah sosok yang manja dengan segala tingkah lakunya. Mungkin karna semenjak kepergian Ayah kandungnya, tidak ada yang tega untuk memarahinya. Sehingga membuat dia berbuat sesuka dia. Dan usianya masih 18 Tahun saat ini, tentu pemikirannya belum cukup dewasa. Dia masih harus terus di arahkan, untuk bisa berpikir lebih dewasa.
Ustadz Hamzah yang sudah sadar dari tadi, mengangkat satu tangannya, mengusap kepala Hani. Hani adalah putri adik kandungnya sendiri, tentu yang membedakan Hani dengan kedua anaknya, hanyalah wanita yang melahirkannya. Karna di dalam tubuh Hani juga, darahnya mengalir sangat kental. Apa lagi sekarang, Umi Fatimah Ibu kandung Hani juga sudah menjadi istrinya.
Hani mengangkat kepalanya dari atas dada Ustdaz Hamzah, menatap wajah pamannya yang tersenyum kepadanya.
"Paman sudah sadar ?" tanya Hani.
Ustadz Hamzah menganggukkan kepalanya pelan.
"Paman minta maaf !" ucap Ustadz Hamzah lirih.
Hani menggeleng gelengkan kepalanya." Aku menyayangi Paman !" balasnya.
Tentu Hani menyayangi Pamannya itu, karna Ustadz Hamzah adalah sosok yang menggantikan Abinya yang sudah meninggal. Pamannya itu menyayanginya, tidak berbeda dengan kedua abang sepupunya.
"Ukhti Hani !"
Suara itu sontak mengalihkan pandangan Hani ke arah sofa. Hani menajamkan sebentar pandangannya ke wajah Hidayah.
"Sekali lagi aku akan melamarmu, tapi tidak bermaksud untuk memaksamu. Karna aku menyukaimu sejak kita masih kecil. Aku memendam cintaku selama ini kepadamu, karna ingin memberimu kesempatan meraih cintamu kepada Ustadz Bilal" ucap Hidayah." Sama seperti dirimu, aku pun ingin memperjuangkan cintaku kepadamu" lanjut Hidayah.
"Hani ! aku bertanya sekali lagi kepadamu. Bersediakah kamu menjadi pendampingku ?. Menemaniku mencari ridhanya Allah ?" tanya Bilal tanpa melepas netranya dari wajah Hani yang menunduk.
"Aku tidak peduli sepanjang atau sependek apa rambutmu Hani !. Yang penting bagiku, kamu menutupinya dengan baik. Tidak memamerkan sedikit pun auratmu kepada laki laki mana pun. Aku tidak peduli sebesar apa cintamu saat ini kepada Bilal. Yang ku butuhkan saat ini ke sediaanmu untuk memulai hidup baru denganku !" ucap Hidayah lagi.
Hani menggigit bibir bawahnya dan diam berpikir. Hani menghela napasnya dalam, untuk mencoba mengusir ke ragu raguannya.
'Yang kamu sukai belum tentu yang terbaik untukmu. Sedangkan yang tidak kamu sukai bisa jadi itu yang lebih baik'
Nasihat Amar itu terngiang di telinga Hani.
Hani mengarahkan pandangannya ke arah Amar, kemudian mengarahkannya ke wajah Ikbal, lanjut mengabsen setiap wajah orang yang berada di ruangan itu.
Hani menarik napasnya kembali sambil memejamkan matanya. Sedikit ragu, Hani menganggukkan kepalanya, pertanda menerima lamaran Hidayah sekali lagi. Tentu itu dengan berbagai pertimbangan, karna mengingat nasehat nasehat Amar tadi sebelum ke rumah sakit.
"Alhamdulillah !" seru semuanya.
Hidayah mengulas senyumnya, meski tau Hani saat ini tidak mencintainya. Setidaknya saat ini, ia berhasil mengetuk pintu hati Hani.
.
.
Hari pun berlalu
Hari ini adalah hari pernikahan Hani dan Hidayah. Tadi pagi mereka sudah melaksanakan ijab kabul di masjid pesantren. Acaranya sangat berjalan lancar tanpa ada kendala sedikit pun.
Hari ini juga Hani akan di bawa pulang ke rumah keluarga Pak Ilham. Setiap hari Hani akan sekolah dari sana. Hidayah sendiri yang akan mengantar jemputnya.
.
.
Mendengar kabar Hani sudah menikah dengan Hidayah. Bilal hanya bisa menghela napas panjang, berusaha ikhlas dengan ketentuan Ilahi robby, kalau Hani bukan jodohnya. Bilal pun memilih menyibukkan diri dengan bekerja dan berdakwah ke sana kemari. Setelah Tahun ajaran baru, Bilal pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku perkuliahan. Untuk saat ini, Bilal tak ingin memikirkan jodoh.
.
.