Brother, I Love You

Brother, I Love You
139.Istri Dunia dan Akhirat



Kini keluarga besar Alfarizqi itu sudah berkumpul di meja makan, sedang menikmati makanan dari piring masing masing. Meja makan itu nampak rame dengan pormasi yang lenkap, di tambah anggota baru, Queen, Sirin dan Boy.


"Apa kita semua minggu depan akan ke kota B semua Pa ?" tanya Elang di selah selah makannya.


"Iya !" jawab Papa Arya.


"Kita semua akan naik pesawat ?" tanya Elang lagi. Kejadian itu baru tadi siang, pasti jelas menyisakan trauma di hati mereka.


Papa Arya menghela napasnya." Apa kalian takut ?" tanya Papa Arya, mengarahkan pandangannya ke arah anak anaknya satu persatu. Yang jelas sudah tau jawabannya, jelas semua takut jika sudah bersangkutan dengan bahaya dan kematian. Siapa yang tidak gentar mengingat mati ?.


Reyhan ikut menghela napasnya, merasa tidak enak hati karna pernikahannya yang harus di laksanakan di kota B, sudah menyusahkan anggota keluarganya.


"Kalau kalian takut kita bisa menyembrang menaiki kapal. Tapi itu tentu akan memakan waktu lebih lama untuk kita sampai di sana" ucap Papa Arya lagi.


"Itu lebih baik !, kita bisa membawa kenderaan sendiri kesana" ujar Arsen. Ia benar benar trauma menaiki pesawat.


"Aku dan Queen akan tetap naik pesawat. Aku gak mau istriku kecapean di perjalanan" ujar Orion, sambil tanganya menyuapi Boy yang duduk di pangkuannya.


"Apa bang Orion tidak takut ?" tanya Arsenio.


"Jelas takut !, tapi ketakutan harus di lawan, bukan di pelihara. Kalau tidak ! kamu akan susah pergi pergi, dan tidak bisa kemana mana" jawab Orion.


"Bang Reyhan sendiri ?" tanya Arsenio lagi.


Reyhan memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan preman setengah jadi itu."Demi menjemput bidadari surgaku, apa pun akan kulalui, meski pun aku harus mati" jawabnya lebay.


Jelas dia takut, kenapa harus di tanya lagi.


"Masalahnya bukan kamu aja yang mati, kami semua juga ikut terancam mati !" ujar Orion.


"Mama..! bang Orion bilang seperti itu !, bang Orion gak mau ikut datang kepernikahanku !" adu Reyhan kepada ratu sejagat.


"Kalau dia gak mau ikut, hasil panen kelapa sawit bagiannya, mama akan mengalihkannya ke no rekeningmu, dia gak usah kebagian" balas Mama Bunga, setelah menelan makanan di mulutnya.


"Enak saja !" cetus Orion, sekarang dia lagi pengangguran, mau dikasih makan apa istrinya, kalau bagiannya di alihkan ke Reyhan.


Dari tadi Papa Arya terus memperhatikan Darren anak ke limanya. Wajah anaknya itu terlihat datar tanpa ekspresi, tidak ikut bersuara dari tadi. Darren hanya sibuk dengan makanan di piringnya, tanpa menoleh ke kiri dan kekanan.


Apa dia kepikiran dengan wanita itu ?, batin Papa Arya.


"Mama ! Bilal masih mau nambah nasi !" ucap Bilal yang duduk di samping Mama Bunga. Berhasil mengalihkan tatap Papa Arya dari Darren.


"Kamu itu makannya banyak sekali, apa di peritmu ada kantong cadangan ?. Lihatlah tubuhmu ! sudah persis seperti anak gajah. pipi sangat besar, dagumu kelihatan sudah dua. Wajahmu kelihatan sangat jelek" hina Mama Bunga kepada anak bungsunya itu.


"Gak apa apa jelek !, cewek cewek 'kan lebih memandang dompetnya dari pada wajahnya. Kaya Papa, suka sama Mama, karna Mama banyak duitnya, bukan karna cantik" balas Bilal, malah menghina Mama dan Papanya.


"Kamu berani mengatai mama jelek ?" gemas Mama Bunga kepada anaknya yang bermulut lemes itu. Mama Bunga pun mencubit kedua pipi gendut Bilal.


"Papa gak mau lagi membayar khas bon mu di sekolah. Biar ibu tukang kantin menyuruhmu mencuci piring setiap hari setelah pulang sekolah" sambung Papa Arya, tidak terima anak bungsunya itu menghinanya."Dan kamu tidak boleh lagi tidur di kamar Mama sama Papa" ucap Papa Arya lagi.


Bilal langsung terdiam, karna kalah telak dengan ancaman Papa Arya. Bilal turun dari kursinya, kemudian berlari ke luar dari ruang makan.


Prankk !!!


Suara itu terdengar dari ruang tamu. Seperti kebiasaan Bilal kalau lagi marah. Ia akan menarik taplak meja, sehingga membuat isi bunga yang berada di atasnya terjatuh. Dan Bilal juga akan membuang semua bantal sofa ke lantai.


Anak ke enam dari pasangan Aaryan Dakhy Alfarizqi dan Bunga Adelwis itu sangat berbeda sifat. Lebih manja dan lebih gampang mengamuk, hatinya lebih sensitif, dan tidak bisa di ajak bercanda. Doyan makan dan lebih bodoh seperti ratu sejagat. Dan nama belakangnya juga beda sendiri. Apa anak itu lagi protes karna merasa di bedakan ?, pikir Papa Arya. Sepertinya Papa Arya akan mengganti nama belakang Bilal, menyamakannya dengan anaknya yang lain.


"Anak gajah sudah ngamuk !" gumam Reyhan.


"Parasaan Bilal sudah berusia sepuluh Tahun lebih deh Ma !. Kok sifatnya masih seperti bocah lima Tahun ?" heran Orion dengan adik paling bungsunya itu.


"Sifatnya memang lebih istimewa dari kalian" desah Mama Bunga. Hanya anak bontotnya itu yang suka mengamuk, dan suka menjatuhkan barang dari atas meja.


Papa Arya berdiri dari kursinya, menyusul Bilal keruang tamu. Biasanya kalau sudah di bujuknya, kemarahan Bilal akan mereda. Hanya Papa Aryalah yang mampu meredakan kemarahan anak bungsunya itu.


"Bilal !" panggil Papa Arya, menangkap tubuh Bilal yang terus memberantaki ruang tamu. Meja dan Sofa sudah di dorong kemana mana.


"Kenapa kamu mudah sekali marah sayang ?" tanya Papa Arya. Ingin tau ada masalah apa dengan anaknya itu. Papa Arya pun mengusap kepala Bilal dan mencium ubun ubun anak itu.


Bilak diam, hatinya bergejolak, entah ! Bilal pun tak paham dengan perasaannya. Dia tak suka di bantah, dia tak suka di kalahkan siapa pun, kemauannya harus di turuti.


"Apa kamu merasa Papa kurang menyanyangimu ?" tanya Papa Arya. Mungkin Bilal tambah sensitif akhir akhir ini, karna sebentar lagi akan memiliki adik, pikir Papa Arya.


"Kalau adik Bilal sudah lahir, apa Papa masih sayang sama Bilal ?. Apa Bilal masih boleh tidur sama Mama sama Papa ?. Kenapa Bilal namanya beda sama abang abang Bilal ?. Orang mengira kalau Bilal bukan anak kandung Papa !" tanya Balik Bilal.


Benar dugaannya, anak itu bermasalah karna namanya. Dan merasa akan tersingkirkan dengan kehadiran adiknya yang masih di dalam kandungan. Papa Arya pun membawa Bilal ke arah salah satu sofa yang entah hadapnya kemana. Papa Arya mendudukkan Bilal di atas pagkuannya.


"Orang orang di sekolah tidak percaya, kalau Bilal anak pemilik sekolah itu. Teman teman di sekolah mengatakan Bilal berbohong. Karna nama belakang Bilal gak memakai nama belakang Papa. Bilal selalu di ejek, setiap Bilal mengatakan kalau Bilal anak dari pemilik sekolah HARAPAN" oceh Bilal, nampak raut kemarahan di wajahnya.


"Apa memang benar Bilal bukan anak kandung Papa sama Mama ?." Mata Bilal berkaca kaca saat menanyakan itu.


"Bilal 'kan anak gajah !" celetuk Elang, dan langsung berlari ke arah tangga naik ke lantai dua.


"Elang...!!!"


Seperti dugaan Elang, pasti ratu sejagat meneriakinya karna menggoda Bilal yang lagi mode ngamuk.


"Paman Elang nangis Dad ?" tanya Boy di gendongan Orion. Mereka sudah menyusul ke ruang tamu. Mendudukkan tubuhnya dan Queen di salah satu sofa.


"Iya ! gajah kakek lagi ngamuk !" jawab Orion.


"Orion..!" geram Mama Bunga, sudah tau adiknya lagi mode ngamuk, masih saja di goda.


Bilal pun mengalihkan tatapannya ke arah Boy, menatapnya tak suka.


"Kenapa nama belakang Boy di kasih nama belakang Papa ?. Boy bukan anak Papa" tanya Bilal.


"Karna Boy cucu kakek sama nenek !" jawab Orion.


"Kak Queen aja baru hamil, bagaimana bisa Boy menjadi cucu Papa sama Mama " sanggah Bilal.


Semuanya pun terdiam, bingung bagaimana menjelaskannya kepada Bilal. Meski Bilal sifatnya manja seperti bocah lima Tahun, tapi otaknya sudah bisa mencerna semua yang ada di sekitarnya.


"Nanti setelah kamu besar, kamu akan mengerti sayang !. Sekarang yang perlu kamu tau !" Papa Arya mejeda kalimatnya, kemudian melanjutkannya lagi." Kamu adalah anak kandung Papa sama Mama. Kami menyayangimu sama seperti semua abang abangmu. Kasih sayang kami sama kalian semua..sama !, tidak berbeda sedikit pun. Besok Papa akan mengantarmu kesekolah, mengatakan sama semua orang di sekolah kalau kamu anak kandung Papa."


Bilal pun terdian dengan wajah masih cemberut.


"Sudah berapa banyak khasbon anak gajah Papa ini di sekolah ? Hm..!" tanya Papa Arya, mencubit pipi gendut Bilal.


"Gak tau !" jawab Bilal dengan bibir mengerucut. Karna ia tak pernah menghitungnya.


.


.


waktu berlalu


Kini Orion dan Queen beserta Boy sudah sama sama membaringkan tubuh mereka di atas kasur. Dengan Posisi Boy yang berada di tengah tengah.


"Bang Orion ! pijatin" manja Queen, melihat Boy sudah tidur.


"Iya sayang !, sini pindah dekat abang !" balas Orion, mendudukkan tubuhnya, dan menggeser tubuh Boy ke kasur sebelahnya. Kemudian mengambil minyak kayu putih dari atas meja nakas.


Queen pun berpindah berbaring di samping Orion, setelah membuka pakaiannya terlebih dahulu.


"Ngapain aja semalam ?" tanya Orion, membalur punggung Queen dengan minyak kayu putih, kemudian mengurutnya dengan jempol tangannya.


"Jalan jalan ke mall sama Sirin dan mama Bunga" jawab Queen.


Orion pun diam saja, ia tak marah sama sekali. Orion pun memijat dan mengurut tubuh Queen sampai kaki.


"Tidurlah !" suruh Orion, saat berpindah mengurut kaki Queen, karna melihat Queen belum tidur.


"Tadi Queen sempat berpikir, Queen tak bisa melihat bang Orion lagi" ucap Queen menatap wajah Orion dengan intens.


Orion mengulas senyumnya, mengangkat sebelah kaki Queen, lalu mengecup punggung kakinya. Saat di dalam pesawat Orion juga sempat berpikir seperti itu. Tidak menyangka akan selamat.


"Jika abang mati terlebih dahulu, tetaplah menjadi bidadari abang. Abang tidak rela kamu menikah lagi. Karna abang sangat mencintaimu. Karna abang ingin, hanya kamu wanita yang menjadi istri abang di Dunia dan di akhirat nanti" ucap Orion.


"Bagaimana jika Queen yang mati lebih dulu ?" tanya Queen.


"Abang tidak berniat menikah lagi" jawab Orion.


.


.