Brother, I Love You

Brother, I Love You
220. Gak mungkin



Selesai sarapan di meja makan, Darren pun mengambil piring kosong yang berada di samping tangannya. Seharusnya piring itu untuk Jean istrinya. Namun karna Darren ingin membiarkan istrinya istirahat, membuat Jean tidak ikut menikmati sarapan bersama pagi itu. darren mengisi piring di tangannya dengan nasi beserta lauk pauk, kemudian menarohnya di atas nampan. Tidak lupa Darren untuk membawakan air minum untuk Jean.


Melihat itu, Papa Arya, mama Bunga dan yang lainnya hanya menggeleng kepala pelan melihat bagaimana Darren bersikap sebagai suami. Terlalu lebay !, pikir mereka. Namun mereka tidak akan mempermasalahkan itu. Karna Mama Bunga dan Papa Arya sudah menegaskan di rumah itu, untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain.


"Ma ! Pa !, Darren kasih istri Darren makan dulu !" pamit Darren, membawa nampan di tangannya keluar dari ruang makan itu.


"Iya sayang !, menantu Mama jangan di gempur terus !. Bisa bisa nanti menantu Mama dehidrasi karna kelelahan" cerocos mama Bunga sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Sayang ! jangan bicara sambil mengunyah!" tegur Papa Arya. Setelah Mama Bunga menelan Makanan di mulutnya, Papa Arya menyuapkan kembali makanan ke mulut istrinya itu.


Meski sudah tidak muda lagi, istrinya itu tetaplah menjadi istri kecilnya. Istrinya itu masih tetap menjadi gadis kecilnya baginya.


"Maaf sayang !"balas Mama Bunga tersenyum.


.


.


Sampai di dalam kamar, Darren meletakkan makanan di tangannya di atas meja nakas. Darren mendudukkan tubuhnya di samping tubuh Jean yang terlelap. Darren memandangi wajah cantik istrinya itu, Darren mengulas senyumnya dan tangannya terulur mengusap kepalanya.


Siapa bilang wanita yang tak lagi suci itu hanya plong saja di masuki. Buktinya tadi malam Darren awalnya kesusahan memasuki istrinya itu. Dan istrinya itu juga sempat meringis kesakitan. Itu karna istrinya sudah lama tidak disentuh lelaki. Sepertinya istrinya itu kembali gadis.


Puas memandangi wajah Jean, Darren pun membangunkannya."Sayang ! bangun !" ucapnya lembut.


Namun istrinya itu masih bergeming.


"Jean ! ayo sarapan dulu !" ucap Darren lagi.


Jean menggeliatkan tubuhnya, terusik dengan tangan yang bermain main di wajahnya.


Darren semakin mengembangkan senyumnya, dan tangannya menekan nekan hidung Jean."Ayo sarapan dulu Nyonya Darren !" ucapnya. Melihat Jean membuka matanya.


"Darren !" Jean mengulas senyumnya.


"Aku sudah membawakan sarapan untukmun ayo bangun !." Darren menarik tangan Jean, membantunya untuk duduk bersandar di kepala ranjang dengan memberikan bantal di belakang Jean.


"Mau di suapin apa makan sendiri ?." Darren mengambil nampan dari atas meja nakas, dan meletakkannya di atas pangkuan Jean.


"Apa semuanya sudah sarapan ?"tanya Jean mangarahkan pandangannya ke wajah Darren.


"Sudah sayang !" jawab Darren.


"Aku merasa gak enak hati sama Mama, Queen dan Sirin !" ucap Jean.


Darren mengusap kepala Jean," Mereka pasti memakkumi kalau istriku ini lagi ke lelahan, karna habis berusaha memberikan anggota baru di keluarga ini" balas Darren tersenyum.


Jean menggigit bibir bawahnya, mengerti akan maksud perkataan Darren.


"Ayo ! buka mulutnya !"


Jean refleks menoleh ke arah sendok yang sudah mengarah ke mulutnya. Jean pun membuka mulutnya menerima suapan dari Darren.


"Aku juga menginginkan anak darimu !. Tidak adil jika kamu tidak siap untuk mengandung anakku !" ucap Darren lagi, menyuapkan kembali makanan ke mulut Darren.


Jean diam saja, dan mengunyah makanan di mulutnya. Tentu dia siap mengandung anak buat suaminya.


Senyum Darren tidak luntur sepanjang menyuapi Jean sampai makanan di piring itu habis, Darren pun memberinya minum. Darren sangat bahagia, akhirnya Tuhan mengabulkan doanya, untuk dapat memiliki wanita yang berhasil mengalihkan Dunianya itu.


Darren mengembalikan nampan tadi ke atas meja nakas. Kemudian Darren mengambil kedua tangan Jean, dan mengecup punggung tangannya bergantian." Trimaksih ya untuk yang tadi malam. Kamu sangat nikmat sayang !" ucapnya.


Wajah Jean langsung merona, sesungguhnya tadi malam ia sangat malu, karna mempersembahkan dirinya yang tidak gadis lagi kepada Darren yang masih perjaka. Namun karna sikap Darren yang memperlakukannya dengan lembut dan membujuknya, terus membangun kepercayaan dirinya. Sehingga membuatnya bisa yakin untuk menyerahkan tubuhnya kepada Darren, tanpa kawatir Darren akan kecewa kepadanya.


"A..apa kamu gak kecewa ?" tanya Jean gugub, dari tadi malam itu sangat mengganjal di hatinya setelah percintaan mereka tadi malam.


Jean melengkungkan bibirnya ke atas," tidak !" jawabnya.


"Aku mencintaimu karna Allah, aku menikahimu untuk menyempurnakan Agamaku. Bukan hanya untuk menjadikanmu tempat menyalurkan harsatku. Aku menikahimu untuk menjadi tempatku berbagi kasih dan sayang" jelas Darren.


"Jangan pernah berpikir, aku menikahimu hanya karna nafsu saja. Kalau aku mau, dari dulu aku bisa melakukannya dengan wanita di luaran sana. Di jaman sekarang, banyak wanita yang mau di nikahi secara sirih, hanya dengan imbalan uang saja. Tapi aku tidak melakukan itu, karna aku mencintaimu sayang !." Darren mengecup ke dua punggung tangan Jean lagi.


Tanpa sadar Jean meneteskan air matanya, terharu dengan ketulusan laki laki di depannya itu, menerimanya apa adanya.


"Aku tak suka melihat air mata ini !." Darren menangkup wajah Jean dengan kedua telapak tangannya dan menghapus cairan bening yang mengalir di pipi kekasih hatinya itu. Kemudian menjatuhkan satu kecupan di keningnya.


"Darren !" tangis Jean terisak, menghamburkan tubuhnya memeluk tubuh bocah baik hati itu." Aku juga mencintaimu Darren !, jika saja dulu aku punya kekuatan untuk mengatakan itu" tangisnya di dalam dada bidang Darren." Jika saja dulu aku pantas mengatakan itu !" tangisnya lagi.


Darren membalas pelukan Jean dengan erat, dan mencium ujung kepalanya. Mata Darren berkaca kaca mendengar penuturan cinta Jean. Ternyata Jean juga jatuh cinta kepadanya. Darren sangat senang mendengarnya.


"Apakah itu benar Jean ?"tanya Darren dengan suara beratnya.


Jean menganggukkan kepalanya.


Darren melepas pelukan mereka, menjauhkan sedikit tubuhnya, memandang wajah Jean. Tanpa aba aba, Darren langsung mencium mesra bibir Jean.


.


.


Bilal memarkirkan mobilnya di depan warung makan miliknya. Saat ia hendak membuka pintu, Bilal mengurungkan niatnya melihat Hani berjalan ke arah warungnya. Bilal pun memandangi wajah Hani dari balik kaca mobilnya. Bilal tersenyum, tidak di pungkirinya, kalau ia juga menyukai Hani. Hanya saja ia harus menjaga imagnya sebagai Ustadz yang mengajar di pesantren itu.


"Astagfirullohal azim !" gumam Bilal tersadar dari lamunannya yang memperhatikan wajah dan tubuh Hani yang semakin mendekat ke depan mobilnya. Dan membelok masuk ke warung makannya.


"Assalamu alaikum ustadz Indra !" sapa Hani kepada pengurus warung itu.


"Walaikum salam ukhti Hani !" balas Ustadz Indra.


"Maaf ustadz Indra, tapi Hani ada hal penting untuk menemui ustadz Bilal. Karna ustadz Bilal terus menghindari Hani" balas Hani.


Ustadz Indra pun menggeleng gelengkan kepalanya dan menghela napasnya. Berpikir kalau anak yatim piatu itu selalu memiliki sifat dan prilaku yang istimewa dari anak anak lainnya.


Ya ! Hani adalah seorang yatim dari kecil. Abinya meninggal sejak usianya Balita. Cucu pemilik pesantren yang satu itu, selalu berbuat semaunya. Peraturan pesantren tidak berlaku baginya. Ia bebas mau kemana dan menemui siapa di lingkungan pesantren itu. Bahkan untuk menyatakan perasaannya kepada ustadz Bilal secara terang terangan di depan santriwan dan santriwati ia tidak akan malu.


"Maaf ukhti Hani yang cantik dan imut !. Berhentilah mengejar cinta ustadz Bilal, karna dia sudah melamar seorang gadis, untuk dijadikan bidadari surganya" balas ustadz Indra menahan senyumnya.


"Gak mungkin ! aku tau ustadz Bilal juga menyukaiku !. Hanya saja dia malu mengakuinya" sanggah Hani, dengan percaya diri.


"Kalau gak percaya..ya sudah !. buktinya ustadz Bilal sudah berhenti mengajar di perantren ini" Ustadz Indra mengedikkan bahunya, kembali melayani para pembeli yang membeli makanan.


"Gak mungkin !" Hani pun berlari dari warung itu sambil menangis kembali ke asramanya.


Melihat Hani berlari keluar dari warung, Bilal pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Penasaran apa gerangan yang membuat si pemilik hatinya menangis. Bilal melangkahkan kakinya masuk ke dalam warung.


"Assalamu alaikum ? kenapa dia menangis ?" tanya Bilal langsung.


"Walaikum salam ! aku mengatakan kalau ustadz sudah melamar seorang gadis" jawab Ustadz Indra."Benarkan ?" tanyanya.


Ustadz Bilah menghela napasnya,"tapi gadis itu menolaknya" ucapnya lemah.


Ustadz Indra menggelengkan kepalanya, heran dengan temannya itu yang sering main kucing kucingan dengan Hani.


"Kenapa ustadz tidak menerima lamaran ukhti Hani aja ?" tanya Ustadz Indra, menyendok nasi dari termos, menarohnya ke atas piring, dan memberinya satu potong ayam gulai dan kuahnya. Memberikannya kepada santri yang sedang membeli.


Bilal tersenyum," Setelah aku menerima lamarnya. Lalu dia yang mengucapkan ijab kabul pernikahan kami, gitu ?."


Bilal mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong warung itu. Kemudian memesan makanan kepada Ustadz Indra.


"Berikan aku makanan, nasinya sedikit aja, dagingnya dua potong" ucap Bilal.


Begitulah caranya untuk menurunkan badannya selama ini. Dia akan mengurangi karbohidrat masuk ke dalam tubuhnya. Dia akan makan malam di sore hari, supaya saat tidur malam, perutnya sudah selesai melakukan proses pembakaran makanan. Dan di pagi hari Bilal akan sarapan seadanya.Bilal juga akan berpuasa di hari senin dan kamis.


"Baik Bos !" patuh Ustadz Indra.


.


.


Di asrama putri, tepatnya di kamar Hani dan Susi. Hani menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur single miliknya. Hani menangis menyembunyikan wajahnya ke bantal.


"Hani ! kamu kenapa menangis ? siapa yang membuatmu menangis ?." Susi mendekati sahabatnya itu, dan mengusap bahu Hani.


Hani membalik badannya, mendudukkan tubuhnya dan langsung memeluk Susi."Ustadz Bilal sudah melamar gadis lain ! huuuu hiks hiks hiks !" tangis Hani.


"Sssttt...! sabar ya !, mungkin dia bukan jodohmu." Susi mengusap usap punggung Hani untuk menenangkannya.


"Padahal aku yakin, kalau ustadz Bilal juga menyukaiku ! huhuhuuuuu hiks !" tangis Hani lagi.


"Mungkin ustadz Bilal mempuyai pertimbangan untuk tidak memilihmu, meski dia menyukaimu" ucap Susi.


"Apa ?" tanya Hani


"Aku gak tau !, itu hanya ustadz Bilal yang tau" jawab Susi." Bisa saja karna dia ilfil melihatmu yang terus mengejarnya. Dia merasa kamu wanita yang tidak punya harga diri. Dan bisa saja dia berpikir, gadis manja seperti kamu belum bisa di jadikan istri. Atau banyak pertimbangan lainnya, yang menjadi alasan dia tidak memilih kamu" terang Susi.


"Dan kamu juga, apakah sudah siap menjadi istri di usiamu sekarang. Bahkan kita belum lulus sekolah. Kamu aja gak bisa ngurus diri sendiri. Memasak, mencuci baju, ngerapiin tempat tidur aja masih berantakan !" cibir Susi.


Hani pun menghentikan tangisnya, dan menghapus air matanya." Aku bisa belajar !" ucapnya.


"Terlambat ! Ustadz Bilal terlanjur melamar gadis lain" ujar Susi.


"Jadi aku harus bagaimana ?" tanya Hani lemah.


"Ikhlaskan !" jawab Susi.


Hani mengerucutkan bibirnya.


.


.


Selesai melaksanakan shalat berjamaah magrib di masjid. Hani dan Susi melangkahkan kaki mereka keluar masjid, untuk kembali ke asrama. Tiba tiba langkah gontai Hani terhenti saat Bilal melintas di sampingnya. Hani diam hanya memandang punggung Bilal dari belakang. Setelah mendapat nasehat dari sahabatnya itu, Hani akan berhenti mengganggu Bilal.


"Ayo !" ajak Susi, menuntun tubuh tak berdaya Hani, memasuki gerbang asrama santriwati.


Hani menganggukkan kepalanya.


Bilal menghentikan langkahnya dan menoleh sebentar ke arah belakang. Bilal heran, kanapa kali ini Hani tidak mengganggunya lagi ?.Apa Kiayi Husen belum menyampaikannya kepada Hani, kalau yang melamarnya itu, aku ?, Tanya Bilal dalam hati.


Bilal kembali melanjutkan langkahnya, setelah Hani dan Susi hilang dari pandangannya.Mungkin Kiayi Husen lupa menyampaikannya !, Batin Bilal lagi.


Selesai Shalat isya, dan mendengarkan kajian Agama dari salah satu Kiyai di pesantren itu. Bilal pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya, karna malam juga susah mulai larut.


Bilal masuk ke salam mobilnya, dan langsung melajukannya, meninggalkan kawasan pesantren itu.


Apa besok aku menemui Kiayi Husen lagi ya ?, batin Bilal, lalu menghela napasnya, kepikiran dengan Hani yang tidak menyahutinya lagi.


.


.