Brother, I Love You

Brother, I Love You
218. Gelabakan



Bilal mengulas senyumnya."Kalau masalah ukhti Hani, aku menyerahkannya sama Kiayi. Lamaranku masih tetap berlaku untuk ukhti Hani Kiayi" balas Bilal.


Kiyai Husen mengangguk pelan, sembari tersenyum."baiklah ! saya akan menyampaikannya sekali lagi" ucap Kiyai Husen.


"Trimakasih Pak Kiyai, saya akan menunggu kabar baiknya. Jika ukhti Hani setuju, saya akan membawa orang tua saya ke sini untuk melakukan khitbah" balas Bilal.


Kiyai Husen mengangguk lagi.


Mendengar azhan magrib sudah berkumandang. Mereka pun menyudahi obrolan mereka. Kiayi Husen pun berdiri dari tempat duduknya, begitu pun dengan Bilal.


"Ayo kita shalat dulu, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya" ajaknya Kiayi Husen.


Bilal pun menganggugkan kepalanya, mengikiti langkah Kiayi Husen keluar dari rumah, menuju masjid.


.


.


"Hani ! tunggu !" seru Susi melihat Hani melongos pergi tanpa menunggunya.


Namun Hani menulikan telinganya. Hani sakit hati, karna sahabatnya itu mempermainkan perasaannya tadi sore.


"Hani ! kamu kenapa ?, kenapa dari tadi mendiamkanku ?."


Hani menghentikan langkahnya, membalik badannya ke arah Susi."Kamu tadi bilang Ustadz Bilal datang, nyatanya tidak !" ketus Hani, kembali melanjutkan langkahnya.


Susi hanya menghela napasnya.


Sampai di masjid, mereka pun langsung berwudhu, kemudian masuk ke dalam masjid untuk mengikuti shalat berjamaah, bergabung bersama jamaah perempuan lainnya.


"Hani !" tegur Susi pelan


"Sssttt..! shalat akan di mulai" balas Hani yang berdiri di samping Susi sahabatnya.


"Allohu akbar !!!"


Dug dug dug .....!


Jantung Hani seketika berdegub sangat kencang saat mendengar takbir dari pengeras suara masjid itu.


Astagfirullohal 'azim !, batin Hani. Kemudia membaca niat shalat, untuk mengikuti imam.


Selasai shalat berjamaah dan membaca doa. Para jamaah laki laki dan perempuan, pun berkeluaran dari dalam masjid.


"Hani ! mau kemana buru buru ?" tanya Susi, melihat Hani gegas keluar masjid tanpa membuka mukenanya.


"Mencari ustadz Bilal" jawab Hani tanpa melihat Susi.


Susi hanya bisa geleng geleng kepala melihat ke gigihan Hani mengejar cinta ustadz Bilal.


Sampai di luar masjid, Hani langsung pergi ke arah gerbang masuk masjid sebelah laki laki. Hani akan menunggu Bilal di sana. Hani sudah sangat merindukan wajah Ustadz tampan itu. Sampai masjid sudah nampak sunyi, namun Hani belum melihat ustadz Bilal keluar.


"Kenapa gak ada ?, bukankah tadi yang menjadi imam itu ustadz Bilal ?" gumam Hani." Apa dia sudah lewat aku gak melihatnya ?" tanyanya lagi entah sama siapa.


Hani pun melangkahkan kakinya pergi dari sana. Melangkahkan kakinya dengan gontai dan bibir cemberut. Tanpa Hani ketahui, ada sepasang mata memperhatikannya dari balik tiang masjid.


Bilal keluar dari persembunyiannya dengan mengulum senyum, lalu melangkahkan kakinya keluar dari dalam masjid, ke arah warung makan miliknya.


Selesai shalat isa berjamaah di masjid, lagi lagi Hani menunggu Bilal di gerbang masjid sebelah laki laki. Namun Hani tidak juga melihat Bilal, entah lewat mana laki laki itu lewat sampai Hani tidak melihatnya.


Lagi lagi Bilal mengulum senyumnya, melihat Hani pergi melangkah dengan gontai Karna tidak melihatnya ke luar dari masjid.


.


.


Di rumah keluarga Alfarizqi


Di meja makan, terlihat sangat rame di penuhi anak, menantu dan cucu keluarga itu. Ada Orion, Reyhan, Elang, Darren, Sabina, Queen, Yumna, Naysila, Sirin dan Jean dan anak anak mereka.


Ruang makan itu terdengar sangat berisik, dengan suara kicauan anak anak yang makan sambil bercanda. Tentu itu semua membuat hati Papa Arya dan Mama Bunga bahagia. Impian mereka terwujud, untuk membuat rumah itu selalu rame.


"Nanti kami semua tidur sama kakek sama nenek ya !" seru Syauqi, di angguki semua pasukannya.


Hm ! untung tadi aku sudah ngambil jatah !. Batin Papa Arya, sudah tau kalau para anak dan cucu cucunya menginap di rumahnya. Cucu cucunya itu akan meminta tidur di kamarnya.


"Mana muat kalian semua tidur di kasur kakek sama nenek" ucap Darren.


"Iya ! Bilal juga pasti minta tidur di situ !" sambung Reyhan.


"Di kamar Kakek sama Nenek 'kan kasurnya ada tiga" jawab Syauqi si juru bicara.


"Masa sih ?" tanya Darren, ia sudah lama tidak tinggal di rumah itu. Meski ia pernah masuk ke kamar orang tuanya ia tidak memperhatikan tempat tidur orang tuanya yang sudah tidak pakai ranjang lagi. Melainkan tiga springbad yang di tindih tiga.


Papa Arya dan Mama Bunga buat seperti itu, karna seringnya Sabina, Bilal dan cucu cucu mereka meminta tidur bareng bersama mereka. jika ada yang minta ikut tidur bareng, spirgbad itu akan di serak ke lantai sebelahnya, supaya tidurnya muat.


"Nanti Gaia tidurnya di dekat kakek !" ucap Gaia yang berada di pangkuan Papa Arya.


"Gak boleh ! tante yang di dekat Kakek !" larang Sabina.


Langsung saja Gaia menajamkan pandangan ke arah Sabina yang duduk di samping Papa Arya, dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ini Papanya Tante Sabin !" ucap Sabina lagi menggoda keponakannya.


"Kakeknya Gaia !" marah Gaia memukul bahu Sabina, merasa lebih berkuasa.


"Kakek Gaia 'kan Kakek Aldo !. Ini Kakeknya Syauqi, Sabeel, Arsi sama Ayana" goda Sabina lagi.


"Kakeknya Gaia !!!" marah Gaia langsung menarik rambut Sabina kuat.


"Sakit Gaia !!!" pekik Sabina, karna putri dari si preman setengah jadi itu sangat garang.


"Iya iya iya ! Kakek Gaia sendiri, lepas rambut tante Sabin ya !" bujuk Papa Arya kepada cucu perempuannya itu.


Mama Bunga malah tertawa cekikikan, melihat cucunya itu sangat mirip dengannya. Mama bunga pun berdiri dari kursinya untuk membantu melepaskan tangan Gaia dari rambut Sabina.


"Dasar keponakan durhaka !" ujar Sabina, menatap Gaia dengan wajah cemberut.


"Jangan menggodanya sayang, Gaia itu keturunan pendekar kera sakti" ujar Mama Bunga, menggosok gosok kepala Sabina bekas tarikan Gaia.


"Gaia olang jahat ya Dad ?" tanya Ayana yang duduk di pangkuan Orion.


"Orang ! bukan Olang sayang !" tegur Orion. Kenapa pula putrinya itu belum bisa bilang huruf R, padahal usianya sudah lima Tahun.


"Olang !" ulang Ayana.


"Orang !" ucap Orion lagi.


"Olang !" ulang Ayana lagi.


"Ular !" ucap Elang ikut ikutan.


"Ulal !" ulang Ayana.


"Orion !" ucap Reyhan.


"Olion !" ulang Ayana.


"Pas tuh ! kaya Momy nya waktu kecil" ujar Reyhan menunjuk Queen dengan dagunya.


Queen pun mengerucutkan bibirnya, karna dia dan putrinya di ejek." Dari pada bang Reyhan, gak mandi dua minggu karna putus cinta" cibir Queen.


"Dari pada situ ! mogok makan karna cintanya di tolak, sampai sakit masuk rumah sakit" balas Reyhan. Kemudian menyuapkan makanan ke mulut Yumna.


"Benaran ! paman Reyhan gak mandi dua minggu ?. ish ! jorok !" tanya Sabeel ilfil.


"Pasti bau banget !" sambung Arsi.


"Jatah uang jajan kalian, Paman stop. Kalian mengejek Paman" ancam Reyhan kepada ketiga keponakannya.


"Kami minta sama tante Yumna !" ujar Syauqi.


"Paman gak bolehin !" balas Reyhan.


"Boleh 'kan tante Yumna ?. Nanti kami gak kawan loh sama tante Yumna !" ancam Arsi.


"He ! preman ! beraninya kamu mengancam istriku !" gemas Reyhan menjewer pelan telinga Arsi yang duduk di sampingnya.


"Sakit Paman unta !" keluh Arsi berbohong.


"Oh ! mau di buat sakit ya !" Reyhan semakin mengencangkan jewerannya.


"Abang Syauqi ! tolong Arsi !" adunya kepada Abang sepupunya itu.


"Sebentar !" Syauqi pun turun dari kursinya, berlari ke arah Reyhan." Ayo Sabeel ! bantu abang glitikin Paman Unta !" ajak Syauqi.


Tanpa menjawab Sabeel pun turun dari kursinya, berlari ke arah Reyhan, dan langsung mengglitik pinggang Reyhan.


"Ayana ! Gaia ! Khanza ! tante Sabin !, Bantu kami !" ujar Syauqi lagi, karna Reyhan belum juga melepas jewerannya dari telinga Arsi.


Gaia pun minta turun dari pangkuan Papa Arya. Begitu pun dengan Ayana yang duduk di pangkuan Orion. Kedua gadis kecil itu sama sama berlari ke arah Reyhan untuk mengglitiknya.


Sedangkan Sabin dan Khanza, mereka tidak mau ikut ikutan. Mereka memilih menikmati makanan mereka dari piring masing masing.


"Aaakh !!!" jerit Reyhan kegelian karna ke empat keponakannya itu terus menggelitiknya, membuat tangannya lepas dari telinga Arsi.


Arsi pun segera turun dari kursinya, ikut menggelitik pinggang Reyhan.


"Iya iya iya ! jatah jajan kalian gak jadi di stop !" ujar Reyhan supaya kelima anak nakal itu berhenti mengglitiknya.


"Paman harus menambahnya !" ancam Arsi.


"Iya ! Paman Unta harus menambahnya !" sambung Sabeel.


"Iya ! Paman akan menambahnya. Tapi berhenti mengglitik Paman. Tante Yuyu nya lagi sakit" patuh Reyhan mengalah.


Ke lima anak nakal itu pun melepas tangan mereka dari pinggang Reyhan.


"Kalau Paman Unta bohong, kami glitik Paman lagi" ancam Arsi.


"Iya preman !" patuh Reyhan.


Dari tadi Papa Arya dan Mama Bunga tersenyum dengan wajah berbinar bahagia. Tak terasa mata kedua pasangan kekasih itu berkaca kaca karna terharu melihat keceriaan cucu cucu mereka.


Trimakasih Tuhan atas semua limpahan anugrahMU ini. Batin Papa Arya


.


.


Hari ini adalah hari pernikahan Darren dan Jean. Akad nikah pun sudah terlaksana tadi di KUA. Kini mereka sudah kembali ke kediaman keluarga Alfarizqi. Meski tidak mengadakan acara resepsi, namun rumah itu terlihat ramai dengan kedatangan keluarga dan sahabat mereka.


"Jean !" panggil Nadia barlari ke arah Jean dan Darren yang duduk di sofa ruang tamu. Nadia langsung memeluk Jean dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya Je !" ucanya.


"Trimakasih Nad !, kamu juga semoga cepat menyusul !"balas Jean.


"Gak ada calonnya !" ucap Nadia mengerucutkan bibirnya.


"Yanto !"jawab Jean.


"Dia sukanya sama kamu ! Ops !" Nadia langsung menutup mulutnya yang ke ceplosan." Maaf !" ucapnya lagi cengengesan, melihat raut wajah Darren berubah masam.


Semua keluarga dan para sahabat keluarga itu pun mengucapkan selamat kepada Darren dan Jean. Dan tidak lupa memberikan kado sebagai hadiah pernikahan mereka.


"Selamat ya Darren dan Jean !" ucap Queen sebagai menantu tertua di keluarga itu. Queen pun memeluk Jean dan mencium kedua pipinya, kemudian berpindah mencubit kedua pipi Darren dengan gemas.


"Sakit kak Queen !" keluh Darren.


"Ingat nanti malam ! pelan pelan aja !, jangan langsung ngegas !" ucap Queen lalu tertawa kecil.


"Apa sih kak Queen !" wajah Darren langsung merona karna salah tingkah. Begitu juga dengan Jean yang duduk di sampingnya, Jean mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam dengan Darren.


"Cie cie cie ! salah tingkah !" Queen mencolek dagu Darren dan Jean bergantian. Melihat wajah pengantin baru itu sama sama merona.


Sirin pun datang mendekati pasangan pengantin baru itu dengan perut besarnya. Bersama Naysila dengan bayi di gendongannya. Mereka pun mengucapkan selamat secara bergantian kepada Darren dan Jean, tak lupa mereka memberikan kado sebagai hadiah.


"Selamat bergabung di keluarga Alfarizqi ya Jean !" ucap Sirin mencium kedua pipi Jean.


Jean tersenyum," trimaksih Kak Sirin !"balasnya. Meski usia mereka sama, tapi statusnya di keluarga itu adalah adik ipar.


"Ingat nanti malam untuk memberikan si burung perkutut servisan yang dasyat !" bisiknya ke telinga Jean. Sontak membuat wajah Jean semakin memerah. Sirin pun mengedipkan matanta ke arah Jean dengan tersenyum.


Bebar benar keluarga ini keluarga konyol. Semua anak laki laki di rumah ini di namai burung. Awalnya aku pikir mereka semua orang orang yang serius dan kaku di lihat dari penampilan mereka yang penuh wibawa. Ternyata mereka adalah keluarga yang humoris dan hangat. Batin Jean


"Si burung perkutut belum pernah masuk sangkar. Jangan buat dia sampai gelabakan ya Je !" sambung Naysila.


Ya Tuhan !, Batin Jean lagi.


Queen, Sirin dan Naysila pun sama sama tertawa cekikikan melihat suami istri baru itu, tidak berkutik dengan candaan meraka.


"Sayang ! ayo kita masuk kamar, biar mereka gak menggoda kita lagi" Ajak Darren, melingkarkan tangannya ke pinggang belakang Jean.


"Wih ! sepertinya si burung perkutuk udah gak sabaran ingin masuk sangkar" goda Sirin lagi mengarahkan pandangannya ke celana Darren.


Sirin pun tertawa terbahak bahak, melihat tonjolan di dalam celana Darren." Queen ! Nay ! lihat itu !" tunjuk Sirin dengan dagunya ke arah yang menonjol di dalam celana Darren.


"Ya ampun Darren ! huahahaha !!!!" gelak Queen. Di ikuti Sirin dan Naysila.


Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah mereka.


"Dasar Mama mama genit !" cibir Darren dengan wajah merah merona.


Darren pun membawa Jean dari hadapan ke tiga Mama Mama genit itu. Darren menuntun Jean berjalan ke arah tangga rumah itu, untuk naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuk mereka.


Sampai di dalam lantai dua, Darren pun membuka pintu kamar pengantin mereka. Kemudian menuntun Jean untuk masuk. Jean menghentikan langkahnya sejenak, memutar pandangannya ke seluruh ruangan yang di hias begitu indah. Entah kapan kamar yang di tempatinya tadi malam berubah menjadi kamar pengantin?.


"Apa kamu menyukainya Jean?"


Jean tersentak saat kedua tangan Darren melingkar di perutnya. Darren pun meletakkan dagunya di atas bahu Jean.


"Kamu sangat cantik !" ucap Darren tepat di telinga Jean. Membuat Jean langsung merinding merasakan geli di leher dan telinganya."Dan juga wangi !" ucap Darren lagi, mengecup leher Jean.


Jean diam saja, ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa yang tiba tiba bergejolak di dalam dirinya. Rasa itu susah sangat lama sekali tidak ia rasakan.


"Ayo istirahat !, supaya nanti malam kita punya tenaga yang banyak untuk begadang" ajak Darren.


Darren melepas pelukannya, kemudian menarik tangan Jean ke arah tempat tidur yang sudah di hias dengan kelambu berwarna putih, dan di atasnya di hias dengab bunga bunga di atasnya.


"Darren ! para keluarga masih berkumpul di bawah. Gak enak sama mereka kita berada di kamar. Mereka juga berkumpul ke sini untuk kita" ucap Jean.


"Gak apa apa sayang !, acaranya sudah selesai Dan mereka pasti memakluminya. Sini ! aku ingin memelukmu !." Darren menepuk kasur di sampingnya, supaya Jean mendatanginya.


Jean menghela napasnya, melangkahkan kakinya mengikuti permintaan Darren. Sekarang bocah baik hati itu sudah menjadi suaminya. Maka ia wajib menuruti perkataannya. Jean pun naik ke atas kasur, mendudukkan tubuhnya di samping Darren. Darren langsung menariknya ke dalam pekukannya.


.


.