
Orion memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuanya. Orion keluar dari dalam mobil, berjalan ke arah teras rumah.
"Orion !!!"
Orion langsung membalik badannya, mendengar suara yang sangat ia kenal meneriaki namanya. Kezia menyusulnya ke rumahnya dengan menggunakan taxi.
"Aku gak mau kita putus Orion !!, aku gak mau rencana pertunangan kita di batalkan !!" sahut Kezia. Berlari ke arah Orion, yang hampir masuk ke dalam rumah. Menjatuhkan tubuhnya memeluk kaki Orion. Orion langsung melepas kasar tangan Kezia.
"Apa kamu pikir semuanya ada di bawah kendalimu ?. Kamu pikir kamu siapa ?" tanya Orion, Kezia terdiam tidak bisa menjawabnya.
"Sudah lah Kezia !, aku bukanlah bonekamu yang bisa kamu atur sesukamu !" ujar Orion lagi.
"Ada apa ini ?, Orion ! kenapa Kezia menangis ?, apa yang kamu lakukan padanya ?" tanya Bunga. Keluar dari kamar mendengar suara ribut ribut di depan rumah. Dari tadi Bunga sudah berkali kali menghubungi Orion supaya pulang ke rumah, tapi tak pernah di angkat. dan tiba tiba pulang, sudah ribut ribut dengan Kezia di depan rumah.
"Tanya Kezia aja Ma !" Orion langsung masuk ke dalam rumah, menaiki tangga ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya yang sudah dua minggu tidak ia tempati.
Orion menjatuhkan tubuhnya di batas tempat tidur, dengan posisi terlentang menghadap langit langit kamar, dan kaki dibiarkan menggantung. Ia lelah, lelah menghadapi sikap Kezia, yang semakin hari semakin melunjak. Kezia ingin mengusai dirinya sendiri, Orion tak suka itu. Selama ini Orion sudah banyak menuruti keinginan Kezia, Bahkan duit Orion sudah banyak habis untuk memenuhi kebutuhan Kezia,dari membeli barang barang mahal, hingga untuk perawatan kecantikannya. Orion merasa seperti sudah menafkahi istri sendiri.
Dan untuk semua biaya pertunangan mereka pun, Orion yang menanggung semuanya. Karna Kezia berasal dari keluarga sederhana, tidak akan mampu jika diminta patungan. Dan bahkan untuk membeli cincin pertunagan yang harganya selangit sesuai permintaan Kezia, sudah Orion turuti. Dimana lagi kurangnya ?, pikir Orion
Orion pun mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya, lalu mengacak acak kasar rambutnya.
.
.
Di bawah, Mama Bunga membantu Kezia berdiri, menuntunnya masuk ke dalam rumah, dan mendudukkan Kezia di sofa ruang tamu. Kemudina mendudukkannya di samping Kezia.
"Katakan sama Tante !, apa Orion menyakitimu ?. Biar tante sendiri yang memberinya pelajaran" tanya ratu sejagat, satu tangannya merapikan anak anak rambut Kezia ke belakang telinga.
Kezia menundukkan kepalanya." Orion.." Kezia menjeda kalimatnya."Orion.." ucapnya lagi, berpikir sambil menggigit bibir bawahnya.
"Katakan, jangan takut !" ucap Bunga, melihat Kezia ragu ragu untuk berbicara.
"Orion..." tangis Kezia semakin menunduk dan menghapus air matanya.
"Orion mengapain kamu ?" kawatir Bunga.
"Orion menodaiku tante !"
"Jangan bohong Kezia !!!"
Suara menggelegar itu mengagetkan Kezia dan Bunga. Membuat mereka terlonjak refleks mengalihkan tatapan mereka ke arah sumber suara itu.
"Orion !" guman Bunga, ini pertama kalinya Orion meninggikan suaranya. Wajah Orion tampak sangat murka.
Orion melangkahkan kakinya ke arah Kezia dan Mama Bunga. Orion langsung menarik tangan Kezia kasar menyeretnya keluar rumah.
"Orion !" tegur Bunga, mengikutinya ke luar rumah. Ia tidak mau anaknya itu sampai berbuat kasar kepada wanita.
" Kamu mau ini 'kan Kezia ?" Orion melemparkan cincin tunangan mereka yang harganya selangit itu kepada Kezia yang sudah terduduk di halaman rumah karna dia hempaskan.
"Ambil lah !" ucap Orion." Jangan coba berani mengadu dombaku dengan orang tuaku !. Mungkin aku selama ini terlalu baik kepadamu, sampai kamu berpikir aku ini orang bodoh !. Beraninya kamu memfitnahku Kezia..!" Orion berbicara dengan merapatkan gigi giginya.
Kenapa sekarang Orion baru sadar, kalau wanita yang di cintainya itu adalah jelmaan siluman ular. Orion tertipu dengan keluguan, kepolosan dan sikap malu malu Kezia selama ini.
Bunga terdiam, ia langsung teringat dulu saat ia di tuduh berzina dengan Arya. Ia di seret di permalukan di tengah tengah kerumunan orang banyak, di perlajukan seperti sampah, sampai ia mengalami keguguran, kehilangan calon bayinya sebelum sempat mengetahui keberadaannya. Kenapa terulang kembali kepada anaknya ?. Mengingat itu tubuh Bunga gemetar, emosinya seketika memuncak, kedua tangannya mengepal kuat, rasanya ingin sekali Bunga mencabik cabik wanita yang masih terduduk di tanah itu.
"Sayang!"
Arya langsung menangkap tubuh istrinya yang terhunyung dan hampir jatuh ke lantai teras rumah mereka.
"Mama !" panggil Orion, tersadar dari kemarahannya. Bunga yang berdiri di belakangnya tidak melihat Mamanya yang hampir jatuh. Orion pun langsung melangkahkan kakinya mengikuti Papanya masuk kedalam rumah, membawa Mama Bunga ke dalam kamar.
"Kenapa Mama mu bisa seperti ini Orion ?" tanya Arya, meletakkan Istrinya di atas tempat tidur.
"Gak tau Pah !, Mama kenapa Pah !, tadi mama baik baik aja Pah !" jawab Orion, bingung bercampur kawatir, melihat mamanya diam dan tubuhnya menengang seperti menahan emosi.
"Cepat ambil air putih !" suruh Arya, menarik Bunga ke dalam pelukannya. mencium pipi dan kening Bunga.
"Iya Pah !" Orion gegas berlari keluar kamar menuju dapur.
"Tenangkan dirimu sayang !, aku gak mau kamu kenapa kenapa sayang !"ucap Arya, mengusap usap kepala Bunga.
Arya pun menarik laci meja nakas yang ada di samping tempat tidur mereka. Arya mengambil obat dari sana, dan langsung memasukkannya ke mulut Bunga.
"Ini pah !" Orion langsung membuka tutup botol air mineral yang ia bawa, memberikannya kepada Papa Arya.
Arya pun langsung menyuapkannya ke mulut Bunga istrinya.
"Minum obatnya sayang !" ucap Arya. Bunga pun perlahan memimum air yang di berikan Arya.
Arya yakin pasti ada yang membuat batin isrtinya tertekan, sampai penyakit defresi istrinya bisa kumat.
"Pah ! Mama kenapa ?" tanya Orion kawatir, ini pertama kali Orion melihat Mamanya seperti itu.
Arya menghela napasnya sambil tangannya mengusap usap kepala Bunga. Sudah puluhan Tahun, defresi yang dialami istrinya tak kunjung sembuh total. Meski sudah sering menemui psikiater. Bunga tidak bisa memiliki banyak beban pikiran, apa lagi merasa tertekan batin. Selama ini Arya menyembunyikan itu dari anak anak mereka.
"Ibu mu tidak bisa banyak pikiran apa lagi sampai tertekan batin" jawab Arya.
"Ada apa dengan kamu dan Kezia ?. Kenapa Kezia bisa menangis ?" tanya Arya.
Orion pun menjawab, menceritakan semua dari A sampai Z, kenapa ia berantem dengan Kezia.
Papa Arya menghela napasnya lagi, Arya bisa menebak, serpetinya istrinya mengingat kejadian mada lalu. Sehingga membuat defseri istrinya kumat.
"Kamu yakin ! tidak melakukan itu kepada Kezia ?" tanya Arya, ia tidak boleh langsung percaya kepada anaknya, terlebih menyangkut kehormatan seorang wanita.
"Aku bersumpah Pa ! aku gak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum itu sama Kezia atau kepada wanita manapun. Meski Orion jarang shalat Pah !, Orion masih punya iman, masih bisa memahan diri untuk menjaga kesucian burung hantu Orion."
Bukh !!
"Aw !" keluh Orion langsung memegangi perutnya.
Papa Arya melayangkan tinju ke perutnya.Selalu saja seperti itu, setiap memberi pelajaran, Mama sama Papanya selalu meninji perutnya. Apa karna mereka laki laki semua ?.
"Kamu !" ucap Arya
Gemas sekali Arya dengan sikap anaknya itu yang ada sedikit gila gilanya. Untuk gak banyak, sayang dong !, wajah tampanya. Ditanya serius sama orang tua, malah jawabnya bercanda.
"Papa juga, gak percaya banget sama anak sendiri !" bela Orion.
"Berani kamu berbuat yang ngngak gak sama cewek. Papa potong burung hantumu itu dari situ !" ancam Arya.
"Kalau burung hantu Orion di potong, gak bisa dong Orion ngasih cucu sama Mama sama Papa !" ujar Orion.
"Sana pergi keluar, urus tuh cewekmu itu. Ibumu mau istrirahat" Usir Arya.
Kalau gesrek anaknya di ladeni, nanti ia akan ketularan ikut gesek. Memiliki istri dan enam orang anak laki laki semua, yang memiliki sifat hampir sama gesrek dengan istrinya. Arya lama lama ikut ketularan gesrek.
.
.