
Yumna melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah dengan bibir cemberut. Karna mertuanya sering kali memalaknya. Biasanya dia yang tukang palak. Nanti setelah Reyhan pulang dari meninjau proyek barunya. Yumna akan menambah jatah uang jatah bulanannya.
Yumna pun menghentikan kenderaannya di depan sebuah apotek untuk menebus obat buat adik iparnya. Yumna turun dari dalam mobilnya, melangkahkan kakinya ke arah pintu kaca apotek itu dan langsung membukanya.
Sampai di dalam apotek, Yumna mengeluarkan kertas resep dari tas kecilnya, memberikannya kepada penjaga apotek.
"Mau beli obat mbak !" ucap Yumna.
Penjaga apotek itu pun mengambil kertas dari tangan Yumna, lalu membaca tulisan resep dari Dokter itu." Tunggu sebentar ya mbak !" ucapnya. Kemudian mencari resep obat sesuai yang terulis di kertas itu.
Tak lama kemudian, Penjaga apotek itu kembali ke depan Yumna." Itu aja mbak ?" tanyanya.
"Tespeknya lima mbak, yang paling bagus ya mbak !" jawab Yumna.
"Ada lagi ?" tanya penjaga apotek itu lagi.
"Susu untuk ibu hamil rasa vanila lima kotak mbak. Sama susu untuk persiapan kehamilan enam kotak" jawab Yumna lagi.
Meski pun Reyhan yang diponis tidak subur. Menurut Yumna tidak ada salahnya ia juga mengkonsumsi susu penyubur kandungan. Berharap dari kemungkinan kecil itu, Ia segera bisa hamil.
"Sebentar ya mbak ! biar saya ambilkan !" ucap penjaga apotek itu lagi, lalu pergi ke rak penyimpanan berbagai macam susu.
Setelah mengambil semua pesanan Yumna, penjaga apotek itu membawa semuanya ke kasir, dan langsung menghitung semua belanjaan Yumna.
"Total semuanya satu juta seratus ya mbak !" ucapnya.
Yumna pun langsung memberikan kartu saktinya, memberikannya kepada penjaga apotek itu.
Setelah selesai urusan pembayaran, Yumna pun keluar dari dalam apotek itu dengan menenteng dua buah kantong plastik besar berwarna putih, membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Yumna melajukan mobilnya meninggalkan apotek itu. Kemudian berhenti lagi di depan penjual buah pinggir jalan. Yumna pun membeli berbagai macam buah buahan. Tidak lupa Yumna membeli banyak buah anggur untuk Reyhan. Seperti sarah Dokter Ghissam, menganjurkan Reyhan untuk memperbanyak memakan buah anggur.
Selesai membeli buah, Yumna pun langsung pulang ke rumah.
.
.
Di kantor polisi, Orion dan Papa Arya melakukan mediasi kedua dengan kedua orang tua Zoya. Karna mediasi pertama mereka gagal. Dan tentu Orionlah yang membuat mediasi itu gagal.
Karna bagi Orion dengan berdamai, itu artinya Zoya akan bebas. Orion tidak percaya jika Zoya tidak akan mengusik keluarga besar mereka lagi, jika Zoya nantinya sembuh dari gilanya.
"Apa kalian bisa menjamin ? kalau putri kalian tidak mengusik keluarga kami lagi ?" tanya Orion kepada sepasang suami istri yang sudah tua dan hampir renta itu.
Orion sebenarnya kasiahan dengan ke dua orang tua yang tak berdaya itu. Tapi Orion lebih peduli lagi dengan keselamatannya dan seluruh anggota keluarganya.
"Saya tidak terima jika saya dan anggota keluarga saya celaka karna putri kalian lagi" ucap Orion.
Meski dirinya juga sudah melakukan kesalahan besar sudah menyandra Zoya, membiarkan orang bayarannya melakukan s*k kelada Zoya, dan membuat Zoya gila. Tapi kesalahan Zoya jauh lebih patal, karna hampir membuatnya kehilangan nyawa. Dan juga pernah memfitnahnya melakukan pembunuhan.
Jika di telusuri ke masa lalu, ke zaman Ibunya masih SMA. Zoya adalah dalang dari Ibunya keguguran, sehingga membuat ibunya mengidap defresi.
"Kami mohon nak !, kami akan menjaminnya, kami akan melakukan pengawasan yang ketat kepada putri kami" mohon Pak Sanjaya mengiba.
Dulu Pak Sanjaya terlihat sangat berwibawa dan berkarisma. Karna dia adalah dulunya seorang pengusaha sukses hingga memiliki anak cabang perusahaan di luar Negri. Kini sudah terlihat memprihatinkan semenjak sakit sakitan karna memikirkan putri satu satunya yang tidak memiliki moral. Di tambah lagi Pak Sanjaya sudah jatuh miskin, karna semua perusahaannya sudah berpindah tangan ke para pemilik saham.
Melihat itu Papa Arya merasa kasihan, ia pun tak tega melihat pria lanjut usia itu mengiba sampai meneteskan air mata.
"Orion ! terima saja perdamaiannya. Kita bisa mengawasi gerak gerik Zoya" ucap Papa Arya.
"Tapi Pa !"
"Iya Pak Orion !, kalau Pak Orion mau berdamai. Kasus ini tidak sampai naik ke pengadilan. Dan nama baikmu akan tetap terjaga dari publik. Apa lagi kalian adalah pemilik sekolah. Akan sangat di butuhkan nama baik kalian untuk kelangsungan sekolah kalian." ujar polisi yang menangani kasus mereka itu.
"Dan kami juga pasti mengawasi gerak gerik nyonya Zoya nantinya" lanjut polisi itu lagi.
Orion pun terdiam, dan berpikir keras."Baiklah !" ucapnya kemudian."
Semoga saja wanita iblis itu tidak bisa sembuh dari gilanya. Batin Orion.
"Trimakasih Nak !" ucap Pak Sanjaya, Papanya Zoya.
Kasus Orion dan Zoya pun berhujung damai. Kedua belah pihak sama sama bisa bernapas lega. Orion bisa pokus mengurus anak, istri dan kampus, beserta merintis usaha barunya membuka pabrik minyak kelapa sawit siap di konsumsi. Perusahaan yang akan di bukanya akan bekerja sama dengan perusahaan sang Papa mertua, yaitu Papa Gandi.
Sedangakan Pak Sanjaya dan istrinya, mereka bisa pokus untuk merawat Zoya. Berharap bisa sembuh dan bertaubat nantinya.
"Alhamdulillah sehat Pa !, kerjanya hanya tidur dan mimi, dan juga menangis" jawab Orion sumiringah.
Jujur di hati Orion yang paling dalam. Orion lebih bahagia memiliki anak yang lahir dari wanita yang di cintainya dari pada wanita yang tidak di cintainya sama sekali.
Begitu pun dengan Papa Arya, di hatinya yang paling dalam. Jelas Syauqi lah cucu pertamanya, bukan Boy. Meski di dalam tubuh Boy mengalir darah Alfarizqi. Tapi cara terjadinya Boy, bukan hal yang di inginkan. Meski begitu bukan berarti mereka tidak menyayangi Boy.
"Namanya juga bayi baru lahir, kerjanya hanya itu trus. Kamu juga waktu baru lahir seperti itu !" balas Papa Arya.Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sekarang ia sudah mempunyai cucu.
"Ayo pulang !, nanti kalau Papa ada waktu, papa akan berkunjung menjenguk cucu Papa" ajak Papa Arya, lalu membuka pintu di sampingnya dan langsung masuk.
"Hati hati Pa ! salam sama Mama dan adik adik, terutama kepada ratu kecil" ucap Orion.
"Kamu juga hati hati, jangan ngebut !" balas Papa Arya, kemudian melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantor polisi.
Orion pun segera masuk ke dalam mobilnya, melajukannya ke arah jalan raya menuju jalan pulang. Baru sebentar meninggalkan anak dan istrinya, Orion sudah merasa kangen berat.
Sampai di rumah, Orion langsung menaiki anak tangga ke lantai dua rumahnya, dan langsung masuk ke dalam kamarnya dan Queen.
"Queen ! kenapa anak kita mangis ?" tanya Orion, melihat Queen mengambil anak mereka dari dalam box bayi.
"Sepertinya Syauqi nya pub !" jawab Queen meletakkan Syauqi di atas kasur yang sudah di alasi dengan alas anti air.
"Biar abang aja yang gantiin !, Queen istirahat aja sayang !" ucap Orion. Menggantikan Queen untuk menggantikak popok Syauqi.
Queen pun mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, memperhatikan Orion yang mengganti popok baby Syauqi begitu telaten melebihi emak emak. Bahkan Queen sendiri, tangannya masih gemetaran jika harus membersihkan baby Syauqi jika lagi pipis dan pub.
"Bang Orion ! anunya Syauqi kira kira burung apa namanya ?" tanya Queen tiba tiba sembari tersenyum. Mengingat semua anggota keluarga Alfarizqi itu, senjatanya di namai burung.
Orion pun memperhatikan senjata pamungkas anaknya yang baru seruas jari kelingking Boy. Kemudian berpikir, kira kira burung apa yang cocok untuk nama senjata anaknya ?.
"Hmmm...! si Boy sudah menjadi burung merpati, bagaimana kalau Syauqi kita namai burung Jalak ?" jawab Orion.
"Terserah bang Orion aja !" balas Queen. Sadar kalau bang Orionnya itu ada gesrek gesreknya.
"Sekarang senjatamu resmi di namai burung jalak ya nak !" ucap Orion kepada anaknya yang sudah di bedongnya kembali. Kemudian memberikan anaknya si burung jalak kepada Queen untuk di susui.
Wajah baby Syauqi langsung nampak tersenyum, seolah senang senjatanya di namai burung jalak.
"Wah ! anak daddy senangnya di namai burung jalak ?" tanya Orion kepada anaknya yang sudah rakus menyedot sumber nutrisinya itu.
"Burung jalak !, burung gagak !. beda beda tipis pengucapan sama kakek ya nak ?" tanya Queen juga kepada baby Syauqi.
baby Syauqi membuka mulutnya, tertawa sebentar tapi tak bersuara. Seolah paham yang di tanyakan kedua orang tuanya.
"Ya ampun bang Orion ! baby Syauqi masih kecil, gesreknya sudah kelihatan !" ujar Queen.
"Bagaimana gesreknya gak langsung kelihatan. Baby Syauqi memiliki dua nenek gesrek !" balas Orion.
"Bang Orion juga ada gesrek gesreknya !" ejek Queen.
"Abang ada gesreknya aja, terlihat keren. Gimana kalau gak ada gesreknya ?." Orion menaikan kedua alisnya ke atas, memasang muka jenaka ke arah Queen.
Queen tidak menjawab, Ia pun mengecup pipi Irion yang berada tepat di depan wajahnya.
"Abang maunya cium di cini !" Orion menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.
Cup !
Queen mengecup singkat bibir Orion.
"Yang lama !" pinta Orion
Queen kembali menempelkan bibirnya ke bibir Orion, menyapu permukaan bibir Orion perlahan dengan bibirnya. Ciuman itu pun terus berlanjut, sampai Orion meringis, merasakan sesak di dalam celananya.
"Aduh sayang ! abang gak tahan !" Orion mengambil satu tangan Queen. Membawanya ke tonjolan yang mengeras di balik celananya.
"Tunggu Syauqi bobo dulu !" bisik Queen tersenyum.
"Aahh ! kamu memang istri abang yang pengertian. I love you sayang !" balas Orion, mengecup singkat bibir Queen. Lalu menjatuhkan tubuhnya kekasur dengan posisi terlentang dan kaki menjuntai ke lantai.
.
.