Brother, I Love You

Brother, I Love You
201. Akal bulus



Darren menghentika laju kenderaannya tepat di depan rumah sederhana milik Jean. Pagi ini Darren melaksanakan tugasnya sebagai seorang Ayah. Ia akan mengantar Khanza putri angkatnya ke sekolah.


"Bang Darren ! ini rumah siapa ?, kenapa kita kesini ?" tanya Sabina yang duduk di sampingnya.


"Abang memiliki teman baru untukmu, namanya Khanza. Dia adalah putri angkat Abang !" jawab Darren membuka pintu di sampingnya.


"Putri angkat ?" ulang Sabina mengerutkan keningnya.


"Hm !" Darren mengacak acak unjung kepala adik perempuannya itu.


"Abang akan memindahkannya ke sekolah kita. Supaya kalian bisa bermain bersama, dan kebetulan kalian sama sama kelas empat. Abang akan menarohnya di kelasmu" ucap Darren lagi.


Sabina pun hanya diam saja menanggapinya, tapi itu bukan berarti ia tidak suka dengan apa yang di katakan abangnya. Memang karakternya seperti itu, sifatnya sangat mirip dengan sang Papa, tidak terlalu banyak bicara, tapi bukan berarti dia orang yang kaku.


"Ayo ikut turun !" ajak Darren.


Sabina menganggukkan kepalanya, kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, mengikuti lagkah Darren ke arah pintu rumah sederhana itu.


Tok tok tok !


"Assalamu alaikum !" sahut Darren sambil mengetok pintu di depannya.


"Walaikum salam !" seruan suara anak kecil itu terdengar ceria dari dalam rumah.


Tak lama kemudian pintu itu terbuka, Khanza menyembulkan kepalanya keluar.


"Ayah !" ucap Khanza tersenyum.


"Apa sudah siap ?, ayo Ayah antar kesekolah. Dan kenalkan ini tante Sabina, adik paling kecil Ayah !." Ajak Darren sekaligus memperkenalkan Sabina kepada Khanza.


Khanza tersenyum kaku, melihat wajah Sabina yang datar tanpa ekspresi. Khansa yang sudah membuka lebar pintunya, mengulurkan tangannya ragu ragu ke arah Sabina.


"Kha..khanza !" gugup Khanza memperkenalkan dirinya.


"Sabin ! kok gitu wajahnya ?" tegur Darren. Entah ! Darren juga bingung. Kenapa wajah adik perempuan satu satunya di keluarga Alfarizqi itu sangat kental mewarisi wajah Papa mereka lengkap dengan ekspresi wajahnya yang datar ketika bersama orang yang belum di kenal.


"Sabin !" Sabina menerima uluran tangan Khanza dan juga memperkenalkan dirinya sembari mengulas sedikit senyum mahalnya.


"Ayo pamitan sama Mamanya, biar kita berangkat" suruh Darren kepada Khanza.


"Iya Ayah !" patuh Khanza, lalu berteriak memanggil Jean.


"Ma ! Ayah Darren datang menjemput Khanza sekolah !."


"Kenapa harus di jemput ?, sekolah Khanza 'kan dekat !, bisa jalan kaki" Jean menghampiri Khanza dan Darren ke teras rumah.


"Aku akan memindahkan Khanza ke sekolah Harapan" ujar Darren.


"Aku rasa itu tidak perlu Pak !. Dan juga sekolah itu swasta dan elit. Pasti biaya sekolah mahal, aku tidak sanggup membayarnya. Dan Khanza akan tambah jauh nantinya berjalan kaki" balas Jean.


Darren mengulas senyumnya," Aku yang akan membiayai sekolahnya. Kamu tidak perlu memikirkan itu, karna sekolah itu juga milik Ayahnya. Tugasmu cukup menjadi ibu yang baik untuk putriku ini. Dan jangan kawatir, jika aku tak sempat menjemputnya, aku akan menyuruh supir menjemputnya" ucapnya.


"Pak Darren yang terhormat !, Khanza itu putri kandungku ! kalau Bapak lupa. Aku yang mengandungnya dan melahirkannya, tentu aku akan menjadi ibu yang baik untuknya" dengus Jean.


"Oh ya ! kenalkan ini adikku, namanya Sabina." Darren memperkenalkan gadis kecil berwajah datar itu kepada Jean.


"Sabin ! ayo salam calon kakak iparmu !" ucap Darren tersenyum.


Jean langsung melirik tajam ke arah Darren.


"Sabin Kak !" Sabina mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya.


"Jean !" balas Jean ramah menerim tangan kecil itu. Jean pun mengusap ujung kepala Sabina. Gemas melihat wajah datar gadis kecil itu, tangan Jean pun tak tahan jika tak mencubit pipinya.


"Sakit !" jerit Sabina tiba tiba, membuat Jean kaget dan merasa tak enak hati.


"Maaf maaf maaf ! sakit ya ?, kak Jean terlalu gemas melihatmu." Jean mengelus elus pipi Sabina bekas cubitannya.


Darren malah tertawa cekikikan," gak usah merasa gak enak hati. Anak ini memang seperti itu. Meski wajahnya datar, tapi otaknya agak rada geser sedikit" ucapnya.


"Ayo kita berangkat !" ajak Darren kepada kedua gadis kecil itu.


"Ma ! Khanza berangkat dulu. Mama hati hati ya berangkat kerjanya. Mama jangan ngebut bawa motornya !" pamit Khanza, menyalam tangan Jean.


"Iya sayang Mama yang bawel !" balas Jean, mencubit pipi putrinya itu. Khanza pun cemberut.


Sabina pun menyalam Jean sekali lagi." Kami pergi dulu ya Kak !, Assalamu alaikum !" pamitnya.


"Walaikum salam ! tolong jaga putri Kakak ya !" balas Jean.


Sabina pun menganggukkan kepalanya tanpa senyuman.


Darren, Sabina dan Khanca pun masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Jean, ia berangkat menuju kantor tempatnya bekerja.


.


.


Siang hari, Darren keluar dari ruang kerjanya, masuk ke dalam lif turun ke lantai bawah.


"Bos mau kemana ?" tanya Calixto yang baru pulang meninjau proyek.


"Cari makan !" jawab Darren, lalu pergi dengan buru buru.


Gak dapat Maknya, anaknya yang di embat !, batin Calixto. Calixto sudah megetahui ternyata janda yang di sukai Darren ternyata selama ini bekerja di perusahaan Reyhan.


"Je ! makan di luar yuk ! aku yang bayarin !" ajak Nadia kepada temannya.


"Aku bawa bekal Nad !" tolak Jean.


Nadia berdecak,"Siapa dong temanku makan di luar. Si Yantolol lagi ada urusan di luar, dia belum kembali ?" rajuk Nadia.


"Pesan gofood 'kan bisa !" ujar Jean.


"Kamu mah gak seru orangnya !" Nadia berbicara dengan bibir mengerucut.


"Makanya jangan berteman sama Mamak mamak !. Pasti gak seru" balas Jean.


"Kamu ikut keluar ya !, nanti kamu bisa makan bekalmu di sana !" bujuk Nadia.


"Mama !" seru anak kecil tiba tiba membuka pintu ruangan HRD itu. Sonta semuanya menoleh ke arah pintu.


"Khanza ! kok kamu bisa datang kesini ?." Jean berdiri dari tempat duduknya berjalan menghampiri Khanza.


"Ayah Darren yang bawa Khanza Ma !. Khanza gak sendiri, ada Tante Sabin sama teman teman baru Khanza" jawab Khanza.


Jean langsung mengarahkan pandangannya ke luar pintu. Di sana terlihat beberapa anak anak memakai seragam SD.


Semua orang yang ada di ruang HRD itu menajamkan pandangan kepada Khanza dan Jean, kemudian mereka semua saling pandang satu sama lain.


Ayah Darren ?, apa maksud dari putri teman mereka itu ?. Batin mereka serempak.


"Ayo anak anak !" ajak Darren yang datang dengan menenteng dua kantong besar jajanan yang sempat di beli mereka di mini market milik Arsenio dan Sirin.


Jean mengalihkan pandangannya ke arah Darren. Jean terdiam harus bicara apa, sepertinya ia salah sudah mengijinkan Khanza menjadikannya putri angkat dari bos besar itu. Orang orang pasti berpikir yang nggak nggak terhadapnya. Berpikir kalau ia memiliki hubungan spesial dengan bos tampan itu. Di tambah karna kejadia kemarin saat Darren yang tiba tiba memeluknya di kantin perusahaan.


"Khanza ! ayo sayang ! ajak Mamanya makan siang sama kita juga boleh !" ucap Darren tersenyum, dan mengedipkan matanya ke arah Jean, lalu pergi.


Oh Tuhan !, batin Jean sadar sudah melakukan kesalahan. Jean pikir bosnya itu tulus untuk mengangkat putrinya anak, ternyata hanya akal bulus bos brondong tampan itu, untuk mendekatinya.


"Ma ! ayo Ma ! ikut makan siang bareng Ayah !." Khanza menarik tangan Jean, supaya Mamanya itu mau ikut.


"Tante gak bisa ikut sayang !, Mama lagi banyak pekerjaan. Lain kali aja ya !" tolak halus Jean.


"Ayo ikut tante !" ajak Syauqi.


"Iya tante ! ikut kami makan siang !" sambung Arsi.


"Iya tante !" timpal Sabeel.


"He um ! tante ikut kami yuk !" lanjut Nora.


Kalau Sabina, ia hanya diam saja dengan wajah datarnya. Tapi itu bukan berarti ia tidak setuju, kalau calon kakak iparnya itu ikut makan bareng mereka.


"Maaf ya ! tante gak bisa ikut makan bersama kalian. Sungguh ! hari ini pekerjaan tante sangat banyak !" tolak halus Jean lagi.


Orang orang pasti akan semakin membicarakanku, kalau aku ikut bareng anak anak ini ke ruangan Pak Darren. Batin Jean


"Yah ! tante !" ujar anak anak menyebalkan itu kompak dengan suara lesu.


"Ayo anak anak ! tantenya jangan di paksa. Besok besok kalau tantenya gak banyak pekerjaan, pasti tantenya mau !" ucap Darren, ternyata masih berdiri di depan lif.


"Kan tadi Paman yang nyuruh kami !" celetuk Syauqi.


Hm !


Darren berdehem," Iya ! tapi tantenya jangan di paksa ya kalua tantenya gak mau !. Ayo kita ke naik ke atas !" ajak Darren, membuka pintu lif di depannya, supaya ke enam bocah itu masuk ke dalam lif.


"Khanza ! ini kasih buat mama satu bungkus makanannya !" suruh Darren. Memberikan satu kotak makanan ke tangan Khanza yang hampir masuk ke dalam lif.


"Iya Yah !" patuh Khanza, berjalan mendekati Jean kembali yang masih berdiri di depan pintu, memberikan satu kotak makanan kepada Jean.


"Mama bawa bekal sayang !" tolak halus Jean lagi. Jean merasa tidak enak hati kepada karyawan lain mendapatkan makanan dari bos besa perusahaan itu.Dan juga ia membawa bekal, nanti makanannya akan sayang karna tidak habis di makan.


"Sini bekalnya ! biar aku yang makan !" ujar Darren.


"Jangan Pak !, lauknya hanya seadanya. Ya udah ! aku terima makanannya, trimakasih Pak !" pasrah Jean.


"Sama sama Mama !" balas Darren tersenyum, dan langsung masuk ke dalam lif.


Setelah Khanza menyusul masuk, barulah Darren menutup pintu lif itu, menekan tombol naik ke lantai tiga.


Ternyata hanya wajahnya yang terlihat polos, nyatanya bocah itu banyak akal. Batin Jean, sudah tertipu dengan tampak Darren yang unyu unyu dan polos.


.


.


Visual Darren dan Jean, biar ngehalunya tambah lancar.




.


.