
"Masuklah !" ucap Dokter Aldo kepada Diana setelah membuka pintu kamarnya.
Diana yang menunduk dari tadi, pun melangkahkan kakinya perlahan masuk ke kamar Ayah dari sahabatnya itu, yang sudah sah menjadi suaminya. Di ikuti Dokter Aldo dari belakang.
"Istrirahatlah ! pasti kamu mengantuk karna semalaman tidak tidur. Barang barangmu biar pembantu nanti yang membereskannya. Om akan tidur di kamar sebelah, biar kamu nyaman tidurnya" ucap Dokter Aldo lagi. Memutar tubuhnya melangkahkan kakinya keluar kamar, dan tidak lupa menutup pintunya kembali.
Entah mimpi apa dia kemarin malam. Sampai mendapatkan istri yang masih sangat muda. Wajah Dokter Aldo berbinar, tanpa sadar bibirnya berkedut. Tidak di pungkiri, sebagai laki laki normal, tentu Dokter Aldo senang mendapatkan wanita, apa lagi wanitanya masih muda, segar, renyah, dan plus dijamin masih ori.
"Cie cie ! Papa ! yang dapat istri baru, wajahnya berbinar !" goda Dokter Ghissam yersenyum, saat berpapasan dengan Dokter Aldo di ruang keluarga.
Sudah lama sekali Dokter Ghissam tidak melihat wajah Papanya itu berbinar bahagia seperti saat ini. Tentu Dokter Ghissam ikut bahagia, melihat Papanya bahagia.
Dokter Aldo melengkungkan bibirnya ke atas sambil menghela napasnya." Tapi Papa tidak tau, apakah Papa bisa menaklukkan hati Diana atau tidak. Dan Papa juga sebenarnya kasihan dengan anak itu !."
"Papa pasti bisa !" Dokter Ghissam menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Sebagai sesama lelaki dewasa, tentu Dokter Ghissam bisa merasakan apa yang di rasakan Papanya selama ini. Dokter Ghissam juga tau selama ini Papanya itu tidak mendapatkan nafkah batin dari Shasa Ibunya. Tapi dengan sabar, Papanya masih berusaha mempertahankan pernikahannya dengan Mamanya. Mungkin Diana adalah hadiah dari Tuhan untuk kesabaran Papanya selama ini.
"Trimakasih sudah mendukung Papa !" balas Dokter Aldo.
Dokter Ghissam menganggukkan kepalanya." kalau begitu, Ghissam ke kamar dulu Pah !, di tunggu kabar baiknya !"ucapnya lagi, kemudian melangkahkan kakinya ke arah tangga.
Dokter Aldo yang paham dengan ucapan anaknya pun, hanya bisa tersenyum. Berdoa dalam hati, semoga saja...
Di dalam kamar, Diana memutar pandangannya kesetiap sudut ruangan kamar itu. Kamar itu lebih besar dari ruang tamu rumah orang tuanya. Ada lemari kayu berukuran besar, tv berukuran 50 inc menempel di dinding, meja rias lengkap dengan kacanya, Kasur berukuran king size, kiri kanannya ada meja nakas dan lampu tidur berbentuk seperti payung, ada kamar mandi di dalam kamar. Dinding kaca yang tersambung langsung ke taman samping jika kacanya di buka. Sangat jauh berbeda dengan rumah orang tua Diana, yang hanya rumah sederhana.
Diana menghela napasnya, mengingat kalau sekarang dia berada di kamar Papa dari sahabatnya, yang sudah menjadi suaminya. Perlahan Diana melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, mendudukkan dirinya di pinggir kasur. Diana meraba selimut tebal yang ia duduki, terasa sangat lembut di tangannya.
Karna masih mengantuk, Diana menaikkan kakinya ke atas kasur, kemudian membaringkan tubuhnya untuk istirahat.
Seperti mimpi, Diana tidak menyangka kalau dia menjadi ibu tiri dari sahabatnya sendiri.
.
.
Di rumah keluarga Alfarizqi
Reyhan Rasyafariq Alfarizqi, anak kedua dari Papa Arya dan Mama Bunga. Dari tadi Reyhan tidak berhenti menangis di dalam pelukan sang Mama.
Hatinya benar benar sakit dan hancur, dengan kenyataan kalau Diana kekasihnya sudah menjadi milik mertua dari adiknya Arsenio. Reyhan merasa takdir sangat kejam kepadanya, kenapa cinta tidak pernah berpihak kepadanya ?, apa salahnya ?.
"Reyhan ! jangan menangis terus sayang !. Nanti Mama sama Papa akan mencarikan kamu cewek" bujuk Mama Bunga, dari tadi tangannya tidak berhenti mengusap usap kepala anaknya itu.
"Apa salah Reyhan Ma ?" tangis Reyhan lagi.
"Kamu tidak salah apa apa sayang !, tidak ada yang salah di sini. Yang terjadi itu adalah takdir, kamu dan Diana tidak berjodoh" jawab Mama Bunga.
Papa Arya hanya bisa diam saja, melihat anaknyalah yang mendapatkan karma dari perbuatannya, yang merampas Mama Bunga dari Dokter Aldo tanpa perasaan.
Tidak ada yang tau, Dokter Aldo dulu lebih terpuruk lagi, lebih sakit lagi. Yang di rasakan Reyhan belum seberapa sakit dengan yang di rasakan Dokter Aldo dulu. Bunga kekasihnya sahabat sedari kecilnya, Selalu bersama kemana mana. Di rampas tak berperasaan oleh gurunya sendiri.
.
.
"Bang Orion ! apa kita akan pulang secepatnya ?, Queen masih pengen di sini." Queen berbicara dengan mengerucutkan bibirnya.
Setelah mendapatkan kabar tentang Reyhan yang sudah seminggu tidak mau keluar kamar. Orion memutuskan untuk mengakhiri liburan mereka.
"Iya sayang ! nanti kalau ada kesempatan, kita berlibur ke sini lagi" jawab Orion.
"Bang Orion pulang aja duluan, Queen masih ingin di sini. Nanti setelah Queen masuk sekolah dan melahirkan, Queen tidak akan punya waktu untuk berlibur."
"Reyhan tidak mau mengerjakan apa apa, Abang harus menggantikannya untuk membereskan pembangunan kampus itu, supaya segera bisa beroperasi. Kamu tau sendiri, penerimaan mahasiswa baru sudah di mulai" jelas Orion.
"Queen gak mau pulang cepat ! titik !. Queen juga belum belanja" kekeh Queen.
"Besok kita akan belanja, besok hatinya kita pulang !" ucap Orion.
"Bang Orion 'kan bisa menyuruh Bang Elang mengurus kampus, atau Papa Arya, atau Arsen."
Orion menghela napasnya, melihat istrinya yang keras kepala." baiklah ! lima hari lagi kita pulang. Setelah itu tidak ada tawar menawar lagi. Dan kamu juga harus belajar, jangan berpikir kamu bisa lolos masuk ke universitas Harapan, tanpa mengikuti tes."
"Gak masuk di situ, Queen bisa coba ke universitas lain" balas Queen santai.
Orion yang gemas pun, menarik rambut Queen, sampai Queen mengaduh kesakitan.
"Rasain ! kamu itu keras kepala sekali, suka sukamu aja hidup ini" gemas Orion. Kalau Queen tidak dalam keadaan hamil, sudah pasti Orion membanting Queen ke atas kasur.
Queen yang selalu berhasil menaklukan Orion pun, tersenyum dan mengedip ngedipkan kelopak matanya ke arah Orion, seperti mata boneka susan yang kelilipan.
Yang berhasil membuat Orion mengeram, karna Queen sungguh menyebalkan dimatanya. Dari dulu Queen selalu saja berhasil mengalahkannya.
Buar buar buar !!!
"Momy ! Daddy !" sahut dari luar kamar
Orion langsung menghela napasnya lemah, Baru juga sebentar berdua duaan dengan Queen, Boy sudah datang mengganggu.
Momy ! Daddy !"
Dengan malas, Orion pun beranjak dari atas kasur, untuk membukakan pintu untuk anak mereka.
"Momy ! Boy membawakan pudding untuk Momy !. Boy sama bi Sum yang membuatnya" seru Boy, membawa mangkok kecil berisi pudding masuk ke dalam kamar, mengabaikan Orion yang membukakan pintu untuknya.
"Benarkah ?, pintar sekali anak Momy !" puji Queen, mengambil mangkok pudding dari tangan Boy, meletakkannya diatas meja nakas di sampingnya. Kemudian membatu Boy naik ke atas kasur.
"Iya Momy !, tapi Boy hanya mengaduk aduknya sebelum di masak di atas kompor" cengir Boy, menggaruk leher belakangnya yang mendadak gatal.
"Lucunya anak Momy !" Queen menarik Boy supaya duduk di pangkuannya. kemudian mencium gemas pipi gembul milik Boy.
Queen mengambil pudding yang di letakkannya di atas nakas, kemudian menyendokkannya ke mulutnya.
"Sangat enak ! pasti anak Momy ini memberikan bumbu cinta di dalamnya" ucap Queen, setelah menelannya.
"Daddy juga mau sayang !" Orion yang sudah duduk di samping Queen membuka mulutnya, supaya Queen menyuapinya.
Queen tersenyum, mengangkat satu tangannya mengusap kepala Orion. Kemudian menyuapkan satu sendok puding ke mulut Orion.
"Trimakasih sayang !" ucap Orion, kemudian mengecup pipi Queen dari samping.
"Boy juga pengen di suapi Momy !" ucap Boy yang duduk di pangkuan Queen.
"Anak Momy juga ya ?"
Boy mengangguk anggukkan kepalanya sembari tersenyum. Queen pun langsung menyuapinya.
"Hore ! Boy di suapin Momy !" seru Boy sambil bertepuk tangan, setelah menelan pudding di mulutnya.
Queen tersenyum getir, hatinya perih melihat Boy yang menganggap bahwa dirinyalah Ibu kandungnya.
"Meskipun suatu saat Boy mengetahui kalau bukan kamu wanita yang melahirkannya. Tapi aku yakin Boy pasti tetap menyayanhimu sayang. Baginya kamulah Momy nya satu satunya" ucap Orion mengusap rambut Queen dari belakang.
"Aku kasihan melihatnya bang Orion !" ucap Queen.
"Abang pun begitu Queen, apa lagi saat abang mendengar Ibunya mau menggugurkannya saat masih dalam kandungan. Abang tidak tega sayang, karna itu abang membiarkan ibunya dulu tinggal di sini. Abang melakukannya untuk menyelamatkan Boy" jelas Orion.
"Nanti malam Boy tidur sama Momy lagi !" ucap Boy.
"Gak boleh Boy !, nanti malam jatah Daddy tidur sama Momy !" tolak Orion. Karna tadi malam Boy sudah tidur bersama mereka.
"Tidur sama Momy !" ujar Boy lagi
"Gak Boy !" tolak Orion. Boy sudah terlalu banyak mengusai Queen, siang dan malam. Sampai membuat si burung hantunya tidak bisa bermanja manja dengan Queen.
"Momy !" Boy menekuk bibirnya ke bawah, matanya memerah dan berair, begitu juga dengan hidungnya.
"Bang Orion ngalah napa ?" Queen menarik Boy ke dalam dekapannya, mengusap usap kepala Boy yang hampir menangis." Iya nanti malam Boy tidur sama Momy lagi. Jangan menangis ya ! anak Momy !" bujuk Queen.
"Sayang ! nasib burung hantuku gimana. Sudah lama dia tidak kamu manjakan !" sungut Orion.
Queen mendekatkan wajahnya ke telinga Orion. " Nanti kalau Boy sudah tidur, kita bisa melakukannya diam diam" bisik Queen, sembari tersenyum.
Langsung saja wajah Orion bersinar secerah mentari." genit !" ucapnya lalu tertawa cekikikan.
.
.
#Hayo yang kemarin, yang minta di kasih Dokter Aldo jodoh. sudah othor kabulin ya !.
#Sekarang bantu othor untuk cariin jodoh buat Reyhan dan Elang.