Brother, I Love You

Brother, I Love You
93.Berjuang



Orion terus mengarahkan kamera phonselnya ke arah Queen, yang terus meminta di photo dari tadi. Wajah Queen terlihat sangat cantik dengan wajah berbinar bahagia di tengah tengah megahnya kota Paman Sam tersebut.


"Bang Orion ! aku mencitaimu..!" seru Queen, melingkari mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Mendengar seruan cinta Queen kepadanya, Orion langsung merekahkan senyumnya dan langsung berlari ke arah Queen, megangkat tubuh Queen dengan posisi berdiri. Sampai dada Queen tepat berada di wajahnya. Orion mendongakkan wajahnya ke wajah Queen.


"Abang juga mencintaimu Queen !" balas Orion.


Queen tersenyum, kemudian membungkukkan kepalanya mencium kening Orion.


Orion menurunkan Queen dari gendongannya," tunggu sebentar !" ucapnya, lalu pergi.


Hanya menunggu beberapa menit saja, Orion sudah kembali, ia membawa sebuah gitar, entah dari mana Orion mendapat gitar itu, Queen pun tidak tau.


Orion berdiri di depan Queen dengan jarak kira kira lima meter. Orion pun menyapu kelima tali gitar itu dengan kuku jari telunjuknya. Yang berhasil mengalihkan para wisatawan yang lalu lalang di salah satu kota pariwisata itu.


"Hai semua !, ijinkan saya bernyanyi di sini sebentar. Saya ingin bernyanyi lagu cinta untuk Istri kecil saya, yang sangat saya cintai. Saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepadanya karna, saat ini telah mengandung buah cinta kami" ucap Orion kepada para pengunjung yang sudah melingkarinya dan Queen.


"Sayang ! lagu ini kupersembahkan khusus untukmu !" ucap Queen.


Queen menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mata Queen berkaca kaca, karna terlalu bahagia. Queen tidak menyangka, Orion membuatnya menjadi pemeran utama di tengah tengah kota Hollywood itu. Orion membuat mereka menjadi bahan tontonan. Queen merasa jauh lebih unggul di banding teman teman cewek satu sekolahnya, yang hanya di tembak seorang cowok di tengah tengah lapangan sekolah.


"Queenara Hamiska My little wife ! I love you baby !"


Jreng !


Orion pun langsung menyanyikan sebuah lagu, dengan di iringi gitar jikustiknya.


🎵I love you baby...


Queen melangkahkan kakinya mendekati Orion, saat Orion sudah mengakhiri lagunya. Orion langsung meraih tangan kanan Queen, membawanya mendekat ke bibirnya, dan mengecupnya.


"I love you !" ucap Orion dengan suara lembutnya, matanya berbinar, senyumnya merekah sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.


"I love you too !" balas Queen, juga tersenyum bahagia, dengan wajah tidak kalah berbinar.


Prok prok prok.....!


Semua para pengunjung yang menyaksikan keromantisan pasangan muda mudi itu, bertepuk tangan. Mereka senang dan turut bahagia melihat kebahgaiaan pasangan suami istri itu.


Orion mencium kening Queen, kemudian melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang belakang Queen. Orion pun membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah para pengunjung yang menyaksikan adegan romantis yang ia ciptakan sendiri, dan mengucapkan trimakasih banyak, karna sudah mensuprotnya menyatakan cinta lewat lagu kepada istrinya. Kemudian Orion pun membawa Queen meninggalkan kerumunan itu.


Perjalanan wisata mereka tidak sampai di situ, Orion pun membawa Queen kesalah satu tempat wisata yang terkenal di Negara itu. Dan rencana mereka selama berlibur, mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berwisata, karna mereka tidak akan tau, kapan mereka bisa mengunjungi Negara itu lagi.


.


.


Jika Orion dan Queen menghabiskan masa libur panjang dengan meghabiskan waktu berlibur di Negara Hollywod. Beda cerita dengan kehidupan para keluarga mereka yang lainnya di Indonesia tercinta.


Dan jika Arsenio dan Sirin sama sama berjuang membangun perekonomian rumah tangga mereka dari titik nol. Beda cerita lagi dengan Papa Arya, Papa Arya tidak berhenti henti memperjuangkan haknya sebagai suami genit. Yang sudah tidak ia dapatkan semenjak menyuruh Arsen dan Sirin keluar dari rumah.


"Sayang !" rengek Papa Arya memeluk ratu sejagat dari belakang.


"Kalau kamu berhasil membujuk Arsenio supaya mau kembali ke rumah ini, baru aku memberikannya !" ketus ratu sejagat.


"Sayang !, aku 'kan sudah membujuknya sayang !, Arsennya yang gak mau !" rengek Papa Arya lagi, manja.


"Aku gak mau tau !, Kalau Arsen sama Sirin tidak kembali tinggal di rumah ini. Selamanya aku akan menghukum burung hantumu itu !" ancam ratu sejagat.


Papa Arya mengacak acak rambutnya frustasi. Kepala bawah sama kepala atasnya sudah pusing berjamaah, karna tidak mendapat jatah sudah dua minggu. Burung hantunya sudah terus meronta ronta. Seperti anak kecil, Papa Arya yang berbaring di belakang ratu sejagat pun, menghentak hentakkan kedua kakinya.


"Sayang !" rengek Papa Arya hampir mau menangis.


"Itu hukuman untuk orang yang selalu merasa baik dan benar sepertimu" ucap Mama Bunga.


"Okeh ! aku akan cari istri baru kalau begitu, aku akan mencari yang muda, segar dan yang lebih bening" ancam Papa Arya, karna sudah kehabisan akal untuk mendapatkan hak si burung gagaknya.


"Cari saja !, mana mau cewek sama cowok yang sudah tua, kere pula !" cibir ratu sejagat.


"Biarpun aku sudah tua, tapi masih kelihatan tampan dan gagah. Dan cewek cabe cabean diluar sana tidak akan tau kalau aku kere. Karna setau mereka akulah yang yang memiliki banyak harta dan uang" balas Papa Arya.


"Ya udah cari sana !" ketus ratu sejagat.


"Sayang !"


"Bawa Arsen dan Sirin kembali ke rumah ini."


"Arsennya gak mau sayang !, aku sudah mencoba membujuknya beberapa kali !."


"Terima resikomu sendiri !" ratu sejagat pun menarik selimut menutupi kepalanya. Matanya sudah ngantuk, ia ingin tidur.


"Sayang !" Papa Arya menggoyang lengan ratu sejagat." Sayang ! sayang ! sayang !."


Namun ratu sejagat diam saja, tak ingin melayani rengekan suaminya. Papa Arya yang merajuk, pun memutar tubuhnya membelakangi ratu sejagat.


.


.


Di tempat lain


Sudah hampir larut malam, Arsenio dan Sirin masih sibuk membuat rancangan untuk usaha baru mereka, memperhitungkan segala sesuatunya. Rencana mereka, mereka akan membuka sebuah toko yang menjual kebutuhan pokok di sebuah pasar. Mereka memilih usaha itu, karna menurut mereka dengan menjual kebutuhan pokok, tidak susah mencari pembeli meski saingan di pasar banyak. Karna kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang di konsumsi masyarakat setiap hari. Semoga saja nanti, toko itu maju dan berkembang menjadi sualayan..amin !, batin Arsenio dan Sirin.


"Sayang ! tidur aja duluan, biar aku yang menyelesaikannya" ucap Arsenio kepada Sirin yang duduk di sampingnya.


"Seharusnya kamu yang tidur duluan, besok kamu harus bangun cepat lagi, harus masak, mencuci lagi sebelum berangkat sekolah" balas Sirin.


"Ini hanya tinggal sedikit lagi, tidurlah !, sebentar lagi aku juga akan tidur !"ucap Arsenio.


"Tapi aku gak bisa tidur kalau perutnya gak di usap usap" manja Sirin.


Arsenio menghela napasnya pelan, kemudian menutup buku di depannya. Anak mereka yang masih berada di dalam kandungan istrinya itu sangat manja akhir akhir ini. Harus di usap usap baru Ibunya bisa tidur.


"Yuk pindah ke kamar !" ajak Arsenio sambil berdiri dari duduk lesehannya di depan meja sofa di ruang tamu rumah mereka.


"Gendong !" manja Sirin sembari tersenyum, mengarahkan kedua tangannya kepada Arsenio.


"Manja banget sih kamu sayang !" ucap Arsenio, dan langsung mengangkat tubuh Sirin dari lantai, membawanya masuk ke dalam kamar mereka, kemudian meletakkan Sirin dengan sangat hati hati di atas kasur. Kemudian membaringkan tubuhnya di samping Sirin.


"Ayo tidurlah !" ucap Arsenio lagi sembari menyibak baju Sirin sampai menampakkan permukaan perutnya dan langsung mengelus elusnya.


Sirin yang sudah mengantuk pun, memejamkan matanya, dan tak lama kemudian sudah langsung terlelap. Arsenio memperhatikan wajah Sirin dari tadi, tersenyum, melihat wajah ayu Sirin yang begitu menggemaskan. Arsenio pun tidak tahan untuk tidak menciumnya.


Aku yakin Sirin, dengan cinta, kita pasti bisa melewati masa masa sulit ini. Batin Arsenio, kemudian memejamkan matanya untuk menyusul Sirin ke alam mimpi.


Seperti sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi. Arsenio langsung terbangun dari tidurnya, mendengar alarm dari handphonnya berbunyi. Arsenio langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Ia harus menyuci baju, memasak, mandi dan siap siap ke sekolah.


"Sayang ! aku berangkat sekolah dulu, nanti jangan lupa makan !" pamit Arsenio kepada Sirin yang masih terbaring di atas kasur.


"Nanti pulang sekolah bawain batagor yang di jual di sekolah ya !" ucap Sirin.


"Iya sayang ! mmuah !" satu kecupan pun Arsenio daratkan di pipi Sirin, dan langsung keluar kamar. Karna ia harus segera berangkat ke sekolah.


Sirin yang sudah libur sekolah, dan hanya tinggal menunggu pengumuman lulus. Memilih bermalas malasan di atas kasur sambil bermain phonsel.


Tok tok tok !


Sirin mengerutkan keningnya mendengar ada yang mengetuk pintu dari luar. Siapa ?, batin Sirin


Karna terus mendengar pintunya diketuk, Terpaksa Sirin bangun dari atas kasur, keluar kamar berjalan ke arah pintu.


"Ada apa ya Bu ?" tanya Sirin setela membuka pintu, melihat siapa yang datang.


"Gak ada dek ! hehehe....!" cerngir ibu ibu tetangga yang bertubuh gemuk yang pernah menyapa Sirin.


"Betah banget dek ! ngurung diri di rumah ?, apa gak bosan ?"tanyanya.


Sirin mengulas senyumnya,"Kalau bosan pun, mau gimana lagi Bu !" jawab Sirin.


"Mending kamu ikut gabung sama mak mak di sini !."


Oh ! ternyata emak gendut ini mau mengajakku menjadi anggo baru ngerumpi, pikir Sirin.


"Sini dek ! kita duduk !, gak bagus loh, kalau sedang hamil itu tidur di pagi hari, nanti bisa darah putihnya naik, gitu katanya" ucap wanita yang usianya jauh di atas Sirin itu. Wanita gendut itu pun menarik tangan Sirin supaya keluar dari rumah, membawanya duduk di kursi berbahan plastik di depan rumahnya.


Sirin mengulas senyumnya lagi, karna merasa ada yang memperhatikannya. Awalnya Sirin tinggal di perumahan sederhana, ia akan mendapat nyinyiran dari tetangga karna sudah hamil saat masih anak sekolah. Ternyata pikirannya salah.


"Mending kita duduk duduk di sini, cerita cerita gitu kan !" ucap wanita gendut itu lagi. Lagi lagi Sirin mengulas senyumnya, ia masih merasa canggung dengan tetangganya itu.


"Namamu siapa dek ?" tanya wanita gendut itu.


"Sirin Bu !" jawab Sirin.


"Nama Ibu Siti Purnama, orang orang biasanya memanggil Ibu, Ibu Pur" ucap wanita bernama panggilan Ibu Pur itu.


"Suami mu kelas berapa ?, aku pikir kalian sama sama sudah mau lulus" tanya Ibu Pur kepo.


"Kelas dua Bu !, sebentar lagi naik ke kelas tiga" jawab Sirin malu malu.


"Untung kalian sama sama anak orang kaya, Kalian tidak mengalami ke susahan dalam keuangan. Coba yang terpaksa menikah muda itu sama sama anak dari keluarga kurang mampu, sudah di pastikan pasti putus sekolah. Dan pasti sudah mengalami bagaimana susahnya hidup berumah tangga, jika tak ada uang sepersen pun" ucap Ibu Pur.


Membuat Sirin menundukkan kepalanya, membayangkan apa yang di katakan Ibu Pur. Mereka memang mengalami ke susahan dalam ke uangan, tapi untuk makan, sampai hari ini mereka masih ada uang, dan mereka juga tidak sampai putus sekolah. Karna meski mereka di usir dari rumah, uang sekolah tetap di biayai orang tua mereka. Dan untuk bahan makanan, Mama Bunga selalu mengantarnya ke rumah mereka, tanpa bisa di tolak Arsenio. Perabot rumah mereka pun sudah di lengkapi Mama Bunga dari dapur, kamar dan ruang tamu.


"Gak apa apa dek !, gak usah malu, mungkin sudah jalan jodoh kalian seperti itu, sudah takdir" ucap Ibu Pur." Sebenarnya bukan itu yang ibu mau bicarakan denganmu. Ibu ibu di sini menyuruh ibu untuk mengajakmu ikut arisan" ucapnya lagi.


Sontak Sirin mengarahkan pandangannya ke arah Ibu Pur, dan mengerutkan keningnya sambil berpikir. Bagaimana bisa ia ikut arisan, sedangkan ke adaan keuangan mereka sekarang lagi susah. Meski pun ada uang di atm Arsenio, itu untuk modal buka usaha mereka dari Papa Arya. Dan Arsenio tidak mau mengganggu gugatnya untuk keperluan yang lain.


"Arisan pengajian dek !, bukan arisan uang, seperti istri istri orang kaya, atau artis artis di tv. Hanya sekali seminggu ko dek !, kebetulan hari ini jadwalnya, nanti sore. Kamu mau ikut gak dek ?."


"Aku tanya suamiku dulu Bu !, apa aku boleh ikut !" jawab Sirin.


Ibu Pur mengulurkan tangannya mengusap bahu Sirin." bagus itu dek !, meski pun di bilang mau ibadah, tapi tetap harus ijin suami, apa lagi pengajian ini tidaklah wajib. Nanti kasih tau Ibu aja kalau kamu mau ikut."


"Iya Bu !" balas Sirin


Bagaimana aku bisa ikut pengajian, aku tidak punya baju gamis dan jilbab atau pakaian bermodel tertutup di sini. Batin Sirin


Seperti kata pepatah, dimana tanah di pijak di situ langit di junjung. Sekarang Sirin sudah berada di tengah tengah rakyat biasa, bukan tinggal di kawasan perumahan elit lagi. Tentu Sirin harus hidup sesuai masyarakat di lingkungan itu, selagi itu baik untuk di ikuti. Di lingkungan tempat tinggal orang tuanya, tidak ada seperti itu, semua masyarakatnya lebih bersifat tertutup, dan bahkan ada yang tidak saling mengenal.


"Bu ! aku masuk ke rumah dulu, dari tadi belum sarapan" pamit Sirin, karna perutnya sudah terasa lapar.


"Iya dek ! gak apa apa !, kalau butuh bantuan entah apa gak usah sungkan sama Ibu. Kita tetangga harus saling membantu" ucap Bu Pur.


Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Sirin tidak menyangka, ia mendapat tetangga yang baik dan perhatian seperti Ibu Pur.


"Kalau begitu, Sirin masuk rumah dulu Bu !" pamit Sirin sekali lagi.


"Selesai sarapan jangan langsung baring, dan tidur sebelum siang. Kalau suntuk gabung aja sama emak emak di sini nanti, ikut ngerumpi..! hehehe...!" cengir Ibu Pur.


.


.