
"Apa bocah itu menyukaimu Queen ?" geram Orion. Nampak dadanya sudah naik turun menahan emosi.
Seharusnya saat mereka mengadakan resepsi pernikahan mereka kemarin, seluruh siswa dan siswi SMA HARAPAN di undang. Biar semua tau kalau Queen adalah istrinya. Biar tidak ada lagi yang menggodanya.
"Queen gak tau bang" jawab Queen
"Berapa banyak laki laki yang menggodamu di sekolah ?" tanya Orion lagi.
"Queen gak ngitung bang !" jawab Queen lagi. Membuat Orion bertambah naik darah, dadanya semakin bergemuruh.
"Mulai besok kamu gak boleh ke sekolah lagi. Kamu bisa belajar di rumah" ujar Orion.
"Bang Orion kenapa sih ?, dari tadi bawaannya marah terus" tanya Queen heran dengan perubahan sikap Orion.
"Abang gak mau kamu di goda banyak laki laki terus setiap hari, sekarang ayo pulang!" cetus Orion. kemudian membalik badannya melangkahkan kakinya keluar dari tempat acara.
Queen menghela napas beratnya, dan langsung memgikuti Orion ke arah parkiran kenderaan mereka. Queen sangat bingung dengan sikap Orion yang pemarah.
Sampai di parkiran Orion mengeluarkan phonselnya dari saku celananya, dan langsung menghubungi adiknya Arsenio. Menyuruhnya supaya mereka segera pulang.
"Ada masalah apa dengan bang Orion sebenarnya ?" tanya Queen kepada Orion yang bersandar di body mobil milik Reyhan.
"Abang gak suka kamu terus di dekati laki laki lain Queen ! abang cemburu !" jawab Orion jujur.
"Tapi aku gak tergoda dengan mereka !" balas Queen.
"Tapi kamu tebar pesona Queen !" tuduh Orion.
"Buat apa aku tebar pesona ?" tanya Queen.
"Mana abang Tau !" ketus Orion.
Queen menggeleng gelengkan kepalanya, mendengar Orion yang berbicara ketus kepadanya. Mata Queen berkaca kaca, hatinya sakit, dengan perubahan sikap Orion yang dari tadi marah marah karna cemburu buta. Queen pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Orion tanpa berbicara apa apa lagi. Queen malas melihat Orion, ia ingin pulang ke rumah Orang tuanya malam ini.
"Queen kamu mau kemana ?" seru Orion, mengikuti kemana arah Queen melangkahkan kakinya.
"Queen ! kamu jangan sembarangan pergi sendirian, bahaya !" seru Orion lagi, mengingatkan.
Queen menghentikan langkahnya dan membalik badannya ke arah Orion yang datang menyusulnya.
"Selama ini Queen sudah terbiasa sendiri kemana mana dengan status yang tidak jelas. Kenapa bang Orion baru kawatir sekarang ?. Selama ini bang Orion kemana ?, abang Orion baru tau ! kalau selama tujuh tahun ini banyak yang menyukai Queen dan menggoda Queen tanpa perlu Queen tebar pesona. Karna apa bang Orion ?, karna laki laki lain pikir Queen tidak ada pemiliknya. Coba bang Orion gak pergi menghindari Queen, menjaga Queen dengan baik, mungkin kejadian kemarin tidak menimpa kita !"
Orion terdiam, membeku di tempatnya. Orion lupa, Queen bukan lagi anak anak yang dapat ia kendalikan dengan mudah. Queen sudah besar, pemikirannya sudah dewasa. Di tinggalkan Orion selama tujuh tahun, tentu itu meninggalkan luka di hati Queen. Tapi cinta Queen terlalu besar untuk Orion, sehingga ia dapat menunggu selama itu, menerima Orion dengan keadaan sekarang. Queen menangis karna Orion seolah olah meragukannya. Apa masih kurang pengorbanannya menunggunya selama tujuh Tahun lamanya ?.
"Queen !" lirih Orion, melangkahkan kakinya kembali mendekati Queen, dan langsung mendekap tubuh Queen.
"Abang takut kehilanganmu Queen !, abang takut kamu berpaling kepada laki laki yang lebih sempurna dari abang" lirih Orion lagi.
.
.
"Diana maukan setelah kamu lulus kita menikah ?" tanya Reyhan kepada Diana. Sekarang mereka sedang berdansa di tengah tengah pesta bersama para tamu undangn lainnya.
"Bang Reyhan melamarku nih ceritanya ?" tanya Diana, mendongakkan pandangannya ke arah wajah laki laki yang bertubuh tinggi besar itu.
"Anggap seperti itu, kalau kamu mau ?, nanti abang melamarmu kepada orang tuamu!" balas Reyhan.
"Tapi aku masih ingin lanjut kuliah" ucap Diana.
"Setelah menikah kamu masih bisa kuliah !" balas Reyhan.
"Masa iya kita baru kenal sudah langsung nikah ?" tanya Diana.
"Apa salahnya ?, bukankah menikah itu lebih bagus, dari pada aku mengajakmu pacaran tidak jelas" tanya balik Reyhan.
"Bagaimana nanti setelah menikah kita tidak cocok ?" tanya Diana lagi. Reyhan terdiam, memikirkan pertanyaan Diana yang ada benarnya.
Reyhan semakin merapatkan tubuh Diana ke tubuhnya dengan satu tangannya. Dan satu tangannya lagi merapikan anak rambut Diana yang melambai di kening Diana.
"Aku sudah menyukaimu saat pertama melihatmu di acara resepsi bang Orion dan Queen. masalah cocok dan tidak cocoknya pasangan suami istri, bukan tergantung berapa lama pasangan itu saling mengenal. Dan tidak akan ada yang cocok jika pasangan suami istri itu tidak bisa menahan ego masing masing" jawab Reyhan.
Bang Reyhan dewasa banget pemikirannya, batin Diana memandang Reyhan tak berkedip.
"Kita bisa saling mengenal sebelum kamu lulus" ucap Reyhan. Diana menganggukkan kepalanya pelan dengan perasaan malu malu.
"Aku memintamu menjadi istriku, bukan meminta harta orang tuamu" balas Reyhan. Diana pun terdiam.
"Bang Rey ! bang Orion sudah mengajak pulang."
Reyhan dan Diana sontak menoleh ke arah Arsen bersama Sirin yang menghampiri mereka.
"Cepat banget !, ini juga baru tengah sembilan, bilang sebentar lagi. Abang masih berusaha nih !, menaklukan hati cewek cabe cabean ini!" balas Reyhan.
"Katanya sudah capek, kepalanya pusing" ucap Arsenio lagi. Langsung memutar tubuhnya menarik Sirin, berjalan meninggalkan Reyhan dan Diana yang masih berdansa.
"Apa kita juga pulang Arsen ?" tanya Sirin.
"Iya !" jawab Arsen.
"Cepat banget, ini malam minggu !"ucap Sirin, ia masih ingin berdua duaan dengan Arsen.
"Besok kita jalan lagi" balas Arsenio
Sirin menghela napas lemah, semenjak mereka pacaran, Arsenio jarang sekali mengajaknya malam mingguan. Arsenio lebih suka ngumpul ngumpul bersama teman temannya.
"Kita putus !" celetuk Sirin, sontak saja Arsenio menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke arah Sirin.
"Kamu kenapa tiba tiba minta putus?" Arsenio mengernyitkan keningnya.
"Kamu gak ada romantisnya, jarang sekali mengajakku malam mingguan" jawab Sirin cemberut.
"Apa menurutmu orang pacaran itu harus setiap minggu malam mingguan ?" tanya Arsenio. Menurutnya berpacaran tidak harus malam mingguan. Setiap hari mereka bertemu, dan dia juga sering mengajak Sirin jalan setelah mereka pulang sekolah. Dan dia juga punya pergaulan, tentu dong ia butuh waktu untuk sahabat sahabatnya.
"Gak harus setiap minggu, tapi memang kita sangat jarang malam mingguan" cetus Sirin.
"Malam ini aku sudah janji ikut gabung bersama teman temanku !. Apa kamu mau ikut ?" ajak Arsenio.
"Gak !" tolak Sirin cepat. Kemudian melangkahkan kakinya berjalan cepat ke arah dimana Arsen memarkirkan mobilnya.
Merajuk lagi !" batin Arsenio, kemudian melangkahkan kakinya menyusul Sirin.
.
.
"Bakso bakso !...bakso bakso...!"
"Ooek !"
Tiba tiba saja, perut Orion mual, memcium aroma bawang goreng dari kuah bakso, yang lewat dari samping mereka.
"Bang Orion kenapa ?" tanya Queen, melepaskan pelukan mereka, mendengar Orion seperti ingin muntah.
"Gak tau Queen, tiba tiba saja perut abang mual mencium kuah bakso yang lewat itu !" jawab Orion, memijit kepalanya yang mendadak pusing.
"Kok gitu ?, biasanya bang Orion suka bakso !" heran Queen. Ia pun merogoh tas kecil yang tersampir di bahunya, mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam. Lalu mengoleskannya ke pelipis, leher dan perut Orion.
"Gak tau sayang !" balas Orion.
"Ayo duduk di sana dulu bang !, menunggu mereka datang" tunjuk Queen dengan dagunya ke bangku panjang yang ada di trotoar jalan yang tak jauh dari mereka, Kemudian menuntun Orion berjalan.
Setelah mendudukkan tubuh mereka, Queen pun memijat mijat kepala Orion yang mendadak pusing karna tiba tiba mual.
"Bang Orion kenapa ? sakit ?" tanya Sirin yang menyusul ke tempat duduk mereka yang tak jauh dari parkir kenderaan mereka.
"Tadi sempat mual, sekarang kepalanya pusing" jawab Queen." Arsen sama bang Reyhan mana ?" tanyanya.
"Tuh ! dah datang" tunjuk Sirin kepada Kelima orang yang datang ke arah mereka.
"Acaranya udah selesai ?" tanya Queen lagi. tangannya masih sibuk memijat mijat kepala Orion yang bersandar di dadanya.
" gak tau !, sepertinya belum" jawab Sirin lagi.
"Sayang ! cari rujak yuk !" ajak Orion tiba tiba.
.
.