
Hampir tengah malam, Papa Arya baru kembali ke rumah. Ia pergi keluar hanya untuk mencari udara segar saja, untuk menenangkan pikirannya. Papa Arya membuka perlahan pintu kamarnya, dan melangkah masuk. Di lihatnya istrinya masih menangis terisak dengan mata terpejam meringkuk di atas tempat tidur. Dan putrinya Sabina kecil sudah tertidur pulas di dalam box bayi.
Sembari melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, Papa Arya mengusap wajahnya kasar. Papa Arya menghela napasnya lalu membuka laci meja nakas di samping ranjang, mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Sayang !" panggil Papa Arya, menyentuh lengan istrinya." Maaf !" ucanya lagi.
Papa Arya mendudukkan istrinya, membawanya ke dekapannya. Lalu mencium keningnya lama.
"Maafkan keburukanku yang keras kepala ini Bunga !. Jujur aku juga ingin bisa menerima anak itu di rumah ini. Tapi melihat wajahnya, luka ini terasa sakit lagi. Beri aku waktu sayang !, aku masih shok menerima kenyataan ini !" ucap Papa Arya.
"Aku tak ingin keluarga ini terpecah belah Aaryan !" balas Bunga.
"Maaf !" ucap Papa Arya lagi.
"Anak itu kesepian Aaryan !, kasihan dia. Dan juga bukankah dia masih keponakanmu. Kamu dan Ibunya masih sedarah, bukankah Ibu dan anak itu tidak bersalah ?. Kenapa kamu mewariskan kesalahan kakeknya kepada cucunya ?" ucap Mama Bunga lagi.
"Aku akan berusaha menerimanya !" pasrah Papa Arya. Lagi lagi demi kebahagiaan keluarga itu, biarlah dia mengalah lagi kepada kesalahan yang di lakukan anaknya.
"Kemarin aku kerumahnya, dia menagis saat aku memeluknya. Kamu tau Aaryan ?, untuk pertama kalinya anak itu memanggil Mama, setelah kepergian orang tuanya. Anak itu anak yang baik Aaryan !, dia sangat membutuhkan sosok orang tua dalam hidupnya." oceh Mama Bunga lagi.
"Iya sayang ! Maafkan aku, ayo minum obatnya dulu sayang !." Papa Arya memasukkan sebutir obat penenang ke mulut istrinya, supaya istrinya tidak berkelanjutan menangis dan mengoceh. Kemudian Papa Arya meraih gelas air minum yang ada di atas meja nakas, meminumkannya kepada Mama Bunga.
"Sssttt...! jangan menangis lagi ya !." Papa Arya meletakkan kembali gelas di tangannya ke atas nakas, kemudian melap air mata yang membasahi pipi istrinya dengan jari tangannya.
Papa Arya semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh wanita yang sangat ia cintai itu. Mengecup ujung kepalanya sambil tangannya mengusap usap rambut panjangnya dari belakang.
"Memaafkan kesalahan anak anak sudah tugas orang tua Aaryan !. Aku gak mau memberi hukuman anak kita, sampai ia merasakan sakit hati Aaryan !. Cukup aku dulu yang merasakannya !. Cukup aku dulu yang kalian hukum dengan sangat sakit !."
Air mata Mama Bunga kembali berderai, sekelebat dulu mengingat ia yang dihukum karna kebandelannya. Semua keluarganya meninggalkannya, menanggung beban perasaan sendiri. Dan harus terpaksa menjadi istri pria yang memeknya saat ini. Mama Bunga tak lupa itu, bagaimana beratnya ia menjalani hidup, tanpa ada orang yang menjadi tempat meluahkan kegundahannya saat itu. Tidak ada satu pun yang memahaminya saat itu.
"Aaakh !!!" jerit mama Bunga, tubuhnya langsung lemah, dan memejamkan matanya, tertidur.
"Maaf !" tangis Papa Aryan menempelkan keningnya ke kening Mama Bunga.
Oe oe oe oe...!
Baby Sabina yang kaget mendengar teriakan Mama Bunga langsung terbangun dan menangis.
Ya Tuhan ! ini salahku !, salahku dulu yang egois memaksa Bunga menjadi milikku. Salahku dulu yang merasa mampu menerima kenakalannya. Salahku dulu yang tak memikirkan perasaannya. Ampuni aku Tuhan ! karna aku dia mengalami defresi seperti ini. Karna aku dia menjadi tak berdaya seperti ini. Inikah hukuman untukku Tuhan !, Kau memberikanku anak anak yang nakal seperti istriku ini. Batin Papa Arya, tersenyum getir dengan berurai air mata.
Papa Arya membaringkan Mama Bunga perlahan ke atas kasur. Kemudian menarik selimut menutupi tubuh Mama Bunga sampai ke dada. Kemudian Papa Arya mengambil Sabina kecil dari dalam box bayi. Papa Arya menimang nimang putri tercintanya itu di dalam dekapannya.
"O..sayang ! putri Papa !" ucapnya dengan suara lembut, menepuk nepuk pelan pantat Sabina kecil dari bawah. Namun Sabina kecil masih menangis.
"Mau mimi ya putri Papa ?" tanya Papa Arya. Papa Arya pun mengambil kain gendongan. Lalu menggendong Sabina kecil. Kemudian membuatkan susu botol untuk Sabina. Setelah Selesai, Papa Arya membawa Sabina kecil keluar kamar supaya istrinya tidak terganggu istirahatnya.
Papa Arya menghela napas lega, melihat Sabina kecil tertidur kembali. Papa Arya pun berjalan ke arah saklar lamu, untuk mematikan lampu ruangan itu.
"Pah !"
Papa Arya yang hendak melangkahkan kakinya kembali ke kamar, menghentikan langkahnya, dan langsung memutar tubuhnya ke arah sumber suara yang memanggilnya itu.
Elang pun berlari dan mejatuhkan tubuhnya di kaki Papa Arya, dan langsung memeluk kaki yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk anak anak dan istrinya itu.
"Elang minta maaf Pa !, Elang salah !, Elang sudah menyakiti hati Papa !" tangis Elang terisak.
"Jika Papa meminta Elang menceraikan Nay, Elang akan lakukan Pa !. Tapi Mama sama Papa jangan berantem lagi !" tangis Elang lagi.
"Berdirilah nak !" ucap Papa Arya.
"Pa ! Elang sangat mencintai Naysila Pa !. Apa yang Elang harus lakukan Pa !. Elang tidak tega membiarkannya hidup sendiri Pa !. Pa ! Elang mohon Pa !, terima istriku Pa !. Elang janji akan menjadi anak yang baik. Elang janji gak nakal lagi Pa !. Elang janji gak pemalas lagi kalau di suruh Mama..Pa !. Elang janji akan memberikan Papa cucu yang banyak dan lucu lucu !" bujuk rayu Elang, menangis tanpa melepas kaki Papanya.
Papa Arya mengulas senyumnya meski air matanya sempat menetes. Mendengar Elang berjanji akan memberikannya cucu yang banyak dan lucu lucu.
"Berdirilah nak !, Kalau kamu masih terus menagis di kaki Papa. Kamu tidak akan bisa memberi Papa cucu yang banyak !" ucap Papa Arya, menurunkan sedikit tubuhnya, mengusap kepala anak ke tiganya itu.
Elang pun berdiri, dan langsung memeluk Papa Arya." Maafin Elang Pa !, Elang sudah menyakiti hati Papa sama Mama. Elang sudah menjadi anak yang durhaka !" tangis Elang lagi.
"Maafin Papa juga nak !" balas Papa Arya, membalas pelukan Elang dengan sebelah tangannya.
Oe oe oe....!
Sabina kecil terbangun dan menangis lagi mendengar raungan abang ketiganya.
Elang langsung melepas pelukannya, dan menghapus air matanya. Kemudian melihat Sabina kecil yang menangis di gendongan Papanya. Beberapa hati tidak melihat adiknya, Elang sudah sangat merindukannya.
"Sabin !, maafin abang ya ! sudah membuat Sabin terbagun !" ucap Elang, mengusap usap punggung Sabina kecil dari bawah.
"Jangan menciumnya, kamu itu bau rokok !" ujar Papa Arya mendorong kepala Elang yang hendak mencium pipi Sabina kecil.
"Kalau begitu Elang cium pipi Papa aja gantinya !" ucap Elang langsung mengecup pipi Papa Arya dan langsung berlari ke arah tangga dengan wajah berbinar.
"Anak itu !" gumam Papa Arya mengulas senyumnya, melihat tingkah anaknya yang masih seperti bocah, padahal sudah beristri.
Apa aku juga harus merayu Papa, supaya Papa mau memberitahu dimana Papa menyembunyikan wanita penjual es lilin itu ?. Batin Daren, yang memperhatikan Papa dan abangnya dari tadi di balik pintu kamarnya.
.
.