
Keluar dari gerbang sekolah SMP HARAPAN, Darren berjalan cepat ke arah gerbang sekolah SD di sebelahnya. Sampai di depan sekolah SD HARAPAN milik orang tuanya. Derren mengarahkan pandangannya ke arah tempat biasa wanita idaman hatinya itu menjual es nya.
Dimana dia ?, kok gak ada ?, batin Darren. Mengarahkan pandangannya ke seluruh penjual jajanan yang mangkal di depan sekolah.
Kenapa dia gak berjualan hari ini, padahal hari ini langit cerah, tidak turun hujan. Batin Darren lagi.
Darren pun mendekati salah satu penjual di situ, untuk bertanya kemana wanita idamannya itu.
"Pak ! dimana penjual es lilin yang berjualan di sini ?" tanya Darren.
"Gak tau dek !, sepertinya dia tidak datang !" jawab si Bapak penjual telur gulung itu.
Darren pun diam, lalu pergi meninggalkan si Bapak penjual itu. lalu berjalan ke arah gerbang SD, menunggu adiknya Bilal. Darren kembali memutar tubuhnya ke arah belakang, memperhatikan tempat wanita itu biasa berjualan.
Apa Papa yang mengusir wanita itu supaya tidak berjualan lagi di sini ?.Batin Darren
"Bang Darren !" sapa Bilal yang sudah berdiri di depan Darren.
Darren mengalihkan kepalanya ke arah Bilal." Ya ampun Bilal !, apa makanan aja yang ada di pikiranmu ?."
Darren geleng geleng kepala melihat adiknya itu yang membawa banyak makanan di tangannya.
"Ini jajanan baru di kantin, Bilal menyukainya, makanya Bilal borong semua" jawab Bilal.
"Aku yakin pasti kamu khasbon sama Ibu tukang kantin, dan menjual nama Papa untuk membayarnya" ujar Darren.
Bilal hanya tertawa nyengir, karna tuduhan abangnya itu benar.
"Ayo pulang naik angkot, sepertinya tidak ada yang menjemput kita" ajak Darren, menarik tangan anak gajah yang doyan makan itu.
"Bang Darren ! bawain tas Bilal, berat, Bilal susah jalannya" pinta Bilal, memberikan tasnya kepada Darren.
"Makanya badannya jangan di gedein !"ejek Darren. Mengambil tas Bilal dari tangannya. Mereka pun menaiki angkot yang berhenti di depan sekolah.
.
.
"Aaryan ! sebentar lagi Reyhan juga akan menikah. Pasti dia juga akan keluar dari rumah ini, membawa istrinya ke rumah barunya. Satu persatu anak anak kita akan meninggalkan kita. Rumah ini akan kembali sunyi, kembali hanya tinggal kita berdua" ucap Mama Bunga, yang berbaring di pangkuan Papa Arya, wajah Mama Bunga nampak sedih.
Papa Arya menghela napas beratnya, sambil tangan mengusap usap perut istrinya yang membesar.
"Mereka tidak akan melupakan kita sayang !" ucap Papa Arya." Dan nanti kita bisa mengajak semua cucu cucu kita menginap di sini" ucap Papa Arya tersenyum. Membayangkan kira kira berapa banyak nanti cucu mereka, jika anak anak mereka sudah menikah semua. Sepertinya kalau pas lagi ngumpul, rumah mereka sudah seperti panti asuhan sangking ramenya. Semoga saja semua anaknya memiliki banyak keturunan, amin !, pikir Papa Arya.
Buar buar buar buar....!!
"Mama !!Papap !! bilal sudah pulang sekolah !!" seru Bilal dari luar kamar, sambil tangannya menggedor gedor pintu kamar orang tuanya.
"Aish ! anak itu sudah besar juga masih suka mengganggu" ucap Papa Arya.
Buar buar buar buar...!
"Mama !! Papa !! buka pintunya !!" teriak Bilal lagi.
"Sebentar !" balas Mama Bunga, mendudukkan tubuhnya. Papa Arya pun berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Papa ! Bilal bawa makanan untuk Mama !" ucap Bilal, langsung masuk ke kamar orang tuanya, setelah pintu di buka.
"Bilal khasbon lagi ?" tanya Papa Arya, menutup pintu kamarnya kembali, dan kembali ke sofa.
"Hehehehe...!" cengir Bilal, meletakkan semua jajanan yang di bawanya dari sekolah di atas meja sofa. Papa Arya hanya bisa geleng geleng kepalal melihat anak bontotnya.
Tok tok tok !
"Ma ! Pa !" sahut dari luar lagi.
"Aish ! yang kecil sama yang besar sama saja !" sungut Papa Arya. Baru ia duduk di kembali di sofa, sudah ada lagi yang mengetuk pintu kamar mereka. Dengan terpaksa Papa Arya berdiri lagi berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Reyhan ! ada apa ?" tanya Papa Arya, melihat Reyhanlah yang mengetok pintu.
"Ada yang perlu Reyhan bicarakan sama Papa dan Mama Pah !" jawab Reyhan.
"Harus sekarang ?" tanya Papa Arya lagi.
"Tidak harus Pa !, menurut Reyhan lebih cepat, itu lebih baik" jawab Reyhan.
Papa Arya pun memutar tubuhnya, berjalan ke arah sofa. Reyhan yang mengerti, pun mengikuti langkah Papa Arya masuk ke dalam kamar. Seperti kebiasaan Reyhan, ia akan duduk di samping Mama Bunga, memeluk Mama Bunga dari samping, menyandarkan kepalanya di lengan sang ibunda tercinta. Dan tidak lupa, Reyhan akan mengelus elus adiknya yang masih di dalam perut ratu sejagat.
"Mau bicara apa ?" tanya Papa Arya, yang duduk di sofa sebrangnya, memberika kedua anak butok ijonya itu bermanja manja kepada sang ratu.
"Reyhan ingin segera menikahi Yumna Pa ! Ma !. Dan Yumna juga siap di nikahi dalam waktu dekat" jawab Reyhan."Bagaimana menurut Mama sama Papa ?, kalau minggu depan aku melamar Yumna, dan seminggu kemudian melangsungkan pernikahan. Yumna juga setuju, tinggal bagaimana dengan para orang tua" ucap Reyhan lagi.
Papa Arya pun diam sambil berpikir, dan menajamkan pandangannya ke arah Reyhan yang bergelayut manja kepada istrinya. Kemudian Papa Arya mengarahkan pandanganya ke wajah Mama Bunga yang nampak sedih. Satu persatu anak anak mereka akan meninggalkan rumah. Akan terasa semakin sunyi nantinya. Tapi demi kebahagiaan anak anak mereka dalam membina rumah tangga, mereka harus merelakannya.
"Papa setuju setuju saja, tapi kita harus membicarakannya dengan orang tua Yumna. Kapan mereka bisa menerima kedatangan kita" jawab Papa Arya.
"Iya Pa !, hanya itu saja yang ingin Reyhan bicarakan" ucap Reyhan.
"Bang Reyhan juga mau nikah !, sama kaya bang Orion dan bang Arsen ?" tanya Bilal, kemudian menyuapkan jajanan ke mulutnya.
Tiba tiba Mama Bunga menangis terisak, tidak dapat menahan kesedihannya. Karna anak anaknya akan berpaling kepada wanita lain.
"Ma..!" ucap Reyhan, menerik Ratu sejagat ke dalam pelukannya.
"Rumah ini akan kembali sunyi !, satu persatu kalian akan meninggalkan rumah ini" isak Mama Bunga.
"Reyhan tidak akan meninggalkan Mama. Reyhan akan tetap tinggal di sini, jika Mama memintanya" ucap Reyhan, tidak tega melihat Mama nya menangis.
Mama Bunga menggeleng gelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia akan memaksa anaknya yang sudah beristri harus tetap tinggal bersamanya. Mungkin anaknya tak masalah, bagaimana dengan menantunya nanti ?.
"Ma ! Reyhan akan tetap tinggal di sini Ma !. Mama jangan menangis seperti ini. Reyhan sudah membicarakan itu dengan Yumna Ma !. Dia tidak masalah jika kami harus tetap tinggal di sini untuk menemani Mama sama Papa" bujuk Reyhan. Mengusap usap punggung Mama bunga.
"Kamu memiliki banyak adik, pasti dia tidak nyaman tinggal di sini. Jangan memaksanya nak !. Gak apa apa, mama hanya bersedih saja. Nanti juga Mama akan baikan, berikan istrimu nanti kebahagiaan, terutama tempat yang nyaman untuk dia tinggal" ucap Mama Bunga, menghapus air matanya.
"Restui Reyhan Ma !, Reyhan sangat membutuhkan do'a dari Mama" tangis Reyhan, mengecup ujung kepala Ibundanya, tempatnya bermanja manja selama ini.
Mama Bunga melepaskan pelukan Reyhan dari tubuhnya. Kemudian meraih kepala Reyhan, mencium keningnya, lalu mengusap kepala anak manjanya itu.
"Pasti sayang !, Mama pasti merestuinya, dan selalu mendoakan anak anak Mama, supaya bahagia. Rumah tangga anak anak mama semua langgeng" ucap Mama Bunga.
"Trimakasih Ma !" balas Reyhan.
"Pa ! Mama sama bang Reyhan kenapa menangis ?" tanya Bilal, heran.
Mama Bunga menghapus air matanya," gak apa apa sayang !" jawab mama Bunga.
.
.
Di tempat lain
Orion dan Queen berjalan jalan mengelilingi kampus baru yang akan siap beroperasi. Mereka memasuki satu persatu ruangan kampus itu. Mengecek apakah masih ada yang kurang atau tidak.
"Bang Orion ! apa ini nanti yang akan menjadi kelas Queen ?" tanya Queen, masuk ke salah satu ruangan jurusan yang akan ia ambil.
"Iya sayang !" jawab Orion.
"Apa bang Orion nanti juga akan menjadi Dosen ?" tanya Queen lagi. Memutar pandanganya ke setiap sudut ruangan.
"Lihat nanti saja !" jawab Orion. Mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku kosong yang paling belakang, menghadap ke papan tulis. Orion tersenyum, meski bagunan itu belum rampung seratus persen. Tapi sudah bisa di pakai untuk kegiatan belajar mengajar.
Queen pun mendudukkan tubuhnya di bangku yang berada di samping Orion, sambil memegangi perutnya yang membesar.
"Nanti aku akan sekolah dengan perut besar seperti ini, bahkan lebih besar dari ini, karna perutku akan semakin membesar sampai melahirkan" ucap Queen.
Memikirkannya,tidak mudah baginya harus kuliah dalam keadaan hamil besar. Dan mungkin ia tidak bisa konsentrasi dengan benar, karna badannya yang sering terasa pegal, dan gampang capek. Belum lagi setelah melahirkan, ia harus rela meninggalkan anaknya, demi bisa melanjutkan pendidikannya.
"Bagaimana kalau kuliahnya di tunda dulu ?. Kamu bisa melanjutkannya Tahun depan" usul Orion.
"Setelah melahirkan, mungkin kehidupanku akan semakin repot" jawab Queen.
Terkadang Queen masih merasa belum siap dengan apa yang sudah di jalaninya. Menikah dan sudah hamil di usia dini. Dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Abang tidak akan membiarkanmu mengurus anak kita sendirian sayang !. Jangan terlalu di pikirkan sekarang. Kampus ini milik kita, dan abang juga akan banyak menghabiskan waktu di sini. Kita bisa membawa anak kita ke sini, dan abang bisa menjaganya saat kamu ada jam kuliah" ucap Orian mengusap kepala Queen dari belakang.
Terkadang kasihan melihat istri kecilnya itu, harus mengandung di usia yang masih sangat muda. Membuat pergerakan Queen terbatasi, susah jika ingin pergi pergi, apa lagi untuk menghabiskan waktu bersama teman temannya. Tapi bagaimana lagi, Orion tak ingin Queen lepas begitu saja darinya. Orion sengaja menghamili Queen, supaya Queen tidak pergi darinya, karna masa lalunya yang buruk.
"Kamu sangat banyak berobah, tak semenyebalkan dulu lagi" ucap Orion tersenyum, mengingat bagaimana Queen masih anak anak.
"Rindu yang membuatku berobah !" jawab Queen menyandarkan kepalanya ke lengan Orion.
Orion langsung memindahkan kepala Queen bersandar di dadanya, dan mengecup ujung kepala Queen.
"Maafin abang Queen !, abang rela melakukannya, demi masa depan kita, masa depan anak anak kita kelak. Trimakasih sudah berkorban menunggu abang kembali. Abang Janji tidak akan pergi tanpamu lagi. Kita akan bersama kemana mana" ucap Orion, mengecup kening Queen agak lama.
"Yuk kita pulang !, sudah waktunya dede bayi kita istirahat bobo siang !" ajak Orion.
"Queen pengen makan asinan mangga mengkal" manja Queen, memeluk pinggang Orion, dan mendongakkan kepalanya.
Cup !
Satu kecupan Orion jatuhkan di bibir Queen. Orion tersenyum, kadang merasa lucu, ia dan Queen sudah menjadi suami istri sejak lama. Kadang Orion masih merasa seperti mimpi, kalau gadis kecil yang menyebalkan dan sering menganggu ketenangannya itu, sudah di perawaninya, dan bahkan sudah mengandung buah cinta mereka.
"Bang Orion kenapa senyum senyum ?, apa ada yang lucu di wajah Queen" manja Queen, berbicara dengan bibir mengerucut.
Orion yang gemas pun, menekan pipi Queen dengan jempol dan telunjuknya. Membuat bibir Queen meruncing seperti paruh bebek. Kemudian Orion meniup rongganya, lalu cekikikan. Melihat Queen hampir terbatuk batuk, menghirup napasnya yang tiba tiba masuk ke dalam rongga mulutnya.
"Bang Orion !" kesal Queen cemberut.
.
.