
"Sirin ! jangan pergi !" gumam Arsenio,dengan mata terpejam, dan cairan bening keluar dari sudut matanya.
Tak ada orang yang menjaganya di ruang perawatan itu. Sehingga tidak ada yang mendengarnya berbicara.
Sementara itu, mobil yang akan mengantar Sirin dan Dokter Aldo sudah keluar dari parkiran Rumah sakit.
"Sirin !" panggil Arsenio lagi, seolah batinnya mengetahui, Sirin pergi meninggalkannya. Perlahan Arsenio pun membuka kelopak matanya.
Arsenio memutar pandangannya ke seluruh ruangan berwarna putih itu. Melihat ada tiang jarum infus berdiri di sampingnya. Arsen bisa menebak, kalau ia sedang berada di rumah sakit.
Kenapa aku bisa di rawat di rumah sakit ?, batin Arsenio, mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya, sampai ia terbaring di brankar rumah sakit.
"Mama ! Papa !" gumam Arsenio, setelah mengingat kecelakaan yang menimpanya. Bagaimana keadaan kedua orang tuanya ?. Apakah selamat dari mobil iblis pencabut nyawa itu ?.
Arsenio pun mencoba bergerak untuk mendudukkan tubuhnya, tetapi tak bisa, tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga, kepalanya pun terasa pusing.
Ceklek !
Arsenio refleks mengalihkan pandangannya ke arah pintu, mendengar ada yang membukanya. Di lihatnya seorang perawat masuk, melangkah mendekatinya.
"Sudah sadar !" ucap perawat itu kaget, melihat pasien koma sudah membuka matanya.
"Suster ! sudah berapa lama saya tidak sadar ?" tanya Arsenio, dengan suara lemah.
"Sudah lebih dari sebulan" jawab Perawat itu, dan Arsen pun terdiam.
Lebih sebulan ???, batinnya
.
.
Sementara itu di tempat lain.
Mama Bunga menangis setelah menyaksikan vidio rekaman cctv dari laptop Papa Arya. Mereka mendengar semua apa yang di bicarakan Sirin di ruang perawatan Arsen, Mama Bunga dan Papa Arya juga melihat saat Sirin mencium bibir Arsen. Baik Sirin, Dokter Aldo dan pihak rumah sakit, tidak ada yang tau kalau Papa Arya memasang kamera tersembunyi di ruangan perawatan Arsenio.
"Aaryan ! kenapa anak kita kurang ajar ?" tangis Mama Bunga di dalam pelukan Papa Arya.
Papa Arya menghela napasnya tidak menjawab pertanyaan Mama Bunga. Arya sungguh sangat kecewa kepada anak ke empat mereka itu. Ingin rasanya Papa Arya, memberikan bogeman ke wajah anak bandelnya itu. Tapi melihat keadaan Arsenio yang terbaring lemah tak berdaya, rasanya tidak mungkin. Tapi setelah anak itu sembuh, Papa Arya pasti akan memberikan Arsen pelajaran.
"Sayang ! lihat ini ! Arsen sudah sadar !" panggil Arya, yang memperhatikan layar laptopnya dari tadi. Meski matanya berkaca kaca, tapi wajahnya nampak berbinar. Akhirnya Arsen sadar setelah sebulan lebih koma.
Mama Bunga yang menagis di dada bidak Papa Arya, langsung mengalihkan pandangannya ke layar laptop.
"Arsen anakku !" tangis Mama Bunga terharu, melihat Arsen di vidio itu sudah membuka matanya.
Mama Bunga memang marah dengan apa yang sudah di perbuat anaknya. Tapi bagaimana lagi, seburuk apa pun Arsenio, itu tetap darah dagingnya, Mama Bunga tetap menyayanginya. Begitu juga dengan Papa Arya, meski Arsen melakukan kesalahan, itu tidak mengurangi rasa sayangnya. Mungkin juga mereka salah dan kurang dalam mendidik dan memperhatikan anak anak mereka.
"Sayang !, apa kamu kuat ikut ke rumah sakit ?" tanya Papa Arya. Melihat kondisi Mama Bunga yang lemah karna mengalami ngidam yang cukup parah.
Meski tubuh istrinya lemah dan tidak baik baik saja, Papa Arya tau, jika Mama Bunga pasti ingin bertemu anaknya. Dan juga, Papa Arya tidak akan tenang meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
Mama Bunga menganggukkan kepalanya, entah dapat kekuatan dari mana. Seketika tubuhnya terasa bugar, setelah melihat Arsenio sadar dari vidio dalam laptop.
"Ayo sayang !" ajak Papa Arya, menutup laptopnya meletakkannya di atas nakas. Kemudian membatu istrinya turun dari atas tempat tidur. Dan menuntunnya berjalan keluar dari dalam kamar.
.
.
Mobil yang mengantar Sirin dan Dokter Aldo sudah sampai di bandara. Mereka pun keluar dari dalam mobil. Setelah Dokter Aldo mengeluarkan koper Sirin dari dalam bagasi. Mereka pun segera masuk ke dalam bandara, karna pesawat yang akan mereka tumpangi sebentar lagi berangkat.
"Sesekali nanti Papa atau Ghissam akan mengunjungimu !" ucap Dokter Aldo, sambil mengusap kepala Sirin dari belakang, karna melihat Sirin yang wajahnya sedih dan tak ada semangat.
.
.
"Lebih cepat lagi dong bang Reyhan bawa mobilnya. Entar kita terlambat, pesawat yang di tumpangi Sirin keburu terbang" Oceh Queen dari kursi penumpang belakang.
"Macet Queen ! macet !" kesal Reyhan, jalanan macet, gimana caranya bisa ngebut.
Setelah mendengar kabar dari Papa Arya, kalau Sirin akan pergi. Queen, Diana, Kania, Reyhan dan Orion langsung cabut dari sekolah. Untuk menyusul Sirin ke bandara. Sirin tidak boleh pergi, apa lagi dalam keadaan hamil. Mereka tidak akan membiarkan Sirin menghadapi masalah sendirian.
Ya ! mereka sudah tau dari Papa Arya, apa yang terjadi antara Sirin dan Arsenio.
"Sini biar Queen aja yang nyetir !" tawar Queen, Seolah olah, jika dia yang menyetir, kemacetan menghilang begitu saja.
"Kamu lagi hamil Queen !" tegur Orion yang duduk di samping Reyhan. Enak saja istri kecilnya itu mau nyetir. Apa dia lupa kalau dia sedang hamil. Dan Orion sudah tau, bagaimana istrinya itu membawa mobil. Lebih ngeri dari seorang pembalap se kelas Reyhan.
"kita bisa telat kalau seperti ini" oceh Queen lagi. Jangan sampai ia tidak bisa mencegah ke pergian sahabat dari kecinya itu.
"Tenang Queen !, kita sudah dekat kok ke bandara" ucap Kania, kepada Queen yang duduk di sampingnya. Yang dari tadi gelisah dan kasak kusuk di kursinya.
"Bagaimana aku bisa tenang !, sebentar lagi pesawatnya akan segera berangkat, kita belum sampai di bandara" tangis Queen akhirnya pecah. Tidak bisa membayangkan jika harus bejauhan dari sahabat yang sudah seperti saudara baginya itu.
"Sayang !" tegur Orion, melihat istrinya menangis." Sini dekat sama abang !" suruhnya.
"Sssttt...!" Orion menghapus air mata Queen dengan jempol tangannya." Masih ada waktu mengejarnya 15menit lagi sayang !" ucap Orion, Kepada istri kecilnya yang berubah cengeng semenjak hamil. Satu kecupan pun Orion daratkan di kening istrinya.
Reyhan berdecak, melihat Orion dan Queen sama sama duduk di kursi penumpang depan. Seharusnya di duduki satu orang, ini malah di duduki dua orang, pamer ke uwuan lagi. Bikin babang Reyhan pengen cepat kawin aja.
.
.
📣"Untuk penumpang pesawat tujuan Negara XXX, Di persilahkan untuk segera masuk ke dalam pesawat. Karna sebentar lagi pesawat akan segera berangkat"
"Ayo sayang ! kita masuk ke pesawat !" ajak Dokter Aldo kepada Sirin yang duduk di sampingnya di ruangan tunggu, setelah mendengar pengumuman pesawat yang akan mereka tompangi segera berangkat.
Sirin menganggukkan kepalanya, mengikuti Dokter Aldo berdiri. Sirin menoleh ke arah keluar kaca bandara. Entah !, Queen berharap Arsen datang menjemputnya, mencegah kepergiannya, meski rasaya tak mungkin, karna Arsenio yang masih koma.
"Ayo sayang !" ajak Dokter Aldo lagi, melihat Sirin melamun.
Sirin yang tersadar dari lamunannya, menganggukkan kepalanya lagi. Kemudian melangkahkan kakinya bersama Dokter Aldo, Papanya.
Kembali, air mata Sirin mengalir deras tak terbendung membasahi pipinya. Seiring langkahnya yang akan meninggalkan kota kelahirannya, meski hanya sementara.
Aku mohon Arsen ! bangunlah !, Jika tidak bisa untukku, bangunlah untuk anakmu Arsen. Batin Sirin. Melap air matanya yang tak mau berhenti keluar.
.
.
Di rumah sakit
Mendengar Arsenio sudah sadar, Dokter Ghissa, langsung keluar dari ruangan Papanya. Setelah selesai mengecek kehamilan Sirin, Ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Dan Dokter Ghissam pun memutuskan untuk istirahat di ruangan Papanya. Dokter Ghissam malas pulang ke rumah, karna rumah mereka pasti sunyi, dan tidak ada sosok ibu lagi menanti kepulangannya.
Dokter Ghissam berlari masuk ke ruang perawatan Arsenio.
"Arsen !!!" teriak Dokter Ghissam, mengepalkan tangannya mengarahkannya ke wajah Arsenio, tapi untung tidak kena.
"Bang Ghissam kenapa ?" bingung Arsenio, mengerutkan keningnya, karna Dokter Ghissam meneriakinya tanpa sebab.
"Kamu tanya kenapa Arsen !" geram Dokter Ghissam, berbicara sampai mengeraskan rahangnya.
"Iya kenapa bang Ghissam marah ?" tanya Arsenio lagi.
Dia baru bangun setelah satu bulan lebih koma, kenapa Dokter kandungan itu datang marah marah ?. Apa iya ! saat ia koma, bisa melakukan kesalahan.
"Kamu tanya kanapa aku marah ?" geram Dokter Ghissam lagi.
Jika bukan karna keadaan Arsenio yang lemah tak berdaya. Mungkin Dokter Ghissam sudah memukul Arsenio sampai babak belur.
"iya !" jawab Arsenio.
"Kenapa kamu menghamili Sirin ? Ha !!!" marah Dokter Ghissam bernada tinggi.
Arsenio terdiam, dan mengerutkan keningnya sambil berpikir.
"Hamil !" gumamnya
"Iya Arsenio..!, Sirin hamil.. dan kamu Bapak.. dari bayi itu..!" Dokter Ghissam berbicara dengan menekan nada setiap katanya.
Jangan sampai Arsenio pura pura amnesia, dan tidak mau tanggung jawab. Dokter Ghissam pastikan, akan merobah jenis kelamin Arsenio menjadi perempuan.
"Sirin dimana sekarang ?" tanya Arsenio tiba tiba kawatir.
"Dia sudah pergi membawa anakmu ke Benua lain" jawab Dokter Ghissam, lalu menghela napasnya.
Meski Arsenio salah, tapi Dokter Ghissam yidak bisa menyalahkannya sepenuhnya. Karna Sirin adiknya juga salah. Arsenio dan Sirin sama sama salah.
"Serius Bang Ghissam !" panik Arsenio," kamana Sirin pergi, dan kenapa dia pergi ?" hebohnya. Tanpa bisa melakukan apa apa.
"Papa mengirimnya ke rumah kakek, cepatlah sembuh, supaya kamu bisa menjemputnya" ujar Dokter Ghissam.
"Papa mengirimnya ke rumah kakek, untuk menyembunyikan kehamilannya. Kalau Sirin tinggal di sini dalam keadaan hamil tanpa suami, dia pasti akan menjadi bahan gunjingan. Papa tidak mau sampai Sirin mengalami cacat mental, karna menjadi buah bibir orang nantinya. Dan sedangkan kau bobo cantik di sini tanpa memikirkan apa apa" ujar Dokter Ghissam lagi.
"Aku akan segera menikahi Sirin bang Ghissam, tolong bilang sama Om Aldo untuk membawa Sirin kembali ke sini" pinta Arsenio, memohon.
Dokter Ghissam menghela napasnya, kemudian memicingkan matanya ke arah Arsenio.
"Katakan !, dimana dan kapan kalian melakukannya ?. Dan sudah berapa kali ?, tidak mungkin jika kalian hanya melakukannya sekali saja, Sirin langsung hamil." tanya Dokter Ghissam.
"Kami hanya melakukannya sekali Bang Ghissam, kami sama sama khilaf" jawab Arsenio.
Sekali tapi sampai dua ronde, batin Arsenio.
"Jangan kamu pikir, karna keadaanmu seperti ini. Kamu tidak akan mendapat hukuman, tunggu saja, aku akan menghajarmu setelah kamu sembuh" ujar Dokter Ghissam santai, meski sebenarnya ia menahan amarah.
.
.