
"Mbak ! ini ada pesanan untuk Pak Reyhan !" ujar seorang laki laki berpakaian seragam restoran.
"Oh ! buat Pak Reyhan ya !" Bu Endang yang baru keluar dari gedung perusahaan menerima makanan pesanan dari bos besar perusahaan itu.
"Sudah di bayar Bu !" ucap Karyawan restoran itu tersenyum.
"Oh ! iya Pak !" balas Bu Endang juga mengulas senyumnya.
"Kalau begitu sayan permisi Bu !" pamit laki laki itu, langsung undur diri.
"Siapa ya yang kira kira bisa di suruh mengantar makanan ini ke ruangan si bos !" gumam Bu Endang memutar pandangannya ke sekitar, namun tidak ada orang yang kelihatan.
Bu Endang pun masuk kembali ke dalam, berjalan ke arah ruangan HRD.
"Nadia ! kamu mau kemana ?."
Nadia yang hampir masuk ke dalam lif menghentikan langlahnya." Ke lantai tiga Bu ! keruangan Pak manager !" jawab Nadia.
"Tolong sekalian antarkan ini ke ruangan Pak Reyhan !" Bu Endang memberikan kantong plastik berisi kotak makanan ke tangan Nadia.
"Bos baru kita gak jadi datang hari ini Bu Endang ?" tanya Nadia.
"Gak tau !, sepertinya belum !" jawab Bu Endang, karna memang dia tidak tau, belum mendapat informasi apa apa hari ini.
"Kalau sama Pak Reyhan Mah !, pasti gak bakalan mau menatap aku. Dia itu sangat menjaga pandangannya" desah Nadia.
"Kenapa ? kamu gagal menggodanya ?" cibir Bu Endang, kepada Nadia si jomlo sejak lahir.
"Gak juga sih !" Nadia pun masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai tiga.
Sampai di lantai tiga, Nadia langsung mengetok ruangan manager perusahaan itu.
"Masuk !" sahut dari dalam.
Nadia pun mendorong pintu di depannya sampai terbuka.
"Permisi Pak !, ini berkas yang harus Bapak tanda tangani Bapak !." Nadia meletakkan beberapa berkas di atas meja Dikhra.
"Hm ! nanti saya akan tanda tangani !" balas Dikhra pokus dengan laptop di depannya.
"Pak ! ini ada makanan pesanan Pak Reyhan !"ucap Nadia.
Dikhra langsung menoleh ke arah Nadia yang masih berdiri di depan mejanya.
"Pak Reyhan sudah pulang !, makanannya taroh di sini saja !" balas Dikhra.
"Bang Dikhra !"
Dikhra dan Nadia reflek mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu yang terbuka.
"Apa ?" tanya Dikhra
"Tadi bang Reyhan pesan makanan untukku, apa belum datang ?, lapar banget nih !." Darren yang baru masuk langsung mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
Apq ini adiknya Pak Reyhan yang akan menggantikannya ?. Ya ampun ! kiut banget sih !. Manis, ganteng, tampan. Batin Nadia menatap Darren tanpa berkedip.
"Ini baru diantar !" jawab Dikhra." Cantik! tolong kasihkan makanannya ke Pak bos !" suruh Dikhra kepada Nadia.
Namun Nadia masih diam mematung di tempatnya berdiri, membuat Dikhra berdecak.
"Darren ! hati hati menjadi rebutan !" ucap Dikhra kepada bos muda tampat bin ganteng plus cute itu.
Darren hanya menanggapinya tersenyum, pintu hatinya sudah tertutup sejak lama, belum ada wanita yang berhasil membukanya.
Tok tok tok
"Halo Nadia cantik !." Dikhra mengetuk mejanya tiga kali untuk menyadarkan Nadia dari lamunannya." Nadia Mulyani Surya Ningsih !" panggil Dikhra lagi.
"Ah ! iya Pak !" Nadia tersadar dari lamunannya.
"Bos barunya ganteng ya ?" tanya Dikhra tersenyum.
"Iya Pak ! ganteng banget !" jawab Nadia spontan.
"Kalau begitu, tolong berikan makanan di tanganmu kepada Pak bos tampan unyu unyu kita" suruh Dikhra lagi.
"Baik Pak !" patuh Diana, melangkahkan kakinya ke arah sofa, meletakkan kantong plastik di tangannya di atas meja.
"Trimakasih !" ucap Darren mengulas senyumnya.
Ya ampun ! ganteng banget sih !, batin Nadia, dari tadi tidak melepas pandangannya dari wajah Darren.
"Nadia Mulyani Surya Ningsih !, silahkan keluar !" usir Dikhra karna Nadia masih berdiri di samping meja sofa.
"Ah ! I..iya Pak ! Heheheh..." cengir Nadia, langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan manager itu.
Sampai di ruangan kerjanya, Nadia langsung menghambur memeluk Jean sambil berteriak histeris seperti orang kesurupan.
"Je..!!!, aku ketemu sama bos baru kita !!!. Ya ampun Je !!! ganteng banget !!!."
"Nadia !!!" tegur Bu Endang manajamkan pandangannya ke arah Nadia yang masih memeluk Jean.
"Maaf Bu Endang ! hehehe...!" cengir Nadia melepas pelukannya dari tubuh Jean.
"Kamu sih !" tegur Jean, karna membuat Ibu personalia perusahaan itu marah.
"Bisa bisanya orang norak seperti itu lulus interviw jadi ofice HRD" cibir salah satu orang yang berada di ruang HRD itu.
"Namanya juga rejeki !."Nadia, menatap tak suka kepada karyawan bernama Melati itu.
"Jangan brisik !" tegur Bu Endang lagi.
Semuanya pun diam, sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Waktu berlalu, bel istirahat untuk makan siang pun berbunyi. Semua para karyawan keluar dari departemen masing masing. Ada yang pergi keluar untuk mencari makan, dan ada yang pergi ke kantin di lantai dua gedung itu.
"Je ! kamu bawa bekal ?" tanya Nadia.
"Iya !" jawab Jean, sambil mengeluarkan kotak makannya dari dalam laci meja kerjanya.
"Rajin banget sih kamu masak setiap hari. Sesekali kita makan bareng di kuar kek !." Nadia berbicara mengerucutkan bibirnya.
Nadia meghela napasnya,"terpaksa deh aku makan bareng sama si Yantolol !" ucapnya.
"Kamu bilang aku apa ? hm !" gemas Yanto, melingkarkan satu tangannya ke leher Nadia, menariknya keluar dari ruangan mereka.
Jean berdiri dari tempat duduknya, menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum, melihat kekonyolan kedua temannya itu. Jean pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya, berjalan ke arah tangga, naik ke lantai dua untuk makan.
"Apa lantai dua ini hanya tempat makan dan musola aja ?" tanya Darren yang baru sampai di lantai dua gedung itu di temani Dikhra.
"Iya !" jawab Dikhra, melangkahkan kakinya ke arah musola laki laki, di ikuti Darren.
Tentu Darren sebagai orang baru di perusaan itu, menjadi pusat perhatian para karyawati yang sedang berada di kantin itu. Semuanya kasak kusuk, hampir semua berbisik bisik memuji ketampanan Darren. Kecuali seorang wanita yang duduk sendiri menikmati makananya menghadap keluar kaca.
Kurang lebih lima belas menit, kedua laki laki tampan itu pun keluar dari dalam musola. Tiba tiba Darren menghentikan langkahnya, melihat seorang wanita berjalan ke arah musolla, dengan menenteng tas mukena dan kotak makan di tangannya.
Deg !
Seketika Darren merasakan jantungnya berdetak kencang. Seperti ada yang menabuhnya.
"Darren ! ada apa ?." Dikhra mengikuti arah pandangan Darren yang tak berkedip.
"Siapa nama karyawan itu ?, apa dia sudah lama bekerja di sini ?" tanya Darren tanpa melepas netranya dari wanita itu.
" Sudah lima Tahun !"jawab Dikhra.
Itu artinya Papa mengembalikan wanita itu ke kota ini setelah aku berangkat ke luar Negri. Batin Darren
Seperti ada yang memerintah, Darren melangkahkan kakinya berjalan mendekati karyawan itu.
Brukk !
Darren langsung memeluk wanita itu erat, sehingga membuat wanita itu terlonjak kaget di dalam pelukannya.
"Diamana kamu selama ini ?, aku sudah lelah mencarimu. Sampai aku putus asa, kalau aku tak kan bisa menemukanmu lagi. Aku sangat kawatir sama kamu selama ini" ucap Darren menyembuyikan wajahnya di lehel wanita yang lebih tua darinya itu.
"Maaf Pak ! aku tidak mengerti maksud Bapak !. Mungkin Bapak salah orang, aku gak mengenal Bapak. Dan tolong lepaskan saya Pak !. Semua orang ngelihatin kita" ujar wanita itu.
"Aku tak akan melepaskanmu, aku sudah lelah mencarimu !" balas Darren, semakim mengeratkan pelukannya.
"Uhuk uhuk uhuk ! Pak ! tolong aku gak bisa napas !. Lagian aku gak mengenal Bapak !." wanita itu meronta ronta di dalam pelukan Darren.
Mendengar wanita itu terbatuk batuk, Darren pun melepas pelukannya, dan memandangi wajah wanita di depannya itu dengan intens.
Ya ! wanita itu memang tidak mengenalnya, karna dulu banyak anak sekolah yang datang membeli esnya. Atau mungkin wanita itu sudah tidak mengenalinya lagi. Dan wanita itu juga tidak tau kalau Darren menyukainya, tentu wanita itu bingung dengannya.
"Apa kamu lupa dengan anak laki laki yang sering memborong es mu dulu ?" tanya Darren. Mungkin itu yang bisa membuat wanita itu mengenalnya.
Jean mengerutkan keningnya menatap wajah Darren. Laki laki di depannya itu adalah orang baru di perusahaan itu. Jean bisa menebak kalau laki laki itu adalah bos baru mereka, karna sempat melihat laki laki itu tadi berjalan bersama dengan Dikhra manager perusahaan itu. Dan Jean pun langsung teringat dengan masa lalunya yang sangat pahit dulu.
Saat suaminya meninggalkannya pergi dengan wanita lain, saat ia dalam keadaan hamil besar. Saat saat sering mendapat tindak kekerasan dari suaminya dulu, karna tidak bisa bekerja karna dalam keadaan hamil. Setelah melahirkan, ia terpaksa mencari makan sendiri untuk menghidupi kehidupannya dan putrinya dengan berjualan es. Tanpa sadar Jean meneteskan air matanya mengingat dirinya pernah kelaparan karna tidak makan seharian, padahal saat itu dia harus menyusui putrinya lagi.
"Maaf Pak ! aku tidak mengingat siapa Bapak dan tidak mengenal sama sekali siapa Bapak." Jean langsung berlari masuk ke dalam musola wanita yang berada di lantai dua gedung itu.
Sampai di dalam musola, Jean menjatuhkan tubuhnya ke lantai, menangis menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Jean mengingat bocah SMP itu, bocah yang sering memborong esnya jika tak laku semua. Bocah yang sering menaruh uang seratus ribu ke dalam termos esnya diam diam. Jean tidak akan lupa dengan bocah itu.
"Darren ! apa kamu mengenalnya ?" tanya Dikhra mengerutkan keningnya.
"Siapa namanya ?" tanya balik Darren, melangkahkan kakinya ke arah tangga, kembali ke lantai tiga, di ikuti Dikhra dari belakang.
"Namanya Jean juwita, bekerja di bagian HRD" jawab Dikhra.
"Berikan berkas berkasnya padaku !" perintah Darren.
Dikhra menghela napasnya," sifat bosinya keluar !" gumamnya.
Sampai di ruangannya, Darren langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putarnya. Dan langsung membuka laptopnya, menghidupkan layarnya. Darren pun langsung mencari data data Jean.
Jean Juwita !, batin Darren. Setelah sekian purnama, akhirnya Darren bertemu dengan wanita itu, dan mengetahui namanya.
.
.
Usai melaksanakan shalat, Jean pun kembali ke ruangan HRD. Berjalan dengan menundukkan kepalanya.
"Je ! kamu kenapa ?" tanya Nadia, melihat wajah Jean sembab.
Jean menghela napasnya, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursinya." Gak apa apa !" jawabnya.
"Je..!" tegur Nadia.
"Aku hanya sedikit kurang enak badan aja, sepertinya amandelku lagi radang" jawab Jean beralasan.
"Kamu minum yang dingin dingin ?" tanya Nadia.
"Kemarin pulang kerja, nyicip es campur milik Khanza" jawab Jean.
"Sudah tau gak boleh minum dingin, masih aja di minum." Nadia menghela napasnya
Kring...kring...kring...!
Suara telepon di meja Bu Endang berbunyi. Bu Endang yang duduk di kursinya pun langsung mengangkatnya.
"Iya ! Halo !" sapanya.
"(.........!)"
"Iya Pak !" jawab Bu Endang, dan langsung meletakkan telepon itu kembali setelah sambungannya terputus. Bu Endang pun mengalihkan pandangannya ke arah Jean.
"Jean ! kamu di suruh ke ruangan Direktur sekarang !" ucap Bu Endang.
Jean langsung menghela napasnya. Apa lagi ?, pikir Jean. Tadi saat di kantin ia sudah malu, karna tiba tiba di peluk di depan orang banyak.
"Baik Bu Endang !." Jean berdiri dari kursinya berjalan ke arah pintu.
"Je ! kamu gak boleh naksir sama bos baru kita, dia itu targetku !" seru Nadia sebelum Jean keluar pintu. Ia tidak tau kejadian apa yang terjadi kepada sahabatnya itu saat di kantin. Karna ia yang sangat jarang ke kantin.