Brother, I Love You

Brother, I Love You
68.Minta maaf



Reyhan memarkirkan kederaannya sembarangan di depan pintu keberangkatan bandara. Dan langsung bergegas turun, berlari masuk ke dalam.


"Prriiiittt...!!!!"


Ciiiittt....!


Reyhan refleks saja berhenti, mendengar suara piluit petugas bandara di tiup, karna Reyhan menyelonong masuk tanpa ijin.


"Mana tiketnya ?" tanya pertugas itu


"Maaf Pak ! saya bukan calon penumpang" jawab Reyhan.


"Silahkan anda keluar, kalau tidak ada keperluan" usir petugas itu.


"Sebentar saja Pak !, saya mohon, ijinkan saya masuk ke dalam. Adik saya mencoba kabur Pak !, membuat ibu saya sakit.Please ya Pak !" mohon Reyhan, memasang wajah minta di tonjok.


"Saya mohon Pak !, demi Ibu saya !" keluar lah air mata buaya darat si Reyhan.


"Ya sudah, tapi jangan lama lama!" ucap Petugas itu, merasa iba.


"Trimakasih Pak !" balas Reyhan, dan langsung berlari ke arah ruang tunggu calon penumpang.


Sampai di ruang tunggu, Reyhan memutar pandangannya.


"Aha ! itu dia" ucap Reyhan, melihat target buruannya berjalan di lorong dinding kaca ke arah pesawat.


Reyhan pun kembali berlari untuk mengejarnya.


"Stop Pak !"


Dua orang petugas yang berjaga di lorong jalan ke arah pesawat mencegat Reyhan untuk lewat.


"Tunjukkan tiketnya !" ucap salah satu petugas bandara itu.


Langsung saja Reyhan memasang muka dramatisnya.


"Pak saya minta tolong Pak !, ijinkan saya masuk sebentar. Adik saya mencoba kabur Pak !, saya harus mencegahnya Pak !. Karna membuat Ibu saya jatuh sakit" ucapnya memohon.


"Saya mohon Pak !, saya sudah mendapat ijin kok sama petugas di depan" mohon Reyhan lagi.


Kedua petugas itu pun saling berpandangan.


"Ya sudah ! tapi jangan lama lama !" ucap salah satu petugas itu.


"Trimakasih Pak ! mmuah..!" ucap Reyhan sumiringah, menyempatkan diri mencium pipi petugas yang mengijinkannya masuk itu, dan langsung kabur.


"Ish ish ish..!, dia pikir saya ini buah buahan ?." petugas yang mendapat kecupan dari Reyhan itu, menepis nepis kasar pipinya, merasa jijik.


Sedangkan temanya sudah mengulum senyumnya menahan tawanya jangan sampai meledak."Yakin gak suka ?, cowoknya gagah loh !" godanya.


"Amit amit, saya ini masih normal !" dengus petugas itu.


Reyhan menghentikan larinya saat sudah sampai di pintu masuk pesawat. Dan melangkahkan kakinya masuk, Reyhan pun mengembangkan senyumnya. Dan kemudian...


Hap !


"Aaa...!!!" jerit Sirin, kaget. karna ada yang menangkap tubuhnya saat ia berjalan di lorong pesawat mencari no kursinya. Sehingga membuat seluruh penumpang pesawat itu terlonjak kaget.


"Tertangkap !, mau kabur kemana ?" tanya Reyhan sumiringah, kemudian mengangkat Sirin ke pundaknya, seperti membawa karung beras, membawanya keluar dari dalam pesawat.


"Reyhan !" Dokter Aldo juga kaget.Dokter Aldo pun terpaksa mengikuti Reyhan yang membawa putrinya keluar dari pesawat.


"Turunin Sirin bang Reyhan !" teriak Sirin, meronta ronta, sambil tangannya memukul mukul punggung Reyhan.


"Kita harus menikah !" ucap Reyhan santai.


"Sirin gak mau nikah sama bang Reyhan !" balas Sirin.


"Reyhan !" panggil Dokter Aldo, karna Reyhan membawa kabur putrinya.


Reyhan tidak mengindahkannya, malah ia mempercepat langkahnya.


"Trimakasih Pak ! adik saya sudah ketemu !" ucap Reyhan saat hendak melintasi kedua petugas bandara yang berjaga di lorong arah pesawat.


"Reyhan !!!" panggil Dokter Aldo lagi.


"Kaburrrrr......!!!!" seru Reyhan, berlari karna Dokter Aldo mengejarnya.


"Bang Reyhan !!! turunin Sirin !!!, lepasin Sirin !!!."


"Gak !"


"Turunin Sirin bang Reyhan !!!, Sirin malu !!!."


"Gak !"


Sampai di depan bandara, Reyhan langsung memasukkan Sirin ke dalam mobilnya yang masih terparkir sembarangan. Mendudukkannya di kursi penumpang depan dan langsung menutupnya. Tapi malah Queen membukanya dan langsung memeluk Sirin menangis.


"Sirin !" tangis Queen."Kenapa kamu mau pergi meninggalkanku ?, meninggalkan kami ?."


"Kenapa kamu mau membawa kabur keponakanku ?" tanya Queen lagi.


Sirin tidak menjawab, ia hanya menangis dan membalas pelukan Queen.


"Kalau Arsen gak bangun, kan ! ada bang Reyhan, ada bang Elang" ucap Queen seenak jidatnya. Tanpa Queen ketahui, Diana yang sudah masuk ke dalam mobil kembali, memanyunkan bibirnya.


"Sayang !, sudah ya nangisnya !, dari tadi kamu menangis terus. Gak bagus buat bayi kita sayang !." Orion menarik Queen, supaya pelukannya dari Sirin lepas.


"Jangan menangis lagi ya !, Sirin 'kan gak jadi pergi. Pesawatnya sudah terbang !" bujuk Orion, menarik Queen ke dalam pelukannya, kemudian menghapus air mata Queen dengan jempolnya.


Dokter Aldo yang baru sampai di depan bandara, menghela napas lelahnya, habis berlari mengejar Reyhan.


"Om Aldo pulang pakai taxi aja, mobilnya sudah gak muat" ucap Reyhan kepada Dokter Aldo, yang masih bernapas ngosngosan."Bang Orion sama Kakak ipar kecil juga ya !, pulangnya naik taxi" ucapnya lagi, dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi, dan langsung melajukan kenderaannya.


"Dasar adik durhaka !"dengus Orion, karna Reyhan meninggalkan mereka.


Orion pun membalik tubuhnya ke arah Dokter Aldo yang berdiri di samping mereka. membiarkan Queen berada di dalam pelukannya.


"Kami sudah tau semuanya Om !" ucap Orion.


Dokter Aldo menghela napasnya, dan menajamkan pandangannya ke wajah Orion.


Dari mana mereka tau ?, apa Ghissam yang memberitahunya ?, batin Dokter Aldo.


"Papa yang menyuruh kami menjemput Sirin dan Om kesini !" ucap Reyhan lagi, melihat Dokter Aldo diam saja.


Dasar guru sialan !, maki Dokter Aldo dalam hati. Ia yakin, mantan gurunya itu, sudah menaro sesuatu di dalam kamar rawat Arsenio. Sejenis perekam suara atau kamera, sehingga mantan gurunya itu mendengar pembicaraannya dengan Sirin.


"Arsen sadah sadar Om !" ucap Orion lagi.


"Sadar ?"


"Iya Om !"


"Kapan ?, terakhir kali kami melihatnya sebelum berangkat ke bandara, Arsen belum sadar" tanya Dokter Aldo.


"Mungkin setelah Om dan Sirin pergi" jawab Orion.


"Awas saja !, aku akan memberi pelajaran sama anak itu" gemas Dokter Aldo." Ayo kita pergi !" ajak Dokter Aldo. Berjalan ke arah taxi yang mangkal si sekitar bandara. Orion dan Queen pun mengikutinya.


.


.


Mama Bunga membuka ruangan perawatan Arsenio, dan langsung masuk, berlari ke arah Arsenio yang setengah berbaring di atas brankar.


"Arsen ! kamu sudah sadar nak" ucap Mama Bunga menangis terharu, kemudian memgecupi seluruh wajah Arsenio.


"Mama !" balas Arsenio dengan suara lemah.


"Mama sangat kawatir sama kamu sayang !, akhirnya kamu sadar juga" ucap Mama Bunga lagi.


"Papa !" ucap Arsenio lagi, melihat Papa Arya berdiri di samping Mama Bunga.


Papa Arya tersenyum, matanya berkaca kaca, tak bisa berkata kata, tangannya pun terulur menyentuh kepala Arsenio yang masih terbungkus kain kasa, mengusapnya lembut.


Tiba tiba Mama Bunga menghentikan tangisnya, dan melepas pelukannya dari tubuh Arsenio, menatap tajam Arsenio.


"Siapa yang memberimu ijin mengawini Sirin ? ha !" gemas Mama Bunga, ingin rasanya melayangkan tinju ke perut Arsenio, jika saja Arsenio sehat wal'afiat.


"Sepertinya kamu minta Mama potong burung balam mu itu" ujar Mama Bunga lagi.


"Jangan dong Ma !, nanti Arsen gak bisa berkembang biak gimana dong !" balasnya tanpa merasa berdosa.


"Ya ampun Arsen !, kamu itu masih kecil, tapi sudah genit seperti Papamu !" ucap Mama Bunga lagi. Ingat Mama bunga ada gesrek gesreknya.


"Sayang ! kok aku di bawa bawa ?" sungut pria tua di samping Mama Bunga itu. Setiap anak anak mereka melakukan kesalahan, selalu saja ratu sejagat ikut menyalahkannya.


"Aaryan ! diapakan bagusnya anak ini ?" tanya Mama Bunga sama suaminya.


"Mungkin sekarang Papa tidak akan menghukummu. Tapi nanti setelah kamu sembuh !" ucap Papa Arya kepada Arsen, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sofa yang ada di ruangan itu.


Ceklek !


Pintu ruangan itu terbuka, refleks mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu melihat siapa yang datang.


"Arsen !"


"Sirin !" lirih Arsen melihat Sirin berlari ke arahnya.


"Kenapa lama sekali baru bangun !" tangis Sirin, memeluk Arsenio.


"Maaf sudah membuatmu kawatir !" balas Arsenio, membalas pelukan Sirin.


"Gantian ! gantian !" ucap Reyhan menarik Sirin dari pelukan Arsenio, membuat Sirin mendengus kesal, dan terpaksa menjauhi Arsen.


Reyhan pun memeluk Arsenio, kemudian menghujani wajah Arsenio dengan ciumannya.


"Bang Reyhan pikir aku buah buahan !" kesal Arsenio. karna Reyhan menciumi wajahnya.


"Sstt..! kamu adikku, apa salahnya kucium ?" balas Reyhan.


"Tapi aku sudah besar, bukan anak kecil lagi, gak usah pake cium cium, Arsen gak suka !" dengus Arsenio. Abang Reyhannya itu, selalu saja sifatnya lain dari pada yang lain.


"Hai Arsen !" sapa Diana berdiri di samping Reyhan.


"Masih yakin suka sama bang Reyhan ?. dia itu suka cium laki laki" tanya Arsenio bernada mengejek, matanya melirik ke arah Reyhan.


"Hei bocah ! abangmu ini masih normal, di jamin tidak belok. Itu refleks terjadi kalau terlalu senang !" bantah Reyhan. Enak saja adiknya itu mengatainya hosmos.


Buarrr !


Tiba tiba pintu ruang perawatan itu terbuka dengan kasar. Membuat mereka terlonjak kaget.


"Arsen !!!!" teriak Dokter Aldo masuk keruangan perawatan Arsen bersama Orion dan Sirin.


"Bangun kamu Arsen !"


Bukh !


"Aw !" ringis Arsen, karna mendapatkan bogeman di rahangnya.


"Om percaya sama kamu selama ini Arsen !, malah kamu merusak putriku !."


"Uhuk uhuk uhuk ! lepas Om !" ucap Arsen terbatuk, karna Dokter Aldo mencekik lehernya.


"Kenapa kamu menodai putri Om ! Arsen !" tangis Dokter Aldo melepas tangannya dari leher Arsenio, Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan sedihnya lagi.


"Sirin putri kesayangan Om !, kamu tau itu !" ucap Dokter Aldo lagi, menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Sepertinya ia sudah lelah, dan tak kuat lagi menghadapi cobaan dan ujian yang terus bergilir menimpa hidupnya.


Mama Bunga yang kasihan melihat sahabat kecilnya itu menangis tak berdaya. Berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya mendekati Dokter Aldo. Mama Bunga menurunkan tubuhnya, memeluk Dokter Aldo. Mama Bunga ikut menangis, kasihan dengan sahabat kecilnya itu.


Dulu Dokter Aldo lah yang sering menenangkannya ketika bersedih. Orang yang paling mengerti dan memahaminya.


"Maafkan anakku Al !" ucap Mama Bunga mengusap usap punggung Dokter Aldo.


"Hidupku sudah hancur Bubu !" tangis Dokter Aldo.


Biarlah dia dibilang cengeng menjadi laki laki. Hari ini ia benar benar sudah lelah dengan masalah masalah yang di hadapainya selama ini.


"Sssttt...!, kamu tidak boleh berkata seperti itu Al !. Ini semua cobaan, Tuhan lagi menguji kita" ucap Mama bunga menenangkan.


"Rumah tanggaku sudah hancur Bubu !, kehidupan putriku juga sudah hancur !" lirih Dokter Aldo.


"Sabar Al !, semua pasti ada hikmahnya" ucap Mama Bunga lagi menenangkan.


"Maaf Om !, Arsen khilaf !, Arsen akan bertanggung jawab Om !, Arsen akan segera menikahi Sirin" ucap Arsenio, penuh rasa bersalah dan iba melihat Ayah dari kekasih hatinya itu menangis pilu.


"Itu memang harus !" sambar Orion, menatap marah kepada Arsenio.


Arsenio diam tidak membalas ucapan abang tertuanya itu. Takut tongkat abangnya itu melayang kepadanya.


Mama Bunga membantu Dokter Aldo berdiri dari lantai. Menuntunnya berjalan ke arah sofa, dan mereka pun sama sama duduk.


"Sayang !" tegur Papa Arya, cemburulah hatinya, melihat ratu sejagat perhatian kepada si Dokter cabul. Papa Arya pun menarik Mama Bunga supaya lebih dekat ke tubuhnya.


"Aku hanya milikmu Aaryanku sayang !" ucap Mama Bunga, untuk mengobati rasa cemburu laki laki tua di sampingnya.


"Jangan terlalu perhatian kepadanya, aku cemburu" jujur Papa Arya.


Jika orang lain cemburu, akan menyerang lawannya. Kalau Papa Arya berbeda, dia akan semakin mengekep Mama Bunga, ketika cemburunya datang.


Mama Bunga pun mengusap kepala suaminya yang bersandar di bahunya. Kepala yang sudah mulai di tumbuhi rambut putih itu. Lalu mengecup singkat keningnya.


Setelah berbincang bincang membahas masalah yang terjadi kepasa kedua remaja yang sudah salah melangkah itu. Mereka pun memutuskan untuk mensegerakan pernikahan Sirin dan Arsen, tentunya setelah Arsen sembuh. Mengingat Sirin yang sudah berbadan dua.


"Sayang ! ayo kita pulang !" ajak Orion kepada Queen, melihat Queen sepertinya ke lelahan.


Queen pun menganggukkan kepalanya, kemudian berpamitan kepada kedua mertuanya dan yang lainnya. Sepertinya ia memang butuh istirahat, karna tubuhnya terasa lelah, kehabisan energi karna lama menangis.


.


.


#**Semangatnya buat othor mana ?,


# Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komen, kritik dan sarannya..Okeh** !