
Kini Queen dan Orion duduk duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari beton, di sekitaran taman kampus, di bawah pohon yang rindang. Queen menyuapkan asinan mangga mengkal yang di pesan Orion via online ke mulutnya dan bergantian ke mulut Orion.
"Bang Orion ! Queen ingin di tanah yang sedikit jurang itu, di tanami pohon cemara udang. pasti kelihatan bagus. Setelah semaranya tinggi, nanti di buat bangku di sana, pasti terasa sejuk duduk duduk di sana" usul Queen, menyampaikan imajinasinya.
Orion tersenyum, sambil tangannya mengusap kepala Queen dari belakang." Bagaimana kalau Queen saja yang mendesain taman kampus ini ?. Supaya Queen bisa membuat taman kampus ini sesuai keinginan Queen. Nanti abang tinggal memberikan gambar desainnya kepada kontraktor yang mengelola pertamanannya" tanya Orion.
"Serius bang ?" tanya Queen sumiringah.
"Iya sayang !, kampus ini juga milikmu . Kamu boleh menuangkan ide menggambarmu di taman ini" jawab Orion. Mengetahui Queen sangat suka menggambar taman, dan menata taman.
"Kalau begitu, pulang dari sini, kita mampir di perpustakaan. Queen harus membeli alat menggambar" ucap Queen.
"Iya istriku yang cantik !, Ayo cepat habiskan asinannya. Kamu harus istirahat lagi. Abang gak mau kamu dan bayi kita kecapean" balas Orion.
"Gak mau !, Queen masih pengen di sini. Di sini udaranya segar" bantah Queen. Selama dua bulan, ia sudah bosan mengurung di diri di kamarnya.
Queen pun menolehkan pandangannya ke atas pohon." Bang Orion !, sepertinya di sini cocok di buat ayunan. Buatin ya !" ucap Queen, saat melihat dahan besar di atas mereka.
Orion pun menoleh ke atas." iya sayang !" jawabnya.
"Apa bang Orion sudah mengenal calonnya bang Reyhan ?" Queen mengarahkan pandangannya ke wajah Orion.
"Belum !" jawab Orion," bahkan Papa sama Mama juga belum mengenalnya" ucapnya lagi.
"Kalau semua sudah menikah, rumah itu akan sunyi. Apa kita pindah aja ya ke rumah Papa Arya sama Mama Bunga. Atau gak kita tinggal di rumah Papa yang di sebrangnya. Kasihan Mama Bunga, satu satu anaknya minggat dari rumah" usul Queen.
Orion mengelus kepala Queen sembari tersenyum. Orion sangat senang dan bersyukur, memiliki istri sebaik Queen. Istri yang menyanyangi orang tuanya. Peduli dengan orang tuanya.
"Tidak perlu sayang !, kita bisa sering sering menginap di sana. Rumah itu akan terasa sempit dan kamarnya tidak cukup jika anak anak kita sudah lahir nanti. Dan abang rasa, Reyhan tidak bisa jauh dari Mama, dia yang akan tinggal di rumah itu" ucap Orion.
"Apa kira kira istri bang Reyhan nanti mau ?" tanya Queen lagi.
"Abang gak tau sayang !, kita lihat saja nanti. Sekarang ayo kita pulang, bukankah kita harus singgah lagi membeli alat menggambar ?" ajak Orion. Mereka sudah lama di area kampus itu, dan hari juga sudah beranjak sore.
"Gendong !" maja Queen, mengulurkan kedua tangannya ke arah Orion yang sudah berdiri di depannya.
"Manja banget sih istri abang ini !" ucap Orion, kemudian menggendong tubuh Queen. Queen pun langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Orion, sembari tersenyum senang.
Cup !
Satu kecupan pun mendarat di pipi Queen. Kemudian Orion melangkahkan kakinya ke arah kenderaan mereka di parkirkan.
Sampai di parkiran, Orion menurunkan Queen dari gendongannya. Kemudian membukakan pintu untuk Queen dan menuntunnya masuk. Setelah menutup pintu kembali, Orion pun menyusul Queen masuk ke dalam mobil. Dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.
.
.
"Pak ! apa Bapak tau ? dimana rumah penjual es yang di sini ?. Kemarin saya belum membayar es saya, karna gak ada kembaliannya" tanya Darren berbohong, kepada si Bapak penjual telur gulung yang berjualan di samping wanita penjual es lilin itu.
"Rumahnya Bapak gak tau dek !. Bapak hanya tau dia tinggal di permukiman dekat lampu merah sana" jawab si Bapak penjual itu.
"Gitu ya Pak !" balas Darren, mendesah pasrah.
Sudah tiga hari wanita cantik beranak satu itu tidak datang berjualan. Entah kemana wanita itu pergi. Darren pun melangkahkan kakinya meninggalkan si Bapak penjual telur gulung itu.
Kamu kemana ?, kemana aku harus mencarimu ?. Apa kamu baik baik saja ?, aku sangat kawatir, takut kamu tidak baik baik saja. Tidak ada yang menolongmu. Kenapa kamu mencuri hati ini, lalu kamu membawanya pergi. Bahkan aku belum sempat tau siapa namamu, kamu sudah menghilang. Aku mencintaimu, meski aku tau ini tak wajar. batin Darren, kemudian menghela napas beratnya.
Setelah adiknya Bilal keluar dari gerbang sekolah. Mereka pun menaiki angkot untuk pulang ke rumah.
Pa ! kanapa Papa menghilangkan sosok wanita itu dari pandangan Darren Pa ?. Jika Papa tidak mengijinkan Darren mendekati wanita itu, setidaknya, biarkan Darren tetap bisa melihatnya Pa !. Batin Darren
.
.
"bagaimana ?" tanya Papa Arya kepada seseorang melalui telepon.
"Sudah beres Pak !" jawab dari sebrang sana.
"Jangan sampai Darren bisa menemukan wanita itu. Bilang sama wanita itu, jangan kembali lagi ke kota ini apa pun alasannya" ucap Papa Arya kepada orang yang di suruhnya memindahkan wanita itu ke kota lain.
"Saya sudah mengatakannya Pak Arya" jawab pria itu.
"Bagus suruh orang mengawasi wanita itu. Jangan sampai dia menipu kita. Dan diam diam kembali ke kota ini. Saya tidak mau masa depan anak saya hancur karenanya" ucap Papa Arya lagi.
"Baik Pak !" patuhnya.
"Ya sudah !, kalau begitu saya matikan teleponnya" ucap Papa Arya, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Papa Arya kembali duduk ke kursinya, yang ada di ruangannya di SMA HARAPAN.
Maafin Papa Darren !, Papa melakukannya demi kebaikan kamu. Perjalanan hidupmu masih panjang nak !. Papa tidak mau masa depanmu hancur karna mencintai wanita itu. Papa ingin kamu sukses nak !. Jika memang wanita itu jodohmu, pasti kamu akan bertemu dengannya. Bukan sekarang waktu yang tepat. Tapi nanti ! setelah kamu benar benar dewasa. Batin Papa Arya.
Papa Arya membereskan meja kerjanya, kemudian berdiri dari kursinya untuk pulang, Karna hari sudah sangat sore.
Saat Papa Arya berjalan ke arah parkiran mobilnya. Handphonnya berbunyi, Papa Arya segera mengeluarkannya dari saku celananya. Setelah mendial tombol hijau di layar handphonnya, Papa Arya pun menempelkannya ke telinganya.
"Halo ! selamat sore !" sapa Papa Arya.
"Selamat sore Pak Arya !" balas seorang pria dari sebrang telepon.
"Iya ada apa pak Polisi ?" tanya Papa Arya.
"Anggota kepolisian kami sudah menemukan nyonya Zoya. Dia dalam keadaan tidak waras, tapi ada yang janggal. Nyonya Zoya selalu menyebut nyebut nama Orion" lapor Polisi itu.
Papa Arya pun terdiam, dan menautkan alisnya. Berpikir kenapa Zoya menyebut nyebut nama Orion.
"Sebelah kakinya memar dan bengkak, setelah dilakukan visum. Nyonya Zoya juga korban pelecehan seksual" lapor polisi itu.
"Kalian menemukannya di mana ?. Dan sekarang Zoya dimana ?" tanya Papa Arya.
"Di Negara XXX, dan sekarang anggota kami lagi mengurus kepulangannya ke Indonesia" jawab Polisi itu.
Papa Arya memijit pangkal hidungnya, karna merasakan tiba tiba kepalanya pusing. Papa Arya bisa menebak, Kalua Orion sudah bermain hakim sendiri, memberikan hukuman kepada Zoya.
"Trimakasih atas laporannya Pak !" ucap Papa Arya dan langsung mematikan teleponnya sepihak.
Papa Arya pun langsung melakukan panggilan kepada Orion.
"Assalau alaikum Pa !, ada apa ?" sapa Orion dari sebrang telepon.
"Temui Papa sekarang juga. Papa tunggu di SMA HARAPAN, di ruangan Papa" perintah Papa Arya langsung mematikan sambungan teleponnya.
.
.