Brother, I Love You

Brother, I Love You
57. Bersama hingga tua



Dokter Aldo, mendudukkan tubuhnya di kursi taman samping rumahnya, yang sebelahan dengan rumah Mama bunga, peninggalan Kakek Samsul. Dokter Aldo memandangi rumah Mama Bunga, yang sekarang hanya di tempati Kakek Fariq dan Nenek Indah. Begitu banyak kenangan mereka di rumah Bunga taupun di rumahnya. Dokter Aldo tidak akan bisa menghalus kenangannya bersama Bunga. Dulu ia pergi menghilang, karna tidak akan sanggup meluhat Bunga berdampingan dengan pria lain. Sekarang ! apakah juga, tiba tiba akan menghilang dari para sahabat sahabatnya itu ?.


Dokter Aldo menangis, kenapa ia tak mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga ?. Kenapa istrinya tidak dapat menerima masa lalunya setelah sekian Tahun mereka menikah ?. Sekarang anak anak meraka sudah besar dan dewasa, masih saja istrinya Shasa dengan sikap egonya yang cemburu tak jelas.


Dokter Aldo mengusap wajahnya kasar, terdengar isak tangis keluar dari bibirnya. Kepada siapa ia harus mengadu, Ibunya kini sudah tidak ada. Dan Ayahnya sudah sibuk dengan keluarga barunya. Jika bukan karna memikirkan anak anak mereka, mungkin Dokter Aldo sudah meninggalkan istrinya yang sudah tujuh Tahu tidak memberikan haknya sebagai suami.


Seharusnya kamu membuatku semakin jatuh cinta kepadaku setiap harinya Sha !. Bukan membiarkan cinta yang sempat tumbuh di hatiku, perlahan terkikis dengan sikapmu. Batin Dokter Aldo.


Sudah lama sekali ia tidak pernah menikmati waktu kebersaaan dengan para sahabatnya itu. Selain karna ia sibuk di Rumah Sakit, Istrinya Shasa selalu mengajak ribut, jika ia ingin pergi.


.


.


🎵Memandangmu.. walau selalu..


Tak akan penah beri jemu di hatiku..


🎵Memelukmu..walau selalu...


Tak akan pernah ingin aku melepasnya..


🎵Mencari...apa yang aku cari...


Mencari...rindunya hatiku..🎶🎶🎶


Di bawah temaran cahanya rembulan di temani bintang bintang bertaburan di langit. Queen menyanyikan sebuah lagu romantis, di iringi gitar jikustik oleh Orion yang duduk di sebuah kursi bersama Queen duduk di sampingnya. Rona bahagia sangat ketara di wajah Queen dan Orion, mereka sungguh sangat bahagia.


"Rasanya baru aku melahirkan mereka, tak terasa sudah pada besar semua" ucap Mama Bunga dengan wajah berbinar.


"Hei ! kamu pikir semua mereka anakmu ?. Queen, Ghaisan dan Arcila, aku yang melahirkannya!" sambar Mama Vani yang kebetulan duduk di samping Mama Bunga.


Mama Bunga mencebikkan bibirnya?," aku berbicara pada suamiku, yang kubicarakan pun anak anak kami" kesal Mama Bunga.


"Tadi kamu bilang mereka, mereka itu semua, sebagian anak anakku dan ada juga anak Leo dan Tari, dan juga anak anak Aldo" jelas Mama Vani.


"Terserah mulutku mau bicara apa !" geram Mama Bunga.


"Ayo Mama ! pindah duduknya!" ujar Papa Gandi, menarik Mama Vani supaya mereka bertukar posisi duduk. Melihat istrinya dan Mama Bunga, zona siaga satu.


Mama Bunga menghela napas panjang, mengingat hanya Dokter Aldo yang tidak hadir di tengah tengah mereka. Aldo tidak pernah lagi ngumpul bareng bersama mereka sejak lama. Karna istrinya yang cemburu kepadanya.


"Sayang ! aku juga cemburu, kalau kamu memikirkan mantanmu itu !" sungut Papa Arya menjatuhkan dagunya di bahu Mama Bunga. Papa Arya bisa membaca pikiran Mama Bunga yang mengela napas panjang. Pasti memikirkan bagaimana nasib rumah tangga sahabat kecilnya itu.


"Aku milikmu Aaryankku sayang !" rayu Mama Bunga, membuat luluh lah hati pria yang sudah berusia lima puluhan itu.


Jeng jeng jeng.....🎵🎶🎵🎶🎵jreng....🎶🎶


Orion menghentikan permainan gitarnya, setelah Queen selesai menyayikan sebuah lagu cinta untuknya. Orion mengambil sebelah tangan Queen lalu mengecupnya.


"I lopiu " ucap Orion tersenyum ke arah Queen.


"I lopiu pull !" balas Queen berbicara sampai bibirnya berbentuk huruf O.


"Sini gitarnya,sekarang giliran dede Reyhan dulu yang bermain gitar" ucap Reyhan sembari mengambil gitar dari tangan Orion.


Jreng...🎶🎶🎶


Langsung saja Reyhan mencari nada yang pas untuk memgiringi suara Diana untuk bernyanyi.


"Ayo Didi sayang ! keluarkan suara emasmu !" ucap Reyhan kepada Diana kekasih barunya.


"Diana gak bisa nyanyi bang Rey, Suara Diana jelek bang" balas Diana. Ia benar tidak pandai bernyanyi, ia hanya pandai ngedans.


Ryahan mengerucutkan bibirnya" yah ! kita kalah romantis dong sama mereka" ucapnya lemah.


"Yang gak bisa tampil mundur!" Dokter Ghissam tiba tiba saja menyambar gitar dari tangan Reyhan.


"Mama ! Papa ! Ghissam mengambil gitar Reyhan..!" seru Reyhan mengadu kepada orang tuanya. Membuat mereka semua memutar bola mata malas melihat Reyhan.


"Ayo Kania ! sini duduk di samping Babang Tampan !" ujar Dhokter Ghissam, menarik tangan Kania supaya duduk di sampingnya.


Dokter Ghissam pun bermain gitar dan menyanyikan sebait lagu cinta untuk Kania, yang langsung di sambung Kania dengan lirik bait berikutnya. Suara merdu keduanya pun mampu menciptakan suasana romantis di taman belakang itu. Meski ada rasa sedih dihati Gissham dengan ketidak hadiran kedua orang tuanya di tengah kebersamaan para sahabat Papanya Aldo. Ghissam sudah besar, ia sudah mengerti apa yang terjadi dengan ke dua orang tuanya. Tapi ia pura pura tidak tau dan baik baik saja, begitu juga dengan adiknya Sirin.


Semua bertepuk tangan setelah Dokter Ghissam dan Kania mengakhiri lagu romantis mereka.


Kini Giliran Arsenio dan Sirin unjuk kebolehan bernyanyi di iringi gitar. Setelah itu bergilir di gantikan Calixto dan Nimas. Tidak mau kalah dengan anak anak muda, para orang tua pun ikut unjuk kebolehan mereka. Membuat acara kebersamaan mereka malam itu terasa meriah.


Dan sekarang kini giliran Papa Arya dan Mama Bunga yang akan menghibur semuanya. Mereka berdua bernyanyi bersama dengan Papa Arya yang memetik gitarnya.


"Papa Arya masih terlihat ganteng ya ! meski tak muda lagi" puji Queen melihat Papa mertuanya itu terlihat semakin berkarisma di usianya yag sudah matang.


"Makanya suamimu ini ganteng sayang !" balas Orion bangga, memuji diri sendiri.


"Aku ingin kita seperti orang tua kita, bersama hingga tua" ucap Queen lagi.


Orion menarik Queen untuk bersandar di dadanya, tangannya pun mengusap usap punggung Queen dari belakang." Semua pasangan suami istri pasti berharap seperti itu, tidak terkecuali aku. Trimakasih ya sudah mencintai abang dengan tulus." balas Orion, Queen mendongakkan kepalanya ke wajah Orion, kemudian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Ayo kita istirahat, malam hampir larut, nanti kamu masui angin" ajak Orion, dan Queen menganggukkan kepalanya lagi.


Mereka pun melepas pelukan mereka, tanpa berpamitan kepada para tamu tamu mereka, mereka pergi begitu saja masuk ke dalam rumah.


Sampai di dalam kamar mereka, Queen dan Orion pun sama sama masuk ke dalam kamar mandi, untuk mencuci muka, dan sikat gigi. Setelah selesai, mereka pun langsung ke luar, dan naik ke atas tempat tidur.


"Bang Orion !" panggil Queen, sambil memperbaiki posisi tidurnya, menghadap Orion dan memeluknya.


"Apa ?"


"Sebentar lagi aku lulus sekolah, tapi aku masih bingung mau melanjutkan ke Universitas mana" jawab Queen, tangannya sibuk bermain main di dada Orion.


"Apa kamu langsung ingin lanjut kuliah ?, gak nunggu bayi kita lahir dulu ?" tanya balik Orion, menajamkan wajahnya ke arah Queen.


"Sepertinya Queen langsung lanjut aja, biar cepat selesai sekolahnya" jawab Queen.


"Tapi abang kawatir kamu kecapean, kalau kamu kuliah dalam keadaan hamil" ucap Orion.


"Kalau Queen nanti kecapean, Queen bisa ngambil cuti" jawab Queen.


"Ya udah ! terserah Queen aja, tapi nanti harus hati hati, jaga bayi kita dengan baik" ujar Orion, sambil tangannya mengusap usap kepala Queen.


"Trus ! bagusnya aku kuliah dimana ?" tanya Queen lagi.


"Di tempat kuliah abang yang dulu aja, itu bagus universitasnya dan juga tidak jauh dari rumah kita" jawab Orion.


"Coba universitas yang bangun sudah selesai, Queen sudah kuliah gratis disana" ucap Queen.


"Gratis bagi siswa berprestasi" jawab Orion.


"Queen juga 'kan siswa berprestasi" Queen berbicara dengan mengerucutkan bibirnya.


"Berprestasi dari mana ?, kamu aja gak pernah mendapatkan juara" cibir Orion. Karna Queen memang tidak pernah mendapat peringkat tiga besar.


"Juara nge dans dan menyanyi !" jawab Queen.


"Juara nyayi di pesta tujuh belasan !" cibir Orion.


"Enak saja !" sanggah Queen tidak terima." Jika saja bang Orion mengijinkanku waktu itu ikut lomba kontes menyanyi ke Jakarta, mungkin Queen sudah jadi artis terkenal sekarang" lanjut Queen yang pernah bercita cita ingin menjadi artis dan penyanyi terkenal.


"Abang gak mau istri abang menjadi artis" jawab Orion.


"Kenapa ?" tanya Queen.


"Karna kamu milik abang, untuk abang, bukan untuk publik"jawab Orion." ayo tidur, jangan ngajak ngobrol lagi, abang sudah mulai ngantuk."


Queen mengerucutkan bibirnya, ia belum mengantuk, malah di suruh tidur.


.


.