
"Pah ! Ma !" panggil Orion.
Kedua orang tua dan adik adiknya refleks sama sama menoleh ke arahnya.
"Orion ingin melanjutkan kuliah keluar Negri Pah ! Ma !" ucap Orion.
Hening
Hening
Hening
Arya dan Bunga saling berpandangan cukup lama. Kemudian kembali sama sama menoleh ke arah Orion.
"Orion membutuhkan suasana baru Ma ! Pah !, dan Orion juga ingin mencari wawasan di luaran sana !" ucap Orion lagi.
"Apa karna pertunanganmu yang batal ?" tanya papa Arya. Orion diam tidak menjawab, bukan karna itu saja, tapi Queenlah alasan terbesarnya ingin pergi jauh.
Arya menghela napasnya, merasa tebakannya benar.
"Kalau Mama mu mengijinkan, Papa juga mengijinkan !" ucap Papa Arya.
Bunga menajamkan pandangannya ke wajah Orion dengan mata berkaca kaca. Rasanya ia tak sanggup jika harus berjauhan dengan anak yang mana pun.
"Setiap hari nanti Orion akan mengabari Mama !. vidio cal sama Mama !" ucap Orion, mengerti dengan tatapan Mamanya.
"Setiap ada kesempatan nanti Orion akan pulang Ma !" bujuk Orion lagi.
"Abang gak boleh pergi !" tangis Darren tiba tiba, berlari ke arah Orion dan langsung memeluk pinggang Orion.
"Kalau nanti abang sudah lulus, abang pasti pulang. Hanya sebentar aja, sesekali nanti abang bawa Darren jalan jalan ke sana. Nanti kita di luar Negri, sama sama main salju." bujuk Orion kepada adiknya yang masih kelas satu SD itu.
"berapa hari abang perginya ?" tanya Darren.
"Mungkin lima hari !" jawab Orion, untuk mengatakan lima Tahun.
"Segini ?" Darren mengangkat satu tangannya, menunjukkan kelima jarinya kepada Orion.
"He um !" Orion menganggukkan kepalanya, seraya mengusap kepala Darren.
Kembali Orion mengalihkan pandangannya kepada sang Mama." Ma..!" bujuknya.
"Kapan rencanamu berangkat ?" tanya Bunga. Anaknya sudah besar, anaknya berhak untuk menentukan langkah hidupnya, mengepakkan sayapnya kemana ingin terbang. Sebagai orang tua, tugasnya hanya perlu mengawasinya, jangan sampai anaknya terjatuh ke lembah yang suram.
Orion terdiam sebentar, lalu menjawab." Besok Orion akan mengurus surat surat kepindahan Orion Ma. Setelah semua beres, Orion langsung berangkat."
"Baiklah Mama ijinkan" ucap Bunga.
"Trima kasih Ma !" balas Orion, mengembangkan senyumnya.
.
.
Bunga mengetok pintu ruang perawatan Queen seraya mengucap salam. Setelah mendengar sahutan menyuruh masuk dari dalam, Bunga pun mendorong daun pintu di depannya, dan langsung melangkah masuk, bersama suami tampannya.
"Apa terlalu besar kesalahan kami, sampai kalian tidak mengabari kami kalau Queen sakit ?. Bahkan pinda rumah pun kalian diam diam, padahal rumah kita berhadapan. Apa itu artinya kalian ingin mengakhiri hubungan persahabatan kita ?" tanya Bunga kepada Gandi dan Vani, meneteskan air matanya.
"Sayang !" Arya mengusap usap bahu istrinya, untuk menenangkannya.
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putriku !" jawab Gandi.
"Dengan cara memutuskan silaturrahmi di antara kita ?" tanya Bunga lagi.
"Aku ingin Queen hidup tanpa bayang bayang Orion" jawab Gandi.
Bunga menggeleng gelengkan kepalanya, mendengar jawaban sahabat lamanya itu. Tak ingin berbicara lagi, Bunga membalik badannya ke arah brankar. Bunga mendekati Queen yang terbaring lemah. Bunga mencium pipi dan kening Queen, sambil tangannya mengusap ujung kepala Queen, kemudian berlalu dari ruangan itu.
"Saya minta maaf sebesar besarnya atas nama keluargaku. Aku masih berharap di hari esok, hubungan kita bisa seperti semula. Kalian tau sendiri, aku dan istriku tidak memiliki saudara, Kalianlah selama ini saudara kami, berharap selamanya seperti itu. Kalau begitu saya permisi, saya Doakan semoga Queen segara sembuh." ucap Arya sekalian pamit, kepada kedua mantan muridnyanya itu.
Arya membalik tubuhnya melangkahkan kakinya ke arah brankar. Arya mengusap kepala Queen dengan sayang. Setelah mendaratkan satu ciuman di kening Queen, Arya pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Queen. Di sana istrinya menangis duduk di bangku tunggu.
Arya mendekati istrinya yang menangis terisak. Mendudukkan tubuhnya di samping isyrinya, kemudian memeluknya.
"Tenanglah ! semuanya pasti kembali baik baik saja. Mungkin mereka terlalu mengkawatirkan Queen. Mereka orang baik, pasti nanti hati mereka luluh. Yuk kita pulang, besok kita kesini lagi menjenguk Queen." Arya menghapus air mata Bunga, kemudian membatunya berdiri dan menuntunnya berjalan.
Di ruang perawatan Queen, Vani hanya bisa menangis terisak. Suaminya itu sudah berobah menjadi sosok keras kepala.
"Sayang ! kenapa kamu terus menangis ?, aku melakukan itu untuk kebaikan Queen." ucap Gandi kepada Vani.
"Ya ! aku tau !, tapi apa harus dengan cara seperti itu. Apa harus memutuskan hubungan dengan mereka. Queen juga sakit itu karna kamu terlalu keras kepadanya !. Queen sampai ketakutan melihatmu. Karna kamu terus meninggikan suaramu kapadanya" ujar Vani.
"Dan Queen tergila gila kepada Orion juga, karna ulahmu !. Kalau saja kamu tidak mengotori pikiran anak itu dengan kata kata calon suami. Queen tidak akan jatuh cinta di usaianya yang masih sangat muda. kamu yang merusak pikiran Queen !" sergah Gandi.
"Terus kenapa kamu seolah olah menyalahkan mereka ?. Kalau menurutmu itu salahku !." tanya Vani.
"Sudah lah Vani ! sepertinya kamu lebih peduli dengan sahabatmu itu dari pada putri kita!." ujar Gandi.
"Bunga juga sahabatmu Gandi !, kenapa kamu berobah menjadi sosok yang berhati keras ?. bahkan aku merasa tidak mengenalmu sekarang!" tanya Vani.
"Sahabat seperti apa ?, yang membiarkan putri sahabatnya hancur Vani ?. Lihat putri kita itu Vani !, dia sangat menderita. Apa mereka tidak bisa meminta kepada anak mereka, untuk memilih Queen. Bukankah mereka menyayangi Queen ?" tanya Gandi, air matanya luruh, hatinya hancur melihat keadaan putrinya.
"Aku sudah memberi ijin Orion menjenguk Queen. Lihatlah ! apa ada hatinya luluh melihat Queen yang setengah mati mencintainya. Seharusnya dia membantu Queen untuk sembuh. Saat aku memintanya untuk tidak menemui Queen lagi, menyuruhnya menjauhi Queen, Dia langsung setuju saja. Seharusnya dia menolak Vani !, seharusnya dia memohon padaku Vani !."
"Apa harus aku yang memohon kepadanya ?. Katakan Vani !. Apa kamu mau ! harga diri suamimu ini di injak injak orang Vani ?. Hatiku bukanlah sekeras batu Vani, tapi kita juga harus punya harga diri."
Gandi menarik istrinya ke dalam pelukannya." Janganlah kita terus bertengkar, aku sangat menyanyangimu. Queen lagi sakit, dia sangat membutuhkan perhatian dari kita berdua. Biarlah untuk sementara seperti ini, lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya supaya putri kita sembuh. Jika mereka perduli dengan putri kita, mereka pasti membantu kesembuhan Queen tanpa harus kita meminta."ucap Gandi, mengusap usap punggung Vani yang terisak di dalam pelukannya, sesekali mengucup ujung kepala istrinya itu.
.
.