
"Queen !" panggil Orion, menarik Queen ke dalam pelukannya." Aku gak mau mata mata jahat memandangi tubuhmu sayang !..Apa lagi sampai laki laki lain menjadikanmu objek imajinasi mereka, memikirkan hal mesum" jelas Orion.
Istri kecilnya itu sangat cantik dan juga imut. Tentu Orion takut Queen berpaling ke cowok lain. Mengingat keadaannya yang sekarang, bukanlah laki laki yang sempurna.
Queen hanya diam menangis terisak di dalam pelukan Orion. Yang di katakan Orion ada benarnya, tapi kenapa baru sekarang suaminya itu perduli ?.
"Apa permintaan abang salah Queen ?, abang ingin yang terbaik untukmu!." Queen masih diam saja.
Orion sangat keras kepala, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya adalah perintah. Apa karna dia pernah menjadi bos di perusahaan besar ?. Queen dan Reyhan juga tidak tau. Yang jelas kalau sudah cemburu, Orion lebih posesif dari Papa Arya.
"Sssttt....! jangan menangis lagi ya !" Orion mengusap usap rambut Queen dari belakang, dan mencium ujung kepala Queen dengan sayang.
"Bang Orion suka memaksa !" ucap Queen dari dalam pelukan Orion.
Reyhan menghela napasnya, Semaunya aja hidup ini, batin Reyhan. Melihat Orion yang selalu memaksakan kehendaknya kepada Queen.
Kurang lebih satu jam, mereka sudah sampai di proyek pembangunan kampus HARAPAN BANGSA milik Orion. Mereka bertiga pun turun dari dalam mobil, berjalan masuk ke dalam proyek yang aman di lewati.
Orion pun menunjuk dan menjelaskan bagian bangunan mana yang harus di selesaikan terlebih dahulu. Supaya kampus itu, Tahun ini bisa langsung beroperasi.
"Pokuskan menyelesaikan bangunan sebelah sini dulu Rey !. Dan kamu bisa menambah jumlah pekerja dan beri mereka lembur" ujar Orion.
"Baik bos !" patuh Reyhan sedikit menunduk.
"Pak !" panggil Orion melambaikan tangannya ke salah satu pekerja bangunan .Yang merasa di panggil pun menoleh." Kemari Pak !."
"Iya Pak ! ada apa ?" tanya si Bapak yang di perkirakan sebagai mandor, setelah sampai di hadapan Orion, Reyhan dan Queen.
Orion mengeluarkan dompetnya dari saku celananya, mengambil beberapa lembar uang berwarna merah, memberikannya ke Bapak mandor tersebut.
"Beli makanan dan minuman buat semua para pekerja" suruh Orion.
Wajah pak mandor itu langsung berbinar, menerima uang dari Orion. Bos besar mereka itu sangat dermawan, setiap berkunjung pasti membelikan mereka makanan dan minuman.
"Trimakasih Pak !" ucap si Pak mandor." kalau begitu saya permisi dulu Pak !." pamit Pak mandor itu dengan sedikit membungkuk, lalu pergi.
"Bang Orion !" panggil Queen dengan bibir masih cemberut, dan wajahnya nampak sembab.
"Apa sayang !" Orion mengusap kepala Queen yang berdiri di sampingnya.
"Lapar ! pengen makan nasi padang" manja Queen.
"Rey ! ayo kita pergi, Queen ingin makan nasi padang !"ajak Orion. Terdengar seperti perintah di telinga Reyhan, membuat Reyhan ikut jadi kondokan.
Tanpa menjawab, Reyhan melangkahkan kakinya dari bagunan setengah jadi itu, berjalan ke arah dimana ia memarkirkan mobilnya.
Tiba di depan salah satu restoran padang, Reyhan memarkirkan mobilnya. Reyhan turun dari dalam mobil, begitu juga dengan Orion dan Quee, berjalan masuk ke dalam restoran.
Brukk !
"Aw !" keluh Reyhan merasakan bajunya basah.
"Ma..maaf Pak !, sa..saya gak sengaja" gugub seorang gadis berjilbab. Sepertinya seorang pelayan restoran, di lihat dari baju yang dikenakannya, dan juga cewek itu memegang nampan.
"Tak apa apa !" ucap Reyhan mengibas ibaskan bajunya yang basah.
"Maaf Pak ! saya gak sengaja !" ucap gadis itu lagi, seperti ketakutan.
"Gak apa apa !" balas Reyhan, mengulas sedikit senyumnya, dan langsung meninggalkan pelayan yang membuat bajunya basah dan kotor.
Reyhan mendudukkan tubuhnya di meja yang sama dengan Queen dan Orion. Dan langsung meminum, minuman milik Orion tanpa memintanya terlebih dahulu.
"Itu minuman untukmu !, kenapa pula harus meminum minumanku ?" ketus Orion, kebiasaan adiknya itu, menyambar punya orang.
"Oh ! aku salah ngambil !" kelit Reyhan, padahal dia sengaja.
"Sengaja tuh ! bang Reyhan !" Queen berbicara sambil mangunyah makanan di mulutnya." uhuk uhuk uhuk...!"
"Tuh 'kan ! jadi keseluk" tegur Orion memberikan Queen air minum, yang langsung di terima Queen dan meneguknya." Jangan bicara sambil makan !."
Orion menepuk nepuk punggung Queen dari belakang, setelah Queen selesai minum.
"Bang Reyhan mengambil daging di piringku !" ucap Queen setelah tenggorokannya terasa baikan. Ia keseluk gara gara ingin menegur Reyhan yang mengambil daging rendang dari piringnya.
Orion langsung menajamkan pandangannya ke arah Reyhan yang mengunyah daging di mulutnya." Reyhan..!" geram Orion.
"Salah kalian ! kenapa memesan makanan hanya untuk kalian ?" ucap Reyhan santai. tangannya beralih ke piring Orion dan mencomot ayam goreng bumbu milik Orion, tanpa merasa berdosa.
"Kami gak tau kamu mau makan apa ?. lagian kamu bisa pesan sendiri, apa susahnya ?" kesal Orion.
"Entah bang Reyhan itu ?" sambung Queen, bibirnya sudah maju lima senti.
Orion melambaikan tangannya ke salah satu pelayan restoran, ingin memesan makanan kembali. Karna lauk di piringnya dan Queen sudah di makan si butok ijo.
"Ada yang bisa saya bantu Pak ?" tanya pelayan wanita yang mendekati mereka.
"Ada lagi Pak ?" tanya pelayan itu ramah.
"Nasi duo, lauknya danging rendang satu, dendeng satu, orenjus dua, tambua nasi ciek (tambah nasi satu)." Reyhan yang menjawab.
Orion menggeleng gelengkan kepalanya, mendengar banyaknya pesanan adik butok ijonya itu. Pantas saja badannya besar, makannya banyak !, pikir Orion.
Setelah pesanan mereka datang, mereka bertiga Pun melanjutkan makannya.
.
.
Di Rumah Sakit
Sirin berjalan masuk ke kamar perawatan Arsenio, dengan wajah berbinar.
"Arsen !" sapa Sirin, berjalan mendekati Arsenio yang duduk bersandar di atas brankar, meletakkan kantong plastik berisi makanan di atas nakas.
"Sini naik !, aku sudah kangen sama kamu dan anak kita" Arsenio menarik tangan Sirin, supaya Sirin naik ke atas brankarnya , supaya ia bisa mengelus perut sirin.
Sirin mengembangkan senyumnya mendapat perhatian dari Arsenio. Sirin naik ke atas brankar, duduk menghadap Arsenio. "Tadi pagi dia sangat nakal, gak mau makan !" adu Sirin, ikut mengelus perutnya.
"Mungkin dia nakal seperti Papanya" Arsenio tersenyum saat mengatakan anaknya nakal seperti dirinya.
"Dia pengen makan di suapi Papanya sekarang" ucap Sirin, menatap Arsen dengan wajah berbinar.
"Benarkah ?"
Wajah Arsenio juga tampak berbinar membalas tatapan Sirin kepadanya. Sirin menganggukkan kepalanya.
"Mana makanannya ? biar aku menyuapi anak dan istriku."
"Kita belum menjadi suami istri" Sirin berbicara dengan bibir mengerucut.
"Sebentar lagi !" balas Arsenio, mengusap kepala Sirin dari belakang." ambil makanannya" suruhnya.
Sirin meraih makanan yang di bawanya tadi dari atas nakas, memberikannya ke tangan Arsenio.
Setelah membukanya, Arsenio mengerutkan keningnya melihat makanan yang di bawa Sirin, ternyata rujak.
"Tadi aku tiba tiba menginginkannya saat melewati penjual rujak di depan rumah sakit" ucap Sirin tersenyum.
"Aku rasa kamu belum makan nasi dari pagi. Nanti kamu bisa sakit perut, kalau kamu memakan rujak ini."
"Sedikit saja, setelah memakan rujak aku langsung makan nasi" mohon Sirin, dengan wajah mengiba.
"Mana nasinya ?" tanya Arsenio.
"Tuh ! di bawahnya" Sirin menunjuk kotak makanan yang berada di bawah kotak rujak.
"Ya sudah !, tapi sedikit ya !, setelah itu , langsung makan nasi" ucap Arsenio, kemudian menyuapkan potongan buah yang di lumuri bumbu kacang ke mulut Sirin.
Eh ! malah Arsenio tergiur melihat Sirin mengunyah buah rujak di mulutnya, sampai Arsenio menelan air liurnya.
"Enak ?" tanya Arsenio, Sirin menganggukkan kepalanya.
Setelah menyuapi Sirin beberapa potongan buah rujak, Arsenio menghentikan suapannya."Cukup ya !" ucapnya.
Sirin mengerucutkan bibirnya.
"Makan nasi dulu, nanti perutmu bisa sakit" ucap Arsenio, membuka kotak makanan yang di bawah kotak rujak, menyuapkannya ke mulut Sirin.
Arsen semakin perhatian, setelah tau kalau aku hamil. Mudah mudahan saja gak berobah lagi, jadi menyebalkan. Batin Sirin, menerima suapan nasi dari Arsenio.
"Kenapa melihatku seperti itu ?, kamu pikir aku gak bisa jadi pria romantis ?" tanya Arsenio tersenyum, karna Sirin memandangnya tak berkedip sambil melamun.
"Aku kawatir, setelah kita menikah, kamu masih suka kelayapan, dan pulang larut malam" sungut Sirin.
Mengingat Arsenio anak yang bandel, suka ngelayapan sampai larut malam. Dan suka berantem dan bahkan tauran di jalan.
"Yang pentingkan aku gak main perempuan di luaran sana" balas Arsenio, Sirin semakin mengerucutkan bibirnya.
Arsenio mengembangkan senyumnya" nanti mana bisa lagi aku kelayapan. Pulang sekolah, nanti aku harus bekerja untuk membutuhi kebutuhan kita" ucapnya lagi.
Sirin menajamkan pandangannya ke wajah Arsenio. Tidak percaya dengan yang di ucapkan Arsenio. Selama ini Arsenio tidak pernah bekerja sama sekali, bahkan membantu megurus konter HP dan Laptop milik keluarganya, Arsenio tidak pernah mau. Selama ini Arsenio hanya sekolah dan bermain bersama teman temannya.
"Meskipun aku bandel, aku masih tau apa kewajiban seorang suami. Aku melihat bagaimana Papa bertanggung jawab kepada Mama dan kami anak anaknya. Aku bisa belajar dari Papa" ucap Arsenio lagi.
Sirin tersenyum, kagum dengan pemikiran Arsenio yang mendadak dewasa.
.
.