
Dokter Aldo menyuapi Diana memakan buah yang sudah di potong potong, dan di taburi garam halus. Entah seperti apa rasanya, buah yang rasanya manis di kasih taburan garam. Tapi seperti itulah permintaan Diana yang lagi ngidam.
"Apa enak ?" tanya Dokter Aldo, melihat Diana mengunyah buah di mulutnya begitu nikmat dan manggiurkan.
Diana menganggukkan kepalanya.
Dokter Aldo menusuk satu potong buah pepaya matang dengan garpu, lalu memasukkannya ke mulutnya, rasanya jelas guri guri manis. Kemudian Dokter Aldo menusuk potongan buah Appel dan memakannya, Dokter Aldo tak suka rasanya, dan terasa aneh. Kemudian Dokter Aldo menusuk buah anggur berwarna hitam.
"Jangan di habisin By !"
Si bumil langsung protes, akhirnya Dokter Aldo tidak jadi mamakannya, dan mengalihkan sendok garpu di tangannya ke mulut Diana.
"Gak dihabisin sayang !, aku cuma nyicip aja" balas Dokter Aldo. Pelit sekali istrinya itu !.
"By gak boleh ikut makannya !" mulut Diana sudah maju lima senti saat mangatakan itu.
"Kenapa ?" Gemas sekali Dokter Aldo melihat istri cabe cabeannya itu yang berobah menjadi balita.
"Gak boleh aja !"
"Pelitnya..!" Dokter Aldo menarik hidung Diana dan sedikit menariknya.
"By !" panggil Diana
"Apa cintaku ?" Dokter Aldo tersenyum.
"Diana gak mau suster Elisa bekerja dengan By lagi !" ucapnya cemberut.
Dokter Aldo menautkan alisnya, menajamkan pandangannya ke wajah Diana yang lagi sibuk mengunyah makanan di mulutnya.
"Asisten By di ganti cowok aja !" ucap Diana lagi.
"Kenapa harus di ganti sayang ?. Suster Elisa sudah lama bekerja denganku" tanya Dokter Aldo. Kenapa tiba tiba istrinya itu menyuruhnya mengganti asistennya di ruangan periksa.
"Harus di ganti !" kekeh Diana, wajahnya berobah cemberut.
"Iya sayang ! kenapa harus di ganti ?" heran Dokter Aldo, karna istrinya tidak memberikan alasannya.
"Diana gak suka !" cetus Diana.
Dokter Aldo melengkungkan bibirnya ke atas dengan mata berbinar. Kemudian Dokter Aldo mencolek ujung hidung Diana."Apa istriku ini lagi cemburu ?."
Diana diam semakin mengerucutkan bibirnya.
Cup !
Satu kecupan mendarat di bibir Diana, Dokter Aldo senang Diana cemburu. Itu artinya Diana benar benar sudah mencintainya.
"Iya sayang !" ucap Dokter Aldo, menuruti kemauan si bumil, demi kedamaian bersama.
"Pak !"
Dokter Aldo dan Diana sama sama menoleh ke arah pembantu di rumah mereka itu.
"Ada apa Bu ?"tanya Dokter Aldo.
"Ibu Melia datang ke sini Pak !"jawab Pembantu itu.
Dokter Aldo mengerutkan keningnya, untuk apa kakak dari mantan istrinya itu datang ke rumahnya ?. Perasaan Dokter Aldo ia tak punya urusan dengan mantan kakak iparnya itu.
"Aldo ! kamu itu benar benar laki laki tak berperasaan ya !" ucap Melia datang ke taman belakang rumah Dokter Aldo.
"Apa maksudmu ?"
Melia mengarahkan pandangannya ke arah Diana yang berada di gendongan Dokter Aldo. Lalu menyunggingkan senyumnya ke samping.
"Dulu kamu menikahi Shasa saat dia baru lulus SMA. Dia mengorbankan pendidikannya demi ingin hidup bersamamu. Sampai Shasa dulu berani menantang Papa dan Mama. Tapi dengan mudah kamu mencampakkannya. Dia masuk penjara, itu karna terlalu mencintaimu, yang tidak pernah kamu balas cintanya. Selama ini kamu membuatnya menderita. Sekarang kamu malah bisa bersenang senang dengan gadis yang pantas menjadi putrimu. Setelah kamu membuatnya mendekam di penjara."
Dokter Aldo menghela napas dalam, menahan emosinya supaya tidak meledak di depan Diana. Kakak dari mantan istrinya itu suka sekali menghasut orang. Sudah persis seperti setan penggoda. Bukan Dokter Aldo tidak tau, kalau mantan kakak iparnya itu sangat menyukainya dari dulu. Mantan kakak iparnya itu ingin merebutnya dari Shasa.
Hanya Shasa mantan istrinya saja yang bodoh, terlalu percaya dengan kakaknya. Sehingga dengan mudahnya terhasut oleh kakaknya yang bermuka dua itu. Dokter Aldo juga tau, maksud kedatangan ular berkepala dua itu ke rumahnya. Wanita ular itu ingin mempengaruhi Diana.
"Apa kamu sangat berharap saya nikahi setelah Shasa masuk penjara ?." Dokter Aldo menatap sinis wanita ular itu.
"Ya !!! seharusnya aku yang kamu nikahi dari dulu !!!. Bukan Shasa atau gadis itu !!!" teriak Melia tiba tiba, air matanya seketika bercucuran.
Diana yang terlonjak kaget, langsung ketakutan, menyembunyikan wajahnya dan memeluk erat Dokter Aldo.
"Aku yang mengenalmu lebih dulu !, aku yang menyukaimu lebih dulu !. Lihat aku Aldo !, sampai sekarang aku tidak menikah karna menunggumu !. Aku betah sendirian Aldo !" tangis Melia.
Dokter Aldo menghela napasnya, melihat wanita satu Tahun lebih tua darinya itu. Wanita yang diam diam menyukainya dulu saat Aldo pindah ke kota lain. Wanita yang pernah menjadi teman dekatnya dulu. Yang ternyata kakak dari gadis yang berhasil menaklukkan hatinya.
"Kalau kamu benar mencintaiku, kamu pasti akan membiarkanku bahagia dengan wanita pilihanku. Bukan terus berusaha merusak kebahagiaanku !" balas Dokter Aldo. Kemudian berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah rumah.
"Kalau hanya kamu yang bahagia !!! itu tidak adil Aldo !!" teriak Melia. Namun Dokter Aldo menghiraukannya.
"Lihat Aldo ! aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia, ini tidak adil Aldo !. Aku akan terus mengganggumu !." Melia berbicara dengan merapatkan gigi giginya.
Sampai di dalam kamar, Dokter Aldo meletakkan tubuh Diana di atas tempat tidur.
"By !"
Diana menarik baju Dokter Aldo yang hendak meninggalkannya.
"Sebentar sayang !, aku akan menyelesaikan masalahku dengannya dulu. Supaya wanita itu tidak mengganggu kita lagi" ucap Dokter Aldo, dan langsung pergi.
Sampai di taman belakang, Dokter Aldo langsung menarik tangan Melia, menyeretnya kasar dari sana. Sampai di luar gerbang rumahnya, Dokter Aldo langsung menghempaskan wanita itu sampai terjatuh ke aspal.
"Berani kamu menggangguku dan istriku, kupastikan kamu hancur saat itu juga" ancam Dokter Aldo, lalu pergi.
Dokter Aldo gerah dengan wanita itu, gara gara wanita itu terus menerus menghasut Shasa, hubungannya dengan Shasa jadi hancur tak tersisa. Hingga menyisakan kepedihan di hati anak anaknya.
Dokter Aldo kembali ke kamar lagi. Di lihatnya diana menangis duduk meringkuk di atas tempat tidur seperti orang ketakutan.
"Sayang !" Dokter Aldo menghampiri Diana." Kamu kenapa sayang ?"tanya Dokter Aldo meraih tubuh Diana, membawanya ke pelukannya.
"Takut !"
"Jangan takut sayang !" Dokter Aldo mengusap usap rambut Diana dari belakang.
"By sangat seram kalau lagi marah, Diana takut" ucap Diana lagi dari dalam pelukan Dokter Aldo.
Setelah Dokter Aldo keluar kamar, tadi Diana menyusul ke pintu. Saat Diana membuka pintu kamar mereka. Diana melihat Dokter Aldo menyeret Melia dengan kasar, dan mendengar Melia berteriak teriak kesakitan, karna Dokter Aldo mencengkran tangannya sangat kuat.
"Aku tidak akan terpengaruh dengannya, Sirin sudah menceritakannya padaku kalau tantenya itu menyukaimu, dan dialah yang terus menghasut mamanya Sirin supaya membencimu."Diana menatap tajam wajah Dokter Aldo.
Dokter Aldo tersenyum, kemudian mengecup kening Diana." Aku percaya, kalau kamu bisa menghadapi wanita itu, dan tidak mudah terpengaruh olehnya. Aku sudah melihat vidiomu di kantin rumah sakit saat menghadapinyan, kamu orang yang hebat" pujinya.
Diana menghela napasnya lemah."Tawaran itu sangat menggiurkan saat itu, sayangnya aku tidak tau berapa jumlah kekayaannya."
Dokter Aldo menarik gemas hidung Diana sembari tersenyum." Itu artinya istriku ini lebih memilih uang yang banyak dari pada suami mu ini ? Hm..!. Semenjak kapan istriku ini matre ?."
Diana pun membalas menarik hidung mancung Dokter Aldo." Dan untung sebelumnya Sirin sudah terlebih dahulu memberikan tawaran yang lebih menggiurkan padaku !" ucap Diana merekahkan senyumnya.
Dokter Aldo menautkan alisnya," tawaran apa ?."
"Kamu dan hartamu !" Diana berbicara sambil tangannya membuka kancing kemeja Dokter Aldo satu persatu. Kemudian menyelipkan tangannya masuk ke dalam baju dan merabanya mesra." Ini lebih menggiurkan !" ucapnya lagi dengan suara menggoda.
Berhasil membuat jakun Dokter Aldo bergerak naik dan turun.
Perlahan Diana menyibak baju kemeja Dokter Aldo sampai bulu bulunya terpangpang. Diana mendekatkan wajahnya ke dada Dokter Aldo, lalu menggigit mesra dada itu. Refleks Dokter Aldo memejamkan matanya, menikmati perlakuan Diana di dadanya.
Diana pun melanjutkan aksinya mencumbui tubuh Dokter Aldo, Hingga berhasil membuat Dokter Aldo mendecis kenikmatan. Diana menghentikan kegiatannya memanjakan tubuh kekar itu. Diana mengulum senyumnya setelah mengagkat kepalanya dari atas pusaran Dokter Aldo yang duduk bersandar di kepala ranjang. Kemudian Diana mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan Dokter Aldo, dan melingkarkan tangannya ke leher Dokter Aldo.
"Mana bayaranku ?" ucap Diana tepat di wajah Dokter Aldo.
"Nakal !" gemas Dokter Aldo menarik hidung Diana, karna sering kali istrinya itu memperlakukannya setengah setengah.
Diana tertawa cekikikan, lalu tersenyum dengan mata berbinar bahagia penuh cinta.
"Bayar aku dulu, baru aku melanjutkannya !" Diana menengadahkan satu tangannya di depan Dokter Aldo.
"Baiklah ! istri nakalku ini meminta bayaran berapa ?." Dokter Aldo menyentuh dagu Diana dengan jari telunjuknya. Jari itu perlahan turun ke leher sampai dada Diana.
"One..Million..Dollar !" Diana mendekatkan wajahnya ke wajah Dokter Aldo dengan membusungkan dadanya yang besarnya tak seberapa, dan memasukkan jari telunjuknya ke mulut Dokter Aldo.
Dokter Aldo menggigit pelan jari telunjuk Diana, kemudian mengeluarkannya dari mulutnya. Dokter Aldo tertawa kecil lalu tersenyum menampakkan gigi giginya. Entah belajar dari mana ?, istrinya itu sangat pandai berlagak seperti wanita penggoda. Dan tadi istrinya itu bertingkah seperti balita, kini sudah berobah menjadi wanita nakal.
"Istriku ini belajar dari mana pintar menggoda seperti ini ?" tanya Dokter Aldo.
"Hehehehe...!" tawa Diana malah." Hmmm..!" Diana menggigit sedikit bibir bawahnya sambil berpikir." Baca novel online sama nonton di YT" jawabnya.
"Kalau begitu berikan aku kepuasan, aku akan membayarmu tiga kali lipat !, bagaimana ?" tawar Dokter Aldo.
"Oke !, tapi nanti malam, sekarang aku pengen makan pudding rasa strawberry !, tapi suamiku ini yang memasaknya sendiri !" jawab Diana.
Dokter Aldo menghela napasnya" baiklah ! nanti malam aku tagih janjimu !."
Dokter Aldo pun menurunkan kakinya ke lantai membiarkan Diana di pangkuannya.
" Tunggu dulu !" ucap Diana, mengambil kain sarung di sampingnya, memberikannya kepada Dokter Aldo.
"Mana bisa sayang ! gendong sambil masak ?."
"Bisa ! Diana gendongnya di belakang !." Diana langsung berpindah ke belakang Dokter Aldo, naik ke punggungnya.
Dokter Aldo menghela napas pasrah !, usianya sudah tak muda lagi, tapi ia harus menggendong beban yang beratnya 40 kg. Dokter Aldo pun menggendong Diana menggunakan sarung itu keluar kamar mereka berjalan ke arah dapur.
Sampai di dapur, Dokter Aldo pun menjari pudding di tempat penyimpanan makanan. Kemudian mengambil panci, membuka bungkus pudding itu, menuangkan isinya ke dalam panci, kemudian memberinya air dan susu. Setelah mengaduk aduknya sampai tercampur rata. Dokter Aldo memasaknya di atas kompor hingga mendidih.
Pudding pun masak, Dokter Aldo langsung memindahkannya ke dalam cetakan agar agar.
"Sayang !" panggil Dokter Aldo menyadari Diana dari tadi diam tak bergerak dan bersuara.
Tidur dia !, batin Dokter Aldo.
Dokter Aldo melangkahkan kakinya kembali ke kamar mereka, membaringkan Diana di atas tempat tidur. Setelah memperbaiki posisi tidurnya dan menyelimutinya, Dokter Aldo pun mengecup kening Diana dengan sayang. Kemudian memandangi wajah Diana yang nampak semakin kurus karna tidak berselera makan.
Trimakasih sudah menerimaku Diana, menerima cintaku !, batin Dokter Aldo.
.
.
Di rumah sakit
Reyhan dan Yumna berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam ruangan Dokter spesialis kandungan.
"Silahkan duduk tuan dan nyoya !" ucap Dokter Ghissam kepada pasangan pengantin baru itu.
"Trimaksih Pak Dokter !" balas Reyhan menuntun Yumna duduk di kursi yang berada di depan Dokter Ghissam. Kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi di sebelahnya.
"Apa sudah di cek pakai tespek ?" tanya Dokter Ghissam.
"Sudah ! tapi garis merahnya masih satu" jawab Reyhan.
"Apa sudah telat datang bulannya ?" tanya Dokter Ghissam lagi, memperhatikan pasangan suami istri itu bergantian. Yang sampai sekarang, Dokter Ghissam belum perna melihat wajah asli istri dari Reyhan itu. Membuatnya mati penasaran saja, secantik apa bidadari surga milik Reyhan itu, terkadang membuatnya sampai susah tidur.
"Telat dua hari !" jawab Reyhan.
"Kok kamu tau ?, yang mensturasikan istrimu, bukan kamu."
Reyhan memutar bola matanya jengah, sok polos aja itu Dokter cabul. Entah sudah berapa banyak lobang istri orang yang di lihatnya, Reyhan tidak tau, dan bahkan Dokter Ghissam sendiri pun tidak bisa menghitungnya, sangking banyaknya wanita melahirkan yang ia tangani.
"Taulah ! aku buat tandanya di kalender" jawab Reyhan.
Yumna dari tadi ia hanya diam saja, dengan sedikit menundukkan pandangannya.
"Jadi kalian kesini mau ngapain kalau garisnya masih satu ?" tanya Dokter Ghissam lagi.
"Mau mengikuti prokram hamil !" jawab Reyhan.
"Oh !, kalau begitu, sulahkan nonya Reyhan berbaring di atas brankar, kita akan melakukan USG." Dokter Ghissam berdiri dari kursinya.
"Untuk apa di USG ?, kalau istriku belum hamil ?" heran Reyhan." Dan juga kamu sendiri yang akan melakukan USGnya ?, tidak tidak tidak !. Aku gak mau kamu melihat perut istriku !" oceh Reyhan.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Kalian pergilah USG ke tempat lain, Dokter atau Bidannya perempuan. Di sini lagi tidak ada Dokter kandungan atau bidan perempuan. Nanti bawa hasilnya kesini. Dan untuk tuan Reyhan yang terhormat, Pergilah ke bagian Lab, untuk melakukan tes laboratorium terhadap cairan cintamu, untuk memastikan kualitasnya. Dan juga kalian berdua, lakukan cek darah. Nanti hasilnya bawa kesini !" kesal Dokter Ghissam.
Kalau istrinya tidak boleh di sentuh atau dilihat sedikit pun. Kenapa juga Reyhan membawanya ke ruangannya. Sudah jelas jelas ia Dokter berjenis kelamin laki laki. Posesif baget !, batin Dokter Ghissam.
.
.