
Elang berdiri dari depan Naysila, melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Jangan mencoba kabur Nay !" ucap Elang sebelum ia membuka pintu di depannya, lalu keluar menuruni anak tangga ke lantai bawah.
"Elang ! kamu kenapa sayang ?, kenapa menangis ?" tanya Mama Bunga yang duduk di ruang tamu bermain main dengan Sabina kecil di gendongannya.
Elang langsung mendekati Mama Bunga, memeluknya dan menangis terisak.
"Maafin Elang Ma ?, coba Elang gak nikah diam diam, Elang pasti gak terkena tipu seperti ini Ma !. Hati Elang sakit Ma !"tangis Elang di pundak Mama Bunga.
"Sssttt..! sabar ya !, semua pasti ada hikmahnya. Sudah menangisnya, nanti Sabina ikut menangis !" ucap Mama Bunga, mengusap usap kepala anak ketiganya itu dengan satu tangannya, dan tangan yang satunya lagi menggendong Sabina yang mulai bergerak aktif.
"Nay sudah mengetahui kalau kita mengetahui rahasianya Ma !" ucap Elang lagi, mengagkat wajahnya dari pundak Mama Bunga, dan menghapus air matanya.
"Trus ! apa rencanamu sekarang ?" tanya Mama, tangannya masih mengusap usap rambut lurus hitam anaknya itu.
"Aku akan menangkap kakeknya, menyerahkan mereka berdua ke polisi" jawab Elang.
"Ajak Papamu untuk mendampingimu membuat laporan. Karna Papamu juga korban dari keserakahan Pamannya itu" ucap Mama Bunga.
"Iya Ma !" balas Elang.
"Apa kamu sudah memastikan Naysila gak hamil ?" tanya Mama Bunga lagi.
"Belum Ma !, Sepertinya dia tidak hamil, aku belum melihat ada tanda tanda kalau dia hamil ma !" jawab Elang.
Mama Bunga menghela napasnya," Kamu sudah dewasa nak !, Mama yakin kamu bisa mengambil keputusan yang bijak !" ucapnya.
"Nay sudah kukunci di kamar Ma !, aku pergi dulu menemui Papa. Assalamu alaikum Ma !." Elang menyalam tangan Mama Bunga lalu pergi.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di permukiman warga.
"Siapa kamu ?, kenapa kamu menangkap saya ?" tanya pria tua meronta ronta di bekuk dua orang laki laki yang di tugaskan untuk mengawasinya selama sebulan ini.
"Saya seorang polisi, untuk menangkap Bapak, karna melakukan kasus penipuan !" ucap Polisi yang menyamar menjadi tetangga kontrakannya selama sebulan ini. Polisi itu pun menunjukkan kartu anggotanya. Kemudian memborgol kedua tangan Kake kakek berusia hampir tujuh puluhan itu.
"Jadi selama ini kamu sengaja mengontrak di sini untuk memata mataiku ?" tanya pria usang itu.
"Ya ! atas perintah dari Pak Arya !" jawab polisi itu.
Anak sialan itu !,batin Paman Ali.
Tak lama kemudian terdengar sirene mobil polisi. Kemudian berhenti di depan Paman Ali dan polisi itu, di ikuti mobil Papa Arya di belakangnya . Dua orang berseragam polisi keluar dari dalam mobil polisi tersebut. dan langsung memegangi Paman Ali.
"Selamat pagi menjelang siang Paman !" sapa Papa Arya dengan wajah datarnya. Berdiri di depan Paman Ali dengan memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
Paman Ali langsung menajamkan pandangannya ke wajah Papa Arya, setelah sekian lama, baru kali ini ia melihat anak dari adiknya itu dari jarak dekat.
"Apa harta warisan dari kakek dan harta hasil keringat Ayahku masih kurang untukmu. Sehingga kamu menyuruh cucumu menyusup masuk ke rumahku untuk mengeruk kekayaanku ?." Papa Arya berbicara dengan rahang mengeras. Sungguh ia tak terima dengan sikap serakah Pamannya sendiri.
"Warisan kakekmu yang Mana ?, harta Ayahmu yang mana ?. Kamu itu hanyalah anak haram dari wanita yang melahirkanmu. Kamu tidak berhak atas harta dari keluarga Alfarizqi !" decis Paman Ali.
Papa Arya langsung membeku, mencerna apa yang di katakan Paman Ali tentang dirinya.
"Bahkan di dalam tubuhmu itu, tidak ada sedikit pun mengalir darah Alfarizqi. Hanya adik tiriku itu saja yang bodoh, mau menikahi wanita yang dihamili laki laki lain." ucap Paman Ali lagi.
Papa Arya menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya." Jaga bicaramu kep*rat !" geram Papa Arya.
"Kalau kamu tidak percaya, kita lakukan saja tes DNA. Kita lihat hasilnya, apakah aku mengada ngada atau tidak ?." Paman Ali menyinggungkan senyumnya, menatap Papa Arya dengan tatapan mengejek.
"Kamu itu adalah anak hasil dari korban pemerkosaan seorang laki laki di kampung ibumu. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja ke kampung asal ibumu" lanjut Paman Ali lagi.
"Jadi jangan bilang saya serakah sudah mengambil hakmu. Karna kamu adalah anak haram ibumu" timpalnya lagi.
"Okeh ! untuk masalah harta warisan orang tuamu, kamu berada di pihak yang benar. Dan bagaimana dengan cucumu yang kamu minta di nikahi Elang secara diam diam. Dan menyuruh cucumu memoroti harta adiku Elang ?" sergah Orion tiba tiba. Setelah mendapat kabar, tadi ia langsung datang menyusul Papa Arya.
"Itu untuk membalas dendamku kepada Papa kalian yang mencuri perhatian Papaku. Papaku lebih perhatian kepada anak haram itu dari pada kepada putriku sendiri cucunya sendiri. Karna anakku dan anak anak saudaraku yang lainnya perempuan semua. Aku tidak terima, Papaku dulu akan menjadikan anak haram itu ahli warisnya, penerus namanya" Balas Paman Ali bernada tidak kalah tinggi dari Orion.
"Polisi ! bawa pria tua itu !, jangan sampai aku menghabisinya di sini. Membalaskan dendamku kepadanya !" perintah Orion. Dadanya naik turun, ingin rasanya ia mengubur pria tua itu hidup hidup. Balas dendam ! dendam apa ?. Orion tidak terima Papanya di hina bergitu saja.
"Baik Pak !" jawab salah satu polisi yang memegangi Paman Ali. Kemudian mereka pun membawa paman Ali masuk ke dalam mobil polisi.
"Pah !" ucap Orion, melihat Papa Arya menangis sambil memegangi dadanya.
"Papa malu Nak !" isak Papa Arya.
Jelas Papa Arya malu, aibnya yang tidak diketahuinya sama sekali, di umbar di depan warga sekitar. Yang jelas di sana pasti ada orang tua murid sekolahnya.
Orion langsung memeluk Papanya yang terlihat rapuh."Orion yakin pria tua itu pasti berbohong Pah !. Dan seandainya pun benar. Tapi bukankah semua anak di lahirkan suci" ucap Orion menenangkan Papanya." Papa tidak perlu malu, aku yakin Ibu yang melahirkan Papa itu wanita yang baik, dan hanya sebagai korban. Jika tidak !, tidak mungkin kakek kami menerima nenek !" ucap Orion lagi.
Ya Tuhan !, apa benar aku ini anak haram ?. Dan jika Papa bukan Ayah kandungku ?, lalu siapa Ayah kandungku sebenarnya, siapa Ayah biologisku ?. Apa darah seorang penjina mengalir dalam tubuhku, sehingga anakku ada yang mewarisi perbuatan itu ?,Ya Tuhan !. Batin Papa Arya
Orion pun menuntun Papa Arya berjalan ke arah mobilnya. Dan meminta tolong kepada polisi yang mengawasi pria tua itu, untuk membawa mobil Papa Arya pulang. Setelah Orion dan Papa Arya masuk ke dalam mobil, mereka pun segera meninggalkan tempat itu.
Sampai di kediaman Alfarizqi, Orion memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk rumah itu. Orion membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, begitu juga dengan Pak Arya. Orion mendekati Papa Arya, menuntun Papanya yang terlihat masih sedih, berjalan masuk ke dalam rumah, mengantar Papa Arya ke dalam kamar.
"Aaryan ! kamu kenapa sayang ?"
Mama Bunga yang duduk menonton di sofa langsung berdiri, melangkahkan kakinya mendekati Papa Arya dan Orion.
Papa Arya langsung memeluk Mama Bunga, menjatuhkan kepalanya di bahunya. Papa Arya menangis terisak.
"Orion ! Papa kamu kenapa ?" tanya Mama Bunga kepada anak sulungnya, sambil tangannya mengusap usap punggung Papa Arya dari belakang. Kemudian menuntunnya berjalan untuk duduk ke sofa.
"Orion gak tau harus mulai bercerita dari mana Ma !" jawab Orion menghela napasnya.
"Aaryan ! kamu kenapa ?, apa yang membuatmu menangis bersedih seperti ini ?, Apa Paman Ali ?" tanya Mama Bunga, menebak.
"Sayang ! apa kamu percaya kalau aku ini adalah anak haram ?. Dan aku bukan anak kandung Papaku !" tanya Papa Arya di dalam pelukan Mama Bunga.
Mama Bunga menghela napasnya, pasti Paman Ali si tua bangka itu yang mengatakan pernyataan seperti itu, pikir Mama Bunga.
"Aku merasa tak pantas menjadi peminpin sekolah Bunga !."
"Dulu juga aku tak pantas menjadi istri seorang guru teladan dan berprestasi. Tapi nyatanya aku adalah seorang istri guru terbaik di sekolah kakek" balas Mama Bunga." Dan buktinya kamu berhasil membuat sekolah itu semakin berkualitas, maju dan berkembang" lanjut Mama Bunga lagi.
"Iya Pah !" sambung Orion, mendudukkan tubuhnya di samping Papa Arya." Papa adalah Papa terbaik di Dunia ini. Papa juga sudah menjadi guru terbaik kami anak anak Papa"lanjutnya.
"Iya Aayan !, kamu adalah laki laki terbaik kami di rumah ini. Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan Paman Ali itu. Dia hanya iri melihatmu, karna sudah menjadi orang sukses. Sedangkan dia, hidupnya semakin hancur dan melarat" timpal Mama Bunga.
.
.
Di rumah sakit, di ruangan bersalin, Sirin sedang berjuang melahirkan anaknya ditemani Arsenio, dan tentunya Dokter Ghissam dan seorang bidan perempuan. Meski adiknya sendiri, Dokter Ghissam merasa tidak enak jika harus menyentuh barang berharga adiknya sendiri, sehingga ia memanggil seorang bidan perempuan untuk membantu ke lahiran keponakannya.
"Aaaaakkkkh..!!!!" jerit Sirin
"Sakit Sirin !!!!" jerit Dokter Ghissam
" Aaa rambutku !!!" jerit Arsenio
Mereka bertiga sama sama menjerit di ruangan itu, karna saat Siri mengedan. Ia menarik rambut Arsen dan mencakar tangan Dokter Ghissam secara bersamaan.
"Ha ! ha ! ha !" Napas Sirin terdengar ngosngosan. Sudah tiga kali ia mengedon kuat, namun anaknya masih juga belum lahir.
"Sirin gak kuat lagi !" ucapnya.
"Kamu harus kuat sayang ! anak kita belum lahir" ucap Arsenio, mengusap kepala Sirin, dan mencium keningnya.
"Sakit banget Arsen !" tangis Sirin.
"Aku tau sayang !, Ayo semangat demi anak kita !" bujuk Arsenio.
"Kamu enak ! buntinginnya, tapi adikku yang merasakan sakitnya !" ketus Dokter Ghissam, terkadang masih kesal melihat Arsenio yang merampas kesucian adiknya.
"Cih ! nanti kamu kalau sudah tau rasanya, ketagihan !" cibir Arsenio.
Dokter Ghissam mendengus
"Ayo bu ! ngedon lagi ya !" suruh bidan yang siap menangkap bayi dari kedua anak remaja itu.
"Arsen !!!" teriak Sirin saat mengedon.
"Abang bilang ngedonnya jangan berteriak !, supaya tenaganya pokus ngedon" ucap Dokter Ghissam, adiknya itu susah sekali di kasih tau.
"Sirin gak kuat bang !, belah aja perut Siri bang !, biar lebih cepat" ucap Sirin dengan napas ngosngosan.
"Mana bisa !, banyimu jalannya sudah buka sepuluh. Kalau kamu mau di pakum, biar abang pakum" balas Dokter Ghisam.
"Di pakum ?" Arsenio mengerutkan keningnya ke arah Dokter Ghissam.
"Iya ! bayinya di tarik dengan menggunakan alat !" jawab Dokter Ghissam.
"Alatnya di masukin ke punyanya Sirin ?" tanya Arsenio lagi.
"Iya !"
"Gak gak gak !, aku gak sudi !, ada benda yang menyentuh punya istriku !" tolak Arsenio.
"Kau posesif bangat !, itu juga demi keselamatan anak dan istrimu !" ketus Dokter Ghissam.
"Ayo bu ! mengedon lagi !" suruh Bidan itu, Sirin pun langsung mengedon.
"Aaaa....!!!"
"Aaaa.....!!!"
"Aaaaa....!!!"
Lagi lagi mereka bertiga sama sama berteriak, karna lagi lagi Sirin menarik rambut Arsenio dan mencengkram tangan Dokter Ghissam.
"Dokter ! ini sudah lama, tapi kepala bayinya belum juga mau keluar" ujar bidan yang berjaga di kaki Sirin.
Dokter Ghissam pun melihat jam yang menempel di dinding ruangan itu. Seharusnya bayi itu sudah lahir dari waktu perkiraan. Namun anak dari preman setengah jadi itu, belum juga mau keluar. Sepertinya Dokter Ghissam harus bertindak langsung.
"Saudara Arsenio Edgar Alfarizqi !, dengan terpaksa saya harus melakukan fakum kepad bayi anda !" ucap Dokter Ghissam meminta ijin.
"Kalau di fakum, sakit gak bang ?" tanya Sirin.
"Abang gak tau ! abang gak pernah merasakannya" jawab Dokter Ghissam, kemudian pergi mengambil alat fakumnya.
"Arsen !, aku gak mau lagi punya anak !. Anak kita satu aja !" tangis Sirin.
"Iya sayang !, semangat ya !" ucap Arsenio, sambil melap keringat Sirin yang bercucuran di kening dan wajahnya. Kemudian mengecup pipi dan keningnya.
Setelah Dokter Ghissam datang membawa alat fakum. Dengan terpaksa, Dokter Ghissam harus menggantikan posisi bidan tadi berdiri di dekat kaki Sirin. Dan langsung melakukan proses fakum secara pelan dan hati hati.
Siri langsung meringis dan menangis, sambil tangannya memukuli dada Arsenio dengan kedua tangannya.
"Sakit Arsen !" tangis Sirin.
Arsenio pun menangkap kedua tangan Sirin, dan memeluk Sirin erat." Aku tau sayang !, maaf ya ! karna aku kamu harus merasakan sakit seperti ini" ucap Arsenio lembut mengecup lama kening Sirin. Tak terasa air matanya mengalir, tidak tega melihat Sirin yang kesakitan.
"Sakit...!" tangis Siri lagi, kakinya bergetar hebat, saat bayi itu di paksa keluar dari dalam rahimnya.
"Sabar ya sayang !" lirih Arsenio, tidak kalah berurai air mata dari Sirin. Arsenio mengusap usap kepala Sirin, dan tidak berhenti mengecup ngecup keningnya. Hingga terdengar suara tangis bayi memenuhi ruangan itu.
Oe oe oe.... !!!
Tangis Arsenio pecah, meraung raung bersaing dengan suara tangisan anaknya.
"Sayang ! anak kita sudah lahir !, trimakasih sayang !, aku mencintaimu, sangat mencintaimu !, mmuah mmuah mmuah !." Arsenio pun menciumi seluruh wajah Sirin tanpa ada yang terlewatkan.
"Sirin !" ucap Arsenio, melihat Sirin memejamkan matanya dan tak bergerak..