
Di sebuah aula hotel, dari tadi pagi para tamu undangan terus berdatangan, hampir memenuhi aula hotel itu. Setelah tadi pagi acara akhikah baby Syauqi, Boy, baby Arsi dan baby Sabina dilaksakan bersamaan. Siangnya acara pun berlanjut, ke resepsi pernikahan Arsen dan Sirin, Elang dan Naysila, Dokter Ghissam dan Suster Elisa setelah melangsungkan akan nikah tiga hari yang lalu.
Suara para tamu undangan mendadak riuh dan bertepuk tangan, saat ketiga pasang pengantin itu masuk ke dalam aula berjalan beriringan dan bergandengan tangan di atas red karpet menuju pelaminan masing masing. Para tamu undangan yang berdiri di pinggir red karpet, menaburi para pengantin itu dengan bunga yang di sediakan. Sehingga ketiga bidadari dari laki laki tampan itu merasa seperti pengantin di Negri dongeng.
Hingga sampai di di pelaminan masing masing, Para tamu undangan pun mulai berbaris akan naik ke pelaminan, untuk mengucapkan selamat.
"By ! Diana juga pengen seperti mereka !" rengek Diana menarik narik lengan Dokter Aldo yang duduk di sampingnya.
"Iya sayang ! tunggu kamu sehat dulu !" Dokter Aldo mengusap kepala Diana dari belakang.
Kakek Haris yang duduk satu meja dengan mereka, menggelengkan kepalanya melihat istri ke dua anaknya itu, sangatlah muda dan cantik, beruntung sekali anaknya itu.
"Diana mau sekarang !" rengek Diana lagi, manja.
"Mana bisa sekarang sayang !, pelaminannya hanya tiga. Dan juga kamu belum mempunyai gaun pengantin" jelas Dokter Aldo, ada ada aja istrinya itu, meminta mendadak manten. Apa karna mereka juga mendadak nikah ?.
"Sekarang !" kekeh Diana
Dokter Aldo menghela napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk menabahkan hatinya menghadapi sikap keras kepala istrinya.
"Bulan depan ya !, kita persiapkan dulu segalanya. Nanti Hubbymu ini akan membuat pernikahan termewah dan ter waw ! sejagat raya. Nanti kamu akan di rias seperti boneka barby" bujuk Dokter Aldo lembut penuh perasaan.
"Diana gak mau seperti barby !, Diana maunya seperti Rafunzel !" ucap Diana.
"Iya sayang !" balas Dokter Aldo tersenyum.
Semua para tamu undangan tiba tiba menoleh ke arah pintu masuk aula itu, karna melihat pengantin bau usang memasuki aula. Mereka adalah pasangan Aaryan Dakhy Alfarizqi dan Bunga Adelwis, bersama baby Sabina di gendongan Papa Arya. Meski sudah tak muda lagi, Papa Arya masih terlihat tampan dan semakin berkarisma dengan sitelan kemeja putih dan tuxedo berwarna abu abu melekat di tubuhnya. Begitu juga dengan Ratu sejagat, dia terlihat cantik dan anggun dengan gamis brukat dan hijab berwarna abu abu yang menutupi keindahan tubuhnya.
Pasangan suami istri itu pun berjalan ke arah meja paling depan ruangan itu, dengan mengulas senyum indah di bibir mereka kepada para tamu undangan yang tersenyum kepada mereka.
Mereka pun mendudukkan tubuh mereka di meja yang sama dengan Dokter Aldo dan Diana, Kakek Haris dan istri bule nya.
"Kenapa kalian lama baru keluar ?" tanya Dokter Aldo kepada Mama Bunga.
"Nyusu jeyeng ! nyusu !" jawab Mama Bunga.
Dokter Aldo terdiam, lupa kalau mantan terindahnya itu rada rada eror. Tuh 'kan ! otak Dokter Aldo jadi berkelana ke gunung kembar mendengar kata nyusu. Dokter Aldo pun melirik sedikit gunung kembar Mama Bunga yang tertutup hijab.
Ehem !
Papa Arya yang melihatnya pun berdehem, dan menatap tajam Dokter Aldo. Dokter Aldo pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah pelaminan yang berbaris di bagian depan aula.
Dulu aku sudah pernah melihat dan memegangnya kali !, batin Dokter Aldo.
Tak lama kemudian, pasangan Papa Gandi dan Mama Vani pun tiba bersama baby Arsi. Di belakangnya di ikuti pasangan Queen dan Orion bersama baby Syauqi di gendongannya. Pasangan Reyhan dan Yumna bersama Boy berjalan di tengah tengah mereka. Kemudian Pasangan Om Leo dan Tante Tari. Sedangkan tante Shasa, dia datang sendiri tanpa pasangan. Mereka pun duduk di meja barisan pertama acara itu, yang sengaja di sediakan khusus untuk keluarga dan para tamu angung lainnya.
Di pelaminan pertama, ada pasangan Elang dan Naysila. Mereka terlihat sudah mulai menerima tamu mengucapkan selamat kepada mereka. Nampak keduanya sama sama mengulas senyum ramah, saat para tamu bergantian menyalam mereka. Dan terlihat sesekali Elang melingkarkan tangannya ke pinggang belakang Naysila, kawatir Naysila terjatuh karna high heel yang di kenakannya terlalu tinggi. Dan mereka pun melakukan sesi photo bersama para tamu undangan, teman teman mereka dari kampus, dan dengan para sahabat dan kerabat keluarga.
Di pelaminan kedua, ada pasangan Dokter Ghissam dan suster Elisa. Meski mereka menikah tanpa pacaran. Tapi mereka tetap terlihat bahagia di atas pelaminan. Di lihat dari senyum tulus dari bibir mereka berdua saat menerima tamu undangan mengucapkan selamat kepada mereka. Sepertinya cinta sudah sama sama tumbuh di hati mereka berdua, setelah tau rasanya masuk surga.
Di pelaminan ke tiga, ada pasangan Arsenio Edgar dan Sirin Naziha. Meski mereka sudah lama menikah dan sudah memiliki anak. Tapi mereka masih terlihat seperti pengantin baru. Di lihat dari senyum yang merekah di bibir keduanya, dan wajah mereka yang berbinar bahagia. Meski mereka sudah lama menjalin hubungan pacaran, namum mereka terlihat tidak pernah jenuh dengan hubungan mereka. Terlihat dari pancaran cinta yang bersinar dari mata keduanya.
Kembali ke bawah pelaminan, Papa Arya dan Mama Bunga terlihat berdiri dari kursinya saat melihat tamu undangannya dari pulau sebrang datang memasuki aula. Papa Arya dan Mama Bunga pun menyusul besan mereka yang berjalan di atas red karpet menuju barisan kursi depan.
"Selamat datang Yud, Mr Zee, Mr Rico dan Mr Jefry !" sapa ramah Papa Arya, menyalam tamu terhormatnya itu bergantian.
Begitu juga dengan Mama Bunga, ia pun menyapa Para istri istri ke empat pria itu bergantian.
Papa Arya dan Mama Bunga pun mengiring tamu mereka itu ke tempat duduk yang sudah di sediakan.
"Silahkan duduk !" ucap Papa Arya.
"Trimakasih !" ucap Yudhi dan ketiga pria yang datang bersamanya.
"Kalau begitu kami ke sana dulu !" pamit Papa Arya, undur diri kembali ke mejanya yang tadi.
Melihat kedua orang tua dan para Om dan Tantenya datang. Yumna pun berdiri dari kursinya, dan mengajak Reyhan untuk menyapa orang tua san keluarganya itu.
"Assalamy alaikum Papa ! Momy ! tante Salma ! tente Ashalin ! tante Almira ! Om Zeyn ! uncle Rico dan uncle Jefry !" sapa Yumna dengan senyum ceria di balik nikapnya.
"Walaikum salam Yuyu !!!" balas mereka semua serentak sembari tersenyum.
Reyhan pun menyapa dan menyalam kedua mertuanya dan para kerabat dengan ramah.
"Kak Zahra sama kak Shahia gak ikut ?" tanya Yumna, karna tidak melihat kedua kaka sepupunya itu.
"Ikut ! sepertinya mereka masih di rumah Najib !" jawab Ibu Tika.
Yumna menganggukkan kepalanya.
"Apa nanti Papa sama Momy langsung pulang ?" tanya Yumna.
"Iya sayang !, Papamu harus bekerja !" jawab Ibu Tika lagi.
Yumna langsung mengerucutkan bibirnya di balik cadarnya, dengan mata melirik ke pria berwajah cina yang sudah tak muda lagi itu.
"Ya sudah ! Papamu Om kasih cuti tiga hari !" ucap Mr Ze, tau maksud lirikan tajam keponakan tukang palaknya itu.
Yumna langsung saja mengembangkan senyumnya." Trimakasih Om kaya !, Yumna doain duit Om tambah banyak !" balas Yumna.
Mr Ze memutar bola matanya malas, kalau sudah keluar kalimat manis seperti itu, Mr Ze sudah paham maksudnya.
"Om sudah lama gak bayar pajak !" ucap Yumna.
Reyhan langsung menarik Yumna menjauh dari keluarganya itu. Membawanya kembali ke tempat duduk mereka.
"Sayang ! jangan bikin malu habib !" tegur Reyhan pelan ke telinga Yumna.
"Maaf Habib !" ucap Yumna menyadari kesalahannya.
"Gak apa apa ! tapi jangan di ulangin lagi, gak bagus minta minta, apa lagi kamu adalah wanita bersuami" ucap Reyhan lembut, mengusap kepala Yumna dari belakang.
"Yumna tidak akan mengulanginya lagi Habib !" balas Yumna.
"Trimakasih sayang !" ucap Yumna mengecup kening Yumna dari samping.
"Kalian bisik bisik apa ?" tanya Orion penasaran.
"Urusan rumah tangga !" jawab Reyhan.
"Bang Orion ! ambilin Queen makanan, lapar !" ujar Queen.
"Gak lihat ini anakmu nyusunya rakus, tubuhku jadi cepat lemah dan lapar dibuatnya. Karna semua nutrisi makanan yang kumakan habis di hisapnya" cetus Queen.
Orion pun mengalihkan pandangannya ke arah baby Syauqi yang berada di pangkuan Queen, meminum asi yang sudah di masukin ke dalam dodot.
"Sudah Daddy bilang jangan di habisin, kenapa Syauqinya nakal, gak disisain buat daddy ?" gemas Orion, menarik dodot itu dari mulut baby Syauqi.
Oe oe oe oe...!
Baby Syauqi langsung saja menangis.
"Bang Orion !" geram Queen, karna suaminya itu suka sekali membuat baby Syauqi menangis.
"Enak sekali dia !" ujar Orion, memasukkan kembali ujung dodotnya ke mulut Syauqi.
"Cepat ambilin Queen makanan bang Orion !" gemas Queen, karna bang Orionnya itu masih saja menggoda anak mereka supaya menangis.
"Iya bos !" patuh Orion akhirnya, karna Queen menatap tajam dirinya.
Pesta pun terus berlanjut hingga larut malam. Dan sampai para tamu undangan sudah pada pulang. Barulah ketiga pengantin itu turun dari atas pelaminan masing masing. Untuk kembali ke kamar masing masing untuk istirahat.
"Arsi sama siapa ?" tanya Sirin setelah mereka sampai di dalam kamar pengantin mereka.
Arsenio memeluk Sirin dari belakang, setelah mengunci pintu kamar mereka rapat rapat. Ini malam pertama mereka setelah Sirin melahirkan anak pertama mereka.
"Bersama Mama Shasa !" jawab Arsenio, mengecup pipi Sirin dari samping.
Sirin tersenyum dan menyentuh tangan Arsenio yang melingkar di perutnya.
"Tubuhku tak lagi bagus, apa kamu masih berselera melihatnya ?" tanya Sirin.
"Kenapa tidak ?" tanya balik Arsenio." Dan kamu pikir aku ini laki laki apaan ? hm..!" Arsenio semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh gemuk istrinya itu." Aku yang membuat tubuhmu seperti ini. Dan kamu rela tubuh dan kecantikanmu rusak demi mengandung, melahirkan dan menyusui anakku"ucap Arsenio lagi.
"Bahkan kata terimakasih, tidak cukup untuk membalas jasamu !" tambah Arsenio lagi.
"Aku kawatir kamu ilfil melihat tubuhku !" ucap Sirin lagi.
"Aku mencintaimu bagaimana pun bentukmu !" balas Arsenio.
Arsenio melepas pelukannya, memutar tubuh Sirin ke arahya. Kemudian Arsenio menangkupkan kedua tangannya ke kedua sisi wajah Sirin, lalu mencium keningnya.
"Aku akan mencintaimu sampai nenek !. Sampai wajah ini menua dan keriput !" ucap Arsenio tersenyum.
"Aku juga mencintaimu sampai kakek Arsen !" balas Sirin tersenyum.
"Ayo kita membersihkan diri, aku sudah sangat rindu dirimu !" ucap Arsenio, menarik tangan Sirin membawanya ke kamar mandi.
Di kamar Elang dan Naysila. Naysila keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya. Nayla menudukkan kepalanya karna Elang memperhatikannya. Entah ! Naysila terkadang masih malu dan merasa bersalah kepada Elang. Meski Elang memperlakukannya dengan baik.
"Nay ! Sini !" Elang menepuk nepuk kasur di sampingnya supaya Nayla mendekatinya.
Naysila perlahan melangkahkan kakinya ke arah Elang, tanpa berani melihatnya. Dan Elang langsung meraih tangannya, menuntunnya untuk duduk di sampingnya.
Elang menyentuh lembut dagu Naysila, memgangkat wajah Naysila supaya menatapnya.
"Nay ! kita buka lembaran baru ya !" ucap Elang lembut.
Naysila mengulas sedikit senyumnya, kemudian menganggukkan kepalanya." Sekali lagi aku minta maaf Elang ! atas kesalahan yang kuperbuat" ucap Naysila tanpa melepas netranya dari wajah Elang.
"Iya Nay ! aku juga minta maaf karna sudah sempat menjebloskanmu ke penjara. Seharusnya aku mendengarkan alasanmu !" balas Elang.
"Aku yang salah Elang !" ucap Naysila lagi.
Elang menarik Naysila ke dalam pelukannya." Kita sama sama belajar untuk dewasa ya !"balas Elang.
Naysila menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana ? apa acaranya sudah bisa kita mulai ?" tanya Elang tersenyum.
Naysila mendongakkan kepalanya dengan kening mengerut." Acara apa ?."
"Acara malam panjang kita sayang !" jawab Elang.
Wajah Naysila langsung memerah, mengerti maksud malam panjang yang di katakan Elang. Mereka sudah lama tidak melakukan itu, karna setelah kejadian itu, mereka sama sama canggung untuk melakukan ritual suami istri itu. Tapi sepertinya mereka berdua sudah sama sama siap untuk melakukannya lagi.
Di kamar pengantin Dokter Ghissam dan suster Elisa. Selesai memakai gaun malam transfaran ke tubuhnya, Suster Elisa langsung naik ke atas tempat tidur, dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke leher. Suster Elisa malu jika sampai Dokter Ghissam melihat pakaiannya yang menggoda. Suster Elisa pun menggigit gigit ujung jari telunjuknya, mendengarkan suara pintu kamar mandi apakah sudah terbuka atau belum.
Ceklek !
Refleks suster Elisa memejamkan matanya pura pura tidur mendengar Dokter Ghissam membuka pintu kamar mandi.
"Aku tau kamu itu pura pura tidur !" ucap Dokter Ghissam berjalan ke arah ranjang hanya dengan menggunakan handuk di lilit di pinggangnya.
"Aaa !!!" jerit Suster Elisa kaget, karna Dokter Ghissam tiba tiba menarik selimutnya sampai terlepas semua.
"Wah ! ternyata kamu sudah siap untuk di terkam !" ucap Dokter Ghissam menyeringai lebar. Hingga membuat Suster Elisa bergidik, mengingat bagaimana Dokter Ghissam menghabisinya sampai ke dalam dalam dua hari yang lalu.
"Kamu kenapa ?" tanya Dokter Ghissam.
"Takut !" jawab Suster Elisa.
Dokter Ghissam berdecak," Tidak ada istilah seorang perawat itu penakut !" ucap Dokter Ghissam, naik ke atas tempat tidur, merangkak seperti kucing mendekati Suster Elisa yang duduk meringkuk di atas tempat tidur.
"Takut !" ucap Suster Elisa pelan kemudian memejamkan matanya, karna Dokter Ghissam terus mendekatinya.
Cup !
Suster Elisa refleks membuka matanya, karna Dokter Ghissam mencium keningnya.
"Itu tidak akan sakit lagi !" ucap Dokter Ghissam tersenyum." Sayang !"lanjutnya.
Suster Elisa tersenyum malu malu mendengar Dokter Ghissam memanggilnya sayang.
Dokter Ghissam mendudukkan tubuhnya, kemudian menarik Suster Elisa untuk duduk di pangkuannya.
.
.