Brother, I Love You

Brother, I Love You
241. Indah pada waktunya



Bilal mengetuk pintu kamar di depannya, dan langsung memutar knopnya dan mendorong pintu itu. Bilal melangkahkan kakinya ke arah wanita yang duduk memandangnya dari kursi meja rias. Bilal tersenyum dengan mata berbinar bahagia, melihat kecantikan bidadari surganya yang sudah selesai di rias dengan make up pengantin muslimah.


Meski Hani tak muda lagi, tapi power of make up, berhasil merubah wajahnya terlihat lebih muda dari usianya.


"Ayok ! para tamu undangan sudah menunggu kehadiran kita" Bilal menguluskan tangannya kepada Hani.


Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Hani pun menerima uluran tangan Bilal, menyematkan tangabnya di atas telapak tangan Bilal. Dan Bilal pun membantu Hani berdiri, dan langsung merangkul pinggangnya.


Cup !


Satu kecupan langsung Bilal daratkan di bibir merah Hani.


"Abang !" rengek Hani manja, kawatir lipstik merahnya belepotan kamana mana, karna Bilal mengecupnya.


"Bibirmu ini terlihat terlalu seksi untuk di lihat orang. Kamu hanya boleh memakai lipstik mencolok seperti ini di depanku" Bilal meraih tissu dari atas meja rias, kemudian melap bibir Hani dengan tissu di tangannya.


Hani pun cemberut, hanya diam dan pasrah.


Kemudian Bilal meraih salah satu lipstik dari atas meja, kemudian memakaikannya ke bibir Hani.


"Warna ini baru pas !" ucap Bilal setelah memoles bibir Hani dengan lipstik berwarna nude.


"Wajah Hani kelihatan pucat kalau memakai warna itu Bang !" ucap Hani, setelah melihat wajahnya di kaca cermin.


"Siapa Bilang pucat?, wajahmu hanya terlihat sedikit lebih jelek dibanding yang tadi" balas Bilal.


Hani mengerucutkan bibirnya.


"Ayok ! kamu itu sudah tua, gak usah sok imut lagi" Bilal memutar tubuh Hani kembali ke arahnya, kemudian mencium kening Hani, menciup kedua kelopak matanya, hidungnya, kedua pipinya, dan terakhir dagunya.


"Tapi aku sangat mencintainya !" ucap Bilal tersenyum.


Wajah Hani langsung berobah berbinar. Hani pun memeluk tubuh Bilal, ia juga sangat mencintai seorang Bilal. Hani mendongakkan kepalanya, lalu berbicara."Aku juga sangat mencintaimu Ustadz Bilal Al Biruni Aaryan Putra Alfarizqi".


Bilal membungkukkan lehernya, mendekatkan wajahnya ke wajah Hani, kemudian mencium lelehan yang mengalir di pipi Hani."Jangan mencintaiku berlebihan Hani !, itu tidak bagus!" lirihnya.


Kenapa Ummu Hani nya itu sekarang gampang sekali menangis?. Hati Bilal sakit melihat setiap air mata yang mengalir di pipi Hani.


"Umi ! Abi ! para tamu undangan sudah pada menunggu."


Refleks Bilal dan Hani menoleh ke arah pintu. Bilal mengulas senyumnya kepada putrinya." Ayah sama Umi akan segera keluar"ucap Bilal.


Yasmin membalas senyuman Ayah dan Uminya, lalu pergi.Ayah !aku melihat..Ayah sangat mencintai Umi. Seandainya cinta Ayah kepada Mama lebih besar, mungkin Ayah tidak akan melepas Mama begitu saja, batin Annisa berjalan kembali ke halaman pesantren, tempat diadakannya acara resepsi.


Tidak di pungkiri Yasmin, hatinya pasti lebih bahagia, jika Ayah dan Mamanya tetap bersama selamany.


Sepeninggal Yasmin, Bilal menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi Hani. Kemudian menyamatkan kelima jari tangannya di selah selah kelima jari tangan Hani.


"Mulai sekarang jangan bersedih lagi, kembalilah seperti Hani yang ceria seperti dulu." Bilal berbicara sambil memperhatikan wajah Hani yang menatapnya. Kemudian Bilal mengangkat tangan Hani yang digenggamnya, lalu mengecupnya."Karna sekarang Tuhan sudah menyatukan cinta kita" ucapnya lagi.


Hani mengulas senyumnya, kemudian menjinjitkan kakinya untuk mengecup bibir Bilal."Jangan menyembunyikan cintamu lagi!" ucapnya setelah melepas kecupannya.


Bilal meraih pinggang Hani, merapatkan tubuh mereka sampai menempel. Bilal mendekatkan wajahnya ke telinga Hani yang tertutup hijab."Tidak akan lagi sayang !, Bilal mu ini akan menunjukkan cintanya kepadamu selamanya" bisiknya sembari tersenyum.


"Hari ini aku akan mengakui cintaku kepadamu kepada Dunia. Bilal Al Biruni Aaryan Putra Alfarizqi mencintai Ummu Hani..dulu, sekarang sampai di kehidupan yang kedua. Haniku tersimpan selamanya di hatiku yang paling dalam" bisik Bilal lagi.


"Ayah !!"


Refleks Bilal menjauhkan wajahnya dari telinga Hani, dan menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.


"Sayang ! ayo kita keluar!" ajak Bilal kepada Hani, kemudian menggandeng Hani berjalan ke arah pintu.


Sampai di pintu kamar itu, Bilal pun mengecup kening Annisa yang bibirnya maju lima senti, kemudian mengusap kepalanya dengan sayang.


"Ayah tadi sakit perut, jangan cemberut gitu, jelek !"bohong Bilal tersenyum.


Annisa mendengus, ia tau Ayahnya berbohong. Karna Annisa sempat melihat Ayah dan Uminya bermesra mesraan.


Bilal pun merangkul pinggang kedua wanita kesayangannya yang berjalan di samping kiri dan kanannya keluar dari dalam rumah, berjalan ke tempat akan di langsungkannya acara resepsi.


Tiba di tempat tenda tenda akan berlangsungnya acara resepsi. Para menantu menantu keluarga Algatizqi langsung menyambut kedatangan mereka. Queen, Yumna, Naysila,Sirin,Jean, langsung menuntun Hani berjalan ke arah pelaminan. Sedangkan Bilal, dia di dampingi Yasmin, Annisa,Sabina, Gaia, Ayana dan keponakan perempuan lainya, berjalan mengikuti langkah para menantu Alfaruzqi dari belakang naik ke atas pelaminan.


Setelah sepasang pengantin itu duduk di kursi pelaminan. Para menantu dan keturunan Aaryan Dakhy Alfarizqi itu langsung turun, kembali ke tempat duduk masing masing.


Sedangkan Bilal dan Hani yang duduk di atas pelaminan, mereka saling berpandangan dengan wajah tersenyum dan berbinar bahagia.


"Ahebbak !" ucap Bilal, kemudian meraih sebelah tangan Hani, menyematkan jari jarinya di selah jari tangan wanita yang di cintainya itu.


"Juga !" balas Hani


Mereka terus berpandangan, tanpa menyurutkan senyum di bibir mereka. Duduk bersanding di atas pelaminan, sudah menjadi mimpi terindah bagi mereka berdua. Setelah perpisahan yang cukup lama, mereka tidak menduga, kalau mereka akan di pertemukan lagi menjadi pasangan suami istri.


Acara resepsi pun terus berjalan, para tamu undangan dari tadi tidak berhenti bergilir naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat dan memberi doa kepada mereka. Meski acaranya di gelar secara sederhana, namun para tamu undangan sangatlah banyak. Karna semua para santri dan murid murid dari Sekolah Harapan Grup turut di undang. Di tambah lagi semua para guru, keluarga kerabat dan para sahabat. Begitu juga dengan beberapa para pencari berita dari beberapa stasiun televisi swasta.


Seperti pernikahan Bilal yang pertama, Pernikahan Bilal kali ini pun tidak kalah hebohnya, Berita pernikahannya berhasil menjadi berita trending toping, di YT, di TV dan media lainnya.Seluruh masyarakat kaget mendengar berita pernikahannya. Karna setelah perceraiannya dengan Aqeela, mantan istri Ustadz kondang itu.Tidak pernah berhembus gosib, kalau Ustadz tampan idola semua kaum itu akan meminang seorang wanita. Dan selama ini mereka masih berharap, Ustadz Bilal rujuk dengan mantan istrinya.


Dan siapakah wanita yang di nikahi ustadz kondang itu ?, pikir mereka berjamaah.


"Assalamu alaikum Ustadz ! Ustadzah !" sapa seorang pencari berita kepada Bilal dan Hani, saat pengantin baru yang sudah lelah menyambut para tamu undangan itu.


"Walaikum salam !" balas Bilal dan Hani bersamaan.


"Ustadz ! tadi saya sempat dengar dari bisikan salah satu santriwan di pesantren ini. Kalau wanita di samping Ustadz ini adalah cinta pertama Ustadz!" ucap pria pencari berita itu. Lalu mengarahkan alat perekam suaranya ke mulut Ustadz Bilal, meminta penjelasan.


Ustadz Bilal tersenyum, ia pun merangkul pinggang Hani dari belakang.


"Lebih jelasnya, dia adalah wanita yang menemani perjalanan hidupku saat aku menimba Ilmu di pesantren ini, sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang. Dia yang membuatku betah di pesantren ini. Aku menyayanginya dan mencintainya " jelas Bilal dengan tersenyum.


"Apakah Uztadz dan Ustadzah dulu sempat berpacaran ?" tanya pencari berita itu lagi.


Bilal mengarahkan pandangannya ke wajah Hani yang berdiri tepat di samping. Bilal pun dulu bingung apa sebenarnya hubungannya dengan Hani. Di waktu kecil mereka berteman dekat, setelah beranjak remaja mereka saling jatuh cinta. Jika Bilal memilih menyembunyikan perasannya, berbeda dengan Hani yang terang terangan mengutarakan cintanya kepada Bilal, dan terus mengejar ngejar cinta Bilal.


"Kami tidak berpacaran" jawab Bilal.


"Lantas bagaimana dulu Ustadz dan Ustadzah bisa dekat dan saling mencintai jika tidak menjalin hubungan?" tanya pencari berita itu lagi.


"Berteman!" jawab Bilal singkat." Waktu masih madrasah, kami berteman dekat. Berjalan seiringnya waktu, setelah beranjak remaja, kami sama sama jatuh cinta. Saya pernah melamarnya, setelah saya berusia 21 Tahun. Namun rejeky tidak berpihak kepada kami untuk berjodoh, karna sahabat saya melamarnya lebih dulu" ungkap Bilal, tersenyum getir.


"Tidak di sangka, Allah meyatukan kami setelah 20 Tahun lebih lamanya" Mata Bilal berkaca kaca mengatakan itu. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Hani dari belakang.


"Wah Ustadz! kisah cinta kalian sungguh indah!" ucap pencari berita itu.


"Lebih tepatnya indah pada waktunya!" gurau Bilal, melebarkan senyum manisnya.


.


.