Brother, I Love You

Brother, I Love You
222. Mungkin dia bukan untukku



Hani melangkahkan kakinya masuk ke rumah sang mendiang Kakek, yang di tempati Pamannya. Tadi saat di dalam kelas, Pamannya menyuruhnya untuk datang ke rumah, karna ada hal penting yang ingin di bicarakan keluarga.


"Assalamu alaikum !" seru Hani.


"Walaikum salam !" balas semua orang yang ada di ruangan itu.


Hani mengarahkan pandangannya ke wajah tiga orang tamu yang duduk di sofa ruang tamu peninggalan kakeknya itu. Hani mengulas senyumnya melihat siapa tamu itu. Hani mengenalnya, mereka adalah sahabat dari keluarga mereka.


"Sini sayang !" wanita paru baya yang duduk di samping Uminya, menepuk sofa di sampingnya.


"Apa kabar tante ?" sapa Hani ramah, menyalam wanita paruh baya itu, lalu mendudukkan tubuhnya.


"Alhamdulillah !" balas wanita paruh baya itu, mengusap bahu Hani yang tertutup hijab.


"Pak Ilham dan Bu Maryam kesini untuk melamarmu menjadi menantu mereka" ucap Ustadz Hamzah, menjelaskan maksud kedatangan kerabat mereka itu.


Sontak Hani langsung mengarahkan pandangannya ke arah Pamannya yang tersenyum kepadanya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Uminya, bergantian ke arah wanita paruh baya di sampingnya.


"Selama ini Pak Ilham dan Bu Maryamlah yang membantu dana pembangunan pesantren ini sampai bisa sebesar ini" jelas ustadz Hamzah, supaya Hani mempertimbangkannya jika ia akan menolaknya.


"Ustadz Hamzah ! jangan berbicara seperti itu. Kita ini sudah seperti keluarga dari dulu. Kami ikhlas mendonasikan dana kami ke pesantren ini" ujar Pak Ilhan.


"Bukan bermaksud apa apa Pak Ilham !. Hani sudah besar, sudah seharusnya dia tau siapa saja orang yang berjasa ke pesantren ini" balas Ustadz Hamzah.


"Tapi jangan memaksanya jika dia tidak bersedia untuk jadi menantu kami Ustadz Hamzah. Apa lagi menjadikannya sebagai ganti balas jasa" ucap Pak Ilham.


"Maaf Pak Ilham ! bukan begitu maksud saya !" hela napas Ustadz Hamzah.


"Biar saya yang menanyakannya, apakah dia bersedia atau tidak" ujar Ibu Maryam. Kemudian mengarahkan pandangannya ke wajah Hani yang menunduk di sampingnya.


"Ma ! biar Hidayah aja yang menanyakannya. Kalian bikin malu aku aja !" celetuk Hidayah. Pria yang akan mengkhitbah Hani.


"Oh ! itu lebih bagus" ucap Ibu Maryam tersenyum, bangga dengan anaknya yang jentel.


Ehem ! Hidayah berdehem untuk memperbaiki kualitas pita suaranya. Hidayah pun mengarahkan sebentar pandangannya kepada Hani, kemudian menundukkannya lagi.


"Bismillahirrohmanir rohim !" Hidayah menjeda kalimatnya." Hani ! saya di sini bukan untuk saya sendiri, melainkan untuk Agama saya. Untuk menjalankan sunnah rasul sebagai seorang muslim." Hidayah menjeda kalimatnya lagi, memandang sebentar ke arah Hani."Hani ! maukah kamu mendampingi hidup saya, mencari jalan keridoan menuju surganya Allah bersama sama ?" lanjutnya.


Hidayah pun menghela napasnya, untuk menormalkan jantungnya yang berdebar. Kawatir Hani akan menolaknya, karna Hidayah juga tau, kalau Hani menyukai Ustadz Bilal.


"Kenapa harus saya ?"


Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Hani. Bukankah Hidayah tau kalau ia menyukai Ustadz Bilal, teman Hidayah sendiri sewaktu Hidayah masih mondok di pesantren itu ?.


Semua diam dan mengarahkan pandangan mereka ke arah Hani yang masih menunduk.


"Tentu karna aku menyukaimu !" jawab Hidayah.


Hani terdiam sebentar, lalu berbicara." Aku butuh waktu untuk memikirkannya" ucapnya, lalu menghela napasnya.


Hani sebenarnya ingin lansung menolak lamaran Hidayah. Namun Hani tidak berani melakukannya, pasti pamannya Ustadz Hamzah marah kepadanya. Mengatakannya tidak punya etika dan tidak tau balas Budi.


"Berapa lama ?" tanya Hidayah.


Hani mendongakkan kepalanya sebentar, lalu menunduk lagi.


"Tiga hari !" jawab Hani, menghela napasnya lagi.


"Baiklah !" balas Hidayah.


Ibu Maryam pun mengusap punggung Hani dengan satu tanganya. Berharap tiga hari ke depan Hani memberikan jawaban yang menyenangkan.


"Tante berharap, kamu menerima lamaran anak Tante yang tampan itu" ucapnya tersenyum khas keibuan.


Hani pun diam tak menjawab.


Para orang tua itu pun melanjutkan obrolan mereka. Dari mengenang masa muda mereka, menceritakan soal anak anak, hingga pesantren dan bisnis.


Sedangkan Hani dari tadi hanya diam saja.


.


.


Malam Harinya.


Ustadz Hamzah mengetuk pintu kamar Hani, yang berada di rumah mereka. Karna dari semenjak Hidayah dan kedua orang tuanya pulang, Hani mengurung diri di kamarnya. Yang biasanya Hani akan shalat berjamaah ke masjid, kini Hani melaksanakan shalat di kamarnya.


"Hani ! ini paman ! bukan pintunya sayang !" panggil Ustdaz Hamzah.


Ustadz Hamzah adalah kakak dari Abinya Hani. Tetapi sudah menikah dengan Uminya Fatimah. Karna Istri dari Pamannya itu juga sudah meninggal. Bisa di katakan, Ustadz Hamzah adalah Paman sekaligus Ayah tiri Hani.


"Gak di kunci Paman !" sahut Hani, suaranya terdengar serat sepertinya habis menangis.


Ustadz Hamzah pun membuka pintu kamar Hani, dan langsung masuk.


Hani yang tadinya tengkurap di atas kasur, mendudukkan tubuhnya, dan menghapus air matanya.


Ustadz Hamzah mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, berhadapan dengan Hani. Ustadz Hamzah mengusap kepala Hani dengan sayang.


"Paman tidak akan memaksamu, tapi pikirkanlah nak !" ucap Ustadz Hamzah." Mereka sangat baik kepada kita, sudah menganggap kita keluarga sendiri. Dan Paman rasa, Hidayah adalah pria yang baik" ucapnya lagi.


Hani hanya diam dan terisak.


"Bukankah Ustadz Bilal tidak menerima cintamu ?" Ustadz Hamzah tersenyum. Mengingat kegigihan Hani mengejar cinta Ustadz Bilal. Namun ustadz Bilal tidak pernah menanggapi serius tingkah Hani.


"Itu dia Paman !, padahal Hani sangat yakin, kalau Ustdaz Bilal juga menyukai Hani" jawab Hani.


Ustadz Hamzah mengusap kepala Hani kembali." Maukan ? menerima lamaran nak Hidayah ?" tanya ustadz Hamzah lagi dengan suara membujuk.


Hani diam berpikir dan menajamkan pandangannya ke wajah sang paman.


"Assalamu alaikum !"


Jantung Hani langsung berdebar kencang mendengar sahutan seorang laki laki mengucam dalam dari luar rumah mereka.


Ustadz Bilal !, batin Hani.


"Walaikum salam !" sahut Ustadz Hamzah, ia pun keluar dari kamar Hani untuk menemui tamu tersebut.


Hani di dalam kamar, memegangi dadanya dan menangis meringkuk di atas kasur. Hani bingung apakah dia menerima lamaran Hidayah atau tidak. Jika ia menerimanya, itu artinya ia akan berhenti mengharapkan Bilal. Jika ia menolaknya, Pamannya dan keluarga yang lain pasti akan kecewa kepadanya, dan mungkin bisa marah.


Di luar kamar, Ustadz Hamzah mempersilahkan Bilal masuk.


"Silahkan masuk nak Bilal !" ucap ramah Ustdaz Hamzah.


"Trimakasih Ustadz !" Bilal pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu rumah itu. Dan langsung duduk setelah di persilahkan.


"Umi ! buatin teh ! ustadz Bilal datang !" seru Ustadz Hamzah kepada Umi Fatimah istrinya.


"Iya Abi !" sahut dari arah belakang.


"Gak usah repot repot Ustadz !" ucap Bilal, karna ustadz Hamzah menyuruh istrinya membuatkan teh.


"Gak apa apa Nak !' balas Ustadz Hamzah."Ada perlu apa ustadz Bilal ?" tanyanya.


Ustadz Bilal menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Sepertinya yang akan di sampaikan nak Bilal adalah hal yang serius !" ucap Ustdaz Hamzah tersenyum.


"Bisa dikatakan seperti itu ustadz !" balas Bilal tersenyum hambar.


"Ayo katakanlah nak !" suruh Ustadz Hamzah.


"Begini Ustadz Hamzah !" Bilal menjeda kalimatnya sebentar, kemudian berbicara lagi."Sebenarnya yang akan saya sampaikan ini, sudah pernah saya sampaikan kepada mendiang Kiayi Husen Ustadz." ucapnya lagi.


"Apa itu ?" Ustdaz Hamzah menautkan kedua alisnya.


Bilal menghela napasnya pelan, lalu menjawab." Saya ingin mengkhitbah Hani untuk menjadi istri saya Ustadz !" jawab Bilal.


Ustadz Hamzah pun terdiam dan menajamkan pandangannya ke wajah Bilal.


"Saya sudah melamar Hani kepada Kiyai Husen sebelumnya. Tapi sepertinya Kiayi Husen belum sempat menyampaikannya kepada Hani, beliau sudah meninggal" ucap Bilal lagi, membalas tatapan Ustadz Hamzah sebentar.


Hani yang berada di dalam kamarnya, memegangi dadanya yang semakin berdebar kencang mendengar Bilal melamarnya. Dan yang membuatnya kaget, Bilal melamarnya kepada mendiang Kakeknya sebelumnya.


Ustadz Hamzah menghela napasnya lalu berbicara." Maaf ustadz Bilal, karna saya tidak mengetahui hal itu" ucapnya." Tapi kami barusan menerima lamaran Hidayah untuk Hani. Dan Hani pun sudah setuju" balas Ustadz Hamzah.


Hani yang mendengarnya dari dalam kamar terdiam.Apa maksud Paman ?, bukankah aku meminta tiga hari untuk berpikir ?. Kenapa Paman mengatakan kepada ustadz Bilal kalau aku sudah menerima lamaran Hidayah ?, batin Hani.


Apakah lamaran seorang anak muda yang di katakan Kakek kemarin itu adalah lamaran Ustadz Bilal ?, tanyanya lagi dalam hati.


Bilal yang duduk bersebrangan dengan Ustadz Hamzah terdiam sebentar.


"Begitu ya Ustadz !" Bilal menghela napasnya.


"Saya minta maaf nak Bilal !. Sungguh saya tidak mengetahui itu"ucap Ustadz Hamzah.


Maafkan saya Ustadz Bilal, karna saya harus membalas budi kebaikan keluarga Pak Ilham, dengan memberikan Hani sebagai menantu mereka. Batin Ustadz Hamzah, memandang Bilal yang terdiam kaku di tempatnya.


Tak lama kemudian Umi Fatimah datang dari dapur membaw nampan berisi dua gelas teh, meletakkannya di atas meja.


"Silahkan Ustadz Bilal !" ucapnya mengulas senyum.


"Trimakasih Ustadzah !" balas Bilal memaksakan senyumnya.


Umi Fatimah menganggukkan kepalanya, lalu undur diri.


.


.


"Paman ! apa maksud Paman mengatakan kepada ustasz Bilal kalau aku sudah menerima lamaran Hidayah ?" tanya Hani keluar dari dalam kamarnya, setelah mendengar Bilal sudah pergi.


"Sini sayang ! kamu putri satu satunya Paman, jangan marah sama Paman!" Ustadz Hamzah menepuk sofa di sampingnya supaya Hani duduk di sampingnya.


"Aku gak mau menerima lamaran Hidayah Paman !" ucap Hani lagi, sambil berjalan ke arah Ustadz Hamzah.


"Keluarga Hidayah sudah banyak membantu untuk kemajuan pesantren ini. Dulu pesantren ini hanyalah sebuah madrasah. Tapi lihat sekarang, pesantren ini berkembang menjadi pesantren yang besar dan maju, itu semua berkat keluarga Hidayah sayang!" jelas Ustadz Hamzah.


"Jadi Paman menumbalkanku ?" marah Hani.


"Kenapa kamu marah sama Paman ?. Bukankah kamu yang mengatakan untuk memikirkan lamaran mereka. Gak mungkin 'kan kamu menyuruh orang menunggu jawaban kamu yang mengecewakan kepada orang ?" ucap Ustadz Hamzah pelan tadi terdengar marah.


Hani terdiam


"Apa kamu akan membiarkan tante Maryam mu dan Om Ilhammu menjemput penolakanmu setelah tiga hari ?" tekan Ustadz Hamzah lagi."Pikirkan perasaan mereka nak !"ucapnya lagi.


Hani menangis terisak, kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Abi !" tegur Umi Fatimah, mendekati suaminya.


"Jika Abi memiliki putri sendiri, Abi pasti akan memberikan putri Abi!" ucap Ustadz Hamzah, mengerti akan maksud istrinya."Dan juga Abi tidak menjodohkan mereka. Keluarga Pak Ilham lah sendirilah yang datang melamar Hani. Mereka sendiri yang menginginkan Hani untuk menjadi menantu mereka. Dan Nak Hidayah jugalah yang menyukai Hani" jelasnya.


Umi Fatimah terdiam, hanya bisa menangis. Umi Fatimah pun menyusul Hani ke dalam kamarnya.


Bilal yang sudah berada di dalam mobilnya, duduk terdiam dengan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, dengan memejamkan matanya, merenung.


Mungkin dia bukan untukku !,batin Bilal.


Bilal menghela napasnya, kemudian melajukan kenderaannya meninggalkan pesantren. Malam ini ia tidak bersemangat untuk mengikuti kajian Agama. Bilal butuh sendiri untuk menenangkan dirinya.


.


.