
"Om ! kenapa dia pingsan lagi ?" tanya Darren kepada Dokter Aldo yang masih memeriksa keadaan pasien itu.
Dokter Aldo menghela napasnya. Dokter Aldo kembali memeriksa denyut nadi pasien itu dan juga pernapasannya. Dokter Aldo menghela napasnya lega karna pasien masih hidup.
"Dia hanya pingsan" ucap Dokter Aldo.
Darren pun bernapas lega, dan menghapus air matanya.
"Dokter Aldo ! Pasien ini mengalami luka di bagian kepala, harus segera di operasi !" ujar Dokter yang membantu Dokter Aldo di ruangan itu.
"Segeralah kalian bawa anak itu ke ruang operasi dan segera lakukan operasi. Biar urusan administrasinya nanti menyusul.Dan juga pasien ini, tolong kalian bawa ke ruang operasi sebelahnya. " perintah Dokter Aldo selaku pemilik Rumah Sakit itu.
Darren yang mendengar Khanza terluka parah dan harus di operasi, langsung membalik tubuhnya ke arah brankar yang di belakangnya. Darren mengusap kepala Khanza lalu mencium keningnya, lalu memeluknya.
"Mas ! kami harus segera membawanya ke ruang operasi !" ucap seorang perawat kepada Darren yang memeluk Khanza.
Darren pun melepas pelukannya dari tubuh anak yang malang itu."Om ! Dia putriku ! tolong selamatkan dia !" ucap Darren, kembali meneteskan air matanya, kasihan melihat anak yang malang itu. Entah dimana Ayah kandungnya, sampai tega menelantarkan anak dan istrinya.
Dokter Aldo menepuk bahu Darren, meski bingung dengan perkataan Darren yang mengatakan anak berusia sebelasan Tahun itu adalah putrinya.
"Berdoalah lebih banyak, karna keberhasilan usaha kami juga adalah mukjizat dari Allah" ucap Dokter Aldo.
Darren hanya diam saja, ia kembali mendekati brankar Jean. Darren pun mengecup kening Darren dengan penuh perasaan. Katakanlah kali ini Darren khilaf karna sudah mencium wanita yang bukan haknya, sungguh ia sudah tak bisa menahan perasaannya.
"Berjuanglah untuk bertahan hidup, jika tak bisa untukku, berjuanglah untuk putrimu !" bisik Darren lirih di telinga Jean. Kembali Darren mengecup kening Jean sekali lagi sebelum di bawa ke ruang operasi.
Tuhan ! sembuhkan luka dan rasa sakit mereka. Aku mohon ! , batin Darren lalu melepas kecupannya.
"Permisi Mas !" ucap seorang perawat yang akan mendorong brankar Jean.
Darren langsung menegakkan tubuhnya kembali, lalu membantu perawat itu mendorong brankar Jean ke luar dari ruang UGD, sampai ke depan ruangan operasi.
Darren mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu di depan ruang operasi. Darren mendongakkan wajahnya ke atas lalu mengusapnya kasar dengan kedua telapak tangannya. Rasa kawatir dan takut menyelimuti hatinya, apa lagi mengingat Jean sempat menitipkan Khanza kepadanya. Hati Darren menjadi gelisah tak tenang. Rasanya ia ingin sekali ikut menemani Jean di ruang operasi menggenggam tangan Jean sepanjang operasi berlangsung.
"Darren ! Hubungi keluarga pasien itu, mana tau di butuhkan !" ucap Dokter Aldo yang hendak masuk ke dalam ruang operasi.
Darren langsung saja mengarahkan pandangannya ke arah Dokter Aldo." Aku gak mengenal siapa keluarga mereka !. Setauku mereka hanya hidup berdua tanpa keluarga" jawabnya.
"Kabari orang tuamu kalau kamu di sini, jangan sampai nanti Sabin mencarimu !" ujar Dokter Aldo dan langsung masuk ke dalam ruangan operasi itu.
Astaga ! pasti mereka menungguku untuk makan malam !. Aku sampai lupa !, batin Darren , dan segera mengeluarkan HPnya dari saku celananya.
Darren menghidupkan layar ponselnya, ternyata sudah sampai ada sepuluh panggilan tak terjawab dari no Mama Bunya, dan ada tiga pesan menanyakan keberadaannya. Darren pun langsung menelepon kembali no Mama Bunga.
"Ma ! Darren di depan ruang operasi !" ucap Darren, setelah teleponnya tersambung.
"Ngapain di sana Nak ?, siapa yang di operasi ?. Papamu gak mau makan, dari tadi papamu menunggumu untuk makan bersama. Cepatlah ke sini, beri Papamu makan !" cerca Mama Bunga.
"Iya Ma ! Darren akan segera kesana !" balas Darren.
Darren langsung mematikan sambungan teleponnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah lif Rumah sakit itu. Darren berpikir, lebih baik ia menemui orang tuanya dan menceritakan langsung tentang Jean dan putrinya yang mengalami kecelakaan dan terluka parah. Dan juga Darren bisa sekalian menyuapi Papanya yang menjadi manja kepadanya.
Sampai di ruang perawatan Papa Arya, Darren pun mengetok pintu di depannya dan langsung membukanya.
"Darren ! ya ampun sayang !, kenapa bajumu berdarah darah ?. Kamu kenapa sayang ?, kamu kenapa bisa terluka ?" kawatir Mama Bunga mendekati Darren yang baru masuk.
Darren menghela napasnya, meski sangat kawatir memikirkan Jean dan Khanza, ia mencoba untuk tenang.
"Ini darah pasien kecelakan Ma !" jawab Darren dengan pandangan meneduh.
Tak dapat memendam kegundahannya, Darren menghamburkan tubuhnya memeluk Mama Bunga, dan lansung menangis terisak.
"Kamu kenapa Nak ?, kenapa menangis ?" Mama Bunga membalas pelukan putranya itu dan mengusap usap kepalanya.
"Jean dan Khanza Ma !, mereka sekarang lagi menjalani operasi !" isak Darren.
"Subahanallah !" ucap Mama Bunga.
"Darren takut kehilangan mereka Ma !" tangis Darren lagi.
"Sssttt...! istigfar sayang ! jangan berprasangka buruk kepada Tuhan" ucap Mama Bunga, masih terus mengusap usap kepala Darren yang bersandar di dadanya.
Tuhan apa menyembunyikan wanita itu adalah sebuah kesalahan. Tapi Tuhan !, aku ingin yang terbaik untuk anakku. Dan tidak mungkin aku menyuruh anakku menikah waktu itu di saat usianya belum pantas. Dan harus menikahi wanita yang sudah janda.Batin Papa Arya, kasihan melihat Darren yang begitu tersiksa karna wanita itu.
"Yakinlah ! mereka pasti baik baik saja !" ucap Mama Bunga menenangkan Darren, kemudian memberinya minum air putih.
.
.
"Ada apa Habib ?, siapa yang menelepon ?" tanya Yumna melangkahkan kakinya ke arah Reyhan yang berdiri di dekat jendela kamar Villa yang mereka sewa selama liburan.
"Papa masuk rumah sakit !" jawab Reyhan, meneduhkan pandangannya ke arah Yumna.
Yumna mengulas senyumnya, mengerti akan tatapan suaminya itu."Gak apa apa jika kita harus pulang Habib !. Lain kali kita bisa berlibur lagi" ucap Yumna lembut.
"Tapi kita baru tiga hari di sini sayang !" balas Reyhan.
Mereka sekarang lagi berlibur di sebuah Villa di sebuah Desa. Mereka sengaja memilih liburan ke desa asal kampung Ibu Tika. Selain di desa itu udaranya sejuk, mereka bisa bersahabat dengan alam. Mereka bisa menikmati indahnya pemandangan bukit barisan dan persawahan yang luas.
"Gak apa apa Habib, setelah Papa sembuh kita bisa ke sini lagi !" jawab Yumna tersenyum.
"Trimakasih sayang ! sudah memahamiku !." Reyhan menarik tubuh Yumna ke dalam pelukannya, dan mengecup keningnya.
Yumna pun membalas pelukan Reyhan dengan Erat. Mungkin belum saatnya kami memiliki seorang anak, batin Yumna. Tiba tiba Yumna mengerutkan keningnya, karna tiba tiba kepalanya terasa pusing.
"Habib !" panggil Yumna," Kepalaku tiba tiba pusing Habib !" ucap Yumna.
Reyhan langsung melepas pekukannya, menjauhkan sedikit tubuhnya supaya bisa melihat wajah Yumna.
"Ya ampun sayang !, wajah pucat bangat !." Reyhan langsung mengangkat tubuh Yumna, membawanya ke arah kasur dan membaringkannya di sana.
"Kok bisa tiba tiba pusing sih sayang ?. Apa kamu masuk angin ?. Sebentar biar aku ambilkan minyak angin." tanya Reyhan langsung mengambil tas Yumna yang terletak di atas kasur, dan mencari minyak angin di dalamnya.
"Aku gak tau Habib !" jawab Yumna memijit mijit pelipisnya.
"Ini karna beberapa hari ini kamu makannya sedikit sedikit, dan juga kecapean karna terus jalan jalan" ujar Reyhan mengoleskan minyak kayu putih ke kening dan leher Yumna, kemudian ke perutnya. Dan Reyhan pu memijat mijat kening Yumna.
"Entah Habib ! Semenjak berangkat aku gak berselera makan !" balas Yumna.
"Kamu gak berselera makan, karna kamu terlalu setres, memikirkan nasib kita yang belum memiliki anak" ucap Reyhan lagi.
Yumna menghela napasnya, karna yang di katakan suaminya itu ada benarnya." Setiap mendengar kabar kehamilan orang dan melihat wanita lain menggendong seorang bayi. Hatiku terasa terpukul Habib. Aku merasa seperti wanita yang tersisihkan" balas Yumna, tak terasa air meneteskan air matanya.
"Sssttt...!" Reyhan menghapus lelehan bening yang mengalir dari sudut mata Yumna." Kamu adalah wanita yang kuat. Sehingga Tuhan memberikanmu cobaan yang luar biasa, untuk menguji keimananmu" ucapnya.
"Astagfirullohal 'azim !" ucap Yumna.
Reyhan mengulas senyumnya, karna istrinya itu sangat mudah di ingatkan. Dan istrinya itu akan selalu beristigfar setiap ia memungkiri nikmat Tuhan.
"Bukankah dengan berdua saja, kita terlihat lebih romantis dari orang lain yang sudah memiliki anak ?. Kita bisa berpelukan selama yang kita mau tanpa ada yang mengganggu. Kita bisa berkasih sayang sebanyak yang kita inginkan. Kita bisa beribadah lebih khusuk sepanjang yang kita mampu" hibur Reyhan.Meski hatinya juga sedih dengan takdir mereka, tapi ia harus terlihat kuat di depan istrinya.
Yumna mengulas senyumnya, kemudian mengambil tangan Reyhan yang memijit mijit keningnya, lalu mengecupnya. Yumna juga tau, kalau sebenarnya suaminya itu lebih sedih dari pada dirinya, karna suaminya itulah yang bermasalah di antara mereka berdua. Yumna juga tau, kalau suaminya itu sangat takut ia tinggalkan karna kekurangannya.
"Bisakah aku meminta untuk menunda keberangkatan kita sehari saja. Kepalaku benar benar terasa pusing Habib !" pinta Yumna.
Reyhan tidak langsung menjawab, ia pun berpikir, siapa yang lebih ia utamakan, orang tuakah atau istri. Setelah berpikir, Reyhan pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Melihat wajah istrinya yang sedikit pucat dan tubuhnya nampak lemah. Tidak mungkin Reyhan memaksakan istrinya untuk perjalanan jauh.
"Trimakasih Habib !"ucap Yumna.
"Kamu adalah tanggung jawabku sayang !. Menjagamu adalah kewajibanku" balas Reyhan.
Reyhan pun membaringkan tubuhnya di samping Yumna, dan langsung merapatkan tubuh mereka. Mereka akan istirahat, karna besok mereka akan kembali pulang ke Negara tercinta.
"Trimakasih Almira ! sampai sekarang kamu masih setia mendampingiku !" ucap Reyhan memeluk erat tubuh Yumna, dan mengecup keningnya.
"Habib !!!" pekik Yumna karna suaminya itu tiba tiba menindih tubuhnya.
.
.