Brother, I Love You

Brother, I Love You
243. Doa kita terkabul



Gegas Bilal turun dari dalam mobil dan berlari kecil ke arah pintu di samping Hani, dan langsung membukanya.


"Kita periksa ke Dokter ya!" Bilal membantu Hani keluar dari dalam mobil. Setelah menutup pintunya kembali, Bilal pun menuntun Hani masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Tidak perlu mengambil no antrian lagi, karna Bilal sudah memesan jadwal periksa dari tadi malam pada ponakannya yang berprofesi sebagai Dokter kandungan. Bilal pun langsung menuntun Hani berjalan ke arah ruang periksa Dokter kandungan.


Tok tok tok !


"Assalamu alaikum !" ucap Bilal sambil mengetuk pintu di depannya.


"Walaikum salam ! masuk!" sahut suara seorang wanita dari dalam.


Bilal pun langsung mendorong pintu di depannya sampai terbuka dengan sempurna.


"Paman Bilal ! tante Hani !" sapa gadis berwajah mirip ratu sejagat itu dengan senang.


Gaia yang melihat Paman dan tantenya datang, pun langsung berdiri dari kursinya, berjalan menyambut pasangan pengantin baru itu dan menyalamnya bergantian.


"Apa kabar Paman sama Tante?" tanya Gaia.


"Alhamdulillah! baik sayang!" Bilal mengusap kepala Gaia yang tertutup hijab dengan sayang." Tapi sepertinya Tante Hani mu sedang tidak baik. Tante Hani mu tadi merasakan sakit di perutnya pas kami sampai di parkiran" lanjut Bilal.


"Iya! sepertinya akan datang bulan" sambung Hani.


"Apa Tante sering merasakan sakit saat datang Bulan?"Gaia mengiring Hani untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya.


"Sakit sedikit aja, tapi tadi sakit banget. Sekarang pun perut tante masih terasa agak keram gitu!" jawab Hani.


Gaia mengulas senyumnya,"ayo Tante kita periksa ke sana!" tunjuk Gaia ke arah brankar di ruangannya.


Gaia pun membantu Hani berdiri dari tempat duduknya, mengiringnya berjalan ke arah brankar, Bilal pun langsung mengikutinya. Dan Gaia juga membantu Hani naik ke atas brankar dan membantunya berbaring.


Perawat di ruangan itu pun dengan sigap melebarkan selimut dan menutupi bagian bawah tubuh Hani, kemudian menyingkap baju gamis Hani sampai menampakkan permukaan perutnya.


"Apa kira kira Tante Hani mu hamil?" tanya Bilal berdiri di samping Hani yang terbaring.


Sontak Hani langsung menoleh ke arah Bilal, dan jantungnya berdegup sangat kencang mendengar kata hamil.


"Kita lihat saja Paman!" jawab Dokter Gaia Zahra. Anak kedua dari Arsenio dan sirin itu tersenyum.


Hani menggigit bibir bawahnya dan menghela napas dalam saat perawat di ruangan itu mengoleskan jel ke permukaan perutnya. Apa ia hamil?, rasanya Hani tidak percaya, menurutnya dia akan datang bulan.


Bilal yang melihat kegugupan Hani, menyentuh tangan Hani, menyematkan jari jarinya di jari tangan Hani dan menggenggamnya erat.


"Rileks sayang!" ucapnya lembut dan tersenyum.


Mungkin bagi Bilal menemani istri periksa ke Dokter kandungan itu sudah biasa. Tapi bagi Hani, ini pengalaman pertamanya masuk ke ruangan Dokter kandungan. Apa lagi sampai melakukan USG. Tentu Hani merasa sangat gugub.


"Aku sangat gugup!" jujur Hani menatap Bilal.


Bilal mengulurkan sebelah tangannya lagi untuk mengusap ujung kepala Hani." Ada aku di sampingmu!" ucapnya.


"Paman! Tante! lihat ke layar ya!" ucap Dokter Gaia, mulai menempelkan alat USG ke perut Hani, kemudian menggerak gerakkannya.


Hani dan Bilal sontak menoleh ke arah layar datar yang menempel di dinding ruangan itu. Hani yang masih gugub semakin mengeratkan pegangan tangannya ke tangan Bilal, menunggu hasil USG dari Dokter Gaia.


"Paman dan Tante penasaran 'kan ?" Gaia tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya ke arag Bilal dan Hani.


Bilal berdecak melihat sikap menyebalkan keponakannya itu." Ayolah !" ucapnya.


Hani yang masih berbaring, menarik napas dalam.


Gaia menunjuk gambar di layar datar di depannya dengan pena." Lihat ini Paman Ustadz, anggota kami bertambah satu!" ujar Gaia, tersenyum dengan wajah berbinar senang.


"Alhamdulillah!" ucap Bilal tersenyum, matanya nampak berkaca kaca.


Kemudian Bilal mengarahkan pandangannya ke wajah Hani yang membeku di tempatnya." Sayang!" Bilal menyentuh permukaan perut Hani yang baru selesai si bersihkan perawat. Kemudian Bilal mengecup kening Hani.


"Kamu hamil sayang!,doa kita terkabul!."


Perlahan Hani pun mengarahkan pandangannya ke wajah Bilal yang tepat berada di atas wajahnya. Mata Hani berkaca kaca, dia tidak salah dengar bukan?.


"Abang!"panggil Hani pelan dengan suara lembut." Apa itu benar?."


Bilal mengecup kening Hani sekali lagi." Iya sayang!, Di sini ada buah cinta kita!" Bilal mengusap lembut perut Hani.


Tanpa melepas pandangannya dari wajah Bilal, air mata Hani pun seketika mengalir deras dari sudut matanya."Alhamdulillahi robbil alamin!" isak Hani terdengar pilu.


Hani pun menyentuh perutnya yang masih rata. Hani tidak menyangka, dia akan hamil secepat itu di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Bilal pun mengulurkan tangannya untuk menghapus cairan bening yang membasahi wajah Hani.


"Ayo! kita dengarkan penjelasan Dokternya!" Bilal membantu Hani duduk dan turun dari atas brankar, berjalan kembali ke meja Dokter.


Setelah Hani dan Bilal duduk di kursi yang ada di depan Dokter Gaia. Gaia langsung menyalam Hani dan memeluknya.


"Selamat ya Tante!" ucap Gaia.


"Sama sama!" balas Hani, air matanya masih terus mengalir. Ia terlalu terharu dengan titipan di dalam perutnya.


Setelah Gaia melepas pelukannya, ia pun berpindah memeluk Bilal."Selamat Pamanku sayang!" ucapnya tersenyum.


"Trimakasih sayang!" balas Bilal.


Setelah Gaia kembali ke kursinya, ia pun memberikan penjelasan seputar kehamilan kepada Hani dan Bilal. Meski Bilal sedikit banyaknya sudah paham dengan seputar Ibu Hamil. Tapi Hani perlu mendengarkan langsung penjelasan Dokter Kandungan.


"Ingat Paman ! Di usia empat puluhan, wanita hamil lebih rentan keguguran. Jadi Paman lebih berhati hatilah saat berolah raga. Dan jangan buat Tante Hani kecapean. Apa lagi menyuruh Tante olah raga setengah skonjang" Jelas Dokter Gaia.


"Huss! kamu itu gak ada sopannya bicara sama orang tua. Tante kamu jadi malu!" ujar Bilal mengulum senyumnya, dan satu tangannya menarik tubuh Hani untuk bersandar ke lengannya.


Gaia mencebik, karna di bilang tidak sopan." Men..jelaskan! dan me..ngi..ngat kan!" tekan Gaia.


"Apa tadi rasa sakit dan keram di perutnya gak apa apa?" tanya Bilal.


"Tidak apa apa, janinnya masih di posisi aman. Rasa sakit dan kram perut tadi bisa saja karna Tante Hani terlalu gugup sepanjang jalan. Atau tadi malam Paman sama Tante terlalu banyak olah raga" jelas Gaia lagi.


Bilal mendengus, karna keponakannya itu terus membahas masalah ranjang. Sedangkan Hani menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang merona, karna Hani tidak biasa mendengar pembahasan masalah ranjang, meski sesama wanita.


"Ini resep vitamin untuk Tante Hani"Dokter Gaia memberikan kertas resep kepada Paman Bilal nya." Kalau Tante Hani merasakan kram dan sakit berlebihan, Tante jangan sungkan menghubungi Gaia" ucap Gaia tersenyum ramah.


Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Trimakasih ponakan!" balas Hani.


"Kalau begitu, Paman sama Tante pulang dulu!" pamit Bilal berdiri dari tempat duduknya, kemudian membantu Hani berdiri.


"Iya Paman! Tante!" Dokter Gaia Zahra pun berdiri dari tempat duduknya mendekati Bilal dan Hani, mengantarnya keluar pintu.


.


.


Selesai menebus vitamin di apotek rumah sakit, Bilal dan Hani pun langsung keluar dari gedung rumah sakit itu. Sampai di parkiran, Bilal membukakan pintu untuk Hani dan membantunya masuk ke dalam mobil.


"Pelan pelan sayang!" ucap Bilal.


Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis, dan tangannya mengelus perutnya.


"Apa kamu senang sayang?" tanya Bilal.


Lagi, Hani menganggukkan kepalanya. Tentu ia senang di berikan kesempatan menjadi seorang ibu. Pasti semua wanita yang sudah menikah di Dunia ini mendambakan itu.


Dan jangan di tanyakan lagi, Bilal juga pasti sangat senang. Karna usaha keras si burung cicit miliknya, akhirnya membuahkan hasil. Dan tentu yang membuat Bilal bahagia adalah wanita yang sangat dia cintai itu kini mengandung darah keturunannya.


"Aku juga sangat senang Hani!. Aku mencintaimu!" Bilal mengeratkan pelukannya ke tubuh Hani, dan satu tangannya pun mengelus perut Hani.


"Aku juga!" Hani mendongakkan kepalanya ke arah Bilal dengan senyum merekah di bibirnya.


"Aku sudah tau itu dari dulu!, kalau kamu tergila gila dengan ketampananku!" Bilal membalas senyum Hani tidak kalah merekahnya.


"Tapi Abang dulu sangat gendut!" ucap Hani, mengingat Bilal waktu anak anak dulu.


"Dan kamu kurus dan kecil!" balas Bilal.


"Tapi wajahku cantik dan imut!" ucap Hani lagi.


Bilal semakin metekahkan senyumnya, tentu Bilal tidak lupa dengan wajah Hani saat anak anak dulu, cantik dan imut.


"Sekarang juga kamu masih terlihat cantik dan sedikit imut!" puji Bilal, mengecup bibir Hani.


Hani mengerucutkan bibirnya namun matanya nampak berbinar bahagia." Apa imutku sudah berkurang?."


"Hanya sedikit!" jawab Bilal.


Kemudian Bilal pun menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukannya perlahan meninggalkan halaman rumah sakit, dengan membiarkan Hani tetap bersandar di dadanya.


.


.


Sampai di rumah, Bilal dan Hani langsung masuk ke dalam kamar. Hani langsung mendudukkan tubuhnya di atas kasur dan langsung mengeluarkan Handphonnya dari dalam tasnya yang di bawanya ke rumah sakit. Hani akan mengabari Annisa dan Yasmin tentang kabar bahagia itu.


Sedangkan Bilal ia membaringkan tubuhnya di atas kasur, meletakkan kepalanya di atas pangkuan Hani. Bilal mendekatkan wajahnya ke perut Hani, mengecup ngecupnya sembari tangannya mengelus ngelusnya.


"Assalamu alaikum putri Umi !" sapa Hani saat Annisa menerima panggilan teleponnya.


"Walaikum salam Umi!"


Hani semakin mengembangkan senyumnya mendengar suara ceria Annisa di balik telepon.


"Ada apa Umi?" tanya Annisa yang sedang berada di sekolah.


"Umi ada kabar gembira untuk Annisa!" jawab Hani.


"Wah ! apa itu Umi?, apa Annisa akan segera punya adik?. Ayo cepat katakan Umi !, nanti pulang sekolah Annisa akan langsung pulang ke rumah!."


"Iya! Annisa akan segera punya adik!" isak Hani menangis meski wajahnya terlihat berbinar. Hani sangat bahagia dan terharu dengan kehamilannya.


"Alhamdulillah ! benarkah Umi?"


Hani menganggukkan kepalanya meski Annisa tidak melihatnya. Hani pun menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya.


"Barusan Umi sama Ayah kalian pulang periksa dari rumah sakit. Menurut pemeriksaan Gaia, Umi sedang hamil empat minggu!" jawab Hani.


Annisa mengembangkan senyumnya di balik telepon." Annisa akan segera pulang Umi. Tapi jangan kasih tau Ayah!."


Annisa langsung mematikan sambungan teleponnya. Annisa yang berada di kantin sekolah gegas berdiri dari bangkunya, dan langsung meninggalkan kantin.


"Apa Annisa akan bolos sekolah?" tanya Bilal yang mendengar pembicaraan Hani dan Annisa.


Hani tersenyum lalu mengangguk." Dia terlalu senang akan memiliki adik!" jawab Hani.


Bilal menghela napasnya,"dulu aku tidak terlalu suka memiliki adik. Semenjak Sabin lahir dulu, aku sering tersingkir dari pelukan Papa!" ucapnya dramatis.


Hani mengangkat satu tangannya untuk mengusap kepala Bilal yang bermanja manja di pangkuannya."Biasanya anak laki laki itu.. anak Mama. Abang malah menjadi anak Papa."


Bilal mengecup perut Hani lalu kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Hani." Kami tujuh bersaudara, hanya satu perempuan. Dan terlalu banyak yang menguasai Mama, makanya aku beralih menguasai Papa. Dan juga, di banding Mama, Papa lah yang lebih memahami aku."


"Dari kecil aku sudah tidak punya Papa!" ucap Hani sedih.


"Jangan bersedih!" Bilal mengulurkan tangannya mengelus wajah Hani.


"Tapi dulu aku memiliki kakek yang menyayangi dan memahami aku" ucap Hani lagi tersenyum.


Bilal ikut mengembangkan senyumnya.


.


.


Kilas balik


"Kakek Kiyai ! kenapa kakek membiarkan Hani berteman dengan santri putra?. Bukankah laki laki itu bukan mahramnya?. Dan juga itu melanggar peraturan pesantren" Tanya Amar kepada Kiyai Husen.


"Kakek tau itu salah, tapi kakek tidak tega jika harus menghilangkan keceriaan di wajahnya. Jika kakek memarahinya, maka wajah sedihnya akan memukul hati kakek atas kepergian Pamanmu. Biarkan dia menikmati hidupnya, dan juga dia masih anak anak, dan Bilal juga masih anak anak. Nanti setelah mereka besar, mereka akan mengetahui batasan mereka dengan pengetahuan yang di pelajari mereka di pedantren ini" jawab Kiyai Husen sendu.


"Tapi Kakek ! nanti santri lain menirunya!" ucap Amar, Abang sepupu Hani.


"Kakek tau!, nanti biar itu menjadi urusan kakek. Kita tau sendiri Hani bagaimana, dia tidak bisa di kerasin. Kita harus mengajarinya dengan pelan dan lembut. Dan anak laki laki itu..masih baru di pesantren ini. Biarkan mereka berteman, biar Bilal bisa betah di sini" jelas Kiyai Husen lagi.


"Ustadz Bilal gendut!" sahut Hani melempar Bilal dengan botol minuman di tangannya.


"Kamu..Hani kurus! uwek !" balas Bilal mengejek dan memeletkan lidahnya kepada Hani. Kemudian memakan jajanan coklat di tangannya.


"Biarin aja kurus!, kata Umi aku cantik! uwek !" Hani juga memeletkan lidahnya ke arah Bilal.


Bilal tersenyum manis.Kemudian Bilal menyuapkan makanan ke mulut Hani.


"Biar gemukku nular sama kamu ! Hahaha...!!!!" tawa Bilal membayangkan Hani gemuk seperti dirinya. Pasti sangat lucu dan menggemaskan.


"Aku gak suka gemuk, nanti sudah berlari !" suara Hani terdengar kumur kumur karna mulutnya penuh makanan.


"Lihat itu Kakek !, apa mereka sedang jatuh cinta?. Amar kawatir mereka menjalin hubungan berpacaran di usia mereka yang masih anak anak. Apa lagi Bilal, santri yang awalnya sekolah di sekolah umum. Di sana murid laki laki dab perempuan bebas berteman. Bagaimana jika Bilal membawa pengaruh buruk kepada Hani. Mengingat Bilal di pindahkan ke pesantren ini bandel" ucap Amar yang memperhatikan Hani dan Bilal dari tadi.


"Pesantren ini Kakek dirikan untuk anak anak yang bandel, bodoh dan tidak berpengetahuan dan berilmu. Kalau sudah pintar dan terdidik, tidak perlu lagi bersekolah di sini" balas Kiyai Husen ikut memperhatikan Hani dan Bilal dari kejahuan.


"Hani sama halnya dengan Bilal. Mereka sama sama tidak bisa di didik dengan keras. Mereka akan lebih mudah di arahkan dengan di bujuk lembut. Mereka tidak bandel, mereka hanya memiliki sifat lebih istimewa dari anak anak lainnya" lanjut Kiayi Husen.


"Tapi Bilal itu sudah berusia sebelas Tahun Kek!. Bagaimana kalau Bilal sudah balik dewasa. Mereka akan berdosa jika sampai bersentuhan" ucap Amar lagi mengungkapkan kekawatirannya kepada adik sepupunya itu.


"Kakek belum pernah melihat mereka bersentuhan secara sengaja. Kakek rasa mereka sama sama mendengarkan kata guru mereka" Kiayi Husen menepuk pelan bahu cucu keduanya itu dengan tersenyum." Kamu sangat menyayangi Hani!" ucapnya lalu pergi meninggalkan Amar yang terus memperhatikan Bilal dan Hani.


Apa Hani mau di ajak bermain denganku ?, batin Hidayah yang memperhatikan Hani dan Bilal dari arah lain.


Off


.


.


#Marhabab ya Rhamadan bagi yang berpuasa !.