
"Darren !" sapa Reyhan masuk keruangan Darren yang berada di SMA HARAPAN.
Darren mengarahkan pandangannya ke wajah Reyhan yang masuk begitu saja keruangannya.
"Apa bang Rey ?" jawab Darren.
"Untuk sementara waktu, tolong urus perusahaanku. Aku ingin pokus untuk program kehamilan. Aku tidak bisa melihat istriku menangis hampir setiap malam karna kami belum di karuniai anak. Dan aku dan istriku akan berhaji, kami akan di sibukkan untuk latihan sebelum berangkat. Kami ingin pokus untuk berhaji dan program" Ucap Reyhan setelah mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
"Aku gak sanggup, pekerjaanku juga banyak mengurus tiga sekolah, belum lagi perkebunan, counter semua aku yang ngurus, belum lagi aku mengurus usahaku yang baru kurintis" tolak Darren.
Ya ! setelah ia pulang dari luar Negri menyelesaikan studinya. Papa Arya meminta dirinya pensiun, memaksanya untuk mengurus semua sekolah, perkebunan, dan semua counter HP dan Laptop mereka, yang semakin merambat, menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Dan Darren juga sekarang lagi membuka bisnis baru di bidang traveling dan wisata.
"Tolonglah !" mohon Reyhan." Apa kamu gak kasihan melihat abangmu ini yang belum mempunyai anak. Usiaku dan istriku sudah 34 Tahun, waktu itu akan semakin cepat berlalu, tak terasa kami akan semakin tua. Dan.. semakin tua kesuburan istriku akan semakin berkurang. Di usia tiga puluhan ini adalah kesempatan terakhir kami, kalau usia istriku sudah memasuki empat puluh, itu akan semakin sulit bagi kami untuk bisa punya anak!" jelas Reyhan penuh harap, wajahnya pun tampak sedih, membuat Darren tak tega melihatnya.
"Baiklah ! tapi aku hanya bisa memantaunya, aku gak paham di bidang bisnis properti !" pasrah Darren.
"Dhikra dan Calixto akan membantumu. Kamu hanya sebagai pinpinan pajangan aja datang ke perusahaan. Dan kamu bisa menanyakanku jika ada yang tidak kamu pahami" ucap Reyhan lagi.
"Seharusnya bang Rey minta tolong sama bang Elang atau Bilal aja !" ujar Darren lagi.
"Bilal kamu harapin !" desah Reyhan. Karna adik Bungsunya itu sampai sekarang masih betah tinggal di pesantren mendalami ilmu Agama. Yang tidak tergiur sama sekali dengan kemewahan Dunia. Yang penting baginya cukup makan, cukup tidur, lanjar buang hajat dan rekening tabungannya terisi terus. Hidupnya sudah terasa nikmat sempurna.
"Bang Elangkan hanya mengurus usahanya saja !" ujar Darren.
Reyhan menghela napasnya lagi," Elang dan Bilal itu, hidupnya sebelas dua belas aja, beda beda tipis aja. Mereka hanya ingin menikmati hidup dengan santai" balas Reyhan.
.
.
"Selamat siang semua !" sapa seorang personalia kepada anggotanya.
"Selamat siang juga Bu !" balas semua orang yang berada di ruangan HRD itu.
"Saya baru mendapat kabar dari Pak manager, kalau Direktur utama perusahaan ini akan di gantikan sementara oleh adiknya. Beliau besok pagi akan mulai meminpin perusahaan ini" ucap Ibu personalia tersebut." Kita tidak tau akan seperti apa Peminpin sementara perusahaan ini. Untuk itu di himbau untuk semuanya, besok untuk datang lebih cepat dari biasanya, jangan sampai ada yang terlambat. Dan pastikan kerapian meja kerja masing masing. Berjaga jaga jika bos perusahaan ini melakukan audit" lanjutnya.
Semua pun diam tidak ada yang berbicara, hanya mendengarkan apa yang dikatakan atasan mereka itu.
"Udah ! itu saja, terimakasih atas waktunya dan silahkan kembali bekerja !" ujar Ibu personalia perusahaan itu lagi, kemudian berjalan ke arah mejanya, mendudukkan tubuhnya di kursinya.
"Adik dari Pak Reyhan !, Pasti adiknya tampan !" ucap seorang karyawati kepada temannya.
"Tampan juga kalau gak naksir sama kamu !" balas temannya itu.
"Ikh ! kamu itu !, setidaknya 'kan ada tempat untuk cuci mata" ucap cewek itu lagi, yang masih joblo sampai usianya yang sudah pantas menikah.
Temannya itu menghela napasnya, karna sama sekali tak tertarik untuk membahas yang namanya laki laki. Pernah mendapatkan kekerasan dalam berumah tangga membuatnya masih trauma untuk menjalin hubungan dengan seorang laki laki.
" Je ! kamu itu sudah terlalu lama menjanda, sudah waktunya kamu untuk membuka hatimu dengan laki laki lain. Putrimu sudah besar, dia butuh sosok seorang Ayah !" ucap cewek itu pelan kepada wanita bernama Jean itu.
"Aku dan putriku sudah bahagia menjalani hidup seperti ini. Kami tidak butuh sosok laki laki untuk melanjutkan hidup kami" balas wanita yang biasa di sapa Je itu.
Nadia menghela napasnya," Terserahmulah !" ucapnya.
.
.
Bilal turun dari angkot yang tumpanginya dari pesantren. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah orang tuanya dengan memakai baju koko berwarna putih dan memakai sarung berwarna hijau pastel kotak kotak.
Meski dia masih betah tinggal di pesantren, namun Bilal sering pulang ke rumah orang tuanya untuk melepas rindu bermanja manja di pangkuan sang mama.
"Assalamu alaikum Mama ! Papa !" seru Bilal melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Walaikum salam ustadz !" balas Papa Arya tersenyum, melihat anak nakalnya itu pulang.
"Mama mana Pa ?" tanya Bilal menyalam tangan Papa Arya dan menempelkannya ke keningnya.
Papa Arya mengusap kepala Bilal, anak gajahnya itu sudah tak gendut lagi seperti dulu. Bahkan sekarang anak gajah yang berobah menjadi anak angsa itu, berobah menjadi laki laki tampan.
"Apa kamu hanya kangen sama mama kamu saja ?, sama Papa kamu gak kangen ?" tanya Papa Arya, menarik Bilal supaya duduk di sampingnya.
"Nanti malam Bilal tidur di kamar Papa sama Mama ya ?" ucap Bilal tersenyum, memeluk sebelah lengan Papa Arya.
"Kalau kamu gak malu !" jawab Papa Arya tersenyum anaknya yang paling dekat dengannya dari dulu.
"Ngapain malu ?, tidur sama orang tua sendiri juga !" balas Bilal.
"Gak boleh !"
Bilal langsung mengalihkan pandangannya ke arah bocah perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Papa Arya itu.
"Kenapa gak boleh, emang kamu aja yang punya Papa sama Mama ?"tanya Bilal.
Sabina mendekati Papa Arya, dan langsung duduk di pangkuan pria tua itu." Sabin yang tidur di kamar Papa sama Mama ya Pa ?. Abang Bilal 'kan sudah besar, sudah cocok punya istri !." Sabina berbicara dengan menangkupkan ke dua tangannya di sisi wajah Papa Arya, supaya Papa Arya hanya pokus melihatnya.
"Mana bisa gitu Pah !" protes Sabina dan Bilal bersamaan.
"Gak mungkin kita muat tidur berempat di kasur itu !" ucap Papa Arya.
"Gak apa apa sempit sempitan Pa !. Sabin di peluk sama Papa bang Bilal di peluk sama Mama" ujar Sabina.
Papa Arya menghela napasnya, kedua anak bontotnya itu masih tidak berobah. Terutama Bilal yang sudah berusia 21 Tahun. Masih tidak malu untuk tidur bersama di kamar orang tuanya setiap pulang dari pesantern.
"Kamu itu Bilal sudah besar juga, masih kaya bocah !" komentar Orion yang tiba tiba datang.
"Emang kalau sudah besar gak boleh manja sama orang tua ?" tanya Bilal.
"Tapi nggak harus tidur sama Mama sama Papa kali !" cibir Orion mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong."Sabin ! mana Syauqi ?"tanyanya kepada adik tersayang di keluarga itu.
"Dikamar sama Arsi sama Sabeel !" jawab Sabina.
"Nih ! abang bawain sesuatu buat Sabin !"Orion memberikan sebuah kotak kecil persegi panjang kepada Sabina.
"Apa itu ?" Sabina turun dari atas pangkuan Papa Arya supaya bisa meraih kotak tersebut.
"Lihat aja !" jawab Orion.
Sabina pun langsung membuka kotak kecil berwarna pink itu, dan mengeluarkan isinya.
"Wah ! barbynya cantik banget !, bang Orion beli dimana ?" seru bocah berusia sepuluh Tahunan itu.
"Kakak Queen yang beliin !" jawab Orion.
"Kenapa kak Queen gak ikut kesini ?" tanya Sabina.
" Tadi teman kakaknya datang ke rumah, makanya abang datang kesini. Kakak Queennya lagi sibuk mengobrol sama temannya" jawab Orion, Sabina mengangguk anggukkan kepalanya, tanpa melepas netranya dari boneka di tangannya.
"Bagaimana perusahaanmu ? aman ?" tanya Papa Arya.
"Aman Pah !" jawab Orion.
Papa Arya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, merasa bangga dengan anak anaknya yang sudah sukses.
"Bilal ! apa kamu gak ada niat buka usaha atau bekerja ?. Mungkin melanjutkan pendidikanmu ke jenjang perkuliahan !" tanya Orion kepada si burung cicit.
"Sekarang juga Bilal lagi kuliah jurusan ilmu Agama !" jawab Bilal, yang merasa dirinya selalu haus dengan ilmu Agama.
"Iya sih ! Ilmu Agama juga sangat penting, tapi Dunia juga perlu di pikirkan untuk masa depanmu menikah nanti !" ujar Orion yang pengetahuan Agamanya sangat dangkal.
"Bang Orion pikir, Bilal gak mikirin masa depan Bilal ?" tanya Bilal. Di pesantren Bilal sudah membuka usaha warung makan. Bilal rasa itu bisa menghidupi keluarga Bilal nanti. Dan juga tabungan Bilal sudah banyak, karna Bilal gak pernah memakainya" ujar Bilal.
Orion hanya diam dan menghela napasnya, meski mereka memiliki uang yang banyak. Tapi adiknya itu tetap memilih menjalani hidup sederhana di pesantren. Yang sejujurnya Orion salut dengan adiknya yang suka sekali mengamuk setiap kemauannya tidak di turuti.
"Jangankan harta dan uang melimpah, bahkan baju yang di pakai bang Orion itu juga nanti akan di hisab. Di pertanyakan, darimana uang membelinya, dan sudah di pakai kemana saja, pernah di pakai beribadah kah ? atau tidak !." ujar Bilal mulai dengan ceramahnya.
"Iya Pak ustadz !, kalau begitu bagaimana dengan baju yang kamu pakai ?, dari mana kamu mendapatkan uang membelinya ?. Aku rasa harga bajumu itu termasuk mahal" balas Orion.
"Mama yang membelinya, aku gak tau berapa harganya, yang jelas semua bajuku aku sudah pernah memakainya beribadah" jawab Bilal.
"Apa menurut Pak ustadz mencari rejeki itu bukan beribadah ?" tanya Orion lagi.
"Rejeki itu ada yang haram dan ada yang halal. Tergangung mencari rejeki yang mana !" jawab Bilal.
"Jadi menurutmu abangmu ini menjalankan bisnis yang kotor !" kesal Orion.
"Bilal hanya menyampaikan apa yang Bilal pelajari, kenapa bang Orion kesal ?. Dan Bilal tidak menuduh !" ujar Bilal tersenyum.
"Wah ! ternyata anak tampan Mama pulang !" ucap Mama Bunga yang tiba tiba datang dari arah dapur, membawa secangkir kopi buat suaminya.
Mama Bunga pun mendudukkan tubuhnya disamping Bilal, dan langsung mencium ujung kepala anaknya yang tampan luar dalam itu.
"Daddy..!" seru Syauqi berlari ke arah Orion, di ikuti Arsi dan Sabeel dari belakang.
"Apa anak Daddy ini masih mau nginap di sini ?. Momy sudah kangen sama Syauqi !." Orion menangkap tubuh Syauqi ke dalam pelukannya.
"Ikut pulang sama Daddy !" jawab Syauqi
"Arsi sama Sabeel ?" tanya Orion menatap kedua bocah yang berdiri di depannya itu. Orion pun menarik ke dua bocah itu ke dalam pelukannya.
"Ikut Paman ! Hehehe....!" jengir kedua bocah itu.
"Yah ! rumah ini pasti sunyi dong !" ujar sang Kakek memasang wajah sedihnya.
Ketiga bocah itu pun langsung saling pandang, kemudian sama sama melihat ke arah sang kakek. Ke tiga bocah itu pun bingung jadinya.
.
.