Brother, I Love You

Brother, I Love You
64. Guru dadakan



"Sirin ! kenapa makanannya gak di habisin ?" tanya Queen, melihat Sirin menyisakan banyak makanannya. Sirin menggelengkan kepalanya.


Queen menghela napasnya, dan mengambil sendok dari piring Sirin, berniat menyuapi Sirin makan.


"Iya Sirin ! kamu loyo banget" timpal Calixto yang sudah ikut bergabung bersama mereka, bersama Nimas pacar barunya.


"Aku kepikiran Arsen terus" jawab Sirin.


Nimas yang baru bergabung dengan geng mereka, hanya diam memperhatikan Sirin. Ia belum sedekat itu bersama sahabat sahabat pacarnya itu, jika ikut memberikan perhatian.


"Ayo makan sebagian lagi" ucap Queen, mendekatkan sendok yang berisi makanan ke bibir Sirin.


"Aku gak berselera Queen !" tolak halus Sirin.


"Ini permintaan si dede bayi!" bujuk Queen."kamu gak mau 'kan si dede bayi sedih karna permintaannya di tolak ?."


"Benaran aku gak berselera Queen..!."


Queen meletakkan sendok di tangannya kembali ke piring Sirin. Kemudian menekuk bibirnya kebawah, memesang wajah sedih, dan Queen pun mengelus elus perutnya.


"Iya ! aku makan lagi, tapi dua sendok aja ya !" tawar Sirin, berbicara lembut dan lemah. Iya tidak mau dede bayi di dalam perut Sirin ikutan sedih.


"Tiga sendong dong tante..!" Queen berbicara dengan menirukan suara anak kecil, seraya tersenyum, dan langsung menyuapi Sirin.


"Iya deh ! Tante makan tiga sendok !" balas Sirin, mengulas sedikit senyumnya, tangannya pun terulur mengelus perut Queen. Kemudian memakan kembali makanan di piringnya.


Queen mengembangkan senyumnya, karna sudah berhasil membujuk Sirin, meski dengan membawa bawa anak yang tak tau apa apa di dalam kandungannya.


Bel masuk sebentar lagi akan berbunyi, Queen, Sirin, Kania, Calixto dan Nimas pun segera meninggalkan kantin, begitu juga dengan penghuni kantin lainnya.


Sampai di kelas, mereka sudah melihat Diana sudah duduk di bangkunya, bersandar dagu dengan kedua telapak tangannya, dengan bibir mengerucut.


"Bang Reyhan berhasil mengejarmu ?" tanya Kania, Diana menganggukkan kepalanya.


"Trus ?"


"Aku gak jadi makan, dan sekarang cacing cacingku pada kelaparan" kesal Diana. Sudah tubuh kurus, makan di kurangi, mana gak tambah kurus. Belum lagi harus belajar menguras otak, tentu itu membutuhkan energi yang banyak.


"Aaaa....!!!!" jerit Queen tiba tiba, membuat kaget satu kelas.


"Kamu kenapa Queen ?" tanya Sirin kawatir.


"Itu ! siapa yang menaroh bunga mawar di laci mejaku ?" tanya Queen, memegangi dadanya yang sudah naik turun, karna kaget.


Siapa yang mengerjainya, tidak mungkin 'kan ! si Ismail Marjuki yang sudah meninggal, masih bisa mengirim sekuntum mawar merah untuknya ?.


Sirin, Kania dan Diana mengalihkan pandangan mereka ke arah laci meja Queen. Tidak ada bunga di laci Queen.


"Gak ada Bunga di lacimu Queen" ucap Sirin, memeriksa laci Queen sampai ke dalam dalam.


"Tadi aku melihatnya di sini !" tunjuk Queen dengan telunjuknya.


"Gak ada Queen ! itu hanya halusinasimu aja" ucap Sirin lagi.


"Iya Queen, kosong tuh lacinya" timpal Kania.


Queen menelan air ludahnya dengan susah payah. ternyata benar halusinasinya, tidak ada bunga apapun di laci mejanya. Sepertinya ia sudah di hantui bunga kiriman si Ismail Marjuki.


"Queen ! minum dulu !" Sirin memberikan botol air minum miliknya kepada Queen.


Queen mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki dan menerima botol minum Sirin dan langsung meneguknya. Kemudian Queen menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, Queen melalukannya sampai tiga kali, sampai detak jantungnya normal kembali.


Sepertinya sekuntum mawar merah, bukan lagi hal yang berbau romantis bagi Queen, melainkan teror horor.


"Selamat pagi menjelang siang !" sapa guru yang masuk ke dalam kelas meraka.


Siapa lagi guru dadakan ini ?, batin semua murid di dalam kelas, kecuali Queen dan the gengs.


"Seeelaaamaaat paagii meenjeelaaang siaang paa...k!" balas semua murid, dengan banyak pertanyaan pertanyaan mengelilingi kepala mereka. Sehingga membuat loding mereka lambat saat membalas sapaan Pak Guru tampan, tapi sayang memakai tongkat.


"Perkenalkan ! nama saya Orion Ozama, anak pertama dari Pak Arya. Untuk sementara saya akan menggantikan guru Fisika kalian yang sedang cuti" ucap Orion. Menjawab semua pertanyaan pertanyaan yang mengelilingi kepala murid kelas Ipa1 itu.


Orion memutar pandangannya ke setiap sudut kelas. Melihat satu kursi di belakang kosong, Oriom yakin, itu bangku yang di tempati si Ismail Marjuki. Kemudian Orion pun mengarahkan tatapannya ke arah Queen.


Oh iya ! wajahnya mirip banget dengan Pak Arya. Kenapa selama ini gak pernah nampak datang ke sekolah ya ?. Hanya Pak Reyhan dan pak Elang saja yang sering ke sini. Batin salah satu siswa.


Tampan banget wajahnya, ya ampun !. Pak Arya persi mudanya. batin siswi lainnya


Kenapa baru muncul sekarang, kenapa gak dari dulu ?. Batin yang satu lagi


"Queen ! sudah sampai dimana pelajaran kalian ?" tanya Orion.


"Sudah tamat Pak Orion Ozama Alfarizqi, kami tinggal mengulang ngulang saja" jawab Queen, melebarkan senyumnya.


Tentu teman satu kelas Queen tidak heran, jika guru dadakan itu mengenal Queen. Satu sekolah sudah pada tau, kalau keluarga Queen dengan pemilik sekolah itu berkerabat dekat. Tapi tidak ada yang tau, kalau Queen sudah menjadi menantu pemilik sekolah itu. Karna pas saat mengadakan resepsi, mereka tidak mengundang siswa siswi SMA HARAPAN. Dan Para guru yang di undang pun di minta untuk tutup mulut.


"Oh ! kalau begitu, Bapak akan buat kalian ulangan saja" ucap Orion, mengambil sipidol dari atas meja guru, dan langsung menulis soal di papan tulis, tampa melihat buku sama sekali. Orion pun menulis sepuluh soal di papan tulis.


"Silahkan di kerjakan, waktunya 40 menit !"perintah Orion, berjalan ke arah kursi guru, mendudukkan tubuhnya di sana.


Orion mengeluarkan handphonnya dari saku celana bahannya. Kemudian sibuk berselanjarkan kedua jempolnya disana.


Idih ! guru apaan seperti itu ?, batin Queen. Datang menyapa, memperkenalkan diri, menulis sola, tanpa menjelaskan pelajaran sedikit pun, lalu main handphon.


Meski Bapaknya seorang guru, tapi Orion tidak berbakat sama sekali menjadi guru. Dia datang ke sekolah, hanya untuk menjaga Queen dari gangguan kaum adam cabe cabean di sekolah milik uyutnya itu.


Kelas menjadi hening, semua sibuk mengerjakan soal ulangan dadakan dari guru tampan dadakan itu.


Sirin tiba tiba mengerutkan keningnya, merasakan perutnya sedikit keram, seperti ingin datang bulan.


Sepertinya aku mau datang Bulan, tapi baguslah, aku gak jadi hamil. Arsen masih belum sadar, siapa yang akan bertanggung jawab jika aku benaran hamil. Batin Sirin


Selesai ia mengerjakan ulangannya, Sirin berniat akan mengeceknya ke toilet. Dan sekalian memasang pembalut. Hari ini memang sudah tanggalnya ia datang Bulan. Dari tadi pagi, Sirin sudah gelisah, karna bulanannya bekum juga mengunjunginya. Sekarang Sirin bernapas lega, tanda tanda akan datang Bulan sudah ia rasakan.


"Sirin ! kenapa bengong ?, cepat kerjakan tugasnya !" tegur Orion.


"I..iya Pak !" gugub Sirin, tersadar dari lamunannya. Sirin pun mengerjakan soal ulangannya.


Kenapa aku tiba tiba gak ingat rumusnya ya !, kok aku jadi pikun begini sih !. Bagaimana ini ?, waktu sudah mau habis, masih banyak lagi yang belum selesai. Batin Queen, mengurut urut bagian tengah keningnya.


Semenjak hamil, rasanya ia menjadi pelupa, dan lambat berpikir, di tambah lagi gampang kaget.


Kalau begini bagaimana nanti aku bisa ngejrain tugas ujian akhir ?. batin Queen


Tiba tiba ada yang mengambil tangannya dari keningnya. Queen mendongakkan kepalanya, melihat si pelaku.


"Sayang ! kamu sakit ?" tanya Orion lembut, menempelkan punggung tangannya ke kening Queen.


Queen menyeriangai licik di dalam hati, sepertinya otak liciknya lagi aktif. Queen pun meneduhkan pandangannya ke arah Orion, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Pusing !" ucap Queen pelan, harap harap Orion mau KKN. mau mengerjakan soal ulangannya setelah keluar nanti dari dalam kelas.


Orion membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Queen." Bilang aja kamu pusing karna lupa rumusnya !" ucap Orion.


Bukan sehari dua hari lagi Orion mengenal Queen. Orion mengenal Queen semenjak lahir, tentu Orion sudah hapal dengan akal bulus istrinya itu.


Langsung saja Queen mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal.


"Bang Orion ! Eh ! Pak Orion !" ralat Sirin langsung karna memanggil Orion yang mendadak guru , Bang." Sirin sudah selesai, Sirin mau permisi ke toilet" ucap Sirin, memberikan kertas ulangannya kepada Orion yang masih berdiri di samping Queen. Dan bergegas berdiri dari bangkunya, berjalan keluar kelas sebelum mendapat ijin dari Orion.


"Contoh tuh Sirin, kenapa dia bisa pintar" ucap Orion, melangkahkan kakinya kembali ke kursinya.


Semakin runcinglah bibir Queen, perasaan dia gak bodoh bodoh amat, hanya saja gak sepintar Sirin, selalu mendapat ranking satu.


Sirin yang sudah berada di dalam toilet, bernapas lega, melihat ada bercak darah di celananya. Setelah selesai urusannya di dalam toilet, Sirin pun langsung keluar. Lagi lagi Sirin bernapas lega. Sebulan ini ia sampai tidak bisa tenang, kawatir dan waswas memikirkannya, sampai ia mengalami sukar tidur dan tak selera makan.


Sirin mematut wajahnya di cermin yang menenpel di dinding toilet. Wajahnya kembali sedih, mengingat Arsen yang masih koma.


Jika aku benaran hamil, aku tidak tau bagaimana menjalani hari hariku tanpa kamu Arsen. Aku takut menghadapi Dunia ini sendiri Arsen. Batin Sirin


Setelah merapikan penampilannya, Sirin segera keluar dari dalam toilet itu. Bernapas lega, Queen melangkahkan kakinya kembali ke dalam kelas.


.


.


Visual Sirin dan Arsenio




Cocok lah ya..? Sirin dengan karakter lembutnya, dan Arsenio dengan karakter sok jagoannya.