
"Sssttt....!"Khanza menempelkan jari telunjuknya di bibirnya yang mengerucut ke arah ke lima temannya yang berdiri di belakangnya di samping dinding lif di lantai satu gedung perusahaan." Mamaku sudah mau keluar !" ucapnya pelan.
Ke enam bocah itu merencanakan penculikan kepada Jean. Sedangkan Darren ia sudah menunggu di mobilnya tepat di depan pintu keluar.
"Satu ! dua ! tiga ! tangkap !" ucap Khanza pelan.
Syauqi, Sabeel, Arsi, Nora, Khanza langsung berlari ke arah Jean yang baru keluar dari ruang HRD. Sedangkan Sabina, ia tidak mau ikut berlari, ia hanya berjalan santai saja.
"Hei anak anak ! kenapa tante di tangkap ?" ucap Jean, karna kelima bocah kurcaci milik bos besar perusahaan itu menarik tangan dan bajunya.
"Tante harus ikut kami !" tegas Syauqi seperti seorang polisi menangkap buronannya.
"Iya Ma ! mama harus ikut mandi bola sama kami !" sambung Khanza.
"Ayo kita bawa tante Jean !, kita tangkap dia !" timpal si preman milik Arsen dan Sirin. Kemudian menarik tangan Jean keluar dari kantor itu. Di bantu ke empat temannya.
Nadia yang berdiri di belakang, memperhatikan Jean yang di tangkap bocah bocah nakal itu, tertawa cekikikan, lalu melangkahkan kakinya mengikutinya keluar.
Di depan pintu gedung perusahaan, Sabina sudah membuka pintu kursi penumpang depan. Supaya teman temannya bisa memasukkan buronan mereka masuk ke dalam mobil.
"Khanza ! Mama mau di bawa kemana ?. Motor mama di sana sayang !" tanya Jean, karna kelima bocah bocah itu membawanya ke arah mobil yang terparkir di depan pintu.
"Kita naik mobil sama Ayah Darren Ma !" jawab Khanza.
"Mama gak bisa ikut sayang ! Mama harus masak makan malam kita lagi, harus bersihin rumah lagi" tolak halus Jean.
"Tante harus ikut !" tegas Syauqi, menarik kuat tangan Jean untuk masuk ke dalam mobil.
"Iya ! Kak Jean harus ikut kami mandi bola sama bang Darren" sambung Nora mendorong Jean dari belakang supaya masuk ke dalam mobil.
"Ikut aja Je ! Pak brondongnya tampan gitu ! kok gak mau ?" goda Nadia yang sudah berada di samping mobil Darren.
"Silahkan masuk tuan putri !" ucap Darren tersenyum. Setelah ke lima kurcacinya itu berhasil memasukkan Jean ke dalam mobil.
Jean menghela napasnya pasrah.
"Khanza ! ayo sayang ! duduk di depan sama Mama !" suruh Darren, supaya kelima bocah itu muat duduk di kursi belakang.
"Iya Yah !" Khanza pun masuk ke dalam mobil, duduk bersama Jean di kursi penumpang depan.
Nadia yang masih berdiri di samping mobil Darren, membungkukkan tubuhnya ke jendela mobil yang masih terbuka di samping Jean." Pak bos ! teruslah berjuang dan tetap semangat pantang mundur !" ucapnya memeberi bosnya itu semangat.
"Trimakasih dukungannya !, kamu juga ikutlah dengan kami !. Tapi pakai motormu sendiri, soalnya mobil saya sudah penuh !" balas Darren.
"Serius bos ? aku boleh ikut ?" heboh Nadia. Pasti nanti si Pak bos mentraktir makan di restoran mahal, pikir Nadia.
"Iya ayo !" ucap Darren lagi.
Nadia langsung berlari ke arah parkiran motornya. Dan gegas melajukannya mengikuti mobil Darren dari belakang.
Di dalam mobil milik Darren
"Pak ! kita gak bisa seperti ini, nanti bisa menimbulkan fitnah. Apa lagi saya ini seorang janda" ucap Jean, menoleh sebentar ke arah Darren yang sibuk mengendalikan setir mobilnya.
"Kita tidak berdua duaan, jadi tidak akan terjadi fitnah !" balas Darren tanpa melihat ke arah Jean yang duduk di sampingnya.
Jean menghela napasnya.
"Jean aku tau kamu tidak percaya kalau aku mencintaimu. Tapi beri aku kesempatan untuk membuktikannya" ucap Darren lagi.
lagi Jean menghela napasnya dalam.
"Tante Jean harus mau sama Paman Darren !" celetuk Syauqi tiba tiba dari kursi belakang.
"Iya ! tante harus mau !, kalau gak !, nanti kami menculik tante !" sambung Arsi mengancam.
"Nanti kami ikat Tante pake tali !" timpal Sabeel juga mengancam.
"He um !" Nora mengangguk anggukkan kepalanya setuju.
Kalau Sabina, ia hanya diam memandangi wajah Jean dengan muka datarnya.
"Iya Ma ! mau sama Ayah ya !. Khanza pengen punya Ayah benaran" bujuk Khanza manja.
Jean menghela napasnya lagi," Aku tau Bapak menghasud anak anak ini" ucapnya." Aku berterimakasih atas kebaikan Bapak !. Tapi Pak ! aku gak bisa jika harus menjalin hubungan dengan Bapak !. Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang Pak !" ucapnya lagi.
"Aku gak memaksamu Jean !, aku sedang membujukmu !" balas Darren tersenyum.
Ya Tuhan ! ini orang menyebalkan juga ya !. Orang lagi bicara serius, malah dia tersenyum. Batin Jean
"Terserah Bapak saja !, tapi Bapak jangan kecewa nanti denganku. Karna aku tidak akan menjalin hubungan dengan laki laki manapun" ucap Jean lagi.
Sampai di kawasan sebuah mall, Darren pun memarkirkan kendaraannya di parkiran yang tersedia.
"Anak anak ! ayo turun !" ajak Darren, kemudiam membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.
Kelima bocah bocah nakal yang duduk di kursi belakang pun satu persatu keluar dari dalam mobil. Kelima bocah itu langsung berlari ke arah pintu masuk mall.
"Stop..!!" teriak Darren.
Kelima bocah itu langsung menghentikan lari mereka, memutar tubuh mereka ke arah Darren yang melangkah ke arah mereka.
"Anggotanya ketinggalan satu" ucap Darren, karna kelima bocah itu melupakan Khanza.
"Ops ! lupa !" ucap Syauqi.
"Khanza ! sana ikut sama mereka !" suruh Darren kepada anak angkatnya itu.
"Iya Yah !" jawab Khanza, langsung berlari ke arah kelima teman barunya itu.
"Je !" seru Nandia yang baru sampai.
Jean dan Darren sama sama memutar tubuh mereka ke arah Nadia yang berlari kecil ke arah mereka.
"Kita kesini ngapain ?" tanya Nadia setelah berdiri di depan Jean dan Darren.
"Nemani anak anak mandi bola !" jawab Darren.
"Kirain mau makan hehehe....!" cengir Nadia.
"Nad !" tegur Jean, temannya itu bikin malu aja.
"Gak apa apa !, kalau mau makan juga boleh !. Di dekat tempat mandi bola anak anak ada restoran. Kita bisa memantau anak anak mandi bola dari sana" ucap Darren.
"Benaran Pak bos ganteng !" girang Nadia.
"Nad !" tegur Jean lagi, kenapa pula temannya itu bersikap seperti anak anak.
"Gak apa apa sayang !" ucap Darren tersenyum kepada Jean.
"Cie cie ! sayang sayang ni ye !" goda Nadia.
Darren pun manarik langan baju Jean, supaya Jean berjalan di sampingnya. Yang langsung di ikuti Nadia dari belakang.
Pak Darren sangat menghargai wanita, batin Nadia. Melihat Darren menggandeng tangan Jean tanpa bersentuhan kulit.
Semoga saja Pak Darren bisa meluluhkan hati Jean. Batin Nadia lagi
Sampai di dalam restoran yang berdekatan dengan tempat mandi bola anak anak. Darren menarik satu kursi, lalu menyuruh Jean untuk duduk. Kemudian menarik satu kursi lagi, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Jean. Di ikuti Nadia, duduk di kursi yang berada di depan mereka.
"Silahkan di pilih menunya Mbak !" seorang pelayan restoran meletakkan dua buku menu di meja mereka.
"Mbak ! pesa ayam goreng taliwang satu, es gunung satu, jus melon satu, jamur goreng krispi satu porsi, sama sop satu" ucap Nadia setelah membaca buku menu di depannya.
"Nadia !" tegus Jean lagi, yang benar saja, pesanan Nadia segitu banyak.
"Mumpung ada bos yang bayarin !, iya Kan bos !" ucap Nadia tersenyum.
"Pesan aja apa yang kalian mau !, gak apa apa !" balas Darren.
"Tuh ! bos bilang gitu !" ucap Nadia lagi kepada Jean.
Jean menggeleng gelengkan kepalanya, melihat sahabat tidak tau malunya itu.
"Kalau saya jus alvukat aja mbak !" ucap Jean kepada pelayan yang masih berdiri di sampingnya itu.
"Kok minum aja ?" tanya Darren lembut kepada Jean.
"Masih kenyang Pak !" jawab Jean.
"Spagetinya satu mbak ! sama minumnya soda drink" ucap Darren kepada pelayan yang siap mencatat pesanan mereka itu.
"Itu aja mas ? mbak ?" tanya pelayan itu memastikan.
"Oh ! eman jus strawbery, tapi belakangan saja !" jawab Darren. Berpikir kalau ke eman anak anak yang sudah sibuk mandi bola itu, nanti akan kehausan.
"Di tunggunya !" ucap pelayan itu, lalu undur diri.
.
.