Brother, I Love You

Brother, I Love You
225.Defresi



Bilal duduk termenung di ruangannya di sekolah SMA HARAPAN. Sudah beberapa hari ini ia tidak pernah pergi ke pesantren lagi, dan mungkin ia akan berhenti mengunjungi pesantren itu. Bilal juga sudah mendengar kabar dari Ustdaz Indra sahabatnya, kalau seminggu lagi Hani akan menikah dengan Hidayah teman mereka juga.


Selama ini, Bilal bukan tak ingin membalas cinta Hani. Hanya saja, hubungan apa yang pas untuk mereka jika mereka menjalin hubungan ?. Sedangkan berpacaran, mereka sudah sama sama tau, kalau itu tidak boleh. Bertunangan ? itu pun tidak ada di dalam kamus islam. Jika mengajak bertaaruf, waktu bertaaruf itu tidak boleh lama lama, jika berlama lama, itu sama saja berpacaran. Dan juga Hani masih sangat terlalu muda selama ini, jika untuk di nikahi.


Sekarang saja usia Hani masih 18 Tahun, masih kelas tiga tingkat aliah. Hanya saja Bilal mau mengkhitbahnya, karna Hani yang tidak berhenti terus mengganggunya. Bilal ingin menghindari yang namanya fitnah kepada mereka. Dan Bilal juga menyukai Hani selama ini, meski dia terlihat biasa saja.


Mendengar bel pertanda istirahat sudah selesai, Bilal tersadar dari lamunannya. Astagfirullohal 'azim !, batinnya.


Bilal pun berdiri dari kursinya, dan mengambil buku dari atas meja. Bilal keluar dari dalam ruangannya berjalan ke arah salah satu kelas untuk mengajar mata pelajaran Agama Islam.


"Assalamu alaikum ! selamat pagi menjelang siang !" sapa Bilal saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam jelas.


"Walaikum salam Pak !" seru semua siswa dan siswi. Tanpa melepas perhatian mereka dari penampilan Bilal yang memakai celana bahan longgar di padukan dengan baju kemeja. Sangat terlihat tampan di mata mereka.


Meski Bilal bukanlah orang yang menyandang status sarjana. Papa Arya mempercayakan dirinya untuk mengajar di sekolah itu. Papa Arya memberikannya kesempatan untuk menyampaikan dakwahnya. Memabagi ilmu Agama yang di pelajarinya di pesantren selama ini. Karna bagi Papa Arya ijazah itu hanyalah sebuah kertas biasa. Ijazah itu tidak ada artinya tanpa ilmu pengetahuan di dalam kepala orang itu sendiri. Dan juga sekolah itu milik mereka, tidak ada orang yang berani memprotes keberadaan Bilal yang menjadi guru di sekolah itu. Toh anaknya itu juga mampu untuk menjadi guru. Meski Bilal tak sepintar anak anaknya yang lain.


.


.


Di pesantren


Hani terus mengurung dirinya di dalam kamar semenjak ia harus terpaksa menerima lamaran Hidayah. Hani terus menangis dan tidak mau makan dan bahkan dia tidak segan untuk meninggalkan shalatnya lagi.


Kenapa dia harus membalas jasa jasa kerabat keluarganya itu?. Kenapa kebahagiaannya yang harus di korbankan?. Bukankah pesantren itu di wariskan kepada anak pamannya?. Kenapa dia yang harus membayar semuanya atas kemajuan pesantren itu?.Itu tidak adil bagi Hani.


'Buatlah paman malu jika kamu tidak menyayangi paman!'


Itulah yang di katakan Pamannya kepadanya di dalam kamar, saat Hidayah dan kedua orang tuanya datang untuk meminta jawaban Hani setelah tiga hari waktunya berpikir. Sehingga Hani mengurungkan niatnya untuk menolak lamaran Hidayah.


Hani yang tidak memakai jilbab di dalam kamarnya, turun dari atas tempat tidur berjalan ke arah meja rias. Hani memandangi wajahnya yang sembab di kaca cermin di depannya. Sungguh dirinya terlihat sangat berantakan dengan rambut panjang sepinggangnya yang acak acakan.


Hani membuka laci meja riasnya, mengeluarkan gunting dari dalamnya. Hani mengarahkan gunting itu ke arah rambutnya di bagian lehernya. Perlahan menggerakkan gunting itu, memotong rambut panjangnya.


"Hani ! apa yang kamu lakukan nak ?."


Umi Fatimah yang baru masuk ke dalam kamar Hani, melangkah cepat ke arah Hani yang sedang memotong rambutnya sangat pendek.


"Astagfirullohal azim !" lirih umi Fatimah, menutup mulutnya dengan tangan. Melihat rambut panjang putrinya itu sudah pendek, hanya sampai leher saja.


"Aku hanya memotong rambutku Umi !" ucap Hani.


"Kenapa Nak ?" lirih Umi Fatimah lagi.


Hani pun menggunting kedua lengan baju gamisnya, sampai kedua lengannya terlihat sampai bahu. Kemudian menggunting bagian bawah baju itu, hingga menampakkan kaki dan setengah pahanya.


"Apa yang kamu lakukan sayang ?" isak tangis Umi Fatimah.


"Menghancurkan diriku Umi !" jawab Hani enteng.


"Istigfar Nak !. kamu jangan berniat untuk keluar rumah dengan penampilan seperti ini. Haram hukumnya sayang !" ucap Umi Fatimah, menarik Hani ke dalam pelukannya.Mengerti dengan perasaan putrinya itu yang sedang hancur.


"Kenapa Umi ?, bukankah aku sudah menjadi tumbal kekayaan keluarga ini ?. Aku ini tumbal Umi !, aku ini tumbal !, aku ini tumbal Umi !!!" teriak Hani tiba tiba. Membuat Umi Fatimah terlonjak kaget dan melepaskan pelukannya.


"Ya !!! aku menyayangi kalian, sehingga aku harus mengorbankan kebahagiaanku !!!. Tapi kalian lebih menyayangi harta kalian, dan nama baik kalian !!!" teriak Hani lagi.


"Pesantren ini sangat penting untuk kalian !!!. Pesantren ini adalah hidup kalian !!!, nyawa kalian !!!. Sehingga kebahagiaanku tidak penting untuk kalian !!!" teriak Hani ber api api.


Umu Fatimah hanya bisa menangis terisak melihat kehancuran putrinya itu.


"Hahahaha...!!! ya ya ya ! aku akan menuruti kemauan kalian itu !!!. Aku akan menikah dengan pria bernama Hidayah itu. Selamat bersenang senanglah kalian di atas penderitaanku !!!. Kalian nikmatilah uang penghasilan pesantren ini dengan bahagia !!!. Karna aku akan siap di tumbalkan untuk membayar balas budi orang yang sangat berjasa membangun pesantren ini !!!."


Di luar rumah, para tetangga dan sebagian santri sudah rame karna mendengar teriakan Hani seperti orang kesurupan. Ustasz Hamzah yang di jemput seorang tetangga mereka ke dalam kelas. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, menuju kamar Hani.


Di lihatnya Hani menangis sambil berteriak teriak dengan penampilan baju mini. Kamar berantakan, potongan kain dan rambut panjang Hani berserak di lantai. Umi Fatimah yang menangis terduduk di lantai.


"Baiklah Nak ! Paman akan membatalkan rencana pernikahanmu dengan Hidayah" ucapnya lalu pergi dari kamar itu.


Ustadz Hamzah pergi ke kamarnya, lalu mengeluarkan hanphon dari saku baju kokonya. Saat ia akan melakukan panggilan kepada Pak Ilham, handphon itu terjatuh dari tangannya, dan tubuhnya tiba tiba ambruh ke lantai.


Brukh !


"Abi !"


Seorang laki laki langsung memapah Ustadz Hamzah dari lantai, membawanya ke kasur sambil berteriak.


"Bang Ikbal !!! Abi pingsan !!!" teriaknya.


Anak kedua Ustadz Hamzah itu pun membaringkan sang Abi di atas kasur.


Tadi setelah mendapat kabar, Hani membuat ke kacauan di rumah mendiang Kakek mereka. Kedua anak Ustasz Hamzah itu langsung bergegas keluar dari dalam kelas, mendatangi rumah peninggalan Kakek mereka.


Mendengar teriakan Amar dari kamar sebelah. Umi Fatimah dan Ikbal langsung berlari keluar dari kamar Hani. Meninggalkan Hani yang masih menangis terisak meringkuk di samping ranjang.


"Abi !" tangis Umi Fatimah.


Umi Fatimah sedih, bingung dan bercampur kawatir dengan masalah yang terjadi. Siapa yang harus di dahulukannya ?, siapa yang harus di utamakannya, siapa yang harus di belanya ?. Umi Fatimah kawatir dengan putrinya, dan juga kawatir melihat suaminya yang pingsan. Sepertinya darah tinggi suaminya itu naik, melihat kemarahan Hani kepadanya.


"Ikbal ! Amar ! ayo kita bawa Abi ke rumah sakit !" ucap Umi Fatimah berlinang air mata.


Inilah rumitnya menikah lagi setelah menjadi janda. Saat suami dan anak sendiri saling bertantangan. Atau sama sama terpuruk seperti sekarang ini. Umi Fatimah bingung untuk mendahulukan siapa.


Jika mengabdi kepada suami adalah sebuah kewajiban. Mengurus seorang anak juga adalah sebuah keharusan bagi seorang Ibu. Terlebih Hani adalah seorang anak yatim.


"Amar ! kamu tetaplah tinggal di sini untuk menjaga Hani. Biar aku dan Umi saja yang memabawa Abi ke rumah sakit" ucap Ikbal kepada adiknya.


Ikbal bisa memahami kebingungan di raut wajah Umi Fatimah. Meski Umi Fatimah mendahulukan suaminya, namun sangat terlihat Umi Fatimah sangat kawatir dengan Hani putrinya.


"Hani adalah adik kamu Umi. Amar pasti akan menjaganya dengan baik" ujar Ikbal kepada Uminya.


Umi Fatimah menganggukkan kepalanya, lalu ikut membantu Ikbal memapah Ustasz Hamzah keluar dari dalam kamar.


Di luar rumah, sebagian para santri langsung menggantikan Umi Fatimah dan Ikbal. Membawa Ustadz Hamzah masuk ke dalam mobil milik keluarga itu.


Umi Fatimah langsung menyusul masuk ke dalam mobil, memangku Ustadz Hamzah di kursi penumpang belakang. Sedangkan Ikbal mendudukkan tubuhnya di kusri pengemudi mobil itu, di temani salah satu Ustadz, duduk di sampingnya.


Amar yang masuk ke dalam kamar Hani. Melangkahkan kakinya dengan mata berkaca kaca ke arah rambut Hani yang berantakan di lantai. Amar menyentuh rambut itu dengan tangan bergetar. Rambut itu adalah mahkota adik sepupunya, ia tidak haram menyentuh itu.


"Apa salah jika kita membalas sedikit kebaikan orang lain Hani ?. Kamu bukanlah tumbal !, kamu adalah kebahagiaan keluarga ini. Pak Ilham dan Bu Maryam sangat baik kepada kita. Mereka menyayangimu, sehingga mereka menginginkanmu menjadi menantu mereka. Dan Hidayah juga adalah laki laki yang baik, kamu juga tau itu" ucap Amar, tanpa sadar meneteskan air matanya.


"Ingat Hani ! orang yang kamu cintai, belum tentu yang terbaik untukmu. Bisa saja rasa cintamu itu kepada Ustadz Bilal adalah tipu muslihat syetan yang menghasut dirimu. Menguasai hati dan pikiranmu untuk bermaksiat kepada Allah. Sedangkan yang tidak kamu sukai, bisa menjadi lebih baik dari yang kamu sukai."


"Istigfarlah ! Allah maha pengampun, maha pengasih dan penyayang !. Jodoh dan maut itu sudah menjadi ketentuan Allah. Jika Ustadz Bilal memang sudah tertulis menjadi jodohmu. Maka dia akan menjadi jodohmu !, tidak ada satu hamba pun yang bisa mencagah itu, termasuk Abi."


"Dan.." Amar menelan air ludahnya, kemudian lanjut bicara." Untuk masalah pesantren ini, bukan hanya di wariskan Kakek hanya kepadaku dan bang Ikbal. Bahkan kepemilikan pesantren ini setengahnya milikmu. Dan setengahnya milikku dan Ikbal. Karna Kakek membaginya dua bagian. Separuh milik Abi, separoh milik mendiang Paman" jelas Amar.


Amar pun mendekati Hani setelah ia merapikan kekacauan yang di buat Hani di kamar itu. Amar mengambil selimut, menutupi tubuh Hani yang menampakkan auratnya. Amar mendudukkan tubuhnya di samping Hani, menangkupkan telapak tangannya ke kedua sisi wajah Hani.


"Bagaimana bisa kamu berpikir buruk kepadaku, bang Ikbal dan Abi ?. Sesangkan kami begitu menyayangimu selama ini" ucap Amar. Ia pun menghapus air mata Hani dari pipinya.


"Kalau kamu yakin Ustadz Bilal juga mencintaimu, Abang akan membatalkan rencana pernikahanmu dengan Hidayah. Abang akan menemui Ustadz Bilal, memintanya untuk melamarmu" ucap Amar lagi.


Perlahan Hani mengarahkan pandangannya ke wajah Amar, menatapnya tajam dengan mata berkaca kaca. Jantungnya berdegub, merasakan kebingungan. Apakah dia akan membiarkan sepupunya itu membatalkan rencana pernikahannya dengan Hidayah?. Dan meminta Bilal melamarnya.


"Aku rasa Hidayah juga tidak mau menikahi seorang wanita defresi karna cintanya kepada pria lain" lanjut Amar.


Hani hanya bisa terdiam.